05/11/2018
ADA DUA MATAHARI
(Oleh Sumyati, M.Pd.)
“Bu, mengapa ayah tidak p**ang? Tuuuh kan, ayah boong lagi. Katanya perginya ndak lama, Bu?” Padahal ayah janji, mau main lagi sambil nyari capung di lapang. Seru deh, Bu! Iiih... si ibu ndak s**a diajak. Ibu bisa nangkap capung ndak?” Ocehan anak pagi itu membuka keheningan. Kalau bangun, mulut anak ini tidak bisa diam. Terkadang berbicara sendiri, tertawa sendiri. Jika sudah bertanya, tidak pernah selesai. Sering kali, nara sumbernya keteteran. Bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Bu..., ibu bisa nangkap capung ndak?” anak itu masih penasaran.
“Ndak bisa.” Jawab ibunya sambil berdandan.
“Kenapa ndak bisa? Ayah pinteran, Bu. Loncat..., tangkap...! Terus ikat deh. Gampang ‘kan, Bu.... Kenapa ibu ndak bisa?” anak itu masih terus nyerocos sambil menatap ibunya memasang kerudung.
“Ibu sama ayah ‘kan beda. Kalau ayah laki-laki, jadi pinteran nangkap capungnya,” jawab ibunya simpel. Mudah-mudahan anak ini puas dengan jawaban itu, pikirnya.
“Oh, gitu yah bu? Emangnya kalau laki-laki itu apa, Bu ?” tanya anak itu, tambah membingungkan.
Aduh gemesnya ini anak. Dijawab begitu, malah tambah masalah baru. Tidak dijawab, bertanyanya tidak berhenti. Dijawab pun, tidak pernah ada puasnya. Apa mungkin jawabannya masih belum sesuai pemikirannya?
“Aduuuuuh, burung beo ibu, pagi-pagi sudah berkicau. Ayo sayang siap-siap berangkat, nanti kesiangan! Mana sepatunya, pakai dulu gih!” ibunya mengalihkan perhatian.
“Ayo burung beo ibu, sini pakaikan sepatunya! Pakai topi, pakaai jaket. Idih... cantiknya anak ibu. Sini, cium dulu doooong, muach.... ”dipeluknya erat-erat sambil diciumi kiri dan kanan. Lalu ditatapnya penuh cinta, bibir mungil menggemaskan ingin sekali menggigitnya. Bola matanya bulat, genit menggoda. Meski usianya baru dua tahun, pintar dan lucu. Walau sering kali pertanyaannya membuat jengkel, kasih ibu tiada habisnya, cuman anak semata wayangnyalah tumpuan kasih sayangnya.
Sang mentari mulai menampakkan wajahnya. Bola merah menggantung di punggung gunung, di ufuk timur. Dua insan, ibu dan bocah perempuan mulai melangkahkan kaki dari halaman rumah kontrakan yang sangat sederhana. Keceriaan anak itu tak pernah hilang dari wajahnya. Terlalu polos, yang terpenting baginya ikut ke sekolah bersama ibunya. Tak sedikit pun keluh kesah dari mulut mungilnya, walaupun harus menempuh perjalanan panjang dua kilometer dari rumah ke sekolah.
“Sayang, cape ndak?” ibunya bertanya sambil jongkok. Dielus-elusnya rambut anak kesayangannya penuh cinta.
“Ndak!” jawab anak itu sambil tersenyum menatap ibunya.
Dipeluknya erat-erat anak itu. Kemudian diciumi berulang kali jidat bocah mungil yang lucu itu.
“Jangan boong sayang.... Ibu tahu, Neng cape ‘kan? Ibu gend**g, yah. Nanti kalau jalannya bagus, boleh jalan lagi. Sekarang jalan ke sawah, Neng takut jatuh.” Tanpa menunggu jawaban, anak itu kemudian digend**gnya. Ia berjalan melewati pematang sawah. Kebetulan hari itu musim kemrau. Tanahnya kering, sedangkan tanaman padi menghijau. Indah nian pemandangan sawah pagi itu. Ditambah lagi burung-burung kuntul beterbangan.
