30/10/2025
Guru Mughni (KH. Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qays) adalah seorang ulama Betawi yang lahir sekitar tahun 1860 di Kuningan, Jakarta Selatan. Ia dikenal sebagai ulama dermawan dan aktif dalam dakwah, mendirikan madrasah dan masjid di tanah Betawi serta membiayai kegiatan dakwahnya dari hartanya sendiri.
Ia belajar agama dari ayahnya dan guru-guru di Jakarta, sebelum akhirnya menimba ilmu di Makkah selama total 14 tahun. Guru Mughni wafat pada tahun 1935.
Pendidikan dan perjalanan intelektual
Pendidikan awal: Mengawali pendidikan agama dari ayahnya, H. Sanusi bin Ayyub, dan guru mengaji H. Jabir di Kuningan, Jakarta.
Guru di Jakarta: Belajar di bawah bimbingan Sayyid Usman bin Yahya, yang dikenal sebagai "M***i Betawi".
Belajar di Makkah: Mengirimkan diri untuk belajar ke Makkah pada usia 17 tahun dan tinggal selama sembilan tahun. Ia kemudian kembali lagi untuk belajar dan mengajar di Masjidil Haram selama lima tahun (hingga 1885).
Guru-guru di Makkah: Berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Syaikh Sa'id al-Babasor, Syaikh Mukhtar Atharid, dan Syaikh Muhammad Umar Syatho.
Perjalanan hidup dan dakwah
Pendiri lembaga pendidikan: Mendirikan madrasah Sa'adatud-Darain pada tahun 1926 di tanah miliknya, yang menjadi satu-satunya madrasah di Kuningan saat itu.
Mendirikan masjid: Mengajukan izin mendirikan masjid kepada pemerintah Belanda dan akhirnya berhasil mendirikan Masjid Jami' Baitul Mughni di tahun 1901.
Melawan kolonialisme: Melarang kerabatnya untuk menyekolahkan anak di sekolah umum Belanda sebagai bentuk perlawanan, sambil tetap mengajarkan ilmu umum kepada anak-anaknya secara privat.
Mendukung perjuangan kemerdekaan: Rumahnya dijadikan tempat pertemuan bagi para pejuang kemerdekaan seperti H. Agus Salim.
Karya dan peninggalan
Dua karya tulis: Menulis dua kitab yaitu Taudhîh al-Dalâ'il fî Tarjamati Hadist al-Syâmil dan Naqlah Min 'Ibârat al-Ulama Nasihat Mawâ'izah li Awlad al-Zamân Fî Adab Qirô'at al-Qur'ân wa Ta'limih.
Penerus dakwah: Memiliki beberapa putra yang menjadi ulama besar dan melanjutkan perjuangannya di Jakarta.
Sumber: Internet