Blog Rinda Cahyana

Directions Website Contact the school

Blog Rinda Cahyana Blog Rinda Cahyana

BERPEDOMAN DAN KETERGANTUNGANTermasuk dalam beribadah adalah berpedoman kepada siapa yang diibadahi. Manusia sangat meme...
06/09/2026

BERPEDOMAN DAN KETERGANTUNGAN

Termasuk dalam beribadah adalah berpedoman kepada siapa yang diibadahi. Manusia sangat memerlukan pedoman untuk tetap berada di titik moderasi kenikmatan hidup, tidak kekurangan karena zalim atau berlebihan sehingga tersesat.

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (p**a jalan) mereka yang sesat" (QS. al-Fatihah: 5-7).

Namun, ada banyak pedoman yang dibuat oleh manusia. Semua perdebatan tentang pedoman yang terkesan saling berseberangan akan selesai bila sudah ada kepastian tentang keselarasan pedoman-pedoman tersebut dengan pedoman utama, standar yang merupakan "kalimat yang sama".

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (menuju) kepada satu kalimat ketetapan (kalimatun sawā’) yang sama di antara kami dan kamu ..." (QS Ali 'Imran: 64)

Dalam menjalani hidup berpedoman, manusia tidak bisa mengandalkan dirinya dan orang lain yang terbatas dan bisa berubah menjadi kontradiktif. Hal itu masuk akal karena selalu ada kelemahan dan hambatan. Namun, manusia sering kali membutuhkan sesuatu dari ruang kosong yang tidak terjangkau oleh diri sendiri dan orang lain. Sebagian menyebutnya sebagai keajaiban, pemberian yang sesuai harapan.

Sebagian manusia yang tidak bertuhan mengakui sesuatu bisa datang dari ruang kosong tersebut, seperti semesta yang terwujud begitu saja tanpa sebab. Manusia beragama meyakini, secara konsep, hanya Tuhan yang bisa diharapkan di ruang kosong tersebut, sebab Dia adalah Sang Pencipta. Bahkan bagi sebagian filosof, konsep akar penciptaan lebih masuk akal, sekalipun mereka mendefinisikan akar tersebut dengan berbagai istilah, tidak selalu Tuhan.

Akar penciptaan alam semesta selalu memicu perdebatan seru antara sains dan filsafat. Dari sudut pandang sains modern, fisikawan top seperti Stephen Hawking dan Lawrence Krauss menyebut bahwa alam semesta muncul dari "ketiadaan" melalui penciptaan spontan dan fluktuasi kuantum berkat adanya hukum fisika. Sementara itu, Georges Lemaître mengenalnya lewat teori Big Bang sebagai ledakan dari sebuah atom purba yang superpadat.Di sisi lain, para filsuf menggunakan logika untuk menemukan titik awal ini dan menyebutnya sebagai "Tuhan". Aristoteles menamainya Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang kemudian disempurnakan oleh Thomas Aquinas sebagai Penyebab Pertama dari segala sesuatu. Terakhir, filsuf Plotinus dan René Descartes melengkapinya dengan istilah Yang Satu serta Sebab Sempurna untuk menggambarkan sumber mutlak penciptaan semesta.

Bagi kalangan beriman, Tuhan ada di ruang kosong dan ruang berisi. Bila Tuhan mampu mewujudkan sesuatu dari ketiadaan di ruang kosong, tentu saja Dia sangat mampu memicu penciptaan dari apa yang sudah diciptakan-Nya. Sementara di dua ruang tersebut, diri sendiri dan makhluk lainnya memiliki potensi kelemahan dan hambatan. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Kekuatan tekad dan semangat yang menggebu-gebu (usaha keras manusia) tidak akan pernah mampu menembus atau merobek dinding-dinding takdir."

Oleh karenanya, meminta hanya kepada Tuhan, akar penciptaan, menjadi masuk akal saat usaha berpedoman belum membuahkan hasil. Hal tersebut membuat ketergantungan tidak pada diri sendiri (internal) atau apa pun yang ada di lingkungannya (eksternal). Tujuannya adalah agar selamat. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal-amalnya (mengandalkan kekuatan dan usaha dirinya sendiri) adalah berkurang atau hilangnya rasa harap (kecewa dan putus asa kepada rahmat Allah) ketika ia tertimpa kesalahan atau kegagalan."

