Yayasan Pendidikan Al-Qoffal

Yayasan Pendidikan Al-Qoffal

Share

Adalah lembaga Pendidikan yang lebih kepada cara baca Al-Qur'an dengan metode Yambu'a. Kegiatan belajar mengajarnya dilakukan di sore dan malam hari.

23/08/2020

♥amalan KH Arwani Amin ♥

Wirid Kiai Arwani Amin agar Mendapatkan Anak Shalih

Kiai Arwani merupakan ulama masyhur di Indonesia, terlebih di Pulau Jawa. Murid dari Kiai Muhammad Munawir, Krapyak, Yogyakarta ini juga dikenal sebagai kiai ngabéhi yang berasal dari bahasa Jawa kabeh. Kabeh artinya semua. Jadi ngabéhi mempunyai arti menyeluruh/menguasai. Maksudnya keilmuan Kiai Arwani adalah menyeluruh, menguasai berbagai macam bidang keilmuan.

Tidak hanya alim di bidang qira'ah sab'ah, yang terkenal atas terbitan karyanya kitab Faidlul Barakât fî Sab'il Qirâ'at yang aplikatif dan mudah dicerna untuk orang yang belajar mendalami Al-Qur'an melalui tujuh imam qira'at, Kiai Arwani juga cakap di bidang keilmuan-keilmuan lain seperti nahwu, sharaf, balaghah, fiqih, ilmu falak, dan lain sebagainya.

Selain berbalut kepribadian akhlak luhur serta keluasan ilmu yang dia miliki, pendiri Pesantren Yanbu'ul Qur'an ini juga diberi anugrah oleh Allah subhanahu wa ta'ala berupa keluarga bahagia, semuanya ahli Qur'an.

Tercatat, Kiai Arwani bésanan kepada dua ulama alim, ahli Qur'an, KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati dan KH Sya'roni Ahmadi, Kudus yang masing-masing putri yang dipersunting hafal Al-Qur'an serta berkepribadian baik.

Kedua putra Kiai Arwani sendiri, yakni KH Ulin Nuha dan KH Ulil Albab selain alim juga ahli Qur'an. Mereka hafal Al-Qur'an hingga masing-masing tuntas mengaji secara tatap muka (musyafahah) dengan tujuh macam bacaan imam (qira'at sab'ah) kepada ayahandanya sendiri.

Merasa penasaran atas apa amalan yang dilakukan oleh Kiai Arwani Amin sehingga mempunyai putra-putra yang taat sejak kecil, tidak bertindak macam-macam, dan alim di bidang agama tersebut, suatu ketika KH Ma'ruf Irsyad asal Kudus mencoba bertanya kepada Kiai Arwani.

"Mohon maaf, Mbah. Ada amalan apa yang panjengan lakukan sehingga anda diberikan Allah putra-putra yang nurut, ahli Qur'an, baik akhlaknya," begitu kira-kira kata Kiai Ma'ruf saat bertanya.

Kemudian Kiai Arwani menjawab bahwa membaca:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyâtinâ qurrata a'yunin waj'alnâ lilmuttaqîna imâmâ.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74)

Kata Kiai Arwani Amin, ayat tersebut dibaca tiga kali setiap usai shalat. (Ahmad Mundzir)

Kisah di atas disarikan dari keterangan KH M. Shofi Al Mubarok Baedlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Ila ruukhi syeikh al-muQri' KH Arwani Amin alfatihah....

Photos from Yayasan Pendidikan Al-Qoffal's post 29/12/2019

SOSOK KIAI QOFFAL SYABRAWI
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Menurut Ustadz Hasyim Khan, kiai Qoffal Syabrawi merupakan sosok tokoh yang tegas dan konsisten (istiqomah) dalam segala hal, terlebih dalam masalah pendidikan. Perhatiannya dalam pendidikan sangat luar biasa. Artinya, seluruh komponen dalam pendidikan harus dilakukan dengan serius dan konsisten.

Untuk mewujudkan hal tersebut, secara terus menerus beliau senantiasa hadir di madrasah Raudlatul Ulum walaupun tidak mempunyai jam mengajar. Kendatipun hanya sekedar meninjau, beliau lebih banyak mengutamakan urusan-urusan dan kepentingan sekolah.

