08/03/2026
DARI MANUSIA UNTUK MANUSIA
يُروى فيما مضى من قصص الماضي أنَّ ﺃﺣﺪَ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙِ استدعى ﺍﻟﺸﻌّﺮﺍﺀَ ﺇﻟﻰ ﻗﺼﺮِهِ، وأثناء مسيرهم فلقيهم ﺷﺎﻋﺮٌ ﻓﻘﻴﺮٌ ﺑﻴﺪِهِ ﺟﺮّةٌ ﻓﺎﺭﻏﺔٌ ﻛﺎﻥ ﻣﺘﻮﺟﻬًﺎ ﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺒﺤﺮ ﻟﻴﻤﻸﻫﺎ ﻣﺎﺀ، ﻓﺮﺍﻓﻘﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻗﺼﺮ ﺍﻟﻤﻠﻚ، ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺍﻟﻘﺼﺮ؛ فما كان من الملك إلا أن ﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺇﻛﺮﺍﻣﻬﻢ ﻭﺍﻹﻧﻌﺎﻡ ﻋﻠﻴﻬﻢ. ﻭﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﺍﻟﻤﻠﻚُ هذا ﺍﻟﺮّﺟﻞَ ﻭﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ ﺍﻟﺠﺮّة ﻭﺛﻴﺎﺑﻪ رثة ﺳﺄﻟﻪ: ﻣﻦ ﺃنت؟ ﻭﻣﺎ ﺣﺎﺟﺘُﻚ؟
ﻓﺄﻧﺸﺪ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮُ:
وﻟﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖُ ﺍﻟﻘوﻡَ ﺷﺪّﻭﺍ ﺭﺣﺎﻟَﻬﻢ
ﺇﻟﻰ ﺑﺤﺮِﻙ ﺍﻟﻄَّﺎﻣﻲ ﺃﺗﻴﺖُ ﺑﺠﺮَّﺗﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻤﻠﻚ: ﺍﻣﻸﻭﺍ ﺟﺮﺗﻪ ذهبًا ﻭﻓﻀﺔً.
ﻓﺤﺴﺪه ﺑﻌﺾُ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻳﻦ، ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻟﻠﻤﻠﻚ: ﺇﻧّﻪُ ﻓﻘﻴﺮٌ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﻗﻴﻤﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺃﺗﻠﻔﻪ ﺃﻭ ضيّعه.
ﻓﺮﺩ ﺍﻟﻤﻠﻚُ: ﻫﻮ ﻣﺎﻟُﻪُ ﻳﻔﻌﻞُ ﺑﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎء.
فمُلِئت ﺟﺮّﺗﻪ ذهبًا وفضةً، ﻭﺧﺮﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﻔﺮّﻕ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍء.
وﺑﻠﻎ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ، ﻓﺎﺳﺘﺪﻋﺎه ﻭﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ.
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮُ:
ﻳﺠﻮﺩُ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺍﻟﺨﻴّﺮﻭﻥ ﺑﻤﺎﻟﻬﻢ
ﻭﻧﺤﻦُ ﺑﻤﺎﻝِ ﺍﻟﺨﻴّﺮﻳﻦ ﻧﺠﻮﺩُ
ﻓﺄُﻋﺠﺐ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺑﺠﻮﺍﺏ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﺗُﻤﻸ ﺟﺮّﺗﻪ ﻋﺸﺮ ﻣﺮّﺍﺕ؛ ﻭﻗﺎﻝ: ﺍﻟﺤﺴﻨﺔُ ﺑﻌﺸﺮ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ.
