21/04/2023
Berbeda dengan Pemerintah dalam 1 Syawal itu Biasa Saja
Kalau beberapa tahun terakhir Muhammadiyah berbeda pendapat dalam penentuan 1 Syawal, ternyata sejarah mencatat bahwa pemerintah dan NU juga pernah berbeda dalam menentukan lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.
Itu terjadi saat menteri agamanya di bawah rezim Orde Baru. Zaman itu, NU dimusuhi Pak Harto sehingga tidak masuk kementerian.
Selama Orde Baru penentuan awal bulan qamariyah yang selalu dibuat seragam oleh
pemerintah tersebut sempat terjadi perbedaan penetapan sidang isbat antara NU dengan
pemerintah.
Perbedaan tersebut sempat terjadi pada tahun 1985, 1992, 1993, 1994 dan 1998. Bisa dikatakan sejak Lembaga Falahiyah NU berdiri tahun 1984.
Pada tahun 1985, setelah keputusan sidang itsbat ditentukan pemerintah, sempat terjadi perbedaan dalam hasil penentuan awal bulan Ramadhan.
Perbedaan tersebut terjadi antara pemerintah dengan NU dimana pemerintah menetapkan Idul Fitri sehari sebelum NU dengan menggunakan hasil hisab sedangkan NU menetapkan sehari setelah pemerintah dengan menggunakan hasil rukyat, sehingga
terjadilah perbedaan dalam penetapan waktu Idul Fitri.
Perbedaan tersebut mengakibatkan
beberapa masyarakat atau golongan yang tidak mengikuti pemerintah, menjadi korban represif
(tekanan) Pemerintah Orde baru. Hal itu disebabkan Salat Id menjadi penanda penting bagi pemerintah Orde baru, seseorang itu loyal ataukah tidak pada pemerintah ( Ayung Notonegoro, 2020).
Pada tahun-tahun selanjutnya yakni tahun 1986-1991, penetapan waktu Idul Fitri mulai
seragam lagi berkat adanya Badan Hisab dan Rukyat yang diatur oleh pemerintah, namun
perbedaan waktu Idul Fitri kemudian terjadi lagi pada tahun 1992, 1993 dan 1994 dikarenakan
metode penentuan awal bulan qamariyah oleh NU sejak tahun 1992 hingga 1994, NU
menggunakan metode rukyatul hilal dengan acuan hisab taqribi yakni Sullam al-Nayyirain dan
kriteria imkan rukyat. Sebaliknya pemerintah menggunakan metode hisab yang merupakan hasil Musyawarah Penyelarasan Rukyat dan Taqwim Islam MABIMS (Menteri Agama Brunesi
Darussalam, Indonesia, Malaysia dan singapura).
Perbedaan metode tersebut menghasilkan
keputusan yang berbeda sehingga selama tiga kali berturut turut mengalami perbedaan waktu Idul
Fitri (Himayatika, 2016).
Perbedaan yang terjadi pada tahun 1992 disebabkan karena terjadinya perbedaan hasil perhitungan di kalangan NU dan Pemerintah dalam mengawali awal bulan Syawal.
Pemerintah melalui sidang itsbatnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Ahad Wage, 5 April 1992, dimana data hilal ketika matahari terbenam di Pos Observasi Bulan (POB) bulan masih di bawah ufuk.
Keputusan pemerintah ini atas dasar istikmal dan menolak hasil laporan rukyat. Hal ini berbeda
dengan PBNU yang mengumumkan 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu Pon, 4 April 1992, dimana
ketinggian hilal ketika matahari terbenam pada hari Jum’at Pahing 3 April 1992, bulan sudah
berada diatas ufuk dengan ketinggian 3º46’’ sehingga menghasilkan waktu yang berbeda diantara
keduanya.
Sekilas tentang Imkanur rukyat. Imkan rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darusssalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah dengan prinsip :
Awal bulan (kalender) hijriyah terjadi jika :
1. Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan- Matahari minimum 3 derajat, atau
2. Pada saat bulan terbenam, usia bulan minimum 8 Jam, dihitung sejak ijtima’.
Secara bahasa Imkan rukyat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal.
Secara praktis, Imkanur-rukyat dimaksudkan untuk menjembatani metode rukyat dan metode hisab. Terdapat 3 kemungkinan kondisi :
a. Ketinggian hilal kurang dari 0 derajat. Dipastikan hilal tidak dapat dilihat sehingga malam itu belum masuk bulan baru. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
b. Ketinggian hilal lebih dari 2 derajat. Kemungkinan besar hilal dapat dilihat pada ketinggian ini. Pelaksanaan rukyat kemungkinan besar akan mengkonfirmasi terlihatnya hilal. Sehingga awal bulan baru telah masuk malam itu. Metode Rukyat dan Hisab dalam kondisi in sepakat.
c. Ketinggian hilal antara 0 sampai 2 derajat . Kemungkinan besar hilal tidak dapat dilihat secara Rukyat. Tetapi secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala/ufuq.
Jika ternyata hilal berhasil dilihat ketika rukyat, maka awal bulan telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini. Tetapi jika rukyat tidak berhasil melihat hilal maka metode rukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari sehingga malam itu belum masuk awal bulan baru. Dalam kondisi ini Rukyat dan Hisab mengambil kesimpulan yang berbeda.
Meski demikian ada juga yang berfikir bahwa pada ketinggian kurang dari 2 derajat hilal tidak mungkin dapat dilihat. Sehingga dipastikan ada perbedaan penetapan awal bulan pada kondisi ini. Hal ini terjadi pada penetapan 1 Syawal 1444 H/2023M. Terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pemerintah. Jadi biasa saja menghadapi perbedaan ini. Kalau ada yang menghendaki penyamaan hari raya seperti jaman Orde Baru dulu, pasti tidak akan mungkin bisa terjadi sampai kapan pun sebelum ada kesepakatan masalah ketinggian hilal di atas 3 derajat.
Pokoknya selamat hari raya Iedul Fitri 1444H bagi yang merayakan besok Jumat, 21 April 2022 dan selamat bagi yang merayakan hari Sabtu 22 April 2023.
Dikutip dari berbagai sumber.