Dalam kaitan dengan keterlibatan kiai Qoffal di madrasah Raudlatul Ulum, Gus Syabrawi mengatakan:
"Setahu saya, saat itu kiai Qoffal Syabrawi menjadi Koordinator Satu, sedangkan Koordinator Dua dijabat oleh kiai Qosim Bukhori."
Keberadaan kiai Qoffal di dalam lingkungan madrasah bukan hanya pengajar belaka, tetapi beliau termasuk orang penting di lembaga pendidikan gagasan kiai Bukhori Ismail itu.

Di tempat tersebut, eksistensi kiai Qoffal Syabrawi dan kiai Yahya Syabrawi bagaikan salah satu ujung timbangan yang mengimbangi ujung yang lain. Bila kiai Yahya lebih banyak berkonsentrasi pada sisi pengembangan ekternal, maka kiai Qoffal cenderung mengambil peran pada aspek pengembangan internal.

Menurut Ustadz Hasyim Khan, kerjasama antara kiai Yahya dan kiai Qoffal dalam mengembangkan pendidikan di madrasah sangat luar biasa, terutama dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan keaktifan dan ketertiban.
Suatu ketika, terdapat dua kelas yang tidak ada gurunya, kemudian kiai Yahya mengirimkan surat kepada kiai Qoffal yang bertuliskan:
"Kebele Fal ke guruh se tak masok: Mon tak bebeh, soro ambu beih."
(Sampaikan Fal pada guru yang tidak masuk: Jika tidak mampu, suruh berhenti saja).

Oleh karenanya, tatkala kiai Qoffal wafat, kiai Yahya benar-benar merasa kehilangan.
Gus Syabrawi bercerita bahwa pada hari-hari kiai Qoffal meninggalkan alam baka, ia enggan masuk sekolah dan kerapkali berada di pusara ayahandanya.
Tak selang beberapa lama setelah mendengar peristiwa itu, kiai Yahya memanggilnya, seraya berkata:
"Asekola cong ! Makeh sengkok e dinaagi kainah kakeh, arassah tekkang."
(Masuk sekolah cung ! Di tinggalkan ayahmu, akupun merasa pincang).
Hal yang sama juga diceritakan oleh Ustadz Hasyim Khan.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Berangkat dari ketegasannya, beliau sangat disegani bukan hanya oleh para santri, akan tetapi juga oleh para tenaga pengajar di lingkungan madrasah yang awalnya bernama Miftahussyibyan itu.

Jika ada santri/murid yang terlambat masuk kelas, apalagi sampai absen meninggalkan kegiatan belajar, acapkali beliau turun tangan sendiri dalam menjatuhkan sanksi. Ketegasan adik KH Yahya Syabrawi itu juga tampak tidak hanya pada kalangan pelajar belaka, namun ketika beliau mengetahui ada guru yang kedapatan tidak menjalani kewajiban tanpa udzur, maka beliau menegurnya dengan keras.

Sebagaimana pengalaman Ustadz Hasyim Khan sendiri saat menimba ilmu di madrasah tersebut bahwa pria asal desa Ganjaran kampung selatan itu pernah di tampar oleh kiai Qoffal lebih dari 40 kali dalam setahun.
Menurutnya, penyebab tamparan beliau dalam bentuk pelanggaran yang beragam. Bisa karena terlambat saat jam belajar sudah berlangsung, absen atau membolos di tengah-tengah pergantian jam (perilaku yang terakhir ini dikenal dengan istilah "blorot" di lingkungan madrasah Raudlatul Ulum Ganjaran).

Sebagian besar alumni sepuh menceritakan bahwa bentuk tamparan beliau cukup khas. Nyaris semua santri yang pernah merasakan tamparan itu, memperhatikan model tamparan beliau sama, yaitu tamparan yang berulang dua kali. Telapak tangan beliau akan mendarat di p**i kanan, lalu pada detik berikutnya akan menyapu p**i kiri.
Sebagian mereka yang mengenang peristiwa tamparan tersebut menyebutkan bahwa "goyangan lengan" yang kedua kalinya itulah, di p**i akan terasa sangat berdenyut-denyut. Apa yang diungkapkan mereka dibenarkan Gus Syabrawi.

