STIFIn Depok

STIFIn Depok

Share

Pengalaman mengatakan terlalu banyak ‘biaya kebodohan’ dg terlalu b*k melakukan uji coba dlm hidup.Tes Stifin ini adalah panduan untuk menghilangkan itu

25/09/2018
25/09/2018

Sharing Artikel

Bukan tentang ideal atau skor terbaik. Tapi tentang siapa yang mau sama-sama belajar menerima satu sama lain.

Menurut teori STIFIn jika sepasang suami istri memiliki skor cinta nol karena memiliki mesin kecerdasan yang sama, maka siklus energi keluarga tersebut akan seperti kolam mati, cepat mendatangkan rasa jenuh, dan akan ada hal yang tak terpuaskan. Atau jika suami ditaklukan istri maka suami akan kewelahan menghadapi istri karena selain sudah lelah dipekerjaan jg masih harus menghadapi istri yang lebih dominan.

Tapi faktanya, saya sering sekali melihat dari client-client saya bahwa mereka yang memiliki MK sama justru dari sisi finansial, harmonisasi keluarga juga lebih baik ketimbang teman-teman yang skornya tertinggi.

Apa yang membuat mereka begitu?

Karena mereka mau sama-sama bertumbuh, melengkapi, dan belajar menjadi lebih baik. Karena sekiranya yang namanya hubungan adalah perbaikan bersama, sama-sama saling menghargai satu sama lain. Bukan salah satu pihak saja yang berusaha. Bersama harusnya lebih mudah. Bukan lebih sulit. Selain itu merekapun paham tanggung jawab masing-masing bukan dengan mengutamakan ego. Paham bahwa ada kehidupan seseorang yang berada di tangannya dan ia memiliki tanggung jawab nanti kepada Sang Pencipta.

Semoga kita semua dianugrahi hati yang selalu lapang dan terus belajar.

-drh Ayu

15/08/2015

* METODE MENGHAFAL.

1. Sensing. 10 kali baca, 5 kali talar/tutup buku. Total 15

2. Thinking. 5 kali baca. 5 kali baca sambil temukan struktur bacaan, pola kata, kalimat. 5x talar/tutup buku. Total 15.
3. Intuiting. 5 kali baca dulu terjemahannya/maksud dari kalimat atau kata sampai ketemu gambaran cerita/maksud dari bacaan tersebut (cari konteks). 5 x baca dengan cepat. 5 x talar/tutup buku. Total 15.

4. Feeling. 5 kali baca. 10 kali talar/tutup buku. Plus gunakan feel saat menalarnya. Total 15. Feeling kebalikan dari sensing.

5. Insting. 5 kali dengarkan murottalnya, 5 x baca sambil diiringi murotal/music. 5 kali talar/tutup buku.

29/04/2015

STIFIn-er Depok tercinta
Met pagi di akhir pekan ini sebelum memasuki Long Weekend. Selamat beraktifitas

29/04/2015

Sidik Jari VS Kapasitas Otak
Bagaimana sidik jari bisa menggambarkan kemampuan terpendam seseorang? Ayu S. Sadewo konsultan dan psikolog dari PT. Duta Pelita Insani (dPi) Consulting yang mempraktekkan finger print test mengatakan, sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh.

“Yang penting diketahui, finger print test bukanlah ilmu tebak-tebakan atau sulap karena ada dasar teori dan penelitian yang mendasari dilakukannya analisa sidik jari, untuk menggambarkan kemampuan seseorang,” terang Ayu.

