14/07/2025
Tulisan Ust. Nadirsyah Hosen (Nadirsyah Hosen) ini tampak menggugah, tapi perlu dikritisi secara ilmiah agar tidak menyesatkan publik awam, khususnya dalam memahami dakwah Islam dan metode debat agama.
Pertama, menyederhanakan model dakwah Nabi hanya pada “lembut dan toleran” adalah ahistoris dan cherry picking. Nabi SAW memang menunjukkan akhlak luhur dalam banyak dialog, seperti dengan utusan Najran. Tapi dalam konteks lain, seperti dengan kaum Yahudi Madinah yang berkhianat, beliau tegas dan konfrontatif. Beliau berdakwah dengan hikmah, yaitu menempatkan kata dan sikap secara proporsional sesuai kondisi dan audiens (Q.S. An-Nahl: 125). Hikmah bisa lembut, bisa juga tegas.
Kedua, mengkritik metode apologetik-konfrontatif dengan menyebutnya “palu godam” adalah reduktif dan bias. Metode ini dalam tradisi Islam justru memiliki akar kuat dalam ‘ilm al-kalām dan jadal / seni berdebat untuk menegakkan kebenaran. Bahkan, Qur’an sendiri memakai pendekatan debat terhadap keyakinan batil, seperti menyanggah trinitas (Q.S. Al-Ma’idah: 73) dan mempertanyakan logika penyembah berhala (Q.S. Al-Anbiya: 66–67). Bukankah itu bentuk kritik teologis yang konfrontatif tapi ilmiah?
Ketiga, menyamakan perbandingan ayat kitab suci dalam debat ilmiah dengan “penghakiman” adalah kekeliruan epistemologis. Dalam forum ilmiah, membandingkan ajaran agama secara tekstual adalah wajar, asalkan disertai metodologi yang jujur dan pemahaman terhadap konteksnya. Banyak mualaf masuk Islam justru setelah melihat superioritas ajaran tauhid dibanding doktrin lain. Apakah semua bentuk perbandingan itu harus dicurigai sebagai “ego”?
Keempat, menyamaratakan semua pendebat Islam sebagai pengejar sensasi dan ego adalah straw man fallacy. Tak semua dialogis apologetik bersikap kasar. Banyak cendekiawan Muslim yang kritis namun santun. Jangan salahkan senjatanya, tapi lihat siapa dan bagaimana menggunakannya.
Terakhir, membungkam kritik atas agama lain demi menjaga “perasaan” adalah bentuk moral relativism yang bertentangan dengan prinsip dakwah Islam. Islam datang untuk menyampaikan kebenaran, bukan sekadar menjaga harmoni semu. Tentu, adab itu penting ,tapi kebenaran tetap harus disampaikan, walau pahit.
Maka, alih-alih melabeli debat agama sebagai “penghakiman” atau “palu godam,” lebih baik kita dorong diskusi lintas agama yang cerdas, jujur, berbasis ilmu, dan tidak alergi terhadap kritik.
Karena kebenaran bukan hanya harus disampaikan dengan adab, tapi juga dengan keberanian.
Wallahu a‘lam.