Jurnalis SMPN 2 Kadungora
Muda sejuta karya.
Masjid Raya Aljabar Kala Senja
https://mudasejutakarya.blogspot.com/2019/07/don-lose-hope-narasinisa.html
Jangan pernah patah semangat dan hilang harapan teman-teman!
DON'T LOSE HOPE! #narasinisa Aku tahu rasanya gagal, dunia seolah terhenti. Munafik rasanya bila aku bilang itu tidak sulit. Bagiku, itu amat berat dan menyakitkan. Aku ...
Penantian
Senja tak lama lagi tiba
Aku masih di sini
Menanti kau kembali
Berteman sepi
Di pojok serambi
Mentari hampir tenggelam
Malam menghadang
Aku tak bisa hidup tanpamu
Sedang purnana entah di mana
Karna langit mendung tertutup awan hitam
Mentari, jangan dulu pergi
Sebelum angin menyibak awan hitam
Sebelum langit kembali lengang
Agar purnamaku hadir di peraduan
Nanti malam
Bandung, 140319
ANAK DURHAKA
(Oleh: Juliyanti, IX B)
Gino terlahir dari keluarga yang amat sederhana. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai penjual gorengan keliling. Sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Ia selalu membantah ibunya, apapun yang ia mau harus diturutinya. Pergaulannya pun dengan perokok, pemabuk, dan penjudi. Di sekolahnya, ke ruang BK sudah menjadi langganannya setiap bulan.
Suatu hari, ia bergegas berangkat sekolah, namun tiba-tiba ibunya memanggil Gino.
"Nak, bantu ibu dulu. Tolong masukkan gorengan ini kedalam wadah dagangan,".teriak ibu dari dapur.
"Malas ah!".jawabnya datar.
Lalu ia menghampiri ibu yang sedang kerepotan membawa dagangannya untuk dijual.
"Eh Bu, mana duit? Dari kemaren cuma ngasih 10 ribu, sekarang aku minta 50 ribu," katanya maksa.
"Uang sebesar itu mau kau apakan, Nak? Untuk resiko sehari-hari saja masih kurang!" kata Ibu resah.
"Terserah aku d**g, Bu! Makannya kerja tuh yang bener," jawab Gino sambil nunjuk muka ibunya.
"Ibu udah usaha, Nak. Rezeki sudah ada yang ngatur, harusnya kamu bersyukur masih bisa makan," jawab ibunya kesal.
Gino menggeledah dompet yang dibawa ibunya dan membawa uang selembar lima puluh ribu.
"Nahh ini ada, tadi bilangnya gak ada! Minggir minggirlah!" bentak Gino kepada ibunya.
Sedangkan Ibunya, diam terpaku melihat kelakuan Gino. Ia hanya bisa mengurut dada. Mau bagaimana lagi, dinasihati malah melawan. Dikerasi, balik membentak. Bisa-bisa dia berani memukul ibunya. Sering juga ia mencuri uang ibunya yang disimpan di lemari. Kadang ia mengobrak-abrik kasur jika di lemari tidak menemukan uang.
Gino pergi ke suatu tempat bersama teman-temannya. Ternyata ia tidak sampai ke sekolahnya.Uang hasil paksaan dari ibunya ia habiskan untuk membeli minuman keras. Secara ramai-ramai, masing-masing menghabiskan sebotol minuman keras. Tanpa kesadaran yang utuh, ia pun pergi kembali dengan motornya seloyongan. Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan sebuah truk tangki air melaju begitu cepat, saat itu juga Gino terdampar tak berdaya. Ia dibawa ke rumah sakit, namun sayang dokter menyatakan bahwa Gino menderita kelumpuhan di kedua kakinya.
Rumah sakit itu merasa bagaikan neraka baginya. Gino mendapatkan azab atas dosa-dosa yang telah diperbuat kepada ibunya. Kini ia tidak akan merasakan kembali nikmatnya berjalan. Sedangkan sang ibu, makin tertekan hidupnya. Ia harus mengurusi Gino yang tidak bisa berjalan. Penghasilannya sebagai pedagang gorengan, harus p**a dipakai membayar biaya rumah sakit. Itulah yang membebani pikiran si ibu, hingga ia tidak berhenti berurai air mata.
