14/03/2026
Majelis Fajar Yamanic
Media untuk saling berbagi ilmu, catatan & pandangan dari para narasumber alim ulama Majelis Fajar
14/03/2026
14/03/2026
*“Ketika Dosa Tidak Cukup Disesali: Kultum Subuh di Masjid An Nur Menggugah Kesadaran Jamaah tentang Beratnya Kafarat”*
Sabtu pagi, 13 Maret 2026, suasana ba’da Subuh di Masjid An Nur Islamic Centre terasa berbeda. Jamaah yang hadir tidak hanya mendapatkan tausiyah rutin, tetapi juga diajak menyelami satu tema yang jarang dibahas secara mendalam namun sangat penting dalam kehidupan seorang muslim: *kafarat.*
Kultum tematik tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdul Ghofar, yang membuka kajiannya dengan pendekatan yang menarik. Beliau tidak langsung masuk pada hukum-hukum fiqh, melainkan memulai dari asal-usul kata “kafarat” dalam bahasa Arab, menjelaskan akar katanya dari sudut bahasa, nahwu, dan sharaf.
Secara bahasa, kata كفارة (kafārah) berasal dari akar kata كَفَرَ – يَكْفُرُ yang berarti menutupi atau menutup. Dalam istilah syariat, kafarat berarti amal atau denda tertentu yang diwajibkan syariat untuk menutup kesalahan atau pelanggaran tertentu.
Penjelasan ini membuat jamaah semakin menyadari bahwa dalam Islam, dosa bukan sekadar disesali, tetapi dalam beberapa perkara harus ditebus dengan konsekuensi ibadah tertentu.
*Jenis-Jenis Kafarat dalam Syariat*
Ustadz Abdul Ghofar kemudian menjelaskan beberapa bentuk kafarat yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadits, yang juga telah menjadi kesepakatan kuat para ulama fiqh (ijma’ ulama).
*1. Kafarat Melanggar Sumpah (Kafarat Yamin).*
Ini adalah kafarat bagi orang yang bersumpah atas nama Allah lalu melanggarnya.
Dalilnya terdapat dalam Al-Qur’an:
*_“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kafaratnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa tiga hari.”_
(QS. Al-Ma’idah: 89)
Bentuk kafaratnya:
* Memberi makan 10 orang miskin
* Memberi pakaian 10 orang miskin
* Memerdekakan budak
* Jika tidak mampu → puasa 3 hari
Para ulama dari empat mazhab sepakat bahwa ayat ini adalah dalil utama kafarat sumpah.
*2. Kafarat Zihar*
Zihar adalah menyamakan istri dengan ibu, seperti ucapan:
*_“Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”_
Pada masa jahiliyah ini dianggap talak, tetapi Islam menetapkan kafarat berat sebelum suami boleh kembali kepada istrinya.
Allah berfirman:
*_“Orang-orang yang menzihar istrinya, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur.”_
(QS. Al-Mujadilah: 3)
Jika tidak mampu:
Memerdekakan budak
Jika tidak mampu → puasa 2 bulan berturut-turut
Jika tidak mampu → memberi makan 60 orang miskin
Para ulama sepakat bahwa zihar termasuk dosa besar karena ucapan tersebut adalah penghinaan terhadap kehormatan perempuan dan tatanan keluarga.
*3. Kafarat Hubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadhan*
Ini termasuk pelanggaran besar terhadap kehormatan bulan Ramadhan.
Dalilnya adalah hadits sahih:
Seorang sahabat datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
*_“Celaka aku wahai Rasulullah, aku telah menggauli istriku di siang hari Ramadhan.”_
Rasulullah bertanya:
*_“Apakah engkau mampu memerdekakan budak?”_
_“Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”_
_“Apakah engkau mampu memberi makan 60 orang miskin?”_
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama sepakat bahwa ini adalah kafarat bagi orang yang sengaja melakukan hubungan suami istri pada siang hari Ramadhan.
*4. Kafarat Membunuh Tanpa Sengaja*
Islam juga menetapkan kafarat bagi orang yang membunuh tanpa sengaja.
Allah berfirman:
_“Barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah maka hendaklah ia memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat kepada keluarganya.”_
(QS. An-Nisa: 92)
Jika tidak mampu memerdekakan budak:
→ puasa dua bulan berturut-turut
*Hikmah Kafarat:* Keadilan Allah bagi Hamba-Nya
Dalam penutup kultumnya, Ustadz Abdul Ghofar menekankan bahwa kafarat adalah bukti keadilan dan rahmat Allah.
Allah tidak menutup pintu taubat bagi manusia. Bahkan ketika manusia tergelincir dalam dosa, Allah memberikan jalan untuk menebus kesalahan melalui ibadah, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
Namun di sisi lain, syariat kafarat juga menjadi peringatan keras agar manusia berhati-hati dalam ucapan dan perbuatannya.
