Sekolah PertamaKu

Sekolah PertamaKu

Share

A Great Place for Education

27/12/2019

💥[INI DIA] cara Banjir Orderan Tiap Hari :💥

Kak mao Banjir Orderan Tiap Hari?

rata-rata orang pasti mao Banjir Orderan Tiap Hari ,tapi masalahnya kita biasanya terpaksa harus pusing dan bingung caranya

Nah sekarang Kak gak perlu khawatir karena sudah ada Videonya ..
Nah di Video 7 Hari saya akan sharing bagaimana untuk Banjir Orderan Tiap Hari tanpa pusing dan bingung caranya

Yuk klik gambar nya untuk info lengkapnya , atau klik >> https://m.me/kayadarimarketplace

Photos 17/12/2015

BERHENTILAH MENGELUH, MARI KITA BERSYUKUR DAN MARI KITA BELAJAR PARENTING SEBELUM TERLAMBAT

Beberapa waktu lalu sy baru saja bertemu dengan sahabat keluarga Indonesian Strong from home dari Semarang, yang sudah belajar parenting sejak masih mengandung. Maaf ralat bahkan katanya saat masih PDKT.

Awalnya hanya kenal di fb, tapi kok rasanya sudah seperti saudara ya..., itulah indahnya berteman dengan para orang tua yang sudah sadar parenting.

Dan hasilnya anaknya sekarang menjadi anak yang luar biasa dalam banyak hal dan menjadi hal yang menggumkan bagi keluarga besarnya, "anak 16 bulan kok sudah mandiri seperti itu ya...?" begitu sering keluar ucapan dari keluarganya.

Lalu satu persatu anggota keluarga mulai curhat dan berkonsultasi padanya, dan mulailah di jelaskan apa rahasianya.....

Eh yang menarik adalah, setelah di jelaskan semua rahasianya, jawaban si penanya malah seperti ini;

"Kayaknya aku gak bisa sesabar kamu deh..."
"Kayaknya kami gak bisa setelaten kamu deh..."
"Kamu sih enak, suamimu kompak, kayaknya aku sih gak mungkin deh"
dan segudang alasan lainnya....

Teman saya ini jadi "tepok Jidat" katanya.
"Lha nyoba saja belum kok ya sudah banyak bener alasannya. Katanya pada saya."

"Padahal kita juga sama saja seperti mereka dulunya, cuma karena rajin baca buku dan belajar parenting akhirnya bisa juga."
"Makane nek cari pasangan itu harus di cek dulu, mau ndak kompak belajar parenting."

Mereka mengakhiri ceritanya.
Lalu bagaimana dengan kita ????

Note:
Tulisan ini dibuat, berdasarkan cerita Andrew dan Nikita, Relawan Indonesian Strong from Home dari Semarang.

by ayah edy

Photos 17/12/2015

5 KELALAIAN ORANG TUA INI DAPAT MEMBAHAYAKAN ANAK

Kelihatannya sepele, tapi efeknya tak kalah gede. Tanpa disadari, orangtua kerap melakukan kelalaian yang membahayakan anak. Sering kan mendengar berita anak yang terluka atau bahkan kehilangan nyawa saat berada di rumah. Entah terjatuh, tergores, kesetrum, dan lainnya.

Apa sajakah bentuk kelalaian orangtua yang dapat membahayakan anak, bahkan mengancam nyawanya, berikut di antaranya:

- Lupa Melepas Kabel Charger Usai Mengisi Baterai Handphone.

Beberapa waktu lalu, seorang pengguna sosial media memposting tulisan tentang seorang bapak yang lupa melepas kabel charger usai mengisi baterai handphone-nya. Celakanya, anak sang bapak, yang berusia 1 tahun 2 bulan memainkan kabel itu, bahkan memasukkan ujung kabel charger ke dalam mulutnya. Ujung kabel charger yang terbuat dari metal merupakan penghantar yang baik bagi listrik, apalagi tersentuh oleh air liur di dalam mulut anak. Si kecil masih mujur karena hanya menderita luka bakar di lidah. Tidak ingin, kan, kejadian ini terjadi di rumah. Untuk itu, jangan lupa lepasan kabel charger usai baterai terisi penuh.

