18/04/2024
Cara Cuci Kemaluan yang Betul, Kalau Tidak Mau Disiksa Malaikat Di Alam Kubur Nanti !!
CARA MENCUCI KEMALUAN DENGAN BENAR...
Seringkali kita merasa telah mencuci kemaluan kita dengan bersih dan benar. Bersih belum berarti benar. Hal ini penting agar amal ibadah kita diterima.
Banyak orang merasa ibadah mereka bagus, tetapi sebenarnya masih tidak terlepas dari ancaman azab api neraka hanya karena tidak benar dalam mencuci kemaluannya.
As Sayyidina Abu Bakar R.A. pernah hendak menyolatkan mayat seorang lelaki, tetapi tiba2 tersentak dengan suatu benda bergerak-gerak dari dalam kain kafan lelaki itu. Lalu disuruhnya seseorang untuk membukanya. Alangkah terkejutnya ada seekor ular sedang melilit kepala kemaluan mayat lelaki itu.
Khalifah Abu Bakar mencabut pedang lalu menghampiri ular tadi untuk membunuhnya. Tetapi ular itu tiba2 berkata:
”Apakah salahku? Karena aku diutus oleh Allah untuk menjalankan tugas yang diperintahkan”
Setelah diselidiki amalan lelaki itu semasa hayatnya, ternyata dia merupakan orang yang menyepelekan dalam hal menyucikan kemaluannya setelah selesai membuang air kecil.
Jadi sebenarnya bagaimana cara membersihkan kemaluan kita dengan benar?
Lelaki dan wanita berbeda caranya. Bukan dibasuh sekadarnya dengan air dan asalkan bersih.
LELAKI:
Selepas membuang air kecil, disunnahkan berdehem tiga kali supaya air kencing betul-betul sudah habis keluar.
Setelah itu urutlah kemaluan dari pangkal ke ujung beberapa kali dengan menggunakan tangan kiri, sehingga tiada lagi air kencing yang tertinggal dalam saluran.
Kemudian basuhlah dgn air sampai bersih.
WANITA:
Apabila membasuh kemaluannya, hendaklah ia berdehem dan pastikan dicuci bagian dalamnya dengan memasukkan sedikit jari tengah tangan kiri dan diputar-putarkan sewaktu disiram air bersih.
Bukan dengan hanya menyiram air semata-mata, karena hanya dengan menyiram air saja tidak dapat membersihkan bagian dalam kemaluan wanita secara sempurna.
SANGAT PENTING
Begitu juga sewaktu akan membasuh air besar (berak), jari-jari tangan kiri yang akan dipakai membersihkan sebaiknya diolesi dengan sabun, terutama bagian kukunya. Kemudian sangat penting juga untuk memasukkan satu jari ke dalam dubur. Putarkan beberapa kali supaya najis keluar dari dinding dubur, sambil siram dgn air hingga terasa najis benar2 telah hilang dan bersih.
Sudah benar atau tidak kah cara membersihkan kemaluan kita selama ini? Kalau belum benar, mari bersama2 kita betulkan supaya diri kita bersih dengan cara yang benar. Karena telah dijanjikan neraka bagi mereka yg tidak istibro' (menyucikan diri dengan sempurna baik hadas kecil/ hadas besar).
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yg mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala", aamiin 3x YRA...
Jangan Lupa..SHARE... ilmu yang bermanfaat perlu kita amalkan bersama ... Wallahu a'lam...
Catatan:
1. Tidak ada kata malu dalam urusan menyampaikan kebenaran Agama.
2. Jangan beranggapan ilmu fiqih itu jorok, karena fiqih itu menjelaskan sedetail2 nya.
Semoga yg berkomentar Aamiin di status ini rezekinya melimpah ruah, Dan keluarga nya bahagia , Dan bisa masuk Surga melalui pintu mana saja. Aamiin ya Rabbal'alamiin...
18/12/2022
بسم الله الرحمن الحيم
Mangrupiken hiji pangulem ka para mutholib wabil husus alumni/kerabat/santri miftahul ulum paledang. Simkuring jajaran HIMPUNAN ALUMNI MIFTAHUL ULUM umajak ka sadayana hayu urang ngaos dei salagi masih aya umur sareng sehat tur aya rezekina sinareng sayogi mudarrisna pangersana sesepuh ponpes MU paledang,.
