03/09/2017
: Penguasa Ekonomi Dunia adalah Penguasa Data.
Penguasa ekonomi dunia – dua dari tiga orang terkaya di dunia yaitu Bill Gates (Microsoft) dan Jeff Bezos (Amazon) menjadi penguasa peradaban di millennium ini karena kepiawaiannya dalam mengolah dan mengelola data. Amazon bahkan menjadi model cerita sukses penambangan data untuk membangun kerajaan bisnisnya.
Bagi Anda yang biasa belanja buku di Amazon, akan sering dikejutkan oleh engine mereka yang seolah tahu apa yang kita sedang cari. Ketika saya mencari buku tentang Microgreen misalnya, begitu dapat satu buku yang baik – yang sesuai dengan yang saya cari – engine mereka akan segera memberi rekomendasi, yang kurang lebih berbunyi begini : “ yang membeli buku ini, biasanya juga membeli buku-buku berikut ini….”.
Dan benar saja, hampir selalu kita akan ‘terbujuk’ untuk juga membeli buku-buku berikutnya yang direkomendasikan oleh engine mereka ini.
Tetapi Jeff Bezos tidak hanya cukup puas menjadi orang terkaya nomor 3 yang bermula dari jualan buku ini, kerajaan bisnisnya merambah kemana-mana termasuk yang menghebohkan akhir-akhir ini dengan membeli retailer makanan sehat terbesar di negeri itu yaitu Whole Foods.
Apa yang kira-kira akan terjadi setelah ‘Whole Foods’ di-‘Amazon’-kan ? Setiap kali Anda membeli makanan sehat tertentu melalui system mereka ini, aka nada rekomendasi yang kurang lebih sama : ‘…yang membeli makanan ini, biasanya juga membeli makanan-makanan berikut ini…’
Dan benar juga, kemungkinan Anda akan ‘terbujuk’ untuk membeli makanan-makana yang semula tidak Anda butuhkan, tetapi karena disodorkan secara menarik kehadapan Anda – akhirnya Anda membeli juga.
Walhasil revolusi industri informasi telah membuat orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos menguras kantong konsumen seluruh dunia dengan kepandaian mereka mengolah data.
Tetapi alhamdulillah para peneliti, para penemu dan para startupers di seluruh dunia belum akan menganggap revolusi industri informasi usai di tangan mereka-mereka ini. Dunia internet yang memungkinan manusia di seluruh dunia saling berinteraksi dan berjual beli, barulah awal dari proses revolusi industri informasi itu sendiri.
Pengguna internet yang diperkirakan akan berkisar 4 sampai 5 Milyar orang di dunia hingga tahun 2020, akan jauh terlampaui oleh benda-benda yang bisa saling berhubungan satu sama lain saat itu – yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 milyar devices dan selanjutnya tumbuh eksponential mencapai 75 milyar lima tahun kemudian (2025).
Tersambungnya sejumlah besar devices inilah yang disebut Internet of Things (IoT) yang menjadi babak baru dari revolusi industri informasi. Siapa yang akan berperan di era seperti ini ? bisa jadi orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos lagi, karena mereka punya modal raksasa sekarang untuk pengembangan usahanya.
□□□□□□□
Internet of Thinks (IoT):
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1657661944266612&id=165703343462487
www.rumah-hikmah.com
03/09/2017
: THR 4 bulan Gaji, mau..?
Membaca judul tulisan ini para pembaca akan langsung terbelah. Kelompok terbesarnya tidak percaya, kelompok kedua percaya tetapi tidak melaksanakannya, kelompok ketiga adalah yang curiga, kelompok keempat tidak peduli dan sedikit kelompok terakhir yang percaya dan melaksanakannya. Yang terakhir inilah yang paling beruntung karena insyaAllah Anda akan bener-bener mendapatkan THR 4 x dari Gaji bulanan Anda. Bagaimana caranya ?
Kita semestinya yakin dan percaya bahwa janji Allah pasti benarnya, tetapi tingkat keimanan kitalah yang menjadi kendala untuk berbuat maksimal mengikuti janji-janjiNya. Bagi kelompok yang curiga-pun Anda tidak salah, karena biasanya kalau ada orang menganjurkan sedekah seperti ini buntutnya memberi nomor rekening yayasan atau institusinya atau lebih parah lagi memberikan rekeningnya sendiri.
Nah sedekah yang saya anjurkan disini bukan untuk institusi, yayasan ataupun diri saya – silahkan Anda sedekahkan ke kerabat dekat Anda masing-masing di kampung mumpung lebaran. Atau kepada siapapun yang Anda yakini amanah dengan sedekah Anda.
Yang ingin saya sampaikan hanyalah satu ayat di Al-Qur’an yang memungkinkan bagi Anda untuk melipat gandakan rezeki Anda – dan bahkan ada hitungannya – yang saya sebut Matematika Ilahiah.