- Sembarangan Menaruh Makanan, Permen, Benda Tajam, atau Benda-benda Kecil.

Sudah dengar kan ada anak batita yang tewas tersedak permen lembut dan kenyal? Nah bagi anak-anak benda-benda kecil seperti permen, kancing, pil, dan lainnya, bukanlah benda berbahaya, tapi lain halnya bagi anak batita (1-3 tahun). Sebab, pada masa ini anak sedang dalam fase oral, dimana ia gemar memasukkan benda-benda ke mulutnya. Nah, benda-benda di atas jelas bisa berbahaya, bahkan mengancam nyawa anak. Jadi taruh benda-benda jauh dari jangkauan anak.

Untuk Review selengkapnya dapat dilihat di beranda line@ sekolah pertamaku:

http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku

Share informasi yang bermanfaat ini...

Photos 16/12/2015

BAGAIMANA MELATIH PERKEMBANGAN OTAK BALITA?

====================================

Orang tua mana yang tidak ingin buah hatinya tumbuh cerdas dan pintar? Orang tua selalu mengusahakan segala yang terbaik bagi balita mereka.

Perkembangan otak balita 2 – 5 tahun banyak dipengaruhi beberapa hal, misalnya nutrisi serta stimuli atau rangsangan yang diberikan serta latihan – latihan atau aktivitas yang dapat membantu perkembangan terjadi lebih pesat.

Namun, cukup banyak orang tua yang kurang memahami salah satu hal penting yang sangat dapat mempengaruhi perkembangan otak balita 2 – 5 tahun yaitu mainannya.

Perkembangan Otak Balita 2 – 5 Tahun Dan Mainannya

Bermain sebagai salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan balita sejatinya dapat menjadi sarana dimana orang tua dapat mengembangkan kecerdasan balitanya secara maksimal.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa perkembangan otak balita 2 – 5 tahun dapat dilakukan lewat mainan anak. Terlebih lagi apabila permainan edukatif tersebut diberikan pada masa emas perkembangan anak (golden age)

Oleh karena orang tua dapat melatih perkembangan otak balita 2 – 5 tahun lewat mainan anak, orang tua harus selektif dalam memberikan mainan dan mengajak buah hatinya bermain. Perkembangan otak yang terjadi pada setiap tingkat usia akan berpengaruh terhadap pemilihan permainan.

Berikut ini beberapa jenis permainan yang bagus untuk mengasah dan menunjang perkembangan otak balita:....

Untuk Review selengkapnya dapat dilihat di beranda line@ sekolah pertamaku:

http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku

Share informasi yang bermanfaat ini...

Photos 16/12/2015

BAGAIMANA MELATIH PERKEMBANGAN OTAK BALITA?

====================================

Orang tua mana yang tidak ingin buah hatinya tumbuh cerdas dan pintar? Orang tua selalu mengusahakan segala yang terbaik bagi balita mereka.

Perkembangan otak balita 2 – 5 tahun banyak dipengaruhi beberapa hal, misalnya nutrisi serta stimuli atau rangsangan yang diberikan serta latihan – latihan atau aktivitas yang dapat membantu perkembangan terjadi lebih pesat.

Namun, cukup banyak orang tua yang kurang memahami salah satu hal penting yang sangat dapat mempengaruhi perkembangan otak balita 2 – 5 tahun yaitu mainannya.

