02/02/2025
Mengenal Petani P3KPI: Menggarap Lahan dan Membangun Ketahanan Pangan di Az Zaitun
Indramayu, Jawa Barat – Paguyuban Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI) menjadi bagian penting dalam sistem pertanian di kawasan Az Zaitun. Dibentuk pada September 2012, organisasi ini menaungi 106 petani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Indramayu dan Subang. Mereka menggarap sekitar 600 hektare lahan dengan sistem kerja sama yang telah disepakati melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan Yayasan Pesantren Ma'had Al Zaytun.
Peluang Baru bagi Petani Lokal
Para anggota P3KPI berasal dari berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Sukra, Anjatan, Haurgeulis, Gantar, Kroya, Gabuswetan di Indramayu, serta Kecamatan Pusakajaya di Subang. Sebagian besar dari mereka sebelumnya hanya buruh tani atau petani kecil yang tidak memiliki lahan sendiri.
Anwar, salah satu petani dari Desa S**a Slamet, Kecamatan Kroya, mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dengan P3KPI, ia tidak memiliki sawah. Namun, melalui program ini, ia mendapat kesempatan mengelola lahan dan kini mampu menggarap hingga delapan bahu (sekitar 5,6 hektare). Hasil panennya cukup untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Suherman, petani lainnya, menuturkan bahwa sejak bergabung dengan P3KPI pada 2012, ia mendapat dukungan penuh dari yayasan, termasuk modal, pupuk, dan obat-obatan. “Kami hanya perlu fokus pada proses pertanian, sedangkan pembiayaan dikelola yayasan. Setelah panen, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan,” ujarnya.
Model Kemitraan dan Sistem Bagi Hasil
Yayasan Pesantren Ma'had Al Zaytun tidak hanya menyediakan lahan, tetapi juga modal produksi berupa benih, pupuk, dan sarana pertanian lainnya. Skema bagi hasil diterapkan secara adil, di mana biaya produksi dipotong terlebih dahulu, kemudian sisa keuntungan dibagi antara petani dan yayasan.
Dalam satu musim tanam, hasil panen per bahu berkisar antara 3 hingga 4 ton padi. Dengan harga jual padi yang mencapai Rp4.000–Rp4.200 per kilogram, petani dapat memperoleh pendapatan bersih hingga Rp15 juta per bahu setelah dikurangi biaya produksi.
“Modal awal dan semua kebutuhan pertanian ditanggung yayasan, kami tinggal bekerja. Setelah panen, hasilnya dibagi dua antara petani dan pemodal,” ungkap Kasdullah, petani dari Desa Mekar Jaya.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Program pertanian yang dijalankan Az Zaitun juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap kini bisa bekerja di sektor pertanian sebagai buruh tani atau pekerja lepas.
Selain itu, Yayasan Al Zaytun juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti distribusi daging kurban dan zakat fitrah bagi masyarakat setempat. “Setiap Idul Adha dan Idul Fitri, bantuan dari yayasan sangat membantu warga sekitar, termasuk saya sendiri,” kata seorang petani yang telah bergabung sejak 2012.
Kontroversi dan Klarifikasi
Di tengah berbagai pemberitaan viral mengenai Az Zaitun, para petani P3KPI menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah bertani dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Saya tidak peduli dengan isu-isu yang beredar. Yang saya tahu, di sini kami diberi kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak,” ujar seorang petani senior.
Salah satu tokoh yang berperan besar dalam pembinaan petani adalah Syekh Panji Gumilang. Menurut mereka, ia adalah seorang pendidik yang berperan dalam mengajarkan teknik bercocok tanam dan mengelola hasil panen secara lebih efektif.
Kesimpulan
Program pertanian yang dijalankan P3KPI dan Yayasan Al Zaytun telah memberikan perubahan signifikan bagi para petani dan masyarakat sekitar. Dari yang awalnya hanya buruh tani, kini banyak yang memiliki lahan garapan sendiri dan mampu meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Dengan sistem kerja sama yang jelas dan dukungan penuh dari yayasan, P3KPI menjadi contoh nyata bagaimana pertanian dapat menjadi pilar ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
(Liputan oleh Tim Jurnalis Green Economy Az Zaitun)