Kompas.com - Rayakan Perbedaan 27/04/2015

RESPON TERHADAP ARTIKEL PROF SARLITO WIRAWAN
(Ditulis Khusus untuk Keperluan Internal bagi Para Promotor STIFIn)
Farid Poniman
Pertama, saya sangat menghormati Prof. Sarlito Wirawan dan pendapatnya.
Hal terpenting berikutnya, kita mesti terbiasa menerima perbedaan dengan lapang dada.
Dimana letak perbedaannya? Hal ini berawal dari perbedaan world-view (sumber paradigma). Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism). Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak. Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan. Sehingga kalau kembali kepada rumus 100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip, sedangkan saya aliran yang 20% Genetik.
Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik. Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture. Saya penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.
Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan: 1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan 2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Kalau menggunakan bahasa gaulnya, “jangan bawa-bawa Tuhan deh dalam pembahasan ilmiah”. Itulah world-view mereka.
Secara sederhananya, saya meyakini adanya sibghah (celupan) Allah dalam diri manusia melalui kesengajaan Allah menjadikan manusia keturunan Adam. Selain itu ada kesengajaan Allah memberikan genetik yang unik pada setiap manusia. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya). Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.
Pandangan saya sebagaimana yang saya ungkapkan dalam banyak kesempatan bahwa yang 20% Genetik itulah yang aktif mencari 80% Lingkungan sehingga 100% Fenotip itu banyak dikontribusi oleh 20% Genetik. Memang betul tidak selalu 80% Lingkungan itu berhasil dicapai
sepenuhnya sesuai dengan 20% Genetik, tetapi tesis besarnya adalah –sadar atau tidak sadar—kebebasan berkehendak pada manusia akan mencetuskan keinginan mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya, yaitu yang sesuai dengan 20% Genetik tadi. Setiap manusia mencari lingkungan yang ‘gua banget’ bagi dirinya.
Tentang hal ini, Rhenald Khasali (sesama dosen UI dengan Prof Sarlito namun berbeda pandangan juga dengan Prof Sarlito) menyebutnya sebagai genetika perilaku. “Para ahli genetika mulai masuk ke cabang baru dari genetika biologi, yakni genetika perilaku (behavioral genetics), karena berdasar sejumlah penelitian mutakhir terungkap adanya pengaruh genetika terhadap perilaku perubahan “, Rhenald Khasali (2010).
Sekedar ilurtrasi dalam bentuk lain, saya paparkan empat riset sebagai bukti pengaruh genetik terhadap perilaku dan eksistensi manusia (saya kutip dan edit dari Kompas.com):
1. Seorang psikolog asal Virginia Commonwealth University, Michael McDaniel menyatakan bahwa otak yang besar memang berpengaruh terhadap kecerdasan.Dalam Journal Intelligence yang terbit tahun 2005, Michael menyebutkan bahwa volume otak sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan karena semakin banyak sel-sel otak, sistem dan jaringan informasi yang dimiliki seseorang dalam otaknya pun semakin banyak, yang berarti ia bisa lebih cerdas. Hal itu menurutnya berlaku untuk semua rentang usia dan juga jenis kelamin.
2. Para ilmuwan dari Cambridge University menemukan bahwa para pialang yang bekerja di bursa-bursa saham memiliki jari manis lebih panjang dari pada jari telunjuk. Ini menunjukkan bahwa mereka lebih pintar mencari uang. Dalam 20 bulan para pialang dengan jari manis lebih panjang ini 'mencetak' uang sebelas kali daripada yang jari manisnya relatif lebih pendek(Kompas.com,16 Januari 2009).
3. Ukuran pinggul yang besar memengaruhi daya ingat seorang perempuan. Para peneliti menemukan bahwa setiap poin kenaikan BMI, skor tes kemampuan daya ingat mereka juga turun satu poin. Dan, partisipan yang memiliki bentuk tubuh pir (pinggang kecil, tetapi pinggul lebar) memiliki skor yang paling buruk(Kompas.com, 15 Juli 2010).
4. Menurut hasil penelitian, mereka yang bertampang menarik lebih pintar daripada kebanyakan orang. Riset yang dilakukanLondon School of Economics (LSE) di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan, pria dan perempuan menarik memiliki intelligence quotient (IQ) 14 poin di atas rata-rata kebanyakan orang(KOMPAS.com, 17 Januari 2011).
Nah, tentu saja para ilmuwan psikologi tidak akan setuju sepenuhnya dengan empat contoh riset tersebut karena mereka lebih meyakini dengan pola perilaku yang tampak yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Kira-kira mereka akan mengatakan demikian, “Tidak ada kaitannya antara potensi genetik yang tergambar pada besar kepala, panjang jari manis, besar pinggul,
dan tampang yang menarik dengan perilaku seseorang”. Sebagaimana Prof Sarlito juga mengatakan tidak ada kaitannya antara sidik jari dengan perilaku seseorang.
Sampai disini, saya berharap anda dapat memahami bahwa perbedaan pandangan harus diterima dengan lapang dada, yang penting kita mengetahui perbedaan world-view nya.
Oleh karena itu untuk menjembatani bahwa potensi genetik yang digali Tes STIFIn itu juga dapat diukur dari perilaku yang tampak maka saya selalu memasukkan 10 variabel personaliti yang bisa diukur secara psikometrik pada setiap hasil Tes STIFIn. Pendek kata, jika anda ingin membuktikan secara ilmiah keberadaan potensi genetik dalam personaliti seseorang, minta salah satu doktor/PhD psikometrik di kota anda untuk mengukur keberadaan 10 variabel pada peserta tes. Jika keberadaan 10 variabel itu ternyata eksis maka hal itu menunjukkan bahwa Tes STIFIn memiliki validitas yang tinggi. Jika hal tersebut dites lagi beberapa kali dan hasilnya tetap sama maka bermakna reliabilitas Tes STIFIn juga tinggi. Tentang kedua hal ini kami sudah melakukan riset internal yang menunjukkan bahwa validitas dan reliabilitas Tes STIFIn sangat tinggi. Namun saya harap anda bersabar menunggu hasil riset independen yang dilakukan dua tim profesor di Malaysia dan Indonesia yang akan diumumkan tidak lama lagi.
Sejarah Finger Print
Sidik jari adalah ciri permanen yang genetik dan tidak berubah sepanjang umur manusia. William Jenings dari Franklin Institute Philadelpia, mengambil sidik jarinya sendiri pada umur 27 tahun (1887) kemudian membandingkan dengan sidik jari setelah umur 77 tahun ternyata tidak terjadi perubahan.
Sidik jari seseorang memiliki hubungan dengan kode genetik dari sel otak dan potensi intelegensi seseorang. Penelitian ini telah dimulai sejak lebih 200 tahun yang lalu, diawali oleh Govard Bidloo (1865), J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), Inez Whipple (1904), Kristine Bonnevie (1923), Harold Cummins (1926), Noel Jaquin (1958), Beryl Hutchinson (1967), dan kemudian oleh Baverly C Jaegers (1974) yang menyimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang.
Pada tahun 1901, Sir Edward Richard Henry mengembangkan Sistem Galton menjadi sistem Galton-Henry. Pada tahun 1914, sistem Galton-Henry mulai dikembangkan di Indonesia. Pada tahun 1960, sistem ini resmi digunakan oleh POLRI (menurut Indonesia Automatic Fingerprint Identification System/INAFIS).
Sekarang teknologi sidik jari sudah berkembang jauh. Salah satunya, teknologi dermatoglyphics yang dapat dipakai untuk membuktikan seberapa besar kapasitas yang dimiliki anak sejak lahir, mengetahui potensi bawaan, serta bakat terpendam anak. Teknologi tersebutmulanya dikembangkan di Harvard University, Cambridge University, dan Massachusetts University.Data statistik perangkat lunak dermatoglyphics itu diolah berdasarkan data sidik jari 3 juta orang di Asia dan Amerika.
Dari rangkaian sejarah riset-riset sidik jari di atas masih kurang ilmiah apa lagi?
Jika genetika perilaku yang mampu ditunjukkan oleh sidik jari dianggap sebagai ilmu semu, sebaiknya hal tersebut perlu direkomendasikan langsung ke POLRI dan institusi intelijen di seluruh negara untuk menukarkannya dengan cara lain. Saya yakin Prof Sarlito tidak akan punya cara lain yang lebih efisien dan efektif dibanding teknologi sidik jari. Padahal sidik jari sudah memiliki sejarah riset yang panjang, yang sungguh menyedihkan kalau dianggap sebagai bentuk penipuan yang lain.
Penutup
Sebenarnya anda sendiri bisa menjadi juri bebas, karena sebelum menjadi promotor anda mengikuti Tes STIFIn. Adakah kesimpulan tentang personaliti anda yang dikeluarkan oleh Tes STIFIn tidak akurat? Kalau lebih dari 90% diantara anda mengatakan akurat, maka janganlah golongkan kami sebagai penipu. Justru ini adalah amal kifayah kami untuk mencerdaskan bangsa kita.
Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Prof Sarlito atas pengabdian dan integritasnya sebagai ilmuwan psikologi.
Kuala Lumpur, 18 April 2011