Bagi mereka yang memiliki jati diri sebagai pelayan-Nya, apa yang diupayakan tidak akan melampaui batas, dan mereka tidak dibebani sesuatu oleh Tuhan di luar batas kemampuannya. Saat Tuhan memunculkan apa yang diharapkan dari ruang kosong, saat itulah manusia memulai kontribusi yang baru dalam hidupnya, menambah bekal hari akhir. Artinya, Tuhan mengizinkan, menginginkan, atau bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk berkontribusi. Apa yang diberikan kepadanya, berupa jalan keluar, adalah instruksi untuk memulai pelayanan baru. Pertanyaan pentingnya: apakah hamba memiliki kelayakan untuk menerima perintah dari tuannya, khususnya bila melihat seberapa mampunya ia bersyukur?

Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Orang yang tidak menyadari kadar karunia (nilai nikmat) Allah saat sedang menikmatinya, maka ia baru akan menyadarinya secara menyakitkan ketika karunia itu sudah raib."

Refleksi ini ditutup dengan riwayat Imam al-Bayhaqi dalam kitab Al-Jami' li Syu'ab, Allah SWT berfirman:

"Demi keagungan-Ku, kemuliaan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku, pasti akan Aku putuskan harapan setiap orang yang berharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan (keputusasaan).Dan pasti akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan selama ia hidup di antara manusia. Dan pasti akan Aku jauhkan ia dari pintu-Ku, serta akan Aku usir ia dari hubungan dekat dengan-Ku.Apakah ia berharap kepada selain-Ku dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, padahal segala kesulitan itu berada di dalam genggaman tangan-Ku? Apakah ia berharap kepada selain-Ku dan mengetuk pintu-pintu para penguasa karena kefakirannya, padahal pintu-pintu itu tertutup rapat dan kunci-kuncinya ada di tangan-Ku?Sementara pintu-Ku selalu terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Ku. Siapakah orangnya yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan untuknya? Siapakah orangnya yang pernah berdoa kepada-Ku lalu tidak Aku kabulkan? Dan siapakah orangnya yang pernah meminta kepada-Ku lalu tidak Aku beri?"

Dari sana kita faham bahwa hamba Tuhan perlu memuji-Nya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah 2-4)

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/08/berpedoman-dan-ketergantungan.html

Blog tentang Rinda Cahyana

KETIKA TAKWA LEBIH TINGGI DARIPADA GELAR DAN JABATANhttps://rindacahyana.blogspot.com/2026/09/ketika-takwa-lebih-tinggi-...
05/09/2026

KETIKA TAKWA LEBIH TINGGI DARIPADA GELAR DAN JABATAN

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/09/ketika-takwa-lebih-tinggi-daripada.html

Di masa lalu, saya pernah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan seseorang. Kemudian keluarganya menganggap keputusan tersebut didasarkan pada gelar akademik yang saya miliki. Saya menanggapinya dengan mengatakan bahwa gelar tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan takwa.

Nabi Muhammad SAW dalam khutbah perpisahan pada tahun 10 H, beliau menyatakan prinsip egalitarianisme melalui sabdanya, "Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu dan ayah kalian adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak p**a bagi orang non-Arab atas orang Arab, tidak p**a bagi yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak p**a bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, melainkan karena takwanya." (HR Ahmad)

Doktrin tsb sejalan dengan firman Allah SWT, "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti" (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalil tersebut berbicara tentang kedudukan yang harus dikejar oleh hamba Tuhan, sekaligus meruntuhkan stratifikasi sosial yang didasarkan pada keturunan dan yang selama ini telah menjadi dasar diskriminasi dalam tradisi jahiliah. Thalq bin Habib al-‘Anazi (wafat sekitar 100 H), seorang ulama dari generasi Tabiin terkemuka yang berdomisili di Basrah, Irak, berkata, "Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu/petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya."

