23/06/2025
"Pesan yang Tak Pernah Dibalas"
Di sebuah kota kecil bernama Lembayu, yang terletak di tepian bukit yang indah, tinggal seorang pegawai negeri bernama Naya. Hidupnya sederhana, cukup bahagia dengan pekerjaan yang ia jalani sebagai guru di Sekolah Dasar . Namun, suatu hari, ketenangan itu terusik oleh sesuatu yang tak kasatmata rasa dikhianati.
Naya masih ingat betul siang itu, saat ia duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat. Seorang kenalan lama, Dira Mawarni, datang tergesa-gesa dengan mata yang tampak gelisah. Dira adalah seorang penjual ayam geprek yang tengah naik daun, dan mobil tuanya adalah tulang punggung bisnis itu.
"Aku butuh bantuan, Nay," katanya lirih. "Mobilku rusak parah. Kalau nggak diperbaiki, aku bisa berhenti jualan. Aku butuh dua puluh juta. Nanti aku cicil, sungguh."
Naya menatapnya lama. Dalam hatinya ada suara kecil yang berkata, “Berhati-hatilah.” Tapi wajah Dira yang tampak putus asa, dan kenangan masa lalu mereka saat sama-sama remaja di kampung, meluluhkan pertimbangannya.
Ia pun meminjamkan uang itu. Sebagian dari tabungannya, sebagian lagi dari pinjaman koperasi. Dan benar saja, beberapa bulan pertama Dira membayar dengan tertib. Satu juta, dua juta, kadang hanya lima ratus ribu. Tapi tiba-tiba, semuanya berhenti. Sejak sisa utang tinggal lima belas juta, Dira seperti lenyap.
Naya tak menyerah. Ia mengirim pesan lewat WhatsApp.
"Dir, ini Nay. Gimana kelanjutan cicilannya?"
Centang dua. Biru. Tapi tak ada balasan.
"Dira, maaf aku tagih terus. Aku juga ada kebutuhan mendesak. Tolong ya."
Kembali, centang biru. Sepi.
Hari-hari berikutnya pesan itu terus dikirim. Kadang dengan nada lembut, kadang dengan keluhan. Tapi selalu dibaca, tanpa pernah dijawab. Naya duduk termenung di ruang tamunya, menatap layar ponsel yang hanya memantulkan pantulan wajah kecewanya.
“Aku bukan kasih pinjam karena aku kaya,” gumamnya suatu malam, “tapi karena aku percaya.”
Tak satu pun tanggapan datang dari Dira. Ia seakan menghilang dari radar pertemanan. Status WhatsApp-nya aktif, bahkan kadang memamerkan dagangan baru dan motor matic barunya. Tapi utang itu tak juga tersentuh.
Beberapa teman menyarankan agar Naya membawa persoalan ini ke ranah hukum. Tapi ia masih menunggu. Bukan karena tak berani, tapi karena hati kecilnya berharap, Dira akan mengingat. Bukan hanya tentang utangnya, tapi tentang kepercayaan yang kini retak.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Naya kembali membuka pesan terakhirnya kepada Dira. Ia menatap kalimat yang tak pernah dijawab, seolah mencoba membaca kemungkinan lain di antara jeda dan diam.
"Ini bukan cuma soal uang, Dir," bisiknya pelan. "Ini soal siapa yang masih bisa dipercaya di dunia yang terus berubah ini."
Dan ponselnya tetap diam.