ﻓﺄﻧﺸﺪ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮُ ﻫﺬه ﺍﻷﺑﻴﺎﺕ ﺍﻟﺸّﻌﺮﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﻢ ﺗﺪﺍﻭﻟﻬﺎ منذ زمن بعيد:
ﺍﻟﻨّﺎﺱُ ﻟﻠﻨّﺎﺱِ ﻣﺎ ﺩﺍﻡَ ﺍﻟﻮﻓﺎﺀُ ﺑِﻬِﻢْ
ﻭﺍﻟﻌُﺴﺮُ ﻭﺍﻟﻴُﺴﺮُ ﺃﻭﻗﺎﺕٌ ﻭﺳﺎﻋﺎﺕُ
ﻭﺃﻛﺮﻡُ ﺍﻟﻨّﺎﺱِ ﻣﺎ ﺑﻴﻦَ ﺍﻟﻮﺭﻯ ﺭﺟﻞٌ
ﺗُﻘﻀﻰ ﻋﻠﻰ ﻳﺪِهِ ﻟﻠﻨّﺎﺱِ ﺣﺎﺟﺎﺕُ
ﻻ ﺗﻘﻄﻌﻦَّ ﻳﺪَ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑِ ﻋﻦ ﺃﺣﺪٍ
ﻣﺎ ﺩُﻣﺖ ﺗﻘﺪِﺭُ، ﻭﺍﻷﻳّﺎﻡ ﺗﺎﺭﺍﺕُ
ﻭﺍﺫﻛﺮ ﻓﻀﻴﻠﺔَ ﺻُﻨﻊِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇﺫ ﺟﻌﻠﺖ
ﺇﻟﻴﻚَ .. ﻻ ﻟﻚَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻨّﺎﺱِ ﺣﺎﺟﺎﺕُ
ﻓﻤﺎﺕَ ﻗﻮﻡٌ، ﻭﻣﺎ ﻣﺎﺗﺖْ ﻓﻀﺎﺋِﻠُﻬُـﻢْ
ﻭﻋﺎﺵَ ﻗﻮﻡٌ ﻭﻫُﻢْ ﻓﻲ ﺍﻟﻨّﺎﺱِ ﺃﻣﻮﺍﺕُ
Diceritakan dalam kisah masa lalu bahwa seorang raja memanggil para penyair ke istananya. Dalam perjalanan mereka, bertemulah seorang penyair miskin yang membawa sebuah kendi kosong, hendak menuju laut untuk mengisinya dengan air. Ia pun ikut bersama mereka hingga sampai ke istana raja. Maka raja pun sangat memuliakan dan memberi anugerah kepada mereka.
Ketika raja melihat lelaki miskin itu dengan kendi di pundaknya dan pakaian lusuh, ia bertanya: “Siapa engkau? Apa keperluanmu?”
Maka si miskin pun melantunkan syair:
“Tatkala kulihat kaum itu mengikat pelana mereka
Menuju samudramu yang bergelora, aku pun datang dengan kendiku.”
Raja berkata: “Isilah kendinya dengan emas dan perak.”
Sebagian hadirin merasa iri dan berkata kepada raja: “Ia orang miskin yang tidak tahu nilai harta ini, mungkin ia akan merusaknya atau menyia-nyiakannya.”
Raja menjawab: “Itu hartanya, ia bebas berbuat apa yang ia mau.”
Maka kendinya pun dipenuhi emas dan perak. Ketika ia keluar menuju pintu, ia membagikan harta itu kepada orang-orang miskin.
Berita itu sampai kepada raja, lalu ia memanggilnya dan bertanya tentang hal itu.
Si miskin menjawab dengan syair:
“Orang-orang dermawan memberi kami dengan harta mereka,
Dan kami dengan harta orang dermawan pun memberi.”
Raja kagum dengan jawaban si miskin, lalu memerintahkan agar kendinya diisi sepuluh kali lipat, seraya berkata: “Kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali.”
Maka si miskin pun melantunkan bait-bait yang terkenal sejak lama:
“Manusia untuk manusia selama ada kesetiaan di antara mereka,
`Kesulitan dan kemudahan hanyalah waktu dan saat.`
Dan manusia yang paling mulia di antara makhluk adalah seorang lelaki,
Yang dengan tangannya kebutuhan orang-orang terpenuhi.
Janganlah engkau hentikan tangan kebaikan dari siapa pun,
Selama engkau mampu, karena hari-hari silih berganti.
Ingatlah keutamaan ciptaan Allah, karena Dia menjadikan
Kebutuhan orang-orang kepadamu, bukan untukmu.
Suatu kaum mati, namun keutamaan mereka tidak mati,
Dan suatu kaum hidup, namun mereka di tengah manusia adalah orang mati.”