Beberapa hal yang sering dianggap ringan ternyata memiliki konsekuensi berat dalam syariat, seperti:
Bersumpah sembarangan
Mengolok-olok dengan nama Allah
Ucapan yang merendahkan kehormatan istri
Meremehkan kesucian Ramadhan
Kultum singkat yang sarat ilmu itu membuat jamaah tersadar bahwa Islam mengajarkan kedisiplinan moral yang sangat tinggi.
Setiap kata yang keluar dari lisan, setiap sumpah yang diucapkan, bahkan setiap hubungan dalam keluarga memiliki tanggung jawab syariat yang besar.
Pagi itu, jamaah p**ang dari masjid bukan hanya dengan hati yang tenang setelah shalat Subuh, tetapi juga dengan kesadaran baru:
bahwa kehati-hatian dalam hidup adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. (MS)
25/02/2026
*Ramadhan Berbeda di Masjid An Nur Islamic Centre Bella Casa*
*_Kultum Tarbiyah Sebelum Tarawih: Singkat, Sistematis, Menghidupkan Jiwa_*
Ramadhan tahun ini terasa berbeda di Masjid An Nur Islamic Centre Bella Casa Residence. Setiap menjelang Tarawih, jamaah tidak hanya bersiap untuk shalat malam, tetapi juga “duduk sebentar untuk bertumbuh”. Melalui *Kultum Tarbiyah* bertema topik-topik fundamental dalam Islam yang relevan dengan kehidupan masa kini, masjid ini menghadirkan suasana belajar yang hidup, ringkas, dan mengakar.
Program ini menjadi ruang penting bagi siswa, mahasiswa, dan para orang tua untuk memperoleh ilmu yang tepat—tidak bertele-tele, tetapi langsung menyentuh inti persoalan hidup modern.
Dalam delapan hari pertama Ramadhan, delapan ustadz berbeda telah menyampaikan delapan topik secara sistematis, singkat, dan jernih. Tarawih di An Nur pun serasa *“nyantri”*—ada ruh ilmu sebelum ibadah.
Berikut rangkaian topik yang telah dikaji:
1️⃣ *Niat*
Niat ditegaskan sebagai kompas amal. Tanpa niat yang lurus, aktivitas sehebat apa pun kehilangan arah. Jamaah diajak memahami bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas, tetapi momentum meluruskan orientasi hidup—belajar, bekerja, bahkan berkeluarga—agar semuanya bernilai ibadah.
2️⃣ *Tawakkal*
Tawakkal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan puncak ikhtiar yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Di tengah ketidakpastian zaman, tawakkal melahirkan ketenangan dan keberanian mengambil keputusan, tanpa dihantui kecemasan berlebihan.
3️⃣ *Syukur*
Syukur bukan hanya ucapan, tetapi cara pandang. Jamaah diajak melihat bahwa kelapangan hati adalah sumber kebahagiaan. Dengan syukur, nikmat kecil terasa besar, dan ujian pun menjadi jalan kedewasaan spiritual.
4️⃣ *Sabar*
Sabar dipahami bukan sekadar menahan diri, tetapi kemampuan menjaga kualitas respon. Dalam keluarga, pekerjaan, dan media sosial, sabar adalah energi pengendali agar tidak gegabah dan tetap bermartabat.
5️⃣ *Tafakkur*
Tafakkur mengajak umat berpikir mendalam—membaca tanda-tanda Allah dalam kehidupan sehari-hari. Di era banjir informasi, tafakkur melatih kedalaman, agar tidak sekadar cepat bereaksi, tetapi matang dalam menyikapi realitas.
6️⃣ *Tawaqquf* (Adab Diam dalam Menuntut Kebenaran)
Tawaqquf diperkenalkan sebagai keberanian untuk tidak tergesa-gesa berpendapat. Diam yang bermakna adalah sikap ilmiah—menahan diri sebelum jelas dalil dan data. Sebuah pelajaran penting di zaman viral dan serba instan.
7️⃣ *Mujahadah* (Berjuang Mengalahkan Hawa Nafsu)
Ramadhan disebut sebagai madrasah mujahadah. Perjuangan terbesar bukan melawan orang lain, tetapi menaklukkan ego, amarah, dan keinginan berlebihan. Di sinilah kualitas takwa ditempa.
8️⃣ *Duhul* (Menghindari Kesedihan Berlebihan)
Duhul dimaknai sebagai ajakan menjaga hati dari larut dalam kesedihan. Islam tidak menolak rasa sedih, tetapi melarang putus asa. Harapan adalah nafas orang beriman; setiap kesulitan menyimpan jalan keluar.