Mugiya anjena sakulawargina dipaparina kasehatan sinareng pangriksa nu maha kawasa,barokah elmuna barokah yuswana bari jembar rizkina...aamiin yarobbal 'alamiin.
informasi kitab di sediakan pengurus alumni di ponpes
03/02/2022
Sungguh bulan Rajab ialah bulan penuh keistimewaan, bulan penuh hikmah dan bulan yang mulya, maka dari itu para Ulama menganjurkan untuk puasa dibulan ini.
Dalam kitab nuzhatulmajalis halaman 143 ada disebutkan :
وقال الشيخ عز الدين بن عبد السلام رضي الله عنه من نهى عن صوم رجب فهو جاهل والمنقول استحباب صيام الأشهر الحرم وهي رجب وذو القعدة وذو الحجة والمحرم
Syeh Izzuddin bin Abdis salaam -semoga Allah meridhoinya - berkata :
" Barang siapa melarang (orang lain) dari berpuasa di bulan Rajab maka berarti dia orang BODOH, yang ternukil dari Nabi adalah anjuran berpuasa pada bulan2 haram, yaitu bulan Rajab, dzul qo'dah, dzul hijjah dan muharram "
Bulan Rajab adalah salah bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
(سورة التوبة: 36)
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
(QS. At-Taubah: 36)
Bulan-bulan Haram yang empat itu adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.
Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”
Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabada:
صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ
“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.”
(HR. Abu Daud )
Dalam kitab syarah nawawi ala muslim juz 3 halaman 38 Imam Nawawi menulis :
(سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رجب فقال سمعت بن عَبَّاسٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ) الظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِهَذَا الِاسْتِدْلَالِ أَنَّهُ لَا نَهْيَ عَنْهُ وَلَا نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ بَلْ لَهُ حُكْمُ بَاقِي الشُّهُورِ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ لِعَيْنِهِ وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَرَجَبٌ أَحَدُهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
aku bertanya kepada said bin jubair tentangg puasa Rajab kemudian beliau berkata :
" aku mendengar ibnu abbas berkata : adalah Rasululloh shallallahu alaihi wasallam dulu berpuasa hingga kami berkata beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata beliau tdk berpuasa "
dhohir hadis ini bahwa maksud said bin jubair beristidlal dengan hadis ini bahwa puasa bulan rajab tidaklah terlarang dan tidak sunah ain tetapi hukumnya sama dengan puasa pada bulan-bulan lainnya,
tidak ada hadis tsabit yg melarang puasa rojab tdk p**a mensunahkan ain puasa rojab, akan tetapi hukum asal puasa adalah sunnah, dalam sunan abu dawud sesungguhnya Rasululloh shollallohu alaihi wasallam mensunnahkan puasa di bulan-bulan haram , dan rajab adalah salah satunya.
Dalam kitab latoiful ma'arif Ibnu Rojab halaman 213 menuliskan :
قد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم ابن عمر و الحسن البصري و أبو اسحاق السبيعي و قال الثوري : الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم فيها
Dulu sebagian ulama salaf melakukan puasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i.
Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu berpuasa.”
Copas fb mang Erwan erwan
11/08/2020
RAHASIA NABI KHIDIR AS DAN NABI ILYAS AS DI BERI UMUR PANJANG OLEH ALLAH HINGGA HARI AKHIR.
Suatu hari Nabi SAW sedang duduk didalam masjid Beliau SAW, ketika itu tampak dua orang yang berpenampilan bersih dan rupa yang tampan datang menghampiri.
Mereka memberi Salaam.
Beliau Bertanya:
Dari mana kalian berdua................??
Mereka menjawab:
Kami berasal dari masa yang sudah lama berlalu.
Sudah lama kami menyembah Allah dan kami telah mendengar untaian kata-kata yang lebih indah dari segala kata yang pernah ada.
Dari seluruh Kitab Allah yang ada, untaian kata-kata ini disebutkan sebagai yang terindah, dan untaian kata-kata ini hanya akan muncul di akhir zaman, didalam Kitab yang paling akhir muncul yakni Al Qur’an Karim.
Jadi kami kemudian beribadah selama seribu tahun hingga Allah bertanya kepada kami berdua karunia apa yang bisa diberikan-NYA kepada kami.
Kami memohon agar bisa mendengar untaian kata-kata indah itu, yakni surah Al-Faatihah.”
Allah tidak menjawab mereka.
Lalu mereka berdua kembali berdoa selama seribu tahun.
Baru Allah menjawab mereka.