Di lingkungan kampus ditemukan stratifikasi sosial berdasarkan Modal Simbolik dan Kultural (Cultural & Symbolic Capital - Teori Pierre Bourdieu, misalnya gelar akademik dan jabatan fungsional) atau Kekuasaan dan Otoritas Formal (Power & Authority - Teori Max Weber, misalnya jabatan struktural). Stratifikasi tsb dapat membawa kepada tradisi Academic Elitism / Institutional Snobbery, misalnya lulusan kampus non-unggulan yang dipandang sebelah mata; atau Feodalisme akademik dan bias hierarki, misalnya, berbangga dengan gelar, atau mereka yang berada di bawah dianggap tidak tahu apa-apa, atau bahkan pesuruh yang diberi beban tugas yang banyak dan tidak dihargai.

Tradisi tersebut merupakan kemaksiatan hati dan kezaliman struktural yang melawan sifat takwa. Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati (tawaduk), hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat sewenang-wenang terhadap yang lain."
(HR. Muslim)

Sebagian kalangan merasa tersinggung bila orang lain tidak menyebut gelar akademik, jabatan fungsional, atau jabatan strukturalnya. Hal semacam itu tidak terjadi pada teladan umat sewaktu beliau mendapat pujian berlebihan dari serombongan orang (delegasi dari Bani ‘Amir), "Engkau adalah tuan kami (sayyiduna)…". Beliau menasihati, "Ucapkanlah perkataan kalian yang biasa, jangan sampai kalian diseret oleh setan! Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan utusan-Nya." (HR. Ahmad & An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra). Padahal Nabi Muhammad adalah pemimpin Madinah. Namun, beliau mengedepankan kedudukan di sisi Allah, yakni "Aku adalah sayyid (pemimpin) anak cucu Adam pada hari kiamat dan aku tidak sombong" (HR. Muslim).

Imam Al-Khaththabi (wafat 388 H) dalam Ma'alim As-Sunan menjelaskan bahwa penolakan tersebut merupakan kehati-hatian agar para utusan yang baru masuk Islam itu tidak terbiasa memakai gaya sanjungan raja-raja feodal Persia atau Romawi yang mengarah pada pengultusan makhluk.

Saya pernah berada di dalam kelas mata kuliah di ITB. Salah seorang teman bertanya kepada dosen pengajar. Dia memanggil dosen dengan "Pak Prof". Kemudian, dosen kami mengingatkan bahwa namanya bukan "Prof". Beliau lebih s**a disebut namanya daripada gelarnya.

Namun, memanggil seseorang dengan jabatannya itu tidak terlarang. Nabi pernah memerintahkan para sahabat saat menyambut Sa'ad bin Mu'adz: "Berdirilah untuk menyambut sayyid (pemimpin) kalian" (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini kita memahami bahwa menolak atau menuntut pemanggilan gelar atau jabatan adalah pilihan individu. Mereka yang berhati-hati atau rendah hati lebih senang melihat dirinya bukan dari gelar atau kedudukan, tetapi dari kedudukannya di sisi Allah. Kedudukan itu bisa dilihat dari dampaknya terhadap lingkungan, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)." (HR. Ath-Thabarani).

Ditanyakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik (ayyun-naasi khair)?" Beliau bersabda, "Orang yang paling paham membaca Al-Qur'an, paling bertakwa kepada Allah (atqahum lillah), paling giat menyuruh kepada yang makruf, paling gigih mencegah dari yang mungkar, dan paling s**a menyambung tali silaturahmi."
(HR. Ahmad dan At-Thabarani dalam Al-Kabir). Dengan demikian, kemanfaatan yang meluas merupakan salah satu manifestasi takwa yang tampak dalam kehidupan sosial dan kedudukannya di sisi Allah berdasarkan takwa.

Cara yang dipilih akademisi bertakwa adalah mengutamakan gelarnya sebagai hamba Allah dan jabatannya sebagai khalifah di muka bumi yang dicapainya melalui amal perbuatan yang berdampak luas. "Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi..." (QS. Fathir: 39).

Takwa bukanlah gelar yang disematkan pada nama. Bahkan menyebut diri bertakwa adalah bukti ketidaktakwaan itu sendiri. Allah SWT berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci (bersih dari dosa/paling bertakwa). Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang sebenarnya bertakwa." (QS. An-Najm: 32).

Demi gelar "orang yang paling bertakwa", seorang akademisi dapat lebih mengutamakan pelayanan, memberikan manfaat seluas-luasnya daripada gelar dan jabatan akademik yang disematkan kepada dirinya. Semua koleganya memiliki kedudukan yang sama sebagai pelayan yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 148).