Program ini akan berlanjut dengan *topik-topik lanjutan seperti Ihsas (kepekaan hati), Wara’, Ghibah, Ghasab, Tabayyun*, dan lainnya—tema-tema yang sangat kontekstual dengan kehidupan pelajar, mahasiswa, hingga orang tua di era digital.
Ramadhan di An Nur bukan hanya tentang memperbanyak rakaat, tetapi juga memperdalam makna. Di sinilah ibadah dan ilmu bertemu. Jamaah tidak sekadar datang untuk shalat, tetapi p**ang dengan bekal nilai.
Tarawih terasa lebih hangat. Ilmu terasa lebih dekat.
*Dan Ramadhan benar-benar menjadi madrasah kehidupan.*(Mohammad Saihu)
21/02/2026
*Ramadhan dan Transformasi Gaya Hidup*
*_Ramadhan: Mengubah Cara Hidup, Bukan Sekadar Menambah Ibadah_*
Depok — Ramadhan tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi bulan rutinitas. Ia hadir untuk mengubah cara hidup. Itulah benang merah Dialog Interaktif Masjid An Nur Islamic Centre Bella Cassa yang digelar Sabtu (21 Februari 2026), ba’da Subuh hingga Syuruq.
Mengangkat tema “Ramadhan dan Transformasi Gaya Hidup”, forum ini menghadirkan Prof. drg. Yaslish Ilyas dan Dr. dr. Ghazali Adams. Diskusi dipandu Ketua Yayasan Masjid An Nur Islamic Centre, H. A. Rahman Ma’mun.
Ramadhan, ditegaskan para narasumber, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum menata ulang orientasi hidup — kesehatan, relasi sosial, semangat berkarya, hingga kedalaman spiritual.
*Sehat, Tenang, dan Positif*
Dr. Ghazali Adams, mantan pengajar di Universitas Sam Ratulangi Manado, mengingatkan agar hidup tidak dijadikan beban. “Bikin hidup itu _easy,_ tenang, _positif thinking_,” ujarnya.
Dalam konteks medis, puasa justru memberi kesempatan tubuh memperbaiki diri. Dengan pola yang benar, puasa membantu detoksifikasi alami dan memperbaiki metabolisme. “Puasa bisa menyembuhkan,” jelasnya.
Namun kesehatan jasmani tidak berdiri sendiri. Silaturrahim, memperluas persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan juga menjadi bagian penting dari kesehatan sosial umat.
*Motif Hidup Panjang dan Produktif*
Prof. Yaslish Ilyas menegaskan konsep _ummatan wasathan_ — umat yang seimbang jasmani dan rohani. Pensiun bukan akhir kontribusi. “Stigma pensiun harus diubah. Meski pensiun, tetap berikhtiar, tetap berkarya,” katanya.
Ia memberi teladan pribadi. Meski telah berhaji dan kini berusia 74,5 tahun, ia tetap mendaftar haji kembali. Bukan soal nomor antrean, tetapi soal niat dan harapan. “Kita serahkan kepada Allah,” tuturnya.
Pertanyaan dari *Aris Budiarto* kemudian mengangkat tafsir Ibnu Katsir tentang ajal _musamma_ — batas usia yang telah ditentukan Allah. Umur yang diberikan bukan sekadar hitungan biologis, tetapi ruang memperpanjang amal dan manfaat ilmu.
Negeri bisa menjadi *_baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur_* ketika diisi orang-orang berilmu yang terus mengamalkan ilmunya, termasuk para orang tua yang tetap produktif, tetap membimbing, dan tetap hadir memakmurkan masjid.
*Refleksi: Ilmu yang Bermanfaat dan Hati yang Khusyuk*
Pada sesi refleksi, *Ketua DKM Heri Susanto* menyampaikan doa Nabi Muhammad SAW:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Sebuah permohonan agar dijauhkan dari
1. ilmu yang tak bermanfaat,
2. hati yang tidak khusyuk,
3. nafsu yang tak pernah puas, dan
4. doa yang tak dikabulkan.
Doa ini seperti cermin tema dialog: ilmu harus melahirkan amal, hati harus lembut, nafsu harus terkendali, dan doa harus lahir dari kesungguhan.
*Rahasia Doa: Jangan Pernah Berhenti*
Sebagai penutup refleksi, *Haji Yusuf* membagikan satu rahasia sederhana namun menggetarkan: jangan pernah berhenti berdoa. Tidak ada doa yang sia-sia. Sering kali ia datang dalam bentuk yang tidak terduga.
Ia mengisahkan pengalaman haji pertamanya. Setelah berhasil mencium Hajar Aswad, ia memohon agar suatu hari bisa kembali bersama istrinya. Doa itu tidak ia hitung, tidak ia ulang-ulang dengan ambisi. Ia hanya memohon dan menyerahkan.
