Ringen Ringen

Ringen Ringen Halaman ini memuat karya jurnalis santri. Pembelajar literasi.

12/07/2022

Indah Yasmita

Tiara

“Memikat perkutut harus lebih dulu mengetahui seluk beluk perkutut,” tutur Imam Hanafi. “Dengan kata lain, kita harus bi...
19/04/2022

“Memikat perkutut harus lebih dulu mengetahui seluk beluk perkutut,” tutur Imam Hanafi. “Dengan kata lain, kita harus bisa menjadi perkutut. Bukan lagi wisatawan. Bukan manusia-manusia rakus yang ingin mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya dari kekayaan alam semesta.” (Hal.35)....

“Memikat perkutut harus lebih dulu mengetahui seluk beluk perkutut,” tutur Imam Hanafi. “Dengan kata lain, kita harus bisa menjadi perkutut. Bukan lagi wisatawan. Bukan manusia-manusia rakus yang i…

Mereka (generasi muda hari ini, kids zaman now) belajar secara alamiah untuk mencari dan menemukan Tuhan, Kanjeng Muhamm...
19/04/2022

Mereka (generasi muda hari ini, kids zaman now) belajar secara alamiah untuk mencari dan menemukan Tuhan, Kanjeng Muhammad, dan Islam di refrain lagu, di tetesan daun, di hembusan angin, di ujung sepatu pesepakbola Piala Dunia, di auman harimau, di kicau burung dan kelopak anggrek....

Mereka (generasi muda hari ini, kids zaman now) belajar secara alamiah untuk mencari dan menemukan Tuhan, Kanjeng Muhammad, dan Islam di refrain lagu, di tetesan daun, di hembusan angin, di ujung s…

Saya membaca buku ini sudah dua kali lebih, entah pastinya berapa. Ketertarikan saya pada buku ini didahului oleh ketert...
19/04/2022

Saya membaca buku ini sudah dua kali lebih, entah pastinya berapa. Ketertarikan saya pada buku ini didahului oleh ketertarikan kepada penulisnya, Dr. Muhammad Nur Samad Kamba. Kira-kira, seingat saya, perjumpaan dengan Syaikh Kamba –panggilan akrabnya di lingkungan Maiyah– kurang lebih dua kali. Pastinya dua kali. Namun, sebelum perjumpaan pertama, saya merasa sudah pernah berjumpa. Entah kapan, tidak ada ingatan yang kuat untuk dipegang....

Saya membaca buku ini sudah dua kali lebih, entah pastinya berapa. Ketertarikan saya pada buku ini didahului oleh ketertarikan kepada penulisnya, Dr. Muhammad Nur Samad Kamba. Kira-kira, seingat sa…

Perjalanan Menemukan Diri Waktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari du...
19/04/2022

Perjalanan Menemukan Diri Waktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari dunia hari ini. Realitas hari ini. Dunia yang sudah sangat lama saya tinggalkan dan sengaja saya abaikan. Sering sekali saya mengabaikan obrolan masyarakat desa saya karena lebih mementingkan pertengkaran di dalam diri sendiri; siapakah saya dan bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan ini dengan baik dan mungkin mendekati panduan yang sudah ditulis di dalam kitab suci maupun yang ada pada orang lain sebagai contoh kepribadian yang utuh dan paripurna, akan tetapi saya juga pernah mendengarkan dengan saksama obrolan masyarakat, lebih tepatnya beberapa orang saja yang malam dini hari s**a menghabiskan waktunya di warung kopi sambil menyesap kopi dan menghisap dalam-dalam rokoknya; seakan sedang mencoba menelan rasa pahit kehidupan yang dijalaninya sekaligus menyesap dalam-dalam pertanyaan yang mereka kandung; untuk apa saya hidup?...