DIA berfirman:
Surah ini hanya Ku peruntukkan bagi Kekasihku Tercinta Muhammad SAW dan umatnya.”
Kedua lelaki itu berdoa selama seribu tahun lagi hingga Allah kembali bertanya kepada mereka karunia apa yang bisa DIA berikan kepada mereka.
Mereka menjawab:
Karena kami tak bisa dikaruniai Al-Faatihah mohon agar ijinkan kami berdua hidup berusia panjang agar bisa menjadi bagian dari Umat Beliau SAW, menyalami Beliau SAW, dan mendengar pembacaan surah Al-Faatihah, walau hanya sekali saja. Sehingga kami kemudian wafat dalam keadaan puas/ridho.”
Kedua lelaki ini adalah
Nabi Khidir AS dan
Nabi Ilyas AS.
Mereka kemudian ber-Syahadah kepada Nabi SAW yang dengannya mereka merasa puas.
Mereka tidak lagi menjadi Nabi tapi “hanyalah” bagian dari Umat Muhammad SAW.
Mereka memohon agar Nabi SAW berkenan membacakan Al-Faatihah untuk mereka.
Beliau SAW kemudian membacakan surah Al-Faatihah untuk mereka berdua dan kemudian mereka berdua membacanya bersama Beliau SAW, Lalu mereka semua bersama-sama mengucapkan:
Aamiin yang artinya:
Duhai Allah, mohon terimalah doa kami.
Mereka kemudian bertanya:
Duhai Rassulullah, apa balasannya membaca Al-Faatihah............?
Rosululloh menjawab:
Jika saja Allah mengaruniaiku kehidupan hingga akhir masa, maka tidaklah cukup untuk mengatakan kepadamu semua manfaatnya, semua kebaikan yang akan kita terima karena membaca surah Al-Faatihah.”
Rosululloh meneruskan perkataannya
Aku akan mengatakan kepadamu manfaat dari mengucapkan Aamiin.”
ALIF, tertulis pada Arsy Allah.
MIM, ada pada kaki dari Kursi-NYA.
YAA, ada pada Lawhul Mahfudz.
NUN, ada pada Pena (Kalam).”
Khidir as, dan Ilyas as, berkata:
Mohon ceritakan lebih banyak lagi,
kata kedua lelaki itu.
ALIF, tertulis di kening Israfil AS.
MIM, tertulis di kening Mikail AS.
YAA, tertulis di kening Jibril AS.
NUN, tertulis di kening Izrail AS.
Siapa saja yang mengucapkan: Aamiin, akan mendapat manfaat dari keempat Malaikat ini”.
Mohon ceritakan lebih banyak lagi, kata mereka berdua.
ALIF, tertulis didalam Taurat.
MIM, tertulis didalam Zabur.
YAA, tertulis didalam Injil.
NUN, tertulis didalam Qur’an.
Siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam mengucapkan: “Aamiin” setelah pembacaan al-Faatihah, maka seolah-olah dia telah membaca Keempat Kitab Suci itu”.
Rosululloh bertanya:
“Kalian mau yang lebih lagi.............?”
Mereka berdua Menjawab: “Ya…”
ALIF, tertulis di kening Sayyidina Abu Bakar RA.
MIM, tertulis di kening Sayyidina Umar RA.
YAA, tertulis di kening Sayyidina Utsman RA.
NUN, tertulis di kening Sayyidina Ali RA.
Siapa saja yang mengucapkan:
“Aamiin” akan mendapat manfaat dari Keempat Sahabat ini”.
Kedua lelaki baru saja akan berdoa memohon agar Allah mencabut nyawa mereka sebagaimana yang mereka kehendaki apabila keinginan mereka sudah mereka peroleh, ketika Nabi SAW menghentikan maksud mereka.
Beliau SAW berkata:
Allah telah mengaruniai kalian usia yang panjang dan kekuatan khusus.
"Umatku lemah dan mereka membutuhkan kalian.”
Kemudian Allah mengaruniai mereka usia yang panjang untuk berkhidmat kepada Umat Sayyidina Muhammad SAW.
*ILYAS AS DI DARATAN
*KHIDIR AS DI LAUTAN
Dikutip dari Hajjah Anne Aminah Adil al-Haqqani, Istri dari maulana syaikh Naziem Adil al Haqqoni.
Wallahu'alam.
SEMOGA BERMANFAAT AAMIIN... .. .
آمين يـارب العالميــن