14/11/2011
alkisah Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga
kebun milik orang kaya. Dia menjaga kebun
tersebut dengan terus memperbanyak shalat. Satu
hari, pemilik kebun meminta dipetikkan buah
delima. Ibrahim mengambil dan memberinya. Tapi
pemilik kebun malah memarahinya. Ia tersinggung
karena diberikan buah delima yang asam rasanya.
''Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang
manis dan asam?'' Ibrahim menjawab,''Aku belum
pernah merasakannya.'' Pemilik kebun menuduh
Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun
itu. Pemilik kebun menuduhnya berbuat riya
dengan shalatnya. ''Aku belum pernah melihat
orang yang lebih riya dibanding engkau.'' Ibrahim
menjawab,'' Betul tuanku, ini baru dosaku yang
terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi.'' Di hari
lain, majikan kembali meminta buah delima. Kali ini
Ibrahim memberi yang terbaik menurut
pengetahuannya. Tapi lagi-lagi pemilik kebun
kecewa karena buah yang dia terima asam
rasanya. Diapun memecat Ibrahim. Ia pun
pergilah. Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria
yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim
memberinya buah delima yang tadi ditolak
majikannya. Ibrahim lantas berjumpa lagi dengan
pemilik kebun yang berniat membayar upahnya.
Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah
delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang
ia jumpai. ''Apa engkau tak mencuri selain itu,''
tanya pemilik kebun. ''Demi Allah, jika orang itu
tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah
delimamu.'' Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun
pergi. Pemilik kebun, setahun kemudian, mendapat
tukang baru. Dia kembali meminta buah delima.
Tukang baru itu memberinya yang paling harum
dan manis. Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia
pernah meiliki tukang kebun yang paling dusta
karena mengaku tak pernah mencicipi delima,
memberi buah delima kepada orang yang
kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah
delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu.
''Dia juga selalu shalat. Betapa dustanya dia,'' kata
pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas
berujar.''Demi Allah, wahai majikanku. Akulah
orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang
engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang
lantas meninggalkan singgahsananya karena
zuhud.'' Pemilik kebun lantas mengambil debu dan
menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali,
''Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang
tak pernah aku temui.'' *** SUBHANALLAH .