Perjalanan Menemukan Diri Waktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari dunia hari ini. Realitas hari ini. Dunia yang sudah sangat lama saya tinggalkan…

Perjalanan Menemukan DiriWaktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari dun...
19/04/2022

Perjalanan Menemukan DiriWaktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari dunia hari ini. Realitas hari ini. Dunia yang sudah sangat lama saya tinggalkan dan sengaja saya abaikan. Sering sekali saya mengabaikan obrolan masyarakat desa saya karena lebih mementingkan pertengkaran di dalam diri sendiri; siapakah saya dan bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan ini dengan baik dan mungkin mendekati panduan yang sudah ditulis di dalam kitab suci maupun yang ada pada orang lain sebagai contoh kepribadian yang utuh dan paripurna, akan tetapi saya juga pernah mendengarkan dengan saksama obrolan masyarakat, lebih tepatnya beberapa orang saja yang malam dini hari s**a menghabiskan waktunya di warung kopi sambil menyesap kopi dan menghisap dalam-dalam rokoknya; seakan sedang mencoba menelan rasa pahit kehidupan yang dijalaninya sekaligus menyesap dalam-dalam pertanyaan yang mereka kandung; untuk apa saya hidup?...

Perjalanan Menemukan DiriWaktu lampau. Masa lalu. Perjalanan pikiran bertujuan menemukan dunia yang menjadi ibu dari dunia hari ini. Realitas hari ini. Dunia yang sudah sangat lama saya tinggalkan …

22/01/2020

Tempat Kelahiran
Palembang-Okus-BPR RT

13 Januari 2020-01-13

Kota sekaligus desa yang saat ini sangat aku rindukan yang menyimpan 1001 kenangan.

Aku terlahir dari keluarga sederhana yang bersuku Ranau dengan adat yang sangat unik. Desaku bernama Panggal yang bertepian dengan danau. Di tempatku masih banyak agama selain Islam. Rumahku tidak jauh dari tempat wisata, di sekeliling rumahku pun sudah ada tempat wisata; sisi kiri rumahku ada “Sesebikhil”. Pengen tahu coba lihat saja di google. Depan rumahku langsung bertepi danau, namanya “Danau Ranau”. Ada lagi air terjun namanya “Air Terjun Subiktuha” terus pantai namanya “Pantai Pelangi” dan masih banyak lagi. Wisata di tempatku masih berbau alam karena dikelilingi gunung.

Makanan khas kami Pempek Selam dan Kerupuk Ikan. Tak kalah p**a dengan pengasilan alam kami; penghasilan alam kami kopi dan rempah-rempah.

Di desaku tak kutemukan adanya karang taruna. Prosentase delapan puluh delapan (88%) tidak ada remaja yang menetap di sana. Kebanyakan pop**asi remaja yang sudah tamat sekolah atau memang yang tidak sekolah itu anak perantauan yang mencari kerja di kota tetangga seperti di Jakarta, Tanggerang, Bekasi dan kota lainnya. Bahkan prosentase tujuh puluh (70%) juga banyak anak-anak yang sekolah di luar kota, termasuk diriku.

Jika tahun baru pasti tidak pernah ketinggalan dengan acara tahunan atau sering disebut “Festival Danau Ranau”. Kegiatannya sangat meriah; banyak tampilan yang disuguhkan, seperti pertunjukan Kuda Lumping, Tarian adat, Nyanyian Daerah. Dan tak kalah meriah artis pun diundang. Dulu pernah mengundang Wali Band, Cita-ta, Rara Academi dan masih banyak lagi.

Dari beberapa bahasa yang paling simpel adalah bahasa kami. Saya beri contoh misalnya:

Bahasa Indonesia “mau pergi ke mana” ke bahasa Jawa jadi “ape nandi” ke bahasaku berubah jadi “mano uy”. Ungkapan lain: “kalo mau, ayo, kalo gak mau, yaudah” bahasa jawanya “nek gelem ayo, nek gak gelem yowes” bahasaku hanya “galak payu, idak udem”.

Dari contoh ragam ungkapan di atas, terlihat bahasku sangat sederhana, kan?

Cukup ceritaku tentang desa atau tempat kelahiranku.

Danau Ranau
(Jhelia Apriani Yudha)

22/01/2020

Kota Kelahiran

Bagi kalian yang sering bepergian keluar profinsi pasti tak akan merasa asing dengan kota Cepu. Di mana kalian akan disambut oleh monumen candi-candi saat kalian memasuki kawasannya. Terus melaju sampai pada desa tempatku lahir dan dibesarkan. Sawah yang membentang luas dengan ditemani aspal yang mulai rusak mengiringi setiap waktuku di sana.