Bertahun-tahun kemudian, ia benar-benar kembali ke Tanah Suci bersama sang istri. Seusai mencium Hajar Aswad, ia terdiam. Ingatan itu datang tiba-tiba: ini adalah doa lama yang pernah dipanjatkan.
Kisah serupa disampaikan Dr. Ghazali. Di masa lalu, ia pernah memohon kepada Allah agar usia istrinya yang tengah sakit ditetapkan dalam kebaikan menurut kehendak-Nya.
*Doa itu Allah kabulkan dengan cara terbaik menurut-Nya.*
Doa tidak perlu dipikirkan terlalu rumit. Amal tidak perlu dihitung-hitung. Tugas hamba adalah memohon dengan ikhlas dan percaya. Allah yang menentukan waktu dan bentuk jawabannya.
Dialog pagi itu menegaskan satu hal: Ramadhan adalah waktu memperbaiki cara hidup — dan memperdalam cara berdoa.
Karena yang sering kita anggap tertunda, sesungguhnya sedang dipersiapkan.
21/02/2026
*Ramadhan adalah Nikmat*
Jum’at, 20 Februari 2026
Depok — Kultum Tarbiyah Tarawih ke-3 di Masjid An Nur Islamic Centre menghadirkan penceramah, Muhammad Azzam Sidqi, yang mengangkat tema “Mensyukuri Nikmat di Bulan Ramadhan”.
Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum untuk menggenapkan dan menyempurnakan nikmat Allah dengan syukur yang nyata.
*Syukur Itu Menyempurnakan*
Ustadz Azzam memulai dengan mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 185:
_“…walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la‘allakum tasykurun.”_
“…dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, agar kamu bersyukur.”
Menurut beliau, ada tiga pesan besar dalam ayat ini:
1. Menyempurnakan bilangan & _(walitukmilul ‘iddata_ — Ramadhan harus ditunaikan penuh, tidak setengah hati.
2. Membesarkan Allah (_walitukabbirullah_) — Syukur bukan hanya rasa, tetapi pengagungan kepada Allah melalui ibadah yang lebih baik.
3. _La‘allakum tasykurun_ — Tujuan akhirnya adalah menjadi hamba yang bersyukur.
“Ramadhan adalah nikmat. Maka cara mensyukurinya bukan hanya dengan ucapan Alhamdulillah, tetapi dengan menyempurnakan puasanya, menggenapkan amalnya, dan memperbaiki kualitas ibadahnya,” tegas beliau.
Syukur Menambah dan Menggenapkan
Beliau menjelaskan bahwa syukur memiliki makna menambah dan menggenapkan. Orang yang bersyukur tidak mengurangi amal, tetapi justru melengkapinya.
Beliau mengingatkan hadits Nabi:
_“Man shâma Ramadhâna tsumma atba‘ahu sittan min Syawwâl…”_
Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu menyempurnakannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa setahun penuh.
Ini menunjukkan bahwa karakter orang bersyukur adalah tidak berhenti pada yang wajib, tetapi menambah dengan yang sunnah.
*Belajar dari Keluarga Nabi Daud*
Ustadz Azzam juga mengutip firman Allah tentang keluarga Nabi Daud:
_“I‘malû âla Dâwûda syukrâ…”_
“Wahai keluarga Daud, beramallah sebagai bentuk syukur.”
*Syukur bukan teori, melainkan kerja nyata.*
Beliau mengisahkan bagaimana keluarga Nabi Daud dikenal produktif dalam ibadah — siang dan malam tidak kosong dari ketaatan. “Itulah makna syukur yang hidup,” ujarnya.
*Jangan Tergelincir oleh Nikmat*
Dalam penutupnya, beliau mengajak jamaah merenungkan Surah Al-An‘am ayat 165–167, bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah dan menguji dengan nikmat yang diberikan.
Nikmat Ramadhan bisa menjadi jalan naik derajat — atau justru menjadi sebab lalai jika tidak disyukuri.
“Ramadhan adalah nikmat yang harus digenapkan. Jangan sampai kita mengurangi, jangan sampai kita pilih-pilih hari. Sempurnakan bilangan, besarkan Allah, dan jadilah hamba yang bersyukur,” pungkas beliau. (Mohammad Saihu)
18/02/2026
*Puasa Butuh Keikhlasan*
Depok — Ketua Yayasan Masjid An Nur Islamic Centre, Ir. Drs. H. Abdul Rahman Ma'mun, M.IP., menekankan dalam Kultum Tarbiyah Tarawih di Masjid An Nur Islamic Centre Bella Cassa (Rabu, 18 Februari 2026) bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang sangat bergantung pada keikhlasan.
Menurutnya, ikhlas adalah melakukan ibadah semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian atau perhatian manusia. “Puasa membutuhkan ikhlas karena ia ibadah batin yang tersembunyi.
Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah.
Jika hanya formalitas, puasa menjadi sekadar menahan lapar. Dengan ikhlas, puasa membersihkan jiwa, menguatkan hati, dan membentuk takwa,” ujarnya.
Ia menambahkan, keikhlasan membuat ibadah menjadi hadiah langsung bagi jiwa dan sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar rutinitas atau kewajiban sosial. (MS)
15/02/2026
*Ibadah dan Zakat Digital: Saat Ajal Datang, Mengapa yang Diminta Kesempatan Bersedekah?*
Islamic Centre DEPOK — Di era ketika zakat bisa ditunaikan dalam hitungan detik melalui gawai, fikih hadir memberi pencerahan: mana substansi ibadah, mana sekadar sarana. Menjelang Ramadhan, pertanyaan besarnya bukan hanya “siapkah kita berpuasa?”, tetapi “sudahkah kita menyiapkan investasi akhirat melalui zakat?”
*Majelis Fajar Masjid An Nur Islamic Centre Bella Cassa Residence Kota Depok* menggelar Tarhib Ramadhan bertema “Ibadah dan Zakat Digital” pada Ahad (15/2/2026).
KH Ahmad Masykur Sholeh Jaelani, Lc., MA., alumnus Universitas Al-Azhar dan dosen IAI Tazkia, membuka kajian dengan ayat yang menggugah kesadaran:
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
(QS. Surah Al-Munafiqun:10)
Saat ajal tiba, yang diminta manusia bukan tambahan puasa, melainkan kesempatan untuk bersedekah. Zakat adalah kewajiban yang melekat pada harta ketika nisab dan haul terpenuhi. Ia bukan sekadar anjuran, tetapi perintah yang menyempurnakan kesalehan puasa.
*Digital sebagai Wasilah, Bukan Substansi*
Kyai Masykur menegaskan, zakat termasuk ibadah _maliyah_ (harta). Substansinya adalah tamlik—berpindahnya kepemilikan kepada mustahiq. Selama niat ada, jumlahnya sesuai ketentuan, dan harta benar-benar sampai kepada yang berhak, maka sah.
Mekanisme boleh berubah, tetapi _maqashid syariah_ tidak boleh bergeser.
Di Indonesia, tata kelola dan akuntabilitas diperkuat melalui Badan Amil Zakat Nasional serta pedoman kepatuhan syariah dari Majelis Ulama Indonesia, yang pada prinsipnya membolehkan zakat melalui media digital selama memenuhi rukun dan syaratnya.
Ia menambahkan, *keempat mazhab* pada dasarnya sepakat bahwa yang menjadi inti zakat adalah terpenuhinya rukun dan tujuan syariah. Perbedaan hanya pada teknis pelaksanaan, bukan pada substansi kewajiban.
“Teknologi mempercepat distribusi. Tapi ruh zakat adalah empati dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Dua Pertanyaan yang Mencerahkan
Kajian semakin dinamis ketika sesi dialog dibuka.
*H. Abdul Rahman Ma’mun,* Ketua Yayasan Masjid An Nur Islamic Centre, menanyakan fenomena siaran langsung ibadah dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang diikuti umat Islam di berbagai negara. Apakah pemirsa termasuk berjamaah? Bagaimana p**a dengan jamaah yang mengikuti shalat dari hotel sekitar Masjidil Haram?
Kyai Masykur menjelaskan bahwa shalat berjamaah mensyaratkan ittishal (ketersambungan saf) dan kehadiran fisik dalam satu kesatuan tempat.
Menyaksikan melalui layar tidak sama dengan berjamaah. Adapun jamaah di hotel yang secara struktur menyatu dan memungkinkan ketersambungan saf dibahas dalam kerangka fiqh tersebut. Prinsipnya jelas: ibadah fisik tidak bisa digantikan oleh visualisasi digital.
Pertanyaan kedua datang dari *Pak Hendry, Ketua RW 08 Bella Cassa Residence,* tentang dzikir menggunakan tasbih atau alat digital. Bukankah Nabi menganjurkan menghitung dengan jari?
Jawabannya menenangkan. Yang utama adalah hadirnya hati. Jari dianjurkan karena akan menjadi saksi di hari kiamat. Namun tasbih atau aplikasi hanyalah sarana. Selama membantu kekhusyukan dan kontinuitas, ia diperbolehkan. Jangan sampai fokus pada alat, tetapi lupa pada ruh dzikir itu sendiri.
Ilustrasi *membaca Al-Qur’an melalui gawai* juga disinggung. Kodifikasi mushaf terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin, termasuk pada era Umar ibn al-Khattab. Media berubah dari lembaran kulit ke kertas, kini ke layar. Yang utama bukan medianya, tetapi Kalamullah yang dibaca dengan tadabbur dan keimanan.