Perhatikan janjiNya di ayat berikut ? siapa yang tidak percaya pada janjiNya ?
“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya…” (QS 6 :160)
Nah bagaimana kita mengamalkan ayat ini secara konkrit ? tentu niat kita sedapat mungkin jangan beramal untuk mendapatkan imbal balik yang lebih banyak, tetapi beramal untuk membenarkan janjiNya tersebut di atas. Bahwasanya dari sana kita akan diberi balasan sepuluh kali lipat atau bahkan lebih – itu sepenuhnya hak Allah.
Tetapi saya mencoba memahami janjiNya tersebut dengan angka, agar kita bertambah kuat keimanan kita – karena di ayat inipun Allah memberi angka – jadi tidak salah bila kita terus jabarkan angka tersebut dengan angka lagi.
Asumsinya Anda sekarang menerima THR x atau saya anggap 100% dari gaji bulanan Anda. Sebesar apapun angkanya, kebanyak manusia tidak merasa ini cukup – jadi kemungkinannya Andapun merasa ini kurang.
Lihatlah Matematika Ilahiah terlampir.
Tetapi disinilah Matematika Ilahiah itu berlaku. Bila dengan THR 100% saja Anda tidak merasa cukup, apa mungkin Anda akan kurangkan 33% atau 1/3nya untuk sedekah ?
Hanya Anda yang termasuk sedikit orang yang percaya dan melaksanakan sajalah - yang akan melaksanakan inspirasi dari ayatNya ini. Sesuai janjiNya, maka 33 % dari THR yang Anda sedekahkan akan dibalas dengan minimal 10 kali lipat, artinya menjadi 330% dari THR Anda.
Selain balasannya yang akan menjadi 330% tersebut, Anda juga masih punya 67% dari THR Asal. Jadi berapa THR Anda setelah proses ini berlangsung ?, THR Anda menjadi 330% + 67% atau menjadi 397% atau medekati 4 kali dari THR semula.
Tentu balasan dari Allah bukan seperti uang yang tiba-tiba turun dari langit atau tiba-tiba ada di depan pintu rumah Anda di malam hari, meskipun inipun memungkinkan bila Allah berkehendak – Namun kalau ini yang terjadi – wajar Anda curiga karena yang seperti ini pernah menjadi modus kejahatan yang sampai sekarang sedang ditangai pihak yang berwajib.
Juga bukan transfer ndak jelas, dari pihak lain ujug-ujug masuk rekening Anda. Bila ini yang terjadi kemungkinannya itu uang suap , uang salah transfer dan sejenisnya yang minimal akan membuat Anda repot bila di belakang hari menjadi temuan KPK atau menjadi fakta persidangan.
Allah punya cara tersendiri untuk merealisasikan janjiNya – baik bentuk maupun waktunya, dan pastinya itulah terbaik menurut Allah dan berarti terbaik p**a untuk kita. Perhatikan ayatNya sebagai berikut :
“Dan tidak ada sesuatupun, melainkan disisi Kamilah khazanahnya (sumber/supply-terj). Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu” (QS 15:21).
Masih tidak percaya bahwa Anda bisa memperoleh THR 4 x Gaji ?, belajarlah dari Siti Aisyah ketka menasihati pembantunya :
“Saya bersumpah demi Allah, seseorang tidak bisa sampai benar-benar beriman sampai dia lebih percaya kepada Allah dari apa yang ada di tangannya – sesuatu yang bisa dilihat digenggaman tangannya”.
Nah THR Anda kini sudah ada di genggaman tangan Anda, sudah dapat Anda lihat fisiknya berada digenggaman tangan – well mayoritasnya angka di bank – tetapi as good as uang yang Ada digenggaman tangan Anda. Maukah Anda melepaskannya karena Anda lebih percaya kepada janji Allah dari uang THR yang sudah digenggaman tangan tersebut ? Jawabannya tergantung seperti apa tingkat keimanan kita seperti yang disampaikan oleh Siti Aisyah tersebut di atas.
Dari sinilah kita lebih mudah paham, mengapa di negeri yang penduduknya bener-bener beriman dan bertakwa – Allah akan bukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi (QS 7:96). Karena bayangkan orang-orang yang mudik memadati sepanjang jalan-jalan di Jawa, Sumatra dan p**au-p**au lainnya. Mereka adalah orang-orang yang baru menerima THR dari kantornya masing-masing.
Apa jadinya ketika dalam perjalananya itu masing-masing menyedekahkan 1/3 dari THR-nya, berkah akan melimpah dari bumi dan dari langit Indonesia. Yang tidak bekerja akan ikut-ikutan memperoleh ‘THR’, proyek-proyek amal akan terakselerasi progressnya. Dan yang mensedekahkan THR-nya 1/3 , Allah lipat gandakan dengan berbagai kebaikan yang sampai empat kalinya.