Rumah-rumah yang sebagian besar termasuk milikku masih berbahan dasar kayu jati yang dicat warna-warni mengisi setiap petak perkampungan.

Suara ramai anak-anak kecil yang berlari-lari tapi bukan untuk main kejar-kejaran melainkan mencari wifi gratis untuk bertanding gam pada ponsel yang mereka bawa.

Memang sangat berbeda dengan zamanku dulu, di mana kami lebih s**a bermain karet, petak umpet, kejar-kejaran juga maak-masakan. Anak kecil zaman sekarang cenderung melangitkan sebuah gadget.

Lalu suara ramai itu akan hilang begitu sang bulan mulai menyapa. Ya, bagaikan desa tak berpenghuni. Sesekali ramaipun karena ulah anak laki-laki yang tengah beradu kecepatan sepeda modif yang mereka dapat dari orang tua mereka.

Cabean-Cepu-Blora

Itu yang berusaha kuceritakan dari tadi. Aku tak mengerti dari mana asal-usul tempat kelahiranku ini dinamai Desa Cabean. Apakah karena penghasilan mereka yang berupa cabe ataupun mulut mereka yang sepedas cabe saat berbicara, aku tidak tahu atau lebih tepatnya malas untuk sekadar tahu.

Tapi menurutku opini yang kedua lebih masuk di akalku, hahaha... tapi meskipun begitu mereka tetap ramah-tamah, setidaknya itu yang aku tahu.

Untuk tempat wisata di daerah Cepu jujur saja aku tidak tahu karena sekalipun aku lahir dan dibesarkan di sana aku berkembang dan dewasa di Gresik. Jadi tidak heran jika beberapa dari mereka tidak percaya jika aku terlahir di sana.
Ah, ya, satu lagi. Ia adalah desa yang akan menangkup akhir ceritaku dan ia yang telah ditulis-Nya untukku.

Salam santuy

Ka. Musaa 112
(Eka Muti’atus Sa’adah, XI MIPA)

22/01/2020

Desa Menganti

Menganti sebuah desa yang terletak di selatan kota Gresik dan juga perbatasan dengan surabaya. Namun kamu harus tahu bahwa dusun yang aku tinggali itu di dusun Wonokoyo. Maaf ya... buat semuanya karena aku belum mengetahui cerita asal-usul desaku.

Semenjak aku mondok banyaklah perubahan yang ada di desa. Sampai-sampai aku kesulitan memahaminya. Apalagi di era globalisasi ini. Bagaimana tidak? Waktu 2015 dulu hampir tidak ada warung kopi yang menyediakan wifi, namun waktu tahun 2019, wow banyak warkop wifi di kanan-kiri jalan.

Buat apa lagi wifi kalau tidak buat nge-game? Dan kebanyakan yang kulihat cowok-cewek sama saja.
Kadang ada yang bilang kalau telepon genggam itu iblis kecil. Bagiku itu dikembalikan kepada pemakainya. Jika telepon genggam digunakan dengan baik maka ponsel pintar itu seperti malaikat kecil.

Dan yang paling memprihatinkan ketika ada yang bilang:
“Bu, minta uang.”
“Buat apa?”
“Beli paketan.”

Kembali ke pembahasan awal. Di desaku permainan petak umpet, lompat tali, gobak sodor dan engklak, itu hampir punah. Penyebabnya ya tadi, banyak permainan-permainan di ponsel pintar sekarang.

Kalau teman-teman ingin kunjung di desaku, silakan. Karena sekarang banyak penjual di alun-alun menganti. Ada tamannya p**a; “wow” di Jepang. Dan seandainya kalian berada di perempatan pasar Menganti maka harus berhati-hati karena di situ sering macet sekaligus rawan kecelakaan. Di desaku sih... sawah itu sekarang dibuat pemukiman dan ada juga yang dibuat wisata.

Meskipun menganti itu perbatasan dengan ibu kota Jawa Timur, masyarakat Menganti memiliki rasa persaudaraan yang sangat luar biasa. Buktinya kalau ada acara di rumah siapa gitu, banyak para tetangga yang ikut membantu dengan ikhlas.

