14/12/2025
Rasulullah Tidak Kaku, dan Justru Karena Itu Bisa Diteladani
Minggu (14/12/2025), Ust. Asep Sobari, Lc. menjadi pemateri dalam Kajian Wali Santri yang diselenggarakan Pesantren Adab dan Ilmu (PADI) At-Taqwa. Bersama para wali murid, kajian diadakan di Masjid Nurul Fikri, Tugu, Cimanggis, Depok. Bertema "Cinta di Rumah Rasulullah", pendiri Sirah Community Indonesia tersebut menyingkap kehidupan bahkan keseharian Rasulullah ﷺ bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Sering kali kita memposisikan Rasulullah ﷺ terlalu jauh dari kehidupan kita. Terlalu sempurna, terlalu ideal, seolah-olah hidup beliau berada di level yang mustahil dicapai manusia biasa. Akibatnya, sirah Nabi hanya kita baca sebagai cerita indah, bukan sebagai panduan hidup yang benar-benar bisa dipraktikkan.
Padahal Allah justru menurunkan Rasulullah ﷺ sebagai manusia yang hidup di tengah realitas. Beliau makan, lelah, tersenyum, bercanda, dan membangun rumah tangga dengan segala dinamikanya. Supaya apa? Supaya kita bisa meniru, bukan sekadar mengagumi.
Dalam kehidupan keluarga, Rasulullah ﷺ tidak menjalani hidup yang kaku. Beliau pernah menemani Aisyah r.a. menonton permainan orang-orang Habasyah di masjid. Bukan melarang, bukan menegur, tapi membiarkan Aisyah bersandar hingga ia sendiri merasa cukup. Dari sini kita belajar bahwa Islam tidak mematikan fitrah manusia untuk menikmati hiburan yang wajar. Kasih sayang bukanlah sesuatu yang mengurangi kewibawaan, justru ia bagian dari keteladanan.
Rasulullah ﷺ juga pernah mengajak Aisyah berlomba lari. Pernah kalah, pernah menang. Ketika akhirnya beliau menang, Nabi hanya tersenyum dan berkata, “Ini untuk yang dulu.” Kalimat sederhana, tapi menyimpan pesan besar. Bahwa rumah tangga tidak harus selalu tegang dengan aturan dan formalitas. Ada ruang untuk tawa, kehangatan, dan kebersamaan.
Yang sering luput kita sadari, Rasulullah ﷺ bahkan pernah mengalami konflik rumah tangga. Aisyah r.a. pernah membantah beliau. Pernah bersuara keras. Pernah juga didiamkan. Abu Bakar r.a. sampai marah karena tidak terima adab kepada Rasulullah ﷺ dilanggar. Namun Nabi justru melindungi Aisyah dan menenangkan suasana. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan paksaan, tapi dengan kebijaksanaan.
Artinya jelas: rumah tangga Nabi bukan rumah tangga yang steril dari masalah. Ada perbedaan, ada emosi, ada dinamika. Persis seperti yang kita alami hari ini. Bedanya, Rasulullah ﷺ mengajarkan cara menyikapinya tanpa merusak, tanpa merendahkan, tanpa menyakiti.
Inilah yang sering kita lupa. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam segala hal, maka cara hidup beliau—termasuk dalam keluarga—itu fleksibel, bukan kaku. Beliau mengajak istri dan anak berjalan-jalan. Mengajak lomba dan olahraga. Mengajak menonton hiburan. Pernah berdebat dengan istri. Pernah diambekin. Semua itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kemanusiaan.
Justru karena Rasulullah ﷺ mengalami apa yang kita alami, kita bisa belajar bagaimana bersikap saat berada di titik yang sama. Bagaimana bersabar saat emosi memuncak. Bagaimana tetap adil ketika berbeda pendapat. Bagaimana menjadi pemimpin keluarga tanpa menjadikan kuasa sebagai alat menekan.
Di sinilah hikmah terbesar mempelajari sirah Nabi. Sirah bukan kisah orang suci yang hidup di luar jangkauan. Sirah adalah cermin kehidupan. Allah tidak mengutus Nabi sebagai malaikat, tapi sebagai manusia, agar Islam bisa hidup di tengah realitas, bukan di awang-awang.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk menjadi kaku, tapi untuk menjadi lurus. Tidak mengajarkan kita mematikan emosi, tapi mengarahkannya. Dan di situlah keindahan Islam: agama yang membimbing manusia apa adanya, menuju kebaikan dengan kasih sayang dan hikmah.
Maka hadirnya kajian ini diharapkan menjadi titik balik bagi para wali murid untuk memperhatikan kehidupan di rumahnya. Sebab pendidikan paling utama sejatinya tetap adalah pendidikan keluarga. Namun pendidikan keluarga yang baik hanya terlahir dari keluarga yang terdapat rahmat di dalamnya.