Lagi-lagi seperti yang dikisahkan Ustadz Hasyim Khan tentang bagaimana dahsyatnya tamparan kiai Qoffal Syabrawi.
Pernah suatu hari, ayah kiai Hasan itu menampar salah seorang santri di kantor madrasah. Seketika murid tersebut tersungkur di lantai seusai telapak tangan beliau menyambar p**i anak itu. Tamparan yang menyisakan pening di kepala, membuat tubuh santri tersebut berputar-putar hanya karena ingin mengambil kopyahnya yang terlempar.

Ketegasan kiai Qoffal dalam mendidik melalui tamparan ternyata tidak tebang pilih, sekalipun putranya sendiri apabila melakukan kesalahan, juga akan merasakan "rukun lima" tangan beliau. Hal ini pernah dialami Gus Syabrawi, ketika membuat Gus Muhammad, sang adik, menangis akibat godaan kakaknya itu. Tanpa "babibu", langsung saja kiai Qoffal mengayunkan lengan di kedua belah wajah putranya itu.

Oleh sebab itulah, tidak mengherankan bila wibawa sosok kiai yang menjadi menantu kiai Qoffal (sepuh Ganjaran) itu ditakuti bukan cuma oleh kalangan murid saja, tetapi jajaran guru juga merasa sangat segan dan takut pada beliau.

Salah satu bukti bahwa beliau tampil sebagai pribadi yang benar-benar sangat disegani oleh semua pihak ialah barang milik beliau telah cukup mewakili keberadaan sosok beliau.
Masih menurut Ustadz Hasyim Khan, pernah suatu ketika kiai Qoffal melakukan perjalanan, tetapi sepeda motor beliau ditaruh di halaman sekolah dekat kantor seperti biasanya.
Nah ternyata, semua guru dan santri/murid tidak ada yang berani melakukan aktifitas di luar KBM, apalagi sampai pulang sebelum selesai proses pembelajaran.

Terhadap fenomena ini, sebagian alumni sepuh berkomentar bahwa kendaraannya saja sudah memunculkan "haibah" luar biasa, apalagi orangnya. Padahal sebetulnya, sosok yang dimaksud sedang tidak berada di tempat.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Hal yang menarik dari aspek konsistensi dalam pendidikan, beliau begitu teguh terhadap proses belajar mengajar.
Kembali menurut Ustadz Hasyim Khan, sewaktu kiai Qoffal dalam posisi masih mengajar, kemudian beliau dilapori bahwa putranya yang masih belia meninggal dunia akibat tenggelam. Menerima informasi yang demikian mengagetka itu, ekspresi beliau tetap tenang, sembari bertanya:
"Apa ada yang mengurus ?"
"Ya ada."
"Ya sudah. Aku melanjutkan ini [mengajar-pen.] dahulu," jawab beliau sambil tetap meneruskan pembelajaran materi kitabnya.
Menurut Gus Syabrawi, putra beliau yang dimaksud itu adalah Gus Nawawi.

Senada dengan cerita Wakil Ketua Hisaniyah Pusat itu, pengalaman Ustadz Mas'ud Sholeh saat belajar di madrasah Raudlatul Ulum juga tidak jauh berbeda dalam hal kedisiplinan kiai Qoffal.
Ia bersama teman-teman satu kelas seringkali belajar di kediaman kiai Qoffal Syabrawi ketika beliau merasa tidak enak badan.
Menurut menantu kiai Abu Abbas Bukhori itu, kiai Qoffal memanggil para santri/murid untuk belajar di rumah beliau, jika sakit yang dideritanya sudah sampai pada taraf tidak mampu menyangga diri untuk pergi ke sekolah. Kalau hanya sekedar sakit biasa, belum pernah terdengar beliau meninggalkan aktifitas mengajarnya di sekolah.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Persoalan kealiman kiai Qoffal, kiai Yahya sendiri mengakui tentang kedalaman ilmu adiknya itu.
Dalam menjalani kehidupan ini, usia kiai Qoffal seakan-akan hanya diperuntukkan buat kepentingan pengajaran saja.
Hal ini dapat dicermati dari jadwal mengajar beliau:
- Habis Shubuh, Tafsir Jalalain dan Riyadus Sholihin.
- Habis 'Asar, Mutammimah dan Taqrib.
- Habis Isyak, Ibn' Aqiel dan Kailani.
- Hari Selasa, Iqna'.
- Hari Jumat pagi, Ihya' Ulumiddien.