Dan pada umumnya masyarakat Menganti bekerja menjadi penjual dan petani.

Makanan khas di Menganti tidak ada. Namun kalau sudah berada di Menganti kebanyakan orang menjadikan “Klepon Debi” sebagai oleh-oleh. Seandainya kalian semua ingin mencicipi “Klepon Devi” itu berada di barat pasar. Di situ ada toko kecil.

Perlu kalian ketahui waktu aku pindah rumah di dusun Wonokoyo, jalannya itu masih sepi banget. Padahal rumahku berada di dekat jalan raya. Namun di tahun 2019 jalanku sudah mulai ramai banget. Ya seperti Jakarta gitu...
Buat teman-teman yang membaca ini. Maaf sekali lagi belum bisa menceritakan asal-usul desaku. Namun aku hanya bisa menceritakan suasana di desaku.

Saira 262

12/01/2020

Teman
Ka.musaa112.
(Eka Muti’atus Sa’adah, 2 MA)

Seperti yang dialami kebanyakan remaja di usiaku, kata “teman” dari orang yang diharapkan jadi spesial adalah kata yang paling menyeramkan. Setidaknya dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Semua bermula dari awal liburan. Sebut saja dia Banun. Sangat sulit bagiku menghubunginya dan aku mencoba untuk tetap mengertinya. Sampai waktu study tour tiba. Itu adalah hal menyenangkan yang tak akan pernah terulang. Saat kita menghabiskan waktu dengan canda tawa seorang temman. Namun tidak bisa dinafikan bahwa setiap orang pasti memiliki teman yang dispesialkan.

Cukup melelahkan menjalani perjalanan selama lima hari dengan tanjakan dan kelokan yang curam. Aku sampai di pondok pukul tiga dini hari. Niat untuk tidur sirna seketika saat aku ingat suatu hal yang harus kubereskan saat ini juga dan jelas tidak membutuhkan waktu yang sedikit.

Dan setelah dua jam berkutat dengan barang-barang tadi alarm perutku berbunyi. Ya, aku lapar. Karena tipe orang yang tidak bisa tidur dengan menahan lapar, aku pun menunggu titipan nasi dengan mendengarkan musik.

Enam jam berlalu setelah aku mencuci baju kotor dan membenahi barang yang akan kubawa p**ang aku pun menuju tempat pemberhentian bus dengan dua kardus di tanganku dan tas kecil yang ada di pundak. Ini memang bukan yang pertama kalinya aku p**ang sendiri namun kondisi fisik yang minus membuat moodku memburuk.

Tak mendapat tempat duduk, digoda kernet bus, yang berusaha mencomblangkanku dengan penumpang yang kelihatannya seumuran denganku dan yang paling membuat moodku tambah buruk Banun yang tak kunjung membalas chattku saat aku mengabarinya bahwa aku akan p**ang.

Lima jam yang melelahkan di bus berdesakan dan masih banyak hal menjengkelkan yang tak bisa kuceritakan lagi. Aku sampai rumah dengan basah kuyup karena hujan lebat yang mengguyur saat aku turun dari bus.

“Bu, ada nasi nggak? Aku laper nih belum makan dari siang” kataku pada ibu stelah selesai mengganti baju.

“Tidak ada, sudah habis tadi. Kamu masak mie instan saja dulu. Ibu akan menjemput adekmu” kata ibu lalu pergi.

Aku baru bisa mengistirahatkan diri begitu sang bintang telah hadir. Kubuka Room Chatt saat itu juga. Ada banyak keluh kesah yang akan kusampaikan padanya – Banun – juga tentang perubahan sikapnya padaku. Baru saja aku akan memulai saat kata-kata dari seberang membuat hatiku mencelos.

“Kita temenan saja ya”

Apa maksudnya? Kita? Udahan?

“Yaudah gak papa” kataku dengan tawa renyah. Ya, Ia tak akan pernah tahu kalau sungai mataku mengalir.

“Aku bukan maksud pengen nyakitin kamu, tapi... Kita masih tetap dekat, kok.”

“Iya... sans (baca: santai saja) lah” balasku lagi.

“Eh, gimana study tournya, lo? Oleh-oleh buat gue ada dong” candanya mengalihkan topik. Lo-Gue... haha.