Perkembangan Otak Balita 2 – 5 Tahun Dan Mainannya

Bermain sebagai salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan balita sejatinya dapat menjadi sarana dimana orang tua dapat mengembangkan kecerdasan balitanya secara maksimal.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa perkembangan otak balita 2 – 5 tahun dapat dilakukan lewat mainan anak. Terlebih lagi apabila permainan edukatif tersebut diberikan pada masa emas perkembangan anak (golden age)

Oleh karena orang tua dapat melatih perkembangan otak balita 2 – 5 tahun lewat mainan anak, orang tua harus selektif dalam memberikan mainan dan mengajak buah hatinya bermain. Perkembangan otak yang terjadi pada setiap tingkat usia akan berpengaruh terhadap pemilihan permainan.

Berikut ini beberapa jenis permainan yang bagus untuk mengasah dan menunjang perkembangan otak balita:....

Untuk Review selengkapnya dapat dilihat di beranda line@ sekolah pertamaku:

http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku

Share informasi yang bermanfaat ini...

Photos 15/12/2015

KATA-KATA TERLARANG ORANG TUA KEPADA ANAK

Anak adalah anugrah dan titipan Tuhan kepada orangtua untuk menjaga dan mendidiknya dengan baik.

Namun, kadangkala orangtua lupa untuk tidak mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya disampaikan kepada anak-anaknya. Tips berikut ini yang dilansir oleh Kompas Female bisa jadi renungan.

Berbagai masalah rumah tangga, pekerjaan, sampai kenakalan anak tak jarang membuat Anda lepas kontrol dan marah. Bahkan tak jarang, anak-anak menjadi sasaran kemarahan Anda, entah melalui sikap ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Anda. Hati-hati bila Anda sering kelepasan bicara seperti ini.

"Kata-kata bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga bisa melukai perasaan," ungkap Chick Moorman, penulis buku Parent Talk dan Spirit Whisperers.

Meskipun anak Anda menimbulkan banyak masalah, sebagai orangtua tak sepatutnya Anda melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Efek dari ucapan kasar tersebut sering kali lebih merugikan daripada yang Anda bayangkan. Contohnya seperti ini:

“Kalau kamu nakal, Ibu akan meninggalkan mu di sini!”

Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah Anda. Perlu Anda ketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan Anda meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.

Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Misalnya ketika anak merengek minta mainan, katakan saja padanya, "Arka, kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak nakal, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama."

Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.

“Kamu seharusnya malu!”

Banyak orangtua yang beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut, anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Oleh karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, maka mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah...

Untuk Review selengkapnya dapat dilihat di beranda line@ sekolah pertamaku:

http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku

Share informasi yang bermanfaat ini...

Photos 15/12/2015

KISAH NYATA : ANAK HAFAL AL-QUR'AN BANGUNKAN AYAHNYA YANG KOMA

Kisah ini diceritakan seorang ibu rumah tangga di salah satu kota kecil di Arab Saudi. Tentang bagaimana anak yang sholeh merupakan keberkahan bagi kedua orangtuanya.

Sang ibu bercerita bahwa ia memiliki seorang anak perempuan bernama Asma, Ia seorang gadis kecil yang cerdas, dan hafal al-Qur'an.

Sejak kecil, suami ibu tersebut terbaring koma di rumah sakit. Kejadian itu bermula ketika pada tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H (sekitar tahun 1975 M), mobil ayah Asma mengalami kecelakaan, mobil yang ditumpanginya terbalik saat pulang dari tempat kerja di Timur Saudi menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, sang suami mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.

Asma tidak mengerti kondisi tersebut. Setiap kali Asma bertanya ke mana ayahnya, sang ibu sealu selalu merahasiakannya.

Sang ibu bercerita:

Ketika Asma bertanya ke mana ayahnya, ku hanya menjawab ayahnya suatu saat nanti akan kembali.