Seorang ibu setengah baya, tertutup busana muslim. Ia menghampiri Gino dan ibunya yang sedang menangis. Ditangannya ia masih memegang sebuah botol minuman, sisa.
"Sabar yah, yang kuat! Ini ujian dari Allah,” kata wanita itu.
Ibunya hanya manggut. Rupanya ia tidak sanggup berkata-kata. Namun wanita itu, nampaknya penasaran ingin tahu penyebab sakit Gino.
“Kenapa bisa begini, Bu? Kecelakaan apa?” tanya wanita itu kembali.
“Tertabrak truk. Ia mabuk,” jawab si ibu pendek. Kali ini terpaksa si ibu harus menjawab pertanyaan wanita itu.
“Oooh, begitu,” wanita itu sambil mengangguk-angguk kepalanya. “Remaja zaman Now, ada-ada aja yah? Begini sayang ....” wanita itu sambil mengelus kaki Gino pelan-pelan. “Kamu lihat ini?”
Gino mengangguk. Dilihatnya wanita yang baru datang itu.
“Ini adalah botol berisi juss lemon, sisanya tinggal setengah. Tidak ibu buang karena sayang, ibu membelinya mahal. Juss ini sangat bermanfat untuk tubuh ibu. Akan tetapi jika botol ini berisi air selokan, mungkin sudah ibu buang, karena jijik dan tidak berguna. Kamu mengerti maksud ibu?” tanya wanita itu.
“Gino menggelengkan kepala.”
“Apalagi jika isi botol ini berisi madu asli, satu botol madu ukuran sebesar ini, harganya lima puluh ribu rupiah. Lebih mahal, kan? Itu tandanya bukan masalah botolnya, tapi yang menentukan harga adalah isi botolnya.”
Wanita itu menatap wajah Gino. Ternyata Gino masih menyimak dirinya.
“Sayang, kita manusia ibarat sebuah botol ini. Harga diri kita akan ditentukan oleh ahlak kita, kelakuan kita, amal kita. Jika prilaku kita selama ini baik, maka kita akan baik-baik saja. Orang lain akan menghargai diri kita. Bukan masalah kaya miskinnya yang dihargai orang itu, tapi ahlak kita. Ibu kamu sudah mendidik dan menyekolahkan, turuti sayang! Kasihan ibu, coba lihat! Kini beliau menangisi kamu?”
Gino terdiam ia mengingat bahwa selama ini perlakuannya sangat tidak benar.
"Perbaikilah akhlakmu, perjalananmu masih sangat panjang. Hormatilah ibumu selagi masih ada! Dia rela berjuang hanya demi mendapatkan sesuap nasi untuk kamu. Jadilah anak yang berbakti, agar ibumu bangga kepadamu!"
Sejak saat itu, ia menyadari kesalahannya. Gino menangis meminta maaf kepada ibunya. Jika Allah menyembuhkan kedua kakinya, ia berjanji akan menjadi anak yang lebih baik. Ia akan berbakti kepada ibunya, yang hidup seorang diri membesarkan dirinya.
CANTIK HATI LEBIH MULIA DARI PADA CANTIK FISIK BELAKA
(Oleh: Dine Ratna Insani, IX C)
Angel namanya, dia satu-satunya anak perempuan yang mempunyai paras yang cantik. Dengan kecantikannya ia sangat pede abis. Tetapi sayang, anugerah Tuhan ini ia jadikan untuk menyombongkan diri kepada orang-orang di sekitarnya. Tak jarang, dia menghina teman-temannya.
Pada suatu hari, kelas Angel kedatangan murid baru. Dia bernama Santi, anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Akan tetapi, dia sangat pintar. Bahkan, di hari pertama dia sekolah, dia menjadi pujian para guru, karena dia aktif dan selalu menjawab semua pertanyaan dengan benar dan tepat. Berbeda dengan Angel, meskipun dia cantik dan kaya dia adalah anak yang pemalas.
Kebiasaan Angel selalu mengejek temannya, apalagi kepada orang yang menurutnya kurang cantik. Santi selalu menjadi sasaran ejekan. Bahkan, Santi selalu disebut dengan panggilan "Si Muka Jelek". Anehnya terkadang dia mau berteman dengan Santi. Sepertinya pertemannya saat ia ada maunya. Secara, Santi kan pintar. Bagi pemalas seperti dia, membutuhkan sosok santi untuk menutupi kemalasannya dengan menyontek. Santi tidak pernah marah karena dia menganggap Angel sebagai temannya, walaupun Angel tidak pernah menganggap Santi sebagai teman dia.