Kompas.com - Rayakan Perbedaan Kompas.com is Indonesia leading & most credible news and multimedia portal. Previously known as Kompas Cyber Media or Kompas Online. Established in 1995, Kompas.com was reborn in May 2008 with improved contents and architecture. Kompas.com is an affiliate of Kompas Gramedia Digital Group

24/11/2014

STIFIn untuk Anak Autis

Assalamu’alaikum, pak Farid.

Saya Viryan, promotor STIFIn di Pontianak. Ada dua orang yang bertanya, apa bisa anak Autis mendapat manfaat dari tes STIFIn? Di FAQ yang di web STIFIn ada disinggung tentang anak autis. Dari paparan tersebut sepertinya tidak bisa.

Terima kasih, pak.

Salam SuksesMulia

Viryan, Pontianak

[Jawab]

Salam Viryan,

Penyakit autis bisa diminimalisir dengan cara membawa situasi lingkungannya masuk dalam perhatiannya dengan teknik emotional-bonding. Jika kita tahu jenis kecerdasan penderita autis maka kita tahu cara mendekatinya dengan cara lebih baik, termasuk memilih orang yang sesuai untuk mendekatinya. Penyembuhan menggunakan pendekatan emotional-bonding ini merupakan proses penyembuhan jangka panjang yang memerlukan ketelatenan. STIFIn membantu mempermudah handling-nya. Jika handling-nya efektif maka proses kesembuhannya bisa lebih cepat. Semoga membantu.

Farid Poniman

12/11/2014

testimoni tes STIFIn

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Depok
16243