12/01/2020
Teman
Ka.musaa112.
(Eka Muti’atus Sa’adah, 2 MA)
Seperti yang dialami kebanyakan remaja di usiaku, kata “teman” dari orang yang diharapkan jadi spesial adalah kata yang paling menyeramkan. Setidaknya dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
Semua bermula dari awal liburan. Sebut saja dia Banun. Sangat sulit bagiku menghubunginya dan aku mencoba untuk tetap mengertinya. Sampai waktu study tour tiba. Itu adalah hal menyenangkan yang tak akan pernah terulang. Saat kita menghabiskan waktu dengan canda tawa seorang temman. Namun tidak bisa dinafikan bahwa setiap orang pasti memiliki teman yang dispesialkan.
Cukup melelahkan menjalani perjalanan selama lima hari dengan tanjakan dan kelokan yang curam. Aku sampai di pondok pukul tiga dini hari. Niat untuk tidur sirna seketika saat aku ingat suatu hal yang harus kubereskan saat ini juga dan jelas tidak membutuhkan waktu yang sedikit.
Dan setelah dua jam berkutat dengan barang-barang tadi alarm perutku berbunyi. Ya, aku lapar. Karena tipe orang yang tidak bisa tidur dengan menahan lapar, aku pun menunggu titipan nasi dengan mendengarkan musik.
Enam jam berlalu setelah aku mencuci baju kotor dan membenahi barang yang akan kubawa p**ang aku pun menuju tempat pemberhentian bus dengan dua kardus di tanganku dan tas kecil yang ada di pundak. Ini memang bukan yang pertama kalinya aku p**ang sendiri namun kondisi fisik yang minus membuat moodku memburuk.
Tak mendapat tempat duduk, digoda kernet bus, yang berusaha mencomblangkanku dengan penumpang yang kelihatannya seumuran denganku dan yang paling membuat moodku tambah buruk Banun yang tak kunjung membalas chattku saat aku mengabarinya bahwa aku akan p**ang.
Lima jam yang melelahkan di bus berdesakan dan masih banyak hal menjengkelkan yang tak bisa kuceritakan lagi. Aku sampai rumah dengan basah kuyup karena hujan lebat yang mengguyur saat aku turun dari bus.
“Bu, ada nasi nggak? Aku laper nih belum makan dari siang” kataku pada ibu stelah selesai mengganti baju.
“Tidak ada, sudah habis tadi. Kamu masak mie instan saja dulu. Ibu akan menjemput adekmu” kata ibu lalu pergi.
Aku baru bisa mengistirahatkan diri begitu sang bintang telah hadir. Kubuka Room Chatt saat itu juga. Ada banyak keluh kesah yang akan kusampaikan padanya – Banun – juga tentang perubahan sikapnya padaku. Baru saja aku akan memulai saat kata-kata dari seberang membuat hatiku mencelos.
“Kita temenan saja ya”
Apa maksudnya? Kita? Udahan?
“Yaudah gak papa” kataku dengan tawa renyah. Ya, Ia tak akan pernah tahu kalau sungai mataku mengalir.
“Aku bukan maksud pengen nyakitin kamu, tapi... Kita masih tetap dekat, kok.”
“Iya... sans (baca: santai saja) lah” balasku lagi.
“Eh, gimana study tournya, lo? Oleh-oleh buat gue ada dong” candanya mengalihkan topik. Lo-Gue... haha.
“So pasti, haha” jawabku sekenanya.
“Makin gila aja temen gue ini, haha”
So what? Temen? Oke.
“Haha terkadang kita butuh sedikti gila saat kita terlalu lama serius” jawabku ngenes.
“Ya Allah... sembuhkanlah teman hamba ini, haha”
Teman. Ya, hanya teman.
“Amin. Udah, ya, gue ngantuk. Selamat malam”
Tuuut...
Panggilan terputus dan ponselku mati. Biasanya kami menunggu persetujuan saat akan memutuskan panggilan untuk menjaga perasaan, tapi saat ini toh kita hanya teman, kan?
Sampai pada akhirnya aku berlayar ke p**au mimpi diiringi sungai mata dan remuk-redamnya jasmani-rohani ini.
Ya, memang teman.
jumat 10 Januari 2020