Tapi, kini Asmaa sudah berusia 15 tahun. Ia juga sudah hafal Al Qur’an dan terlihat lebih dewasa dari usianya. Maka kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara sang suami, ia masih terbaring koma. Aku terus menungguinya. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Ujian kesetiaan datang, ketika lima tahun berlalu dan suamiku belum juga sadarkan diri. Sebagian orang menyarankan aku menikah lagi dengan didukung oleh rekomendasi seorang Syaikh.

“Tidak,” jawabku saat itu. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”

Aku pun kemudian berkonsentrasi untuk mendidik Asma, di samping bergantian de...ngan keluarga menunggui suami di rumah sakit. Aku kemudian memasukkan Asma ke sekolah tahfidz hingga jadilah ia hafal Qur’an.

Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asma selalu bersama denganku ke sana. Ia mendoakan dan membacakan ayat-ayat ruqyah untuk ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.

Hingga suatu hari pada tahun 1410 (tahun 1990), Asma meminta izin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah

Untuk Review selengkapnya dilihat di beranda line@ sekolah pertamaku:

http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku
http://line.me/ti/p/%40sekolahpertamaku

Share informasi yang bermanfaat ini.

Photos 15/12/2015

Pentingnya Kerjasama Orang Tua dalam Mendidik Anak

PERKENALKAN putri saya tercinta, Ghina Amalia. Karena kondisinya (crouzon syndrome), ia perlu melakukan operasi rekonstruksi tulang kepala beberapa kali dalam hidupnya. Selain keunikan fisiknya, pendengarannya hanya 70% sehingga menuntut strategi dalam pendekatan dan pendidikannya, baik di rumah maupun di sekolah.
Cerita di bawah adalah kejadian setelah ia pulang operasi pertama yang dilakukan pada saat ia berusia 2 tahun. Sekarang dia sudah berusia 20 tahun, asyik belajar keunikan budaya manusia di Jurusan Antropologi semester 5, sambil tetap menekuni hobi menggambarnya.

Kala itu, ada satu masa Ghina berubah perilakunya, seperti “Ratu” yang memperoleh semua kemudahan. Penuntut, mau menangnya sendiri dan semua keinginan harus terpenuhi segera. Kalau keinginannya tak terpenuhi, dia akan marah dan menangis yang membuat semua orang tidak tega dan akan berusaha sedapat mungkin memenuhi keinginannya.
Dan itu terjadi beberapa pekan setelah ia operasi yang pertama pada usia 2 tahun.
“Kasihan …. kan dia sakit …., ” adalah kalimat sakti yang mempengaruhi perlakuan orang padanya. Ghina kecilku dengan segera belajar bahwa dia bisa mempengaruhi dan mengendalikan orang lain hanya dengan tangisan.
Kami memutuskan dan bersepakat untuk mengubahnya. Betul dia memang sakit dan ini berat. Tapi jangan sampai kami menambah bebannya. Dijauhi orang lain karena perilakunya yang buruk. Sakitnya saja sudah merepotkan, lebih sengsara lagi kalau dia tidak punya teman. Dan ini tidak adil buat kakaknya karena dia yang harus selalu mengalah. Untuk itu kami harus bekerja sama dan saling mendukung.
Saya memutuskan untuk mengawali pada Sabtu pertama pekan itu, saat saya berbelanja ke supermarket dekat rumah. Sebelum berangkat, saya berlutut di depan Ghina sehingga posisi mata saya sejajar dengan matanya. Memegang kedua tangannya dan menatap matanya.
“Nak, Mama mau pergi ke Hero, Ghina mau ikut?”
Ghina 2 tahun belum lancar bicara. Dia mengangguk dengan mata berbinar.
“Dengerin Mama ya. Nanti di Hero kita akan beli hanya yang ada di catatan Mama. Kita tidak beli Chiki, permen, dan lain-lain (saya menyebutkan ragam cemilan yang tidak boleh dibeli). Kita beli susu. roti, ….” (saya sebutkan daftar barang di catatan).
Ghina mengangguk-angguk dengan cepat.
“Kamu gak boleh rewel, nangis, marah-marah, minta macam-macam. Kalau kamu rewel, nangis, marah, dan minta macam-macam, kita pulang dan minggu depan kamu gak boleh ikut Mama ke Hero”
Ghina mengangguk, sepertinya tidak terlalu yakin dengan ancaman saya. Benar saja, perilakunya di Supermarket menunjukkan itu. Dia lakukan semua yang saya larang.


