Voter Education

Voter Education Voter Education atau Pendidikan Pemilih

Permanently closed.
04/10/2021

Hampir tak pernah ada pencobolosan pemilu pada Februari dan Mei.

04/10/2021

Perdebatan isu pemilihan umum serentak 2024 yang masih berkutat pada jadwal pelaksanaan disinyalir hanya mengakomodir kepentingan segelintir orang.โ€œPerdebatan soal hari

04/10/2021

๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป

Oleh: Denny Indrayana, Guru Besar Hukum Tata Negara, Senior Partner Integrity Law Firm

Kompas, 4 Oktober 2021

โ€Ada yang bilang presiden dipilih tiga periode. Itu ada tiga (maknanya) menurut saya; satu ingin menampar muka saya, yang kedua ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Dan yang ketiga ingin menjerumuskanโ€. (Presiden Jokowi)

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih mewabah, ruang publik dijejali wacana perubahan kelima UUD 1945.

Salah satu isu paling seksi adalah diskursus perubahan masa jabatan presiden menjadi maksimal tiga periode. Salah satu perbedaan mendasar jabatan presiden di sistem republik dengan raja dalam sistem monarki adalah pembatasan masa jabatan tersebut. Berbeda dengan raja, presiden tak menjabat tanpa batas, apalagi seumur hidup.

Maka salah satu urat nadi konstitusionalisme adalah pembatasan masa jabatan presiden. Mengomentari hasil perubahan konstitusi, Tim Lindsey, Indonesianis dan guru besar Melbourne Law School, mengatakan, โ€more than any other, this amendment was a clear statement of political transition from authoritarianismโ€. Ia tegas mengatakan, pembatasan masa jabatan presiden menjadi maksimal hanya dua periode adalah pesan paling terang benderang yang mengantarkan transisi Indonesia dari kegelapan rezim otoriter Orde Baru.

Dalam sejarah Amerika, negara yang melahirkan sistem presidensial, semangat pembatasan masa jabatan awalnya berlaku karena teladan kepemimpinan. Presiden pertama AS, George Washington (1789-1797) punya kesempatan yang terbuka lebar untuk menduduki periode ketiga. Namun, dengan jiwa besar ia menolaknya, dan melahirkan preseden maksimal dua periode kepresidenan.

Sayangnya, Presiden Franklin D Roosevelt (1933-1945) mematahkan tradisi itu dengan memenangi periode jabatan keempat pada 1944, meski hanya menjabat kurang dari tiga bulan dan meninggal karena sakit. Roosevelt satu-satunya presiden yang menjabat lebih dari dua periode karena setelahnya, Amandemen Ke-22 Konstitusi membatasi maksimal dua periode jabatan kepresidenan.

Sejak penerapan Amandemen Ke-22 sempat muncul beberapa godaan. Presiden Harry Truman, Dwight Eisenhower, dan Ronald Reagan berpendapat pembatasan maksimal dua periode jabatan kepresidenan bertentangan dengan kebebasan rakyat untuk memilih presiden yang mereka inginkan.

Tentang konstannya godaan perpanjangan jabatan presiden, dan merujuk pada empat periode Roosevelt, yang membuatnya hampir tak berjarak dengan ciri kerajaan, muncul istilah โ€The Imperial Presidencyโ€.

Lima jenis pembatasan

Ada lima jenis pembatasan masa jabatan presiden. Tiga di antaranya dituliskan Arendt Lijphart, yaitu tidak ada masa jabatan kedua (no re-election), tidak boleh ada masa jabatan yang langsung berlanjut (no immediate re-election), dan maksimal dua kali masa jabatan (only one re-election).

Konsep satu kali masa jabatan diterapkan di Filipina, yang membatasi presiden hanya untuk enam tahun, dan tidak dapat dipilih kembali. Sementara model tidak boleh dipilih dalam periode jabatan yang langsung berurutan diterapkan di Peru, Nikaragua, dan Dominika.

Lebih banyak lagi negara yang menerapkan maksimal dua periode, termasuk Indonesia pasca-reformasi konstitusi 1999-2002, yang mengatur dua kali masa jabatan lima tahun, dan Amerika pasca-Amandemen Ke-22 dengan dua kali masa jabatan empat tahun.

Di luar konsep Lijphart, ada dua model pembatasan lain, yaitu tanpa pembatasan (no limitation) dan aturan yang memungkinkan untuk dipilih lagi lebih dari satu kali (more than one re-election). Konsep tanpa pembatasan pernah kita terapkan di era Orde Lama dan Orde Baru, yang menghadirkan presiden โ€seumur hidupโ€. Sementara model pemilihan kembali lebih dari satu kali adalah model yang menjadi pintu masuk bagi lahirnya presiden dengan masa jabatan maksimal tiga kali.

Pandemi termisme ketiga

Kalau Covid-19 bermula di China, wabah third termism, atau virus termisme ketiga merebak di Afrika. Antara 2000 dan 2015, ada 15 pemimpin Afrika yang mengubah konstitusi negara, hanya empat yang gagal. Mereka menghapus batasan jabatan presiden dan tertular virus jabatan ketiga kepresidenan.