Akhirnya, seorang akademisi tidak semestinya menjadikan gelar dan jabatan akademiknya sebagai sumber kemuliaan pribadi atau alat untuk membangun jarak sosial dengan sesama. Dalam lingkungan akademik, ukuran yang patut dikejar bukanlah prestise gelar atau jabatan, melainkan kontribusi nyata yang diberikan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusi akademis tersebut merupakan salah satu bentuk kemanfaatan yang dapat mencerminkan ketakwaan dan amanah seorang akademisi sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Cukup berlomba-lomba dalam mengamalkan hasil belajar dan melaksanakan tugas jabatan untuk memperoleh keridhaan Allah semata.

"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kepuasan." (QS Al-Lail: 20–21) "...Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS At-Taubah: 72). "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 8)

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksaan-Mu..." (HR. Muslim no. 486)

Blog tentang Rinda Cahyana

KONSEP DAN REALITA TUHANSemua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan m...
26/07/2026

KONSEP DAN REALITA TUHAN

Semua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan mewujudkannya, membuktikan konsep itu ada [1]. Begitupun bila Tuhan tdk terindera, bukan berarti Dia tdk ada. Dia bisa dikenali dari perbuatan Nya yg terindera, sebagai bukti Dia ada.

Saat wujud pertama muncul di semesta, maka tiada wujud lain yg ada bersamanya, sebab dia adalah wujud yg pertama kali ada. Secara logis, hanya boleh ada sosok lain yg ada sebelum wujud tersebut ada, yakni Tuhan sebagai akar penciptaan yg tdk diciptakan oleh siapapun [2, 3].

Seseorang mungkin menjangkau Tuhan hanya sebatas konsep logis tsb [4, 5]. Namun jgn lupa, setiap konsep selalu mungkin ada perwujudannya. Terlebih suatu konsep dapat sesuai dgn kenyataan pada dimensi ruang dan waktu berbeda, sehingga kenyataan tsb tdk perlu diciptakan. Hanya perlu menunggu ruang dan waktu pertemuan. Itulah sebab kenapa kalangan Bertuhan meyakini kelak dapat menyaksikan Tuhan dalam wujud yg sesuai dgn konsep Ketuhanan yg diyakininya.

Manusia menggunakan angka 1 biner utk menyatakan kondisi hidup/ada dan 0 biner utk mati/tdk ada. Gerak sesuatu dapat dilogikakan dgn keduanya. Artinya, semua yg bergerak menghasilkan pola biner tsb. Bergerak tsb hanya terjadi dlm dimensi ruang dan waktu yg diciptakan Tuhan [6].

Sementara Tuhan tdk terikat oleh keduanya, sebab hanya ciptaan yg terikat oleh penciptanya. Oleh krn nya, saat Tuhan berkata, "Jadilah", akibat yg terjadi ("Maka Jadi") adalah perubahan dari kondisi tidak ada (0) menjadi ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu. Di sisi sebab ("Jadilah") adalah tak didefinisikan (~) karena tdk ada dimensi ruang dan waktu yg dapat mengukurnya. Dengan demikian ~ => {0, 1}, bukan sebaliknya.

Sesuatu yg tidak ada (0) dibagikan kepada yg ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya tidak ada yg dibagikan (0). Namun, bila sesuatu yg ada (1) dibagikan kepada yang tidak ada (0) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya hanya Tuhan yg tahu (~) sebab manusia sampai saat ini belum mendefinisikannya. Artinya, manusia tdk bisa mengukur Tuhan yg tidak terdefinisi wujud Dzat Nya (~) dgn ukuran-ukuran kemahlukan yg terikat oleh ruang dan waktu (1/0).

Oleh karena itu Nabi SAW bersabda, "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'aim).