“So pasti, haha” jawabku sekenanya.

“Makin gila aja temen gue ini, haha”

So what? Temen? Oke.

“Haha terkadang kita butuh sedikti gila saat kita terlalu lama serius” jawabku ngenes.

“Ya Allah... sembuhkanlah teman hamba ini, haha”

Teman. Ya, hanya teman.

“Amin. Udah, ya, gue ngantuk. Selamat malam”
Tuuut...

Panggilan terputus dan ponselku mati. Biasanya kami menunggu persetujuan saat akan memutuskan panggilan untuk menjaga perasaan, tapi saat ini toh kita hanya teman, kan?

Sampai pada akhirnya aku berlayar ke p**au mimpi diiringi sungai mata dan remuk-redamnya jasmani-rohani ini.

Ya, memang teman.

jumat 10 Januari 2020

12/01/2020

terima kasih atas dukungan likenya. panjang umur semua hal baik.

12/01/2020

Mengejutkan

Hari liburku diisi dengan kabar mengejutkan. Bagaimana tidak? Teman waktu MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang selama 4 tahun hilang komunikasi, entah apa sebabnya, tiba-tiba muncul.

Kronolginya.

Empat perempuan mengetuk pintuk rumah yang bercat abu-abu. Dibukalah oleh perempuan cantik. Perempuan cantik merasa heran atas kedatangan empat peremuan. “Masya Allah” itu yang diucap olehku. Pasti semua empat perempuan itu sudah menebak bahwa perempuan cantik itu saya. Memang, karena saya anak perempuan sendiri dari keluarga kecil saya. Jadi saya yang paling cantik. Lanjut seketika itu saya berjabat tangan dengan empat perempuan itu. Mereka semua adalah teman penghibur laraku.

Kita berbincang-bincang cukup lama dan di saat ke empat temanku ini ingin meninggalkan rumahku, salah satu dari mereka berkata “Buat WA saja biar komunikasinya tidak terputus lagi.” Saya dari dulu juga ingin membuatnya tapi saya takut. Batinku di hati. Entah mengapa kuputuskan membuat WA. Alhamdulillah kontak saya sekarang sudah berada di grup ALUMNI MI TARBIYATUL MUTA’ALLIMIN.

Keempat temanku mungkin sudah sampai di rumahnya sendiri-sendiri. Tiba-tiba waktu saya baru membuka WA ada yang chatt.

“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam. Ini siapa?”
“Fuad”
“Siapa?”
“Temanmu MI”
“O... iya”

Seketika itu aku terkejut dan sudah tidak tahu. Pikiranku sudah terbang jauh di angkasa raya. Karena cowok itu merupakan idaman bagi setiap kaum hawa pada era MI. Namun sayang dia tidak meneruskan jenjang selanjutnya di pondok pesantren. Setelah semalam kita berkomunikasi lewat perantara WA, akhirnya saya sudah mengetahui kabarnya sekarang,

Tepat pada hari lahir pancasila, Fuad ingin bersahabatan dengan saya. Saya bingung karena mulai saya mondok saya nggak pernah berkomunikasi dengan teman cowok. Namun dari argumen Fuad ingin bersahabatan dengan saya, akhirnya saya memutuskan untuk menerima persahabatan itu dengan syarat dari saya “HANYA SEBATAS SAHABAT”. Ia pun mau menerima syarat dari saya dan Alhamdulillah persahabatan itu masih berlanjut sampai sekarang.

Saya dan dia mengisi hari-hari di chatt dengan hal-hal motivasi yang berlandaskan agama. Dan liburan pondok saya hampir selesai, namun tiba-tiba dia ngechatt:
“Wanita yang selama ini aku kagumi itu kamu namun aku tidak pantas bilang ini ke kamu, karena kamu lebih baik daripada saya. Jadi saya ingin kita hanya bersahabat saja.”
Namun aku hanya bisa menanggapi hanya emot senyum saja.

Aku berharap saja pada Allah semoga persahabatanku dan dia bersambung sampai di akhirat. Dan semoga Allah memberi petunjuk yang terbaik.

Rainbow
(Sa’ida Umi Mukaromah)


Address

Manyar
Gresik

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ringen Ringen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category