23/12/2016
Membangun Generasi Milenium Berkualitas
Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dan Ikatan Ibu-Ibu Kwarnas (IIK) saat menggelar Seminar Nasional dan Pencanangan Gerakan Ibu Menyelamatkan Keluarga Indonesia di Aula Pandan Sari Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur (21/12) | Foto: Adnan/Humas Kwarnas
PRAMUKA.OR.ID, JAKARTA – Menyambut Hari Ibu tahun 2016, Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dan Ikatan Ibu-Ibu Kwarnas (IIK) menggelar Seminar Nasional dan Pencanangan Gerakan Ibu Menyelamatkan Keluarga Indonesia di Aula Pandan Sari Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur (21/12). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 150 anggota Pramuka dan masyarakat umum yang berada di Jabodetabek.
Para peserta seminar tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Respon mereka pun positif. “Bagus sekali acara yang diadakan Kwarnas dan Ibu-Ibu Kwarnas ini. Materi yang disampaikan dua narasumber sangat bermanfaat,” ujar salah satu peserta yang tak ingin disebutkan namanya.
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Adhyaksa Dault mengatakan, seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat seperti sekarang ini, rasa kebersamaan dan interaksi sosial sesama keluarga sudah mulai menghilang.
Karena itu, menurut moderator seminar Kak Indra, seminar dengan tema Membangun Generasi Milenium yang Berkualitas ini sangat tepat. “Hubungan ibu dan anak saat ini tidak seerat dulu. Ini jadi masalah, apalagi saat ini Indonesia menghadapi banyak masala yang bisa merusak karakter dan etika anak,” demikian prolog moderator seminar.
Dr. Dewi Inong, SpKK sebagai narasumber pertama mengatakan, Indonesia tak bisa diserang seperti dulu yang pernah dihadapi oleh para pahlawan yang telah gugur di medan perang. “Sebaliknya, ini adalah proxy war !!! Perang tanpa senjata,” ujarnya dengan nada mulai meninggi.
Dokter spesialis kulit dan alat kelamin ini mencontohkan, di beberapa sekolah sudah diajarkan bahwa seks tak apa-apa asal dengan menggunakan kondom. “Ini salah, karena kondom juga tidak aman 100 persen, pori kondom lebih besar sehingga virus HIV/AIDS bisa lewat, dan hanya bisa mengurangi 20 persen tertular HIV/AIDS,” jelasnya.
“Karena HIV/ AIDS ini, negara harus mengalami beberapa kerugian. Di antaranya, biaya pengobatan sekitar Rp254.000-Rp500.000 per bulan seumur hidupnya harus ditanggung negara, tenaga kerja produktif hilang,” paparnya.
Kak Rani Razak sebagai narasumber kedua mengatakan, Indonesia saat ini sedang mendapatkan bonus demografi, sehingga kita ada lebih banyak tenaga kerja berusia produktif. “Kalau Indonesia banyak yang kena HIV/ AIDS, maka tenaga kerja Indonesia yang berusia produktif malah penyakitan. Yang ada nanti malah jadi bencana demografi ,” jelasnya.
“Yang harus kita kembangkan dari anak-anak kita seharusnya adalah sosio-emosional, fisik, spiritual dan intelligence,” nasehatnya.
Setelah seminar, para peserta membubuhkan tanda tangannya di sebuah karton putih sebagai wujud setuju dan siap menjadi motor penggerak Gerakan Ibu Selamatkan Keluarga Indonesia. “Siap kak, saya akan berikan tanda tangan saya dan dukung gerakan membangun generasi milenium yang berkualitas,” tandas Kak Nova, salah satu peserta. (MSA)