--------

[1] Plato (427–347 SM) mencetuskan Theory of Forms (Teori Idea). Menurutnya, dunia fisik yang kita indera ini hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia "Idea" yang abstrak, sempurna, dan abadi di dalam pikiran.
[2] Ibnu Sina / Avicenna (980–1037 M) membagi wujud menjadi dua: yang mungkin ada (alam semesta, yang butuh pencipta) dan yang wajib ada (Tuhan, yang ada dengan sendirinya tanpa awal).
[3] Aristoteles (384–322 SM) mengatakan bahwa sesuatu di alam semesta bergerak karena ada yang menggerakkan, dan rantai sebab-akibat ini tidak boleh mundur tanpa batas (infinite regress). Harus ada satu titik absolut yang memulai segalanya.
[4] Immanuel Kant (1724–1804) menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat realitas sejati (Tuhan/Noumena) secara langsung karena keterbatasan struktur rasio kita yang terpenjara oleh dimensi ruang dan waktu (Phenomena).
[5] Ibnu Arabi (1165–1240 M) menyatakan bahwa setiap manusia membayangkan Tuhan sesuai dengan kapasitas, batasan, dan kesiapan spiritualnya sendiri.
[6] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), penemu sistem biner modern, memandang angka 1 sebagai representasi Tuhan (Eksistensi Absolut) dan 0 sebagai representasi ketiadaan (void). Bagi Leibniz, seluruh alam semesta adalah kombinasi dari gerak dinamis antara ketiadaan yang diisi oleh keberadaan melalui kehendak Tuhan.

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/06/konsep-dan-realita-tuhan.html

Blog tentang Rinda Cahyana

IMAM YANG TIDAK SAYA SUKAISaya s**a melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga...
26/07/2026

IMAM YANG TIDAK SAYA SUKAI

Saya s**a melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga jenis khatib sekaligus imam salat Jum'at yg tdk saya s**ai:

1. TUKANG PAMER

Khatib ini tenggelam dgn kondisinya sendiri, memamerkan kondisi spiritualnya dlm tangisan dan lamanya gerakan atau bacaan, lupa kondisi jema'ahnya.

Padahal Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah (salatnya). Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendiri, maka panjangkanlah ses**anya." (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467).

Al-Hasan Al-Bashri (Wafat 110 H) mengkritik fenomena orang yang sengaja memperlihatkan tangisan dan khusyuknya di depan publik: "Dahulu, seorang laki-laki menangis karena takut kepada Allah di dalam rumahnya, sementara istrinya yang berada di sisinya tidak mengetahuinya. Ada p**a orang yang menghafal Al-Qur'an, tetapi tetangganya tidak menyadarinya... Namun sekarang, aku melihat orang-orang menjadikan kesedihan dan tangisannya sebagai barang dagangan untuk diperlihatkan kepada manusia." (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad)

Ibnu Al-Jauzi (Wafat 597 H) dalam kitab fenomenalnya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), beliau menguliti secara khusus tipu daya setan pada para imam, khatib, dan ahli ibadah: "Di antara tipu daya Iblis kepada para imam dan penceramah adalah membuat mereka merasa bahwa tangisan keras dan suara parau mereka di atas mimbar adalah tanda keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Padahal, sering kali itu hanyalah jubah kesombongan yang ingin disaksikan jemaah agar mereka dianggap wali yang lembut hatinya."

2. TUKANG PUKUL

Khatib ini sibuk menghakimi jema'ah yg telah didudukkan oleh Allah di dalam masjid.

Dia lupa ajaran Nabi SAW, "Mudhahkanlah dan jangan menyusahkan, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari/benci."(HR. Bukhari no. 69 & Muslim no. 1734).

Sheikh 'Ali Thantawi (Ulama Besar Syam/Arab Saudi, Wafat 1999 M) memberikan pesan tajam yang sangat populer bagi para penceramah yang s**a "menyerang" jemaah masjid: "Jangan sampai engkau menjadi penceramah yang berdiri di depan orang-orang yang sudah mau melangkahkan kakinya ke masjid, lalu engkau cambuk mereka dengan celaan seolah-olah mereka adalah penghuni neraka. Orang yang sudah datang ke masjid itu adalah orang yang sedang mencari penawar/obat, maka berikan mereka obat dengan kelembutan, bukan racun dengan amarahmu."

3. TUKANG ADU

Khatib ini gemar mengadu domba umat berdasarkan afiliasi ormas atau politik, bahkan dgn bahasa tdk pantas.