Peserta pengajian kitab yang diasuh beliau, selain terdiri dari santri yang menetap di pesantren beliau sendiri, juga diikuti oleh santri dari PPRU I, PPRU IV, PPRU VI dan pesantren lain yang tersebar di desa Ganjaran.
Kecuali pengajian kitab Ihya' Ulumiddien pada hari Jumat pagi, hanya diikuti oleh rata-rata Ibu Nyai beberapa pesantren di desa ini. Semua kegiatan pengajian tersebut bertempat di musholla yang berada di depan kediaman beliau.

Ketika kiai Yahya mendengar bahwa adiknya membaca kitab karangan Imam Ghazali itu, menjadi takjub seraya berkomentar:
"Deddih Qoffal jiah alim onggu."
(Jadi Qoffal itu benar-benar alim).

Pada kesempatan yang lain dalam menanggapi kecerdasan kiai Qoffal, kiai Yahya sebagaimana dituturkan Ustadz Hasyim Khan pernah berkata:
"Qoffal juwah alim. Mon keng eyadduh, engkok beih kala."
(Qoffal itu alim. Umpama diadu, akupun kalah).

Tingkat kealiman kiai Qoffal cukup dimaklumi jika dilihat dari cara belajar beliau. Sebab, seperti dikisahkan Gus Syabrawi, setelah mengajar ba'da Isyak, abahnya itu selalu belajar sendiri (muthola'ah) secara istiqamah.
"Beliau belajar itu hingga menjelang Shubuh," ungkap Gus Syabrawi.
"Beliau belajar sendiri itu untuk persiapan saat akan mengajar. Hebatnya, kitab yang akan diajarkan tersebut senantiasa dimaknai [diesahi] terlebih dahulu. Makanya, semua kitab-kitab beliau sudah tertera makna secara lengkap," lanjutnya.

Selain aktifitas keseharian beliau hanya berkutat di dalam dunia pendidikan, ternyata beliau juga memiliki tingkat kreatifitas yang cukup mumpuni pada tingkat "Kiai Kampung". Hal ini terbukti dari dua karya rangkuman ilmu yang relatif agak dijauhi oleh sebagian besar santri karena kadar kesulitan yang terbilang rumit untuk dipelajari.
Dua kitab itu adalah:
1. Kasyful Ghawamid [tentang faraid].
2. Risalatul Mahidl [tentang fiqh perempuan].

Saat beliau masih hidup, dua rangkuman tersebut diajarkan langsung oleh beliau.
Menurut Gus Syabrawi, bahkan sewaktu menjelaskan tentang permasalahan kewanitaan, uraian beliau benar-benar gamblang tanpa ditutup-tutupi, sehingga penjelasannya begitu terang benderang sekalipun hal itu berkaitan dengan masalah-masalah pribadi kaum hawa.

Selain nama beliau selalu di kenang oleh para santri dan alumni dalam sejarah madrasah Raudlatul Ulum Ganjaran Gondanglegi Malang, peninggalan hasil karya beliau berupa rangkuman dua disiplin ilmu itu, merupakan warisan kekayaan khazanah keilmuan seorang anak bangsa yang tak ternilai, khususnya bagi masyarakat desa Ganjaran.
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Seperti kondisi kakaknya, kiai Yahya, Gus Qoffal kecil sudah di boyong oleh pamannya, kiai Bukhori Ismail ke desa Ganjaran Gondanglegi Malang, karena keduanya merupakan yatim piatu.