*Ramadhan: Momentum Menyempurnakan Ibadah*
Kajian ini menegaskan satu pesan kuat: puasa tanpa zakat adalah kesalehan yang belum utuh. Di dunia yang serba digital, Allah justru memberi ruang dan waktu lebih luas untuk menunaikan kewajiban tanpa menunda.
Ramadhan akan tiba.
*_Saat ajal datang, manusia memohon kesempatan untuk bersedekah._*
Pertanyaannya kini: apakah kita akan menunggu penyesalan itu, atau menunaikan zakat sebelum kesempatan tertutup selamanya? (Mohammad Saihu)
08/02/2026
*Puasa sebagai Proposal Cinta: Jalan Pulang Menuju Ramadhan di Tengah Jiwa yang Lelah*
Islamic Centre Depok — Menjelang Ramadhan, banyak orang mulai memperbanyak ibadah. Namun di saat yang sama, tak sedikit yang diam-diam merasa letih secara batin. Ibadah dikerjakan, pahala dikejar, tetapi hati terasa kosong. Di tengah kesibukan hidup, tuntutan ekonomi yang makin kompleks, dan kompetisi sosial yang kian ketat, ibadah sering berhenti pada rutinitas, belum menjadi jalan p**ang bagi jiwa.
Dalam konteks inilah Kajian Kitab Monumental Karya Al Ghazali, "Iḥya’ ‘Ulumuddin" bertajuk *“Ibadah yang Menenangkan Jiwa”* digelar dalam Majelis Fajar Masjid An Nur Bella Cassa, Ahad (8 Februari 2026). Kajian ini menghadirkan *DR. KH. Abdul Hayy Al Kattani, Lc., MA, anggota Majelis Fatwa MUI Pusat*, yang menegaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah syahrut tarbiyah—bulan pendidikan hati.
“Puasa bukan sekadar kewajiban. Ia adalah *_proposal cinta_* seorang hamba kepada Allah. Bukan hanya menahan lapar, tapi mengajukan kedekatan,” ujar Kyai Abdul Hayy membuka kajian.
*Ibadah Ramai, Jiwa Sepi*
Menurut Kyai Abdul Hayy, problem keagamaan hari ini bukan kurangnya aktivitas ibadah, melainkan kehilangan kehadiran hati. Banyak orang rajin shalat, puasa, dan sedekah, tetapi amal itu kerap tercemar oleh pencarian prestise dan rasa paling benar.
_“Ibadah yang benar itu menenangkan. Kalau ibadah justru membuat kita mudah menghakimi, berarti ada yang salah di dalam hati,”_ tegasnya.
*Ma’rifatullah: Titik Awal Jalan Pulang*
Kajian kemudian diarahkan pada fondasi tasawuf: ma’rifatullah. Ketenangan jiwa, kata Kyai Abdul Hayy, hanya mungkin lahir jika seseorang mengenal Allah dengan benar—melalui tauhid dan penghayatan sifat-sifat-Nya.
Allah bersifat qidam (tidak berawal) dan baqa’ (tidak berakhir), tidak menyerupai apa pun dan tidak dapat digambarkan. Pengenalan ini membebaskan manusia dari ketergantungan palsu kepada selain Allah.
_“Orang yang mengenal Allah tidak mudah sombong. Ia sadar dirinya hanyalah hamba,”_ ujarnya.
*Mengukur Kehambaan: Tergerak atau Tidak?*
Mengutip Imam Al-Ghazali, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa ukuran kehambaan bukan pada klaim, tetapi pada respons batin.
_“Apakah kita tergerak memenuhi panggilan Allah atau tidak.”_
Adzan, ajakan kajian, dan panggilan menuntut ilmu adalah “tes kehadiran hati”. Bila seorang hamba ringan melangkah memenuhi panggilan itu, di situlah tanda kehambaan diterima Allah.
*Jalan Pulang Menuju Ramadhan*
Kajian ini menjadi pengingat kuat bahwa keindahan Islam tidak terletak pada hiruk-pikuk simbol, melainkan pada ketenangan jiwa. Ramadhan bukan panggung kesalehan, melainkan jalan p**ang—kembali menjadi hamba yang sadar, rendah hati, dan hadir sepenuhnya di hadapan Allah.
Di tengah dunia yang bising, mungkin inilah yang paling kita butuhkan: ibadah yang tidak sekadar terlihat, tetapi benar-benar menenangkan jiwa.
*Dzikir dan Penyucian Qalbu*
Puasa, lanjut Kyai Abdul Hayy, mengajarkan manusia menyederhanakan hidup dan mengosongkan hati dari selain Allah. Ia mengutip firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
_“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.”_ (QS. Al-Baqarah: 152)
Dalam tasawuf, dzikir dimaknai sebagai:
طَهَارَةُ الْقَلْبِ عَنْ تَفْكِيرِ مَا سِوَى اللَّهِ
Penyucian hati dari memikirkan selain Allah.