Layaknya bos, dia menunjuk semua barang yang dia inginkan. Dan ketika saya mengabaikan, dia mulai gelisah. Kesal dan akhirnya, “Waaaaaa …… ” Ghina menangis dengan sangat keras sehingga semua orang menoleh kepada saya.
Saya merasakan muka saya menjadi hangat. Saya malu dan salah tingkah. Orang-orang memandang saya dengan tajam. Rasanya seolah seperti menuduh, “Ni ibu, anaknya diapain sih?”
Ini titik kritis. Kalau saya berikan apa yang dilarang, maka ambang batas tuntutan Ghina akan meningkat. Akhirnya, saya tatap mata Ghina yang duduk di atas troley.
“Nak, tadi Mama sudah bilang, kamu tidak boleh rewel. Karena kamu rewel, sekarang kita pulang, minggu depan, kamu tidak ikut Mama ke sini.”
Mendengar perkataan saya, tangis Ghina tambah keras, kakinya menendang-nenang. Semakin banyak orang yang menoleh sekarang.
Saat di kasir, seorang ibu sepuh bertanya, “Anaknya nangis kenapa Mbak?”
“Minta Chiki, Bu, gak boleh.”
“Kasihan kan, nangisnya sampai begitu, kasih saja, kenapa?”
Saya hanya menjawab dengan senyuman.
Setelah urusan kasir beres, saya berlalu segera dari situ menghindar tatapan orang-orang. Rasanya saya seperti dituduh “Itu ibu kejam banget, anaknya minta Chiki doang gak dikasih”!
Di rumah, saya peluk Ghina yang masih tersedu.
Setelah reda, saya katakan, “Nak, nanti lagi kalau ke supermarket jangan rewel lagi ya. Kalau rewel seperti tadi itu. Nanti kita pulang lagi, gak jadi belanjanya, kan.”
Ghina hanya mengangguk.
Pekan depan, sesuai janji, saya tidak mengajak Ghina pergi.
“Nak, Mama mau pergi dulu, kamu tidak ikut ya, karena minggu kemarin kamu rewel dan nangis di Hero.”
Ghina kecil kaget, dia tidak menduga kalau saya tetap menjalankan apa yang saya katakan. Dia menangis dengan sangat keras. Saya titip Ghina pada mbaknya supaya dia dipeluk dan ditenangkan, dan saya tetap pergi. Suara tangisannya masih terdengar hingga ke luar rumah. Saya menghela napas, tidak tega rasanya mendengar tangisan kecewanya.
Pola ini kami lakukan berulang secara konsisten.
Pekan ketiga, Ghina menjadi anak yang luar biasa manis dan penurut. (Saya mengira saya sudah berhasil). Pekan keempat dia mulai mencoba lagi dan menangis dengan jauh lebih heboh di supermarket. (Saya nyaris menyerah karenanya). Namun kami tetap dengan pola yang sama, pulang dan pekan depan dia tidak ikut. Fluktuasi berulang, kadang saya luluh dan ingin membatalkan. Tapi suami saya mengingatkan kembali. Kami memang akan sulit menerapkan pola ini bila tidak bekerja sama.
Kami tak tahu sampai berapa lama kami lakukan. Kami hanya fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan keburukan yang ingin dihindari. Hingga sekitar 6 bulan kemudian saya menyadari bahwa Ghina menjadi jauh lebih tenang dan lebih mudah diajak bekerja sama. Alhamdulillah.

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan Margonda Dalam No. 24
Depok
16431