Presiden Uganda Yoweri Museveni dengan kesadaran penuh โ€membeliโ€ parlemen untuk mengubah konstitusi pada 2005, yang menghilangkan pembatasan masa jabatan dan memungkinkan dia menjabat tiga periode. Kasus di Burundi dan Rwanda menyiratkan modus operandi sama, di mana presiden petahana berhasil memanipulasi dukungan parlemen dan menghilangkan pembatasan masa jabatan presiden di konstitusi.

Yang lebih terkini adalah Presiden Lansana Conte dari Guinea, yang mengubah konstitusi melalui referendum rakyat pada 2020. Awalnya menolak berbicara soal periode ketiga, Conte memanipulasi ambisinya dengan mengatakan bergantung pada will of the people, keinginan rakyat.

Dalam perjalanannya, menggunakan jejaring kekuasaannya hingga pengadilan, Conte memenjarakan pemimpin oposisi dan demonstran yang menentang upayanya menjabat tiga periode. Ironisnya, setelah berhasil memenangi pemilu dan menduduki periode ketiga kepresidenan, Conte digulingkan oleh kudeta militer.

Modus Conte sebelumnya juga dilakukan oleh Presiden Abdel Fattah el-Sisi dari Mesir, yang pada April 2019 mengubah pembatasan masa jabatan melalui referendum, yang memungkinkan dia menjabat hingga 2030. Serupa tapi tak sama, pada Juli 2018, Presiden Azali Assouman dari Komoro membubarkan Mahkamah Konstitusi dan parlemen, lalu menyelenggarakan referendum yang memperpanjang masa jabatan, dan akhirnya memenangi pilpres pada Maret 2019.

Di Afrika, mewabahnya termisme ketiga menurunkan kepercayaan investor, meningkatkan ketegangan dalam negeri, mendorong korupsi, militerisme, dan tak jarang memicu kekerasan atau bahkan perang saudara. Termisme ketiga, karenanya kemunduran terbesar bagi transisi demokrasi dan kembali menghadirkan rezim otoriter (Mtembu: 2017).

Di Burundi, setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang memungkinkan Presiden Nkurunziza mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga (Chatziantoniou, 2016), sekitar 150.000 rakyatnya terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga karena pecahnya kerusuhan 26 April 2015. Kehidupan ekonomi di negara ini masih termasuk urutan paling bawah dalam indeks pembangunan manusia berdasarkan data Bank Dunia.

Belajar dari pengalaman di Afrika tersebut maka, perlu diambil langkah-langkah pencegahan yang serius agar virus pandemi termisme ketiga yang banyak menyebar di Afrika tidak sampai menular ke Indonesia.

Belajar dari bahaya dan pengalaman menangani Covid-19, Presiden Jokowi tentu paham untuk menjaga jarak dari godaan yang menjerumuskan, sering-sering mencuci hati, dan memakai โ€maskerโ€ agar tidak tertular virus termisme ketiga yang memang mudah menular.

Apalagi, dengan kekuatan mayoritas mutlak koalisi partainya di parlemen, tak terlalu sulit bagi Presiden Jokowi memanipulasi dan merekayasa dukungan anggota MPR, dan mengegolkan amendemen konstitusi yang menghilangkan pembatasan masa jabatan presiden.

Tapi, becermin dari pernyataan Presiden Jokowi yang dikutip di awal artikel ini, kita yakin Presiden Jokowi sudah imun dan telah mendapat vaksin yang menambah kekebalan dari godaan virus termisme ketiga. Semoga.

27/09/2021

Di Pemilu 2024 pemilih milenial akan mendominasi berada di angka 60%. Milenial dikatakan sebagai kelompok pemilih yang sangat-sangat kritis melihat, mencermati para calon yang akan berkontestasi dari apa yang menjadi visi, rekam jejak, dan integritas bukan dari baliho. Dengan kata lain milenial tidak akan terjebak pada popularitas calon yang dimanifestasikan akibat baliho-baliho yang terpasang hampir di semua jalan raya yang di Indonesia saat ini. (Pemaparan JPPR)

Khususnya di Gorontalo saat ini juga makin bertambah baliho-baliho yang menampilkan para tokoh politik tidak sekadar wajah tetapi bertuliskan "untuk pemilu 2024" padahal belum ditetapkan kapan pemilu akan dilaksanakan. Para elite atau tokoh ini fokus pada perebutan kekuasaan yang tentu masih jauh jika dihitung-hitung. Padahal rakyat masih berjibaku mengahadapi situasi sulit saat ini dan covid 19. Lalu apa sebenarnya motif yang melatar belakangi pemasangan baliho ini. Perebutan kuasa ini sebenarnya untuk siapa?