*Tanya Jawab: Khusyuk, Neraka, dan Penyucian*
Menjawab pertanyaan *H. Zainal Asikin* tentang shalat khusyuk dan hakikat neraka bagi orang Islam, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa shalat yang benar adalah shalat yang membersihkan jiwa.
_“Barang siapa shalatnya tidak mencegah kemungkaran, berarti shalat itu belum hidup.”_
Tentang neraka, ia menegaskan bahwa mukmin yang berdosa bisa melewati proses penyucian. Selama iman masih ada, mereka tidak kekal di neraka. Ia menukil kisah Imam Abdul Qadir al-Jailani yang menolak pengkultusan palsu terhadap wali.
*Ibadah Sunnah dan Bahaya Merasa Paling Benar*
*H. Helman* menanyakan kaitan tema kajian dengan ibadah-ibadah yang menjanjikan pahala besar seperti shalat dhuha dan qiyamul lail.
Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa ibadah sunnah bukan ajang kompetisi pahala, melainkan sarana perawatan jiwa. Shalat dhuha adalah sedekah bagi tubuh—yang menurut hadis terdiri dari sekitar 300 persendian—sementara qiyamul lail melatih kejujuran batin.
_“Kalau ibadah sunnah membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, di situlah penyakitnya,”_ ujarnya.
*Wudhu, Tarawih, dan Kebijaksanaan Syariat*
Menanggapi pertanyaan *H. Yusuf* tentang wudhu dan tarawih, Kyai Abdul Hayy menjelaskan bahwa tidak ada doa baku dalam setiap basuhan wudhu, tetapi dianjurkan menghadirkan kesadaran. Wudhu adalah latihan penyucian jiwa sebelum shalat.
Adapun tarawih, meski tidak dibakukan Nabi, ia ditertibkan oleh Umar bin Khattab demi kemaslahatan umat—bukti bahwa syariat dan kebijaksanaan sosial berjalan beriringan.
*Catatan Akhir: Hati di Era Digital*
Di bagian akhir, Kyai Abdul Hayy mengingatkan bahwa di era teknologi digital, kesalehan mudah berubah menjadi simbol. Konten agama melimpah, tetapi kehadiran di majelis ilmu justru menurun.
“Ramadhan datang bukan untuk menambah tontonan keagamaan, tetapi untuk mengembalikan hati,” tutupnya.
Kajian ini menjadi ajakan hening: sebelum Ramadhan tiba, p**angkan dulu hati kita—agar puasa benar-benar menjadi proposal cinta, dan ibadah menjadi jalan p**ang yang menenangkan jiwa. (Mohammad Saihu)
07/02/2026
*Ketika Lisan dan Qalbu Menjadi Akar Kerusakan Sosial*
Kerinduan akan kehidupan sosial yang rukun, hangat, dan saling menjaga kembali menemukan momentumnya dalam Kajian Pagi Musholla Bait Al Barookah, Cluster Dahlia Bella Cassa Residence, Sabtu (8/2/2026). Di tengah realitas sosial yang kerap diwarnai ketegangan, prasangka, dan retaknya hubungan antarindividu, kajian ini terasa relevan dan membumi—seolah menjadi jeda reflektif atas kegelisahan sosial yang diam-diam kita alami bersama.
Kegelisahan itulah yang kemudian dibaca dan diurai secara mendalam melalui kajian Kitab Nashā’ihul ‘Ibād karya Syekh Nawawi al-Bantani, khususnya pada nasihat ke-15. Kitab klasik ini tidak hanya berbicara tentang kesalehan personal, tetapi juga menyingkap akar-akar kerusakan sosial yang sering luput disadari, namun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian ini diasuh oleh H. Fuad Syaifuddin, S.Ag., M.Ag., yang dikenal karena ketekunan dan kedalaman ilmunya dalam khazanah kitab-kitab salaf. Dengan gaya penyampaian yang jernih dan reflektif, Ustadz Fuad membuka kajian dengan sentuhan sosial-moral yang kuat. Ia mengajak jamaah membaca ulang realitas kehidupan: konflik rumah tangga, renggangnya hubungan bertetangga, hingga rusaknya harmoni sosial. Semua itu, menurutnya, bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar pada dua kerusakan mendasar: rusaknya lisan dan rusaknya qalbu.