“Ibu, ndak punya uang?” tanya anak itu.
“Kenapa Sayang? Belooom,” jawab ibunya.
“Kalau ibu punya uang, nanti naik ojeg?”
“Besok kalau ayah p**ang, bawa uang. Nanti p**ang, jalan lagi aja yah! Kan uangnya untuk jajan Neng di sekolah.” Ibunya meyakinkan anak itu.
Anaking, ibu mana yang tega membawa anak kesayangan hidup dalam kesengsaraan. Ibu tidak ingin, berjalan kaki ke tengah sawah seperti ini. Ibu tidak tega, membawa anak ibu sengsara seperti ini. Maafkan ibu, anakku. Keadaan yang memaksa ibu seperti ini. Gajih ibu belum cukup. Sedangkan ayah belum punya pekerjaan tetap.
Seandainya ibu ada uang, mungkin ibu menggaji pembantu untuk mengasuh kamu. Pembantu jaman sekarang, tidak ada yang mau dengan upah rendah. Pekerjaan mau ringan, minta p**a tambahan uang jajan. Anak jajan, pembantu yang makan. Makanya dari pada menyiksa orang, dengan upah rendah. Mendingan kamu ibu bawa ke sekolah. Maafkan ibu sayang.
Begitulah, kata hati ibu guru itu. Tak terasa, kini tiba di jalan aspal kembali. Diturunkannya anak itu dari gend**gannya.
“Ibu, cape yah gend**g Neng?”
“Emh..., makanya cayangku sekarang jalan dulu,” jawab ibunya merayu.
“Bu, matahari di sini beda yah ? Ko, yang deket rumah Neng tadi, warnanya merah. Tapi mata hari yang di sini putih, Bu? Mataharinya ada dua, yah bu?” anak ini mulai kumat lagi penasarannya.
“Mataharinya masih satu sayang,” jawab ibunya.
“Dua Bu. Kan yang deket rumah Neng yang merah. Yang deket sekolah putih.” Anak itu ngeyel sambil nunjuk ke atas. “Gemana, si Ibu?”
“Kalau baru terbit warnanya merah, kalau sudah siang jadi putih.”
“Kenapa beda, Bu?”
“Kalau siang, mataharinya makin tinggi, sinarnya makin panas. Jadi warnanya putih, terang. Pagi-pagi, mataharinya baru keluar, warnanya merah. Karena masih di bawah, jadi tidak panas.” Ibunya berusaha meyakinkan anak itu.
“Mataharinya berjalan juga, Bu? Kaya kita berjalan. ‘Kan yang tadi deket rumah kita, sekarang ada depan kita, deket sekolah ibu. Berarti jalan juga, Bu?”
“Mataharinya sangat besar, dari mana pun bisa terlihat sama. Yang berjalan itu kita, bukan matahari. Sayang, hati-hati jalannya takut jatuh! Kalau bertanya terus, nanti Neng kecapean.” Ibunya berusaha menghindar dari pertanyaan, karena cape.
“Ndak cape, Bu. Emang ibu cape?” anak itu balik bertanya.
“Ndak, takut Neng yang cape. Tuh Neng, keringatan. Berarti itu cape,” jelas ibunya.
“Kenapa kalau cape keringatan, Bu? Panas yah, Bu?” tanyanya lagi.
Pertanyaan baru lagi, nih. Haduuuuh, ini anak ada-ada saja.
“Iya, sayang. Karena tubuh kita banyak bergerak, mengeluarkan tenaga banyak, jadi suhu tubuh kita panas. Ditambah lagi ada sinar matahari, jadi semakin panas. Akhirnya tubuh kita mengeluarkan air, berkeringat. Begitu sayang.”
Tak terasa sayang, kita sudah sampai di sekolah. Saatnya minum, mengganti keringat yang tadi bercucuran.
(Kisah Bersama Putri Sulungku)