17/03/2016
Pernah dengar tentang pemegang loyalitas tertinggi di negeri ini, ya!! Di pegang oleh santri dan TNI. Bukan bermaksud membesarkan tetapi yang saya tahu seperti itu, sekitar satu hari yang lalu loyalitas kami sedang dipertanggungjawabkan. Diminta untuk memunculkannya oleh sekelompok orang yang menganggap dan menuduh guru-guru kami sebagai penipu. Bersikeras mengusir kami, memaksa kami, mengeluarkan barang-barang kami, menjarah dan memakan barang di tempat yang kami sebut sebagai kantin kejujuran, yang didirikan untuk mengasah kejujuran kami dalih karena guru kami dianggap sebagai penipu jadi halal. Ya!! Kami, sebagai sosok santri. Ketika melihat tempat ibadah kami di injak-injak oleh sosok yang mengangap diri mereka pemilik lahan yayasan ini dan sosok preman, freeman yang entah apalah itu, yang masih terdapat sisa lumpur proyek jalan tol disamping pesantren disepatunya sehingga memberikan bekas di keramik masjid. Ya!! Tempat ibadah kami, dalih didirikan oleh seorang yang mereka anggap penipu jadi sah-sah saja. Masih terngiang di telinga teriakan guru kami, lantang dengan kemantaban “kami siap mati!!!!!” sontak para santri yang telah membuat barisan sebelumnya untuk memblokade para preman agar tidak masuk pesantren berteriak “Allahuakbar!!! Kami siap mati” tanpa rasa ragu hingga terjadi gema. Seolah ada energi tambahan yang muncul begitu saja yang kami yakini sebagai pertolongan tuhan hingga menciutkan nyali para preman-preman. Mungkin sedikit agak dramatis tapi begitulah keadaan dilapangan satu hari yang lalu. Mungkin juga mirip dengan cerita Novel Penakluk Badai, ya….mungkin seperti itulah, tetapi terdapat perbedaan di intensitasnya. Itulah tentang loyalitas kami. Ya!! Kami, para santri. By Zainal Fanani
Diduga terkait lahan ponpes yang strategis