*Fasād: Kerusakan yang Lebih Dalam dari Sekadar Bencana Alam*
Syekh Nawawi al-Bantani, dalam Nashā’ihul ‘Ibād, menautkan nasihat ini dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rūm ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
Ustadz Fuad menegaskan bahwa makna fasād dalam ayat ini tidak boleh dipersempit hanya pada banjir, pencemaran laut, atau kerusakan hutan. Sebagai penulis dan penerjemah kitab-kitab salaf—di antaranya penerjemah Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i selama lima tahun dalam 16 jilid—penjelasannya tidak berhenti pada tafsir tekstual, melainkan menembus lapisan sosial dan spiritual yang lebih dalam.
Menurutnya, fasād mencakup rusaknya akhlak, keadilan, amanah, dan kepekaan hati manusia. Bahkan, sering kali kerusakan sosial dan moral justru mendahului kerusakan alam yang kasat mata.
Syekh Nawawi memberi isyarat simbolik yang tajam:
*_al-barr_* (darat) dimaknai sebagai lisan,
*_al-bahr_* (laut) dimaknai sebagai qalbu.
Artinya, ketika lisan dan qalbu manusia rusak, dampaknya menjalar ke seluruh sendi kehidupan.
Ustadz Fuad—yang juga menerjemahkan Nashā’ihul ‘Ibād—mengutip ungkapan puitis Syekh Nawawi:
فَإِذَا فَسَدَ اللِّسَانُ بَكَتِ النَّفْسُ
Apabila lisan rusak, yang menangis adalah jiwa pemiliknya.
وَإِذَا فَسَدَ الْقَلْبُ بَكَتِ الْمَلَائِكَةُ
Namun apabila qalbu yang rusak, yang menangis adalah para malaikat.
Lisan yang dipenuhi dusta, fitnah, dan kata-kata melukai memang tidak menumpahkan darah, tetapi ia melukai jiwa pemiliknya sendiri. Namun ketika qalbu yang rusak—dipenuhi dengki, niat busuk, dan kemunafikan—kerusakannya berskala kosmik-spiritual, sampai malaikat pun digambarkan ikut berduka.
Ia menguatkan dengan hikmah yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq:
اللِّسَانُ يَنْقُضُ وَلَا يَقْطَعُ، كَالإِبْرَةِ
Lisan itu merusak tanpa memotong, seperti jarum.
Jarum tidak memutus, tetapi tusukannya bisa meninggalkan luka yang lama sembuh.
*Syariat, Thariqat, dan Makrifat*
Diskusi menghangat ketika Dr. Iwan Sudrajat mengajukan pertanyaan reflektif: bagaimana ayat zhaharal fasād dipahami dalam kerangka syariat, thariqat, dan makrifat?
Ustadz Fuad menjawab dengan jernih. Dalam tataran syariat, ayat ini mengingatkan manusia agar menjaga hukum Allah dalam muamalah dan akhlak. Dalam thariqat, ayat ini mengajak membersihkan batin melalui riyadhah dan muhasabah. Sedangkan dalam makrifat, fasād dipahami sebagai terputusnya rasa kehadiran Allah dalam hati manusia.
“Ketika hati tidak lagi merasa diawasi Allah, di situlah kerusakan paling awal terjadi,” ujarnya.
*Keteladanan Abu Bakar: Iman yang Bulat*
Pertanyaan lain datang dari H. Ilham, yang mengaitkan kajian ini dengan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Saat ditanya Rasulullah ﷺ, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku titipkan mereka kepada Allah.”
Ustadz Fuad menegaskan, itulah iman yang bulat—bukan nekat, melainkan puncak keyakinan, kejujuran, dan kepasrahan total. Dari sikap itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq.
Ia menutup bagian ini dengan bait zuhud yang masyhur:
يَا دُنْيَا إِنْ كُنْتِ تُرِيدِينَ أَنْ تَغُرِّينِي فَالْتَمِسِي غَيْرِي
Wahai dunia, jika engkau hendak merayuku, carilah selain aku.
*Bekal Penting Menuju Ramadhan*
Kajian ini tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi cermin dan bekal menjelang Ramadhan. Ustadz Fuad mengingatkan firman Allah:
*_“Lā taḥzan innallāha ma‘anā”_* (QS. At-Taubah: 40),
*_“Lā takhāfū wa lā taḥzanū”_* (QS. Fushshilat: 30).
Pesannya jelas: jaga lisan agar jiwa tidak menangis, bersihkan qalbu agar langit tidak berduka. Menjelang Ramadhan, kaidah ini menjadi sangat penting. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menata ucapan dan niat.
Masyarakat yang rindu kehidupan sosial yang hangat, rukun, dan penuh empati menemukan jawabannya di sini: memulai perbaikan dari lisan dan qalbu masing-masing. Kajian fajar ini pun menjadi undangan terbuka—bahwa membangun peradaban yang damai selalu dimulai dari kata yang dijaga dan hati yang disucikan.
(Mohammad Saihu)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jalan Bella Casa Residence, Tirtajaya, Kec. Sukmajaya, Kota Depok
Depok
16412