Jadi mau dapat THR 4 x Gaji sambil menghadirkan keberkahan di negeri ini ?
Menunjukkan satu kebaikan pahalanya adalah sama dengan kebaikan itu sendiri. Maka ayo, kita saling mengajak kepada kebaikan ini. Mumpung masih bulan Ramadhan, pahalanya bisa berlipat-lipat lagi. Lagi-lagi bukan untuk saya atau institusi saya, saya tidak memberi rekening - dan Anda boleh curiga kalau saya memberi nomor rekening. Tetapi ini untuk bangsa ini yang lagi sangat membutuhkan berkahNya, tebarkanlah sedekah itu di lingkungan Anda masing-masing. InsyaAllah bersama-sama kita bisa menghadirkan keberkahan itu.
Oleh: Muhaimin Iqbal.
www.rumah-hikmah.com
03/09/2017
: Ada Gajah di ruang tamu Kita.
'Fenomena gajah di ruang tamu kita' adalah cerminan hal yang mengagetkan, tidak seharusnya, menjengkelkan dlsb. yang ada di sekitar kita dalam bentuk yang bisa bermacam-macam. Dalam skala bangsa Indonesia yang lagi hangat misalnya adalah system hukum kita yang terasa sangat timpang.
Orang-orang kecil yang mencuri semangka, buah kakau, pisang dipenjara. Sementara yang merugikan negara trilyunan melenggang bebas, yang mengobok-ngobok kewibawaan hukum juga bebas. Well kalau toh diantara yang mengobok-ngobok rasa keadilan tersebut akhirnya di penjara, dia tetap hidup mewah bak hotel bintang lima di dalam penjara.
Sistem hukum yang demikian ini jelas sangat menjengkelkan kita sebagai rakyat, mungkin juga menjengkelkan para pemimpin negeri ini...? tetapi karena mereka sangat letih dengan perbagai persoalan, saya tidak heran kalau sampai bertahun kedepan akan tetap ada ‘gajah nongkrong di ruang tamu’ tersebut di sistem hukum kita.
Dalam skala pribadi, masing-masing kita juga kadang punya masalah dengan tamu yang tidak diundang tersebut – gajah yang sudah terlanjur nongkrong di ruang tamu kita. Salah satu contohnya adalah pekerjaan yang tidak kita sukai, tetapi terpaksa kita jalani seumur hidup kita sampai pensiun.
Ada tes sederhana yang dapat mengukur apakah Anda cocok dan dapat menikmati pekerjaan Anda atau sebaliknya. Tes ini adalah dengan melihat apa yang Anda rasakan setiap Minggu sore/malam. Bila setiap minggu malam Anda lebih sering bahagia menyongsong pekerjaan esuk hari, maka kemungkinan besarnya pekerjaan tersebut memang cocok untuk Anda dan Anda dapat menikmatinya.
Sebaliknya, bila Anda tidak bisa menikmati akhir pekan Anda karena membayangkan pekerjaan yang tidak menyenangkan hari Senin-nya; maka sangat bisa jadi pekerjaan yang Anda tekuni ini memang tidak cocok untuk Anda sehingga Anda tidak bisa menikmatinya.
Bila ini yang terjadi maka pekerjaan inilah yang disebut ada gajah nongkrong di ruang tamu Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengusir gajah tersebut, karena kalau tidak maka gajah tersebut tetap nongkrong di ruang tamu Anda sampai Anda pensiun – artinya Anda tersiksa seumur hidup dengan pekerjaan Anda.
www.kantor-di-rumah.com
03/09/2017
: Kembali ke Desa?
Urbanisasi adalah penyakit kronis kota-kota besar dunia termasuk Indonesia yang hingga kini belum ketemu obatnya yang efektif. Selama sumber-sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik adanya di kota-kota besar, maka selama itu p**a masalah urbanisasi akan terus terjadi. Oleh sebab itu, untuk menghentikan arus urbanisasi – dan bahkan membalik arusnya menjadi deurbanisasi – daerah-daerah harus bisa menghadirkan sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik. Bagaimana caranya ?
Bila kita tanyakan kepada para pencari kerja terdidik di negeri ini, yaitu para sarjana tentang pekerjaan apa yang terbaik menurut mereka ? maka jawabannya akan berdasarkan pengalaman atau pendidikan mereka. Pekerjaan di industri keuangan, industri teknologi, telekomunikasi, manufacturing dlsb. adalah yang kemungkinan besar menjadi pilihan mereka.
Hal yang tidak jauh berbeda jawabannya apabila ditanyakan kepada para pencari kerja dari kalangan yang berpendidikan lebih rendah, bedanya mereka membidik di tenaga-tenaga administratif-nya, buruh pabrik dan sejenisnya.