Beberapa minggu berlalu, Santi makin kesini semakin digemari oleh para siswa. Sehingga santi pun mempunyai banyak teman. Sampai-Sampai teman Angel pun beralih menjadi teman Santi. Semenjak itu p**a Angel menjadi tidak memiliki teman.
Suatu saat, Santi dan teman-temannya melihat Angel sedang duduk sendirian di dalam kelas. Ketika Santi ingin menghampiri Angel, salah satu teman santi menahannya.
"Kamu mau kemana, San?”
"Mau menemani Angel," jawab Santi.
"Ah, untuk apa menemani dia, Angel itu belagu tau? Mana mungkin Angel si cantik mau berteman dengan kita, ha ha ha ha .... Sudah, biarkan saja dia sendiri!" jawab temannya dengan suara yang keras seperti mengejek Angel.
Mendengar itu Angel merasa tersinggung, lalu meninggalkan kelas dengan langkah kaki yang cepat. Santi pun menasihati temannya.
"Kalian tidak boleh seperti itu, bagaimanapun juga dia adalah teman kita. Sudahlah aku mau menyusul dia."
Lalu, Santi pun pergi menyusul Angel, sedangkan teman-temannya ikut p**a dibelakang.
"Angel tunggu," kata Santi sambil memegang tangan Angel.
"Kamu kenapa?" tanya Santi lagi.
Angel pun langsung membalikan badannya lalu menjawab.
"Kenapa kata Kamu? Apa tadi Kamu gak dengar, hah? Mereka semua sekarang mengejekku Santi. Mereka semua membenciku. Lihat sekarang San! Aku sendirian, aku tidak punya teman lagi! Dan itu terjadi semenjak ada Kamu! Kamu yang telah mengambil semua temanku!" jawab Angel marah sambil menangis.
Mendengar itu, Santi hanya tersenyum lalu membawa sebuah botol ke hadapan Angel.
"Angel, apa yang kamu lihat?" tanya santi kepada Angel.
"Sebuah botol kosong," jawab Angel dengan cepat.
"Nah, botol ini kosong kan? Tetapi jika botol ini diisi dengan Air Mineral, harganya bisa 3 hingga 5 ribuan. Jika diisi Madu, harganya bisa menjadi 100 ribuan, begitu juga jika diisi dengan Minyak Wangi, harganya bisa menjadi jutaan. Tetapi, jika diisi Air Got, botol ini tidak akan berharga sama sekali, bahkan semua orang tidak akan ada yang menyukainya.
Angel mulai kebingungan. Ia merenungkan semua perkataan Santi.
"San, apa maksud semua ini?"
Santi kemudian menjelaskannya. Ia berharap semoga Anggel mengerti dan menerima nasihatnya.
"Coba pikirkan lebih cermat lagi! Botol yang sama bernilai berbeda, karena isinya yang berbeda. Botol, sama halnya seperti manusia. Semua manusia pada dasarnya sama, yang membedakan hanya keimanan, kebaikan, kejujuran, dan prilakunya. Kita sebagai manusia kadang tidak mengetahui isi hati seseorang, yang kita ketahui hanyalah dari fisik dan penampilannya. Padahal, belum tentu orang yang tampan hatinya baik, bisa saja orang yang penampilannya tampan hatinya tidak baik. Maka dari itu, kita tidak boleh melihat orang dari fisiknya saja, melainkan dari isinya, dari kelakuannya.
Setelah Angel mendengar perkataan Santi, Angel pun mulai sadar. Ia meminta maaf kepada Santi dan teman-temannya. Mulai saat itu, ia berubah menjadi anak yang lebih baik dan akhirnya berteman dengan Santi.
29/12/2018
https://www.guneman.com/2018/12/melawan-maut.html
MELAWAN MAUT Oleh : Sumyati, M.Pd. - SMPN 2 Kadungora Garut Sore itu, tepat tiga puluh enam tahun silam, hujan makin lebat. Langit menumpahka...