Dia lupa pada sabda Nabi SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang s**a mengadu domba (nammam)." (HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105), dan "Bukanlah seorang mukmin orang yang s**a mencela, s**a melaknat, s**a berkata keji, dan s**a berkata kotor." (HR. Tirmidzi no. 1977, Shahih)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Wafat 852 H) dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan syarat dan adab khotbah: "Khotbah disyariatkan untuk memberi peringatan (Tadzkir), mengajak taat kepada Allah, dan menasihati manusia dengan kebaikan. Menggunakan mimbar untuk mencela musuh politik atau menyerang kelompok muslim lain adalah penyimpangan dari maksud utama khotbah."

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/07/tiga-imam-yang-tidak-saya-s**ai.html

LINTASAN PIKIRAN ADALAH PERINTAHDari sudut pandang seorang hamba Tuhan, apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah peri...
25/04/2026

LINTASAN PIKIRAN ADALAH PERINTAH

Dari sudut pandang seorang hamba Tuhan, apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah perintah yang harus dilaksanakan dengan cara atau dalam batasan yang dikehendaki Tuhan.

From the perspective of a servant of God, whatever comes to mind is a command that must be carried out in the manner or within the limits that God desires.

من منظور خادم الله، فإن كل ما يخطر على البال هو أمر يجب تنفيذه بالطريقة أو ضمن الحدود التي يريدها الله.



Bagi hamba Tuhan, semua lintasan pikiran adalah isyarat perintah Tuhan, bahkan bila lintasan itu timbul dari syahwat atau seperti penyakit hati.

Contohnya:

"Apabila salah seorang di antara kalian melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatinya, maka segeralah datangi istrinya! Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (HR. Muslim no. 1403, At-Tirmidzi)

Isyarat perintah Nya: terpikat hati oleh wanita lain. Pelaksanaannya: mendatangi istrinya untuk beroleh pahala dari Tuhan.

"Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram (zina), bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian p**a jika ia menyalurkannya pada jalan yang halal (istri), maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 1006)

Contoh lain:

“Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: (1) Seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menghabiskannya di jalan yang benar, dan (2) Seseorang yang diberikan hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1409 & Muslim no. 1352)

Isyarat perintah-Nya: hasad pada seseorang. Pelaksanaannya: berdoa atau berharap, bahkan bila dia tidak termasuk keduanya.

"Jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya." (HR. Ahmad).

"Hamba yang dikaruniai Allah ilmu namun tidak dikaruniai harta, lalu ia jujur niatnya dengan berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal seperti amalan si fulan (orang pertama).' Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama … Hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu, lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal (buruk) seperti si fulan (orang ketiga)'. Maka dengan niatnya itu, dosa keduanya sama." (HR. At-Tirmidzi)

Konsep tsb adalah kimia spiritual—mengubah "logam rendah" (dorongan nafsu atau penyakit hati) menjadi "emas" (amal saleh dan pahala) melalui pemahaman koridor syariat. Dari sudut pandang seorang hamba, pikiran tidak lagi dianggap sebagai gangguan acak, melainkan sebagai sinyal navigasi. Ketika pikiran muncul, seorang hamba tidak sekadar mengikuti arus pikiran tersebut, melainkan bertanya: "Ke arah mana Tuhan ingin aku mengalihkan energi ini?"

Dalam teologi Islam, fenomena ini sering disebut dengan manajemen lintasan pikiran (khawatir). Saya menggambarkannya sebagai "perintah" yang harus dieksekusi melalui kanal yang tepat. Imam al-Ghazali membahasnya secara khusus di dalam Minhajul Abidin, mengkategorikannya menjadi lintasan yang baik dan yang buruk.

Esensi dari hadis-hadis yang dikutip menunjukkan bahwa manusia tidak diminta untuk mematikan perasaannya secara total, melainkan untuk merekayasa arahnya. Islam mengakui bahwa manusia punya rasa lapar, syahwat, dan rasa iri. Tuhan tidak menghukum munculnya perasaan tersebut selama tidak diubah menjadi tindakan haram. Seorang hamba yang memahami ini tidak akan tenggelam dalam rasa bersalah saat pikiran buruk muncul. Sebaliknya, ia langsung beraksi melawan pikiran tersebut.