Cara klasik yang dilakukan untuk mendulang popularitas sebenarnya tidak akan efektif bagi kalangan milenial, pertanyaan serta sikap kritis dari milenial harus dijawab oleh para politisi dengan sikap kenegarawanan dan kerja keras bukan kemudian memamerkan baliho dan harta kekayaan yang katanya baru-baru ini diberitakan dibeberapa media mainstream melejit hingga 10 kali lipat jika dirata-ratakan.

Kritik sosial dari milenial sebagai upaya untuk merawat keseimbangan Demokrasi agar tetap stabil dan sehat bukan kemudian dimaknai sebagai bentuk kebencian atau fitnah belaka.

Salam sehat

27/09/2021

Era digitalisasi telah menjadi pilihan bagi masyarakat saat ini sebagai sarana alternatif dalam beberapa aktivitas. Kalo melihat intensitas tindakan dalam menyampaikan keresahan, curhatan, bahkan aspirasi kerap dilakukan oleh masyarakat terutama milenial paling banyak lewat sosial media dibandingan dengan gerakan parlementarian jalanan dalam hal aspirasi maupun kritik.

Pun yang ditemui oleh JPPR dilapangan dalam kontek pilkada 2020 masih terdapat metode-metode konvensional yang dilakukan baik oleh penyelenggara pemilu. Seperti pengawasan misalnya juga masih manual jika dilihat secara keseluruhan penerapannya. (๐˜š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ : ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜‘๐˜—๐˜—๐˜™)

Memang sebaiknya perlu ada reformasi dari cara-cara konvesional menuju digitalisasi agar lebih memudahkan dan menjangkau semua hal terutama jika dilakukan pada kondisi pandemi. Karena kalo kita lihat pandemi covid 19 yang kita tidak ketahui kapan berakhir ini bisa jadi akan kita hadapi pada pelaksanaan pemilu 2024. Karena berkenaan dengan penerapan prokes ketika di TPS nanti.

JPPR Gorontalo setidaknya mencatat ada pelanggaran dalam kampanye yang dilakukan oleh simpatisan calon di sosial media ketika masa tenang pada pilkada 2020 kemarin di kabupaten Gorontalo. Pada saat itu banyak yang tidak menggunakan platform siwaslu untuk kemudian memberikan laporan, JPPR Gorontalo hanya menyampaikan langsung ke divisi terkait. Membuktikan bahwa pengawasan digital oleh bawaslu meskipun sudah ada siwaslu dan secamamnya belum begitu maksimal diterapkan.

Sebagai catatan juga bahwa perubahan-perubahan dalam digital yang semakin maju ini akan menuntut para penyelenggara dan peserta pemilu pada 2024 perlahan akan mulai beradaptasi dan perlahan meninggalkan cara-cara konvensional tadi.

Namun disisi lain pun akan menyulitkan bagi Bawaslu dan aktivis pemantau dengan kemungkinan akan muncul kerawanan dengan model baru misalnya transaksi suap dari peserta pemilu terhadap pemilih (๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜บ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค) tidak lagi diterima secara tunai melainkan melalui aplikasi OVO misalnya. (๐˜š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ: ๐˜‘๐˜—๐˜—๐˜™)

Lalu strategi apa yang kemudian akan dipersiapkan oleh penyelenggara pemilu dalam menghadapi kerawanan-kerawanan baru kedepan?

Tentu JPPR sering menyampaikan pada sisi lemahnya dari penyelenggaraan pemilu maupun pemilihan ialah ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ atau pendidikan pemilih sebagian kunci untuk memitigasi dan meminimalisir praktek yang akan mencederai Demokrasi kita.

09/08/2021

Lembaga riset Konstitusi dan Demokrasi (Kode) Inisiatif mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyingkat waktu tahapan kampanye pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Idealnya, tahapan kampanye berlangsung selama empat sampai lima bulan.

09/08/2021

Puan Maharani diduga menyalahgunakan pemilihan BPK sehingga digugat oleh LSM anti korupsi ke PTUN sehingga menjadi perbincangan.

09/08/2021

Pengamat politik Ray Rangkuti melihat warganet Indonesia langsung menangkap maksud para pejabat dan politikus tersebut.

09/08/2021

Oleh: Hafidz Nur Ockta Kustiyanto Pemilu merupakan pesta demokrasi yang besar pada semua Negara khususnya Negara demokrasi, Indonesia adalah salah satu negara demokrasi di dunia dan satu-satunya Negara yang berasaskan pancasila. Tapi apakah setiap kali melaksanakan pemilu akan berjalan dengan lancar...

08/08/2021

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - - Koordinator Nasional Sekretaris Nasional (Seknas) Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby menilai, memasang baliho untuk mendongkrak popularitas tokoh partai politik saat pandemi...

08/08/2021

Ada dua agenda penting yang dibawa Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri saat menyindir tongkat komando penanganan pandemi Covid-19 yang

Koalisi Masyarakat Sipil kawal Pemilu 2024
07/08/2021

Koalisi Masyarakat Sipil kawal Pemilu 2024

Address

Gorontalo

Telephone

+6282296606667

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Voter Education posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Voter Education:

Shortcuts

Share

Category