24/08/2019
Syaikhina...
Sang Rajul Kâmil Adalah Zuhrul Anam
Gus Zuhrul Anam, atau akrab disapa Gus Anam, merupakan menantu KH. Maimoen Zubair. Bahkan, boleh jadi, yang paling membentuk karakter keilmuan beliau, salah satunya adalah guru sekaligus juga mertuanya ini. Beliau merupakan satu diantara beberapa orang santri yang diakui kealimannya oleh Mbah Maimoen.
Beliau pernah menuturkan, pertama bertemu Mbah Maimoen tahun 1982 M. Kala itu, Gus Anam ditemani Gus Fuad (kakak kandung beliau sekaligus menantu KH. Kholil Bisri) dan Gus Solih (keponakan KH. Mustolih Badawi) menghadap Mbah Maimoen. Saat hendak berpamit, dan masing masing menyalami Mbah Moen, tiba tiba Gus Anam ditarik dan dipeluk dalam waktu yang cukup lama. Hal itu tidak beliau lakukan pada yang lain. Apakah hal itu kebetulan, atau ada tafsir, tetapi menjadi tersingkap saat beliau menjadi suami untuk salah satu putrinya, Ny. Hj. Rodliyah Maemon Zubair.
Gus Anam melabuhkan pengembaraan ilmiah di Sarang atas rekomendasi dari Syeikh Hisyam Zuhdi, atau Mbah Hisyam, Abahnya sendiri: Gus Anam datang ke Sarang membawa surat dari Abahnya yang ditujukan pada Mbah Moen. Pada surat tersebut, tertulis keinginan Mbah Hisyam, semasa muda, untuk menimba ilmu pada ayahanda Mbah Maimoen, yakni KH. Zubair bin Dahlan. Namun karena satu dua hal, Allah belum menakdirkan Mbah Hisyam dititipkan di tempat Mbah Zubair. Gus Anam dititipkan di tempat Mbah Maimoen sebagai bentuk 'realisasi' keinginan lawas yang belum terlaksana.
Gus Anam di Sarang hanya empat tahun. Yakni tahun 1985-1989 M. Tapi, begitu di sana satu tahun, Gus Anam lantas ditunjuk menjadi Ra'îs Mu'în, sebuah jabatan prestisius yang menjadi dambaan setiap santri. Beliau sering ditunjuk melalui musyawarah keluarga untuk menggubah syair syair dalam beberapa momen penting.
Masyhur di kalangan alumni Pondok Sarang yang semasa bahwa Gus Anam pernah disebut dengan 'rajul kâmil' (laki laki sempurna). Gus Bahauddin Najmuddin, Sidareja, menceritakan bahwa alumni alumni Sarang yang sezaman dengan Gus Anam, rata rata sudah mengetahui siapa si rajul kâmil.
"Iya sudah pada tahu kalau itu," saat ditanyakan ke alumni yang beliau kenal.
Hingga Gus Baha suatu waktu bertemu dengan H. Maqshudi, adik dari KH. Mustholih Masyhud. Ia mengatakan, pernah mendengar sendiri Mbah Moen menyebut Gus Anam dengan seburan 'rajul kâmil'.
Diceritakan, saat itu bulan Syawal. Gus Anam baru saja datang dan masih memakai celana. Lewat di depan 'ndalem', Mbah Moen keluar sambil ngendikan dengan suara keras:
"Gus Zuhrul Anam Rajul Kâmil".
Suara Mbah Moen didengar oleh banyak santri.
Menurut alumni yang semasa, ada alasan kenapa Gus Anam disebut rajul kâmil.
"Karena Gus Anam dalam menghapal bisa sangat cepat melebihi teman temannya yang lain".
Di antara kitab kitab yang sudah beliau hapalkan adalah varian fan ilmu Pesantren, meliputi materi dasar gramatika, Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah. Dalam fiqh beliau hapal Fathul Qarîb, ushul fiqh beliau hapal Waraqât, dalam balaghah ada Uqûd al-Jumân, dan beberapa mukhtashar lain.