Qoffal kecil yang lahir di Sampang Madura itu mendapat pengetahuan dasar-dasar agama dan cara baca Al-Qur'an dari kiai Syamsuddin, seorang famili yang berdomisili di desa Ombul Tambelangan Sampang Madura.
Sesudah kiai Syamsuddin wafat, beberapa putra pasangan KH Syabrawi dan Nyai Latifah ini di bawa oleh kiai Bukhori Ismail ke wilayah kota apel.

Di dalam pemeliharaan pamannya, kiai Bukhori Ismail, Gus Qoffal muda menimba ilmu-ilmu agama di PP Jampes Kediri, di bawah asuhan Syaikh Ihsan ibn Dahlan.
Di pesantren ini, selain di didik oleh pengarang kitab Sirajut Thalibin itu, Qoffal muda juga mendapat pengajaran dari Gus Shoim, seorang ustadz senior di pesantren itu.

Setelah Gus Shoim atau yang kemudian dikenal dengan nama KH Mushlich Abdul Karim boyong dan mendirikan PP Raudlatut Thalibin, Tanggir, Gus Qoffal meneruskan studinya di pesantren "ustadz-nya" itu.
Di pesantren wilayah Tuban Jawa Timur ini, tirakat Qoffal muda benar-benar terlihat. Seperti diceritakan oleh Gus Abdul Mannan, ayahandanya itu seringkali makan dedaunan, demi menahan lapar perutnya.
Sebagai anak yang sudah tidak lagi memiliki ayah dan ibu semenjak kecil, jika Gus Qoffal muda pulang liburan dari pesantren, beliau langsung ke tempat kakaknya, kiai Yahya, di PPRU I Ganjaran.
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
KH Qoffal Syabrawi wafat pada tahun 1986, tepatnya satu tahun sebelum kiai Yahya Syabrawi kembali Rafiqil A'la.
Menurut Gus Abdul Mannan, diperkirakan beliau lahir pada tahun 1942, sebagaimana juga kira-kira beliau wafat pada usia 75 tahun.

Beliau meninggalkan dua istri. Yaitu Nyai Hamidah dan Nyai Maumunah.
Dari istri pertama ini, beliau dikaruniai putra:
01. Gus Hamdan Dahlawi Qoffal.
02. Kiai Hasan Qoffal.
03. Ning Mahmudah Qoffal [wafat masih kecil].
04. Gus Nawawi Qoffal [wafat masih kecil].
05. Gus Abdul Mannan Qoffal.
06. Gus Ahmad Syabrawi Qoffal.
07. Ning Khuzaimah Qoffal.
08. Ning Masruroh Qoffal.
09. Ning Afifah Qoffal.
10. Muhammad Yasin Qoffal.

Sedangkan dari istri kedua, beliau mempunyai dua keturunan:
11. Ning Jazilah Qoffal.
12. Gus Fahrur Rozi Qoffal.

Ketika wafat, KH Qoffal Syabrawi tidak meninggalkan harta berlimpah. Satu-satunya warisan yang masih tersisa hanya uang pemberian tetamu beliau. Karena Gus Fahrur Rozi saat itu merupakan putra yang masih yatim, akhirnya disepati uang tersebut diserahkan kepada Gus Fahrur kecil.
Menurut Gus Syabrawi, barang yang tersisa dari almarhum cuma berbentuk kitab belaka.

Masih menurut Gus Syabrawi, kendati beliau sudah wafat, namun perhatian beliau pada pendidikan, utamanya untuk mengurus madrasah Raudlatul Ulum Ganjaran, tetap dirasakan.
"Saya pernah berniat meninggalkan urusan-urusan madrasah RU karena tidak ingin direpotkan oleh persoalan-persoalan sekolah. Langsung saja pada malam harinya, saya bermimpi beliau dan ibu saya."
Dalam mimpi itu beliau berkata:
"Pesabber ajegeh sekolaan."
(Bersabarlah memelihara madrasah).
-----------

Semoga berkah.
Oleh : Gus Mad

29/12/2019
Want your school to be the top-listed School/college in Gondanglegi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Jalan Sumber Waras, Ganjaran, Kec. Gondanglegi, Malang
Gondanglegi
65174