05/11/2018
Belajar menulis teks tanggapan. Pada pembelajaran ini siswa kelas IX diarahkan untuk menanggapi buku "Kreatif Menulis" Terbitan MG Publisher, yang disusun oleh Sumyati, M.Pd dan Tim Eskul Jurnalis SMPN 2 Kadungora.
Dengan demikian siswa disamping belajar menanggapi, juga mengetahui kelebihan dan kekurangan isi buku.
ADA DUA MATAHARI
(Oleh Sumyati, M.Pd.)
“Bu, mengapa ayah tidak p**ang? Tuuuh kan, ayah boong lagi. Katanya perginya ndak lama, Bu?” Padahal ayah janji, mau main lagi sambil nyari capung di lapang. Seru deh, Bu! Iiih... si ibu ndak s**a diajak. Ibu bisa nangkap capung ndak?” Ocehan anak pagi itu membuka keheningan. Kalau bangun, mulut anak ini tidak bisa diam. Terkadang berbicara sendiri, tertawa sendiri. Jika sudah bertanya, tidak pernah selesai. Sering kali, nara sumbernya keteteran. Bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Bu..., ibu bisa nangkap capung ndak?” anak itu masih penasaran.
“Ndak bisa.” Jawab ibunya sambil berdandan.
“Kenapa ndak bisa? Ayah pinteran, Bu. Loncat..., tangkap...! Terus ikat deh. Gampang ‘kan, Bu.... Kenapa ibu ndak bisa?” anak itu masih terus nyerocos sambil menatap ibunya memasang kerudung.
“Ibu sama ayah ‘kan beda. Kalau ayah laki-laki, jadi pinteran nangkap capungnya,” jawab ibunya simpel. Mudah-mudahan anak ini puas dengan jawaban itu, pikirnya.
“Oh, gitu yah bu? Emangnya kalau laki-laki itu apa, Bu ?” tanya anak itu, tambah membingungkan.
Aduh gemesnya ini anak. Dijawab begitu, malah tambah masalah baru. Tidak dijawab, bertanyanya tidak berhenti. Dijawab pun, tidak pernah ada puasnya. Apa mungkin jawabannya masih belum sesuai pemikirannya?
“Aduuuuuh, burung beo ibu, pagi-pagi sudah berkicau. Ayo sayang siap-siap berangkat, nanti kesiangan! Mana sepatunya, pakai dulu gih!” ibunya mengalihkan perhatian.
“Ayo burung beo ibu, sini pakaikan sepatunya! Pakai topi, pakaai jaket. Idih... cantiknya anak ibu. Sini, cium dulu doooong, muach.... ”dipeluknya erat-erat sambil diciumi kiri dan kanan. Lalu ditatapnya penuh cinta, bibir mungil menggemaskan ingin sekali menggigitnya. Bola matanya bulat, genit menggoda. Meski usianya baru dua tahun, pintar dan lucu. Walau sering kali pertanyaannya membuat jengkel, kasih ibu tiada habisnya, cuman anak semata wayangnyalah tumpuan kasih sayangnya.
Sang mentari mulai menampakkan wajahnya. Bola merah menggantung di punggung gunung, di ufuk timur. Dua insan, ibu dan bocah perempuan mulai melangkahkan kaki dari halaman rumah kontrakan yang sangat sederhana. Keceriaan anak itu tak pernah hilang dari wajahnya. Terlalu polos, yang terpenting baginya ikut ke sekolah bersama ibunya. Tak sedikit pun keluh kesah dari mulut mungilnya, walaupun harus menempuh perjalanan panjang dua kilometer dari rumah ke sekolah.
“Sayang, cape ndak?” ibunya bertanya sambil jongkok. Dielus-elusnya rambut anak kesayangannya penuh cinta.
“Ndak!” jawab anak itu sambil tersenyum menatap ibunya.
Dipeluknya erat-erat anak itu. Kemudian diciumi berulang kali jidat bocah mungil yang lucu itu.