Dengan paradigma ini, hidup menjadi sangat dinamis. Tidak ada ruang kosong. Setiap detik, "lintasan pikiran" adalah bahan baku untuk membangun istana di akhirat. Ini adalah bentuk optimisme tingkat tinggi: bahwa setiap gerakan batin, sekecil apa pun, adalah peluang untuk meraih ridha-Nya jika dikelola dengan ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali, lintasan ini bersumber dari Tuhan bila tentang Ketuhanan Nya, dari Malaikat bila tentang amal saleh, dari Setan bila tentang keburukan yg mudah dihilangkan dgn dzikr, dan dari Syahwat bila dorongannya sulit dihilangkan. Lintasan tsb menguji arah ketaatan kita, apakah kepada Tuhan atau selain Nya? Bila semua lintasan dipersepsi sebagai perintah Tuhan, maka kita harus mengambil cara pelaksanaan yang sesuai dengan-Nya agar terbukti menaati-Nya.

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/04/lintasan-pikiran-adalah-perintah.html

Blog tentang Rinda Cahyana

DEKAT DAN JAUHJarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan k...
25/04/2026

DEKAT DAN JAUH

Jarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan kedekatan.

Distance can lead to prejudice and conflict, while mutual understanding and giving can foster closeness.

قد يؤدي البُعد إلى التحيّز والصراع، بينما يُمكن للتفاهم المتبادل والعطاء أن يُعزّزا التقارب.



Orang beriman mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim). Ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari), atau satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. Muslim).

Bila kecintaan itu telah luntur dan bahkan tergantikan oleh kebencian, maka saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian (HR. Tirmidzi) dan membuat saling mencintai (HR. Bukhari). Berjamaah (bersatu) dan menjauhi perpecahan adalah keharusan, karena setan bersama orang yang sendirian (HR. Tirmidzi). Setan itu menimbulkan perselisihan dan musuh yang nyata (QS. Al-Isra': 53).

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/04/dekat-dan-jauh.html

Blog tentang Rinda Cahyana

18/02/2026
SAMBUT RAMADHAN DENGAN MENGUNJUNGI ORANG TUABeberapa waktu yg silam, seusai pembangunan rumah selesai, istri bermimpi me...
15/02/2026

SAMBUT RAMADHAN DENGAN MENGUNJUNGI ORANG TUA

Beberapa waktu yg silam, seusai pembangunan rumah selesai, istri bermimpi melihat alm ibunya, mertua saya, berada di atas rumah dan memberi isyarat "love you". Hal tsb menggambarkan kerinduan anak kpd ibunya.

Kemudian beliau menepuk pundak saya, namun memanggil saya dgn nama anak sulung, Uqi. Hal tsb menggambarkan menantu yg sdh seperti dianggap anak sendiri. Beliau berkata, sudah lama saya tdk berkunjung.

Sep**ang berkunjung dari orang tua di Subang, istri mengajak semuanya berkunjung ke makam mertua. Alhamdulillah, hari ini semua orang tua telah dikunjungi. Semoga menjadi awal yg baik, menyambut tamu agung, Ramadhan.

https://rindacahyana.blogspot.com/2026/02/sambut-ramadhan-dengan-mengunjungi.html

Blog tentang Rinda Cahyana

Budaya adalah warisan umat manusia. Penyesuaian dlm penggunaan produk budaya berdasarkan nilai yg diyakini menunjukkan f...
22/11/2025

Budaya adalah warisan umat manusia. Penyesuaian dlm penggunaan produk budaya berdasarkan nilai yg diyakini menunjukkan fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi dari nilai tsb dlm masyarakat dan kebudayaannya. Sebagaimana Masjid di Kudus yg menerapkan desain luar utk kubahnya yg diadopsi dari gereja Koptik, serta desain menara dan pagar yg diadopsi dari desain lokal. Contoh lain hotel di Garut yg sedang dibangun, menggabungkan desain mininalis modern dgn desain lokal pd gerbangnya sebagai atribut penting atau pencirinya. Hal yg sama sedang dilakukan oleh KDM di Gedung Sate. Mungkin nampak kontradiktif, namun kondisi tsb tdk terlalu bernilai dibandingkan menempatkan budaya yg berbeda dlm satu ruang utk membangun nuansa integrasi sekaligus menjaga warisan budaya sendiri.

Address

Garut
44151

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Blog Rinda Cahyana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Blog Rinda Cahyana:

Shortcuts

Share

Category