Karena jawaban mereka inilah, maka mereka akan berbondong-bondong ke kota besar mencari pekerjaan yang menurut mereka terbaik – karena jenis-jenis pekerjaan semacam ini adanya memang di kota-kota besar dan sekitarnya.
Kota besar dan sekitarnya menjadi padat melebihi daya dukung kehidupannya, dan berbagai problem bermunculan. Krisis perumahan, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan, kekumuhan, kemacetan dan berbagai penyakit fisik, psikis sampai penyakit sosial adalah diantaranya.
Penyakit turunan dari masalah urbanisasi ini belum ketemu obatnya karena kita belum pernah mencari obat dari sumber yang seharusnya. Dimana obat atau solusi atas penyakit-penyakit ini seharusnya kita cari ? Bagaimana kalau kita kembali ke desa ?
Bila kita memulai dari desa, simpul demi simpul jawaban akan terurai. Tanah pertanian, perkebunan dan peternakan ada di desa. Sumber daya manusia juga sudah ada di desa. Apabila kita dapat membangun industri packaging - pengepakan saja dari semua sumber daya tersebut, insyaAllah hasil pertanian, perkebunan dan peternakan akan lebih mudah di distribusikan dan lebih tahan lama.
Tinggal satu tahapan lagi, yaitu menjual ke daerah lain atau bahkan ke mancanegara, sehingga perekonomian langsung masuk ke desa-desa. Bukankah saat ini sudah era internet, sehingga kita dapat dengan mudah mempromosikan semua produk kita ke mana saja...
Dengan kembalinya perekonomian ke desa-desa, insyaAllah lapangan pekerjaan akan banyak di desa dan arus tenaga kerja-pun akan kembali ke desa-desa, insyaAllah. Itu baru melihat dari industri packaging saja, apalagi bila tumbuh industri-industri lainnya dari desa... semoga...
www.eksportir-indonesia.com
25/08/2017
: Generasi Liability.
Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana me-restorasi generasi yang telah dirusak oleh peradaban sebelumnya - generasi liability.
Peradaban liability ini dicirikan oleh banyaknya ilmu sedikitnya amal, sumber daya melimpah tetapi mayoritas penduduk negeri justru miskin, konsentrasi kemakmuran ke segelintir orang, pemimpin a la demokrasi yang lalai memperhatikan kepentingan rakyat serta krisis pemenuhan kebutuhan pokok berupa makanan, air dan energi.
Kita bisa melihat semua masalah ini saling terkait satu sama lain, maka mencari solusinya-pun harus integratif meng-address seluruh masalah secara sekaligus – bukan masalah ayam dan telur yang mana yang lebih dahulu harus diatasi.
Ketika orang mengejar ilmu tetapi tidak menjadi dasar amal, budaya yang terbangun adalah budaya perdebatan, budaya wacana dan budaya akan ini dan itu. Maka kita harus memulai merintis program aplikasi amal dari ilmu yang sudah ada di masyarakat, dan selanjutnya program-program pendidikan bagi para penuntut ilmu lebih difokuskan untuk pembelajaran ilmu yang akan menjadi dasar amal.
Tidak kurang luasnya ilmu yang sudah ada di masyarakat untuk mengelola sumber-sumber kekayaan alam yang melimpah misalnya, maka dengan meng-amal-kan ilmu-ilmu mereka ini kemiskinan akan terkikis.
Masyarakat sebenarnya sudah lama tahu bahwa sumber-sumber kekayaan alam itu harus dikelola untuk kemakmuran rakyat dan bagaimana mengelola yang seharusnya, tetapi system kapitalisme telah mengkooptasi kekayaan alam tersebut sehingga tidak terjamah oleh rakyat. Maka kita bukan mengambil begitu saja kendali sumber-sumber kekayaan alam dari tangan kapitalisme dengan nasionalisasi atau sejenisnya, tetapi melibatkan rakyat untuk membeli kembali kekayaan alam mereka.
Dana-dana rakyat yang selama ini menumpuk di bank-bank tanpa rakyat tahu siapa yang menggunakan dana mereka dan untuk apa, maka kita harus mengubah tabungan masyarakat ini menjadi Asset-Based Investment atau investasi berbasis asset.
Setiap investasi atau tabungan masyarakat, terkait langsung dengan asset-asset tertentu yang mereka bisa memilih sendiri diinvestasikan ke asset yang mana dana mereka ini – rakyat bisa memilih siapa yang memutar dana investasinya dan untuk apa. Melalui cara ini tidak ada lagi sumber daya alam negeri yang tergantung pada investasi dari segelintir orang golongan tertentu atau investasi dari luar negeri.
Melalui cara ini p**a, sumber daya alam secara elegan bisa pindah kembali ke tangan rakyat – tinggal kemudian para professional mengelolanya untuk sebesar-besarnya manfaat bagi para stakeholder mereka