“Jangan boong sayang.... Ibu tahu, Neng cape ‘kan? Ibu gend**g, yah. Nanti kalau jalannya bagus, boleh jalan lagi. Sekarang jalan ke sawah, Neng takut jatuh.” Tanpa menunggu jawaban, anak itu kemudian digend**gnya. Ia berjalan melewati pematang sawah. Kebetulan hari itu musim kemrau. Tanahnya kering, sedangkan tanaman padi menghijau. Indah nian pemandangan sawah pagi itu. Ditambah lagi burung-burung kuntul beterbangan.
“Ibu, ndak punya uang?” tanya anak itu.
“Kenapa Sayang? Belooom,” jawab ibunya.
“Kalau ibu punya uang, nanti naik ojeg?”
“Besok kalau ayah p**ang, bawa uang. Nanti p**ang, jalan lagi aja yah! Kan uangnya untuk jajan Neng di sekolah.” Ibunya meyakinkan anak itu.
Anaking, ibu mana yang tega membawa anak kesayangan hidup dalam kesengsaraan. Ibu tidak ingin, berjalan kaki ke tengah sawah seperti ini. Ibu tidak tega, membawa anak ibu sengsara seperti ini. Maafkan ibu, anakku. Keadaan yang memaksa ibu seperti ini. Gajih ibu belum cukup. Sedangkan ayah belum punya pekerjaan tetap.
Seandainya ibu ada uang, mungkin ibu menggaji pembantu untuk mengasuh kamu. Pembantu jaman sekarang, tidak ada yang mau dengan upah rendah. Pekerjaan mau ringan, minta p**a tambahan uang jajan. Anak jajan, pembantu yang makan. Makanya dari pada menyiksa orang, dengan upah rendah. Mendingan kamu ibu bawa ke sekolah. Maafkan ibu sayang.
Begitulah, kata hati ibu guru itu. Tak terasa, kini tiba di jalan aspal kembali. Diturunkannya anak itu dari gend**gannya.
“Ibu, cape yah gend**g Neng?”
“Emh..., makanya cayangku sekarang jalan dulu,” jawab ibunya merayu.
“Bu, matahari di sini beda yah ? Ko, yang deket rumah Neng tadi, warnanya merah. Tapi mata hari yang di sini putih, Bu? Mataharinya ada dua, yah bu?” anak ini mulai kumat lagi penasarannya.
“Mataharinya masih satu sayang,” jawab ibunya.
“Dua Bu. Kan yang deket rumah Neng yang merah. Yang deket sekolah putih.” Anak itu ngeyel sambil nunjuk ke atas. “Gemana, si Ibu?”
“Kalau baru terbit warnanya merah, kalau sudah siang jadi putih.”
“Kenapa beda, Bu?”
“Kalau siang, mataharinya makin tinggi, sinarnya makin panas. Jadi warnanya putih, terang. Pagi-pagi, mataharinya baru keluar, warnanya merah. Karena masih di bawah, jadi tidak panas.” Ibunya berusaha meyakinkan anak itu.
“Mataharinya berjalan juga, Bu? Kaya kita berjalan. ‘Kan yang tadi deket rumah kita, sekarang ada depan kita, deket sekolah ibu. Berarti jalan juga, Bu?”
“Mataharinya sangat besar, dari mana pun bisa terlihat sama. Yang berjalan itu kita, bukan matahari. Sayang, hati-hati jalannya takut jatuh! Kalau bertanya terus, nanti Neng kecapean.” Ibunya berusaha menghindar dari pertanyaan, karena cape.
“Ndak cape, Bu. Emang ibu cape?” anak itu balik bertanya.
“Ndak, takut Neng yang cape. Tuh Neng, keringatan. Berarti itu cape,” jelas ibunya.
“Kenapa kalau cape keringatan, Bu? Panas yah, Bu?” tanyanya lagi.
Pertanyaan baru lagi, nih. Haduuuuh, ini anak ada-ada saja.
“Iya, sayang. Karena tubuh kita banyak bergerak, mengeluarkan tenaga banyak, jadi suhu tubuh kita panas. Ditambah lagi ada sinar matahari, jadi semakin panas. Akhirnya tubuh kita mengeluarkan air, berkeringat. Begitu sayang.”
Tak terasa sayang, kita sudah sampai di sekolah. Saatnya minum, mengganti keringat yang tadi bercucuran.
(Kisah Bersama Putri Sulungku)
27/10/2018
Perayaan bulan bahasa 2018
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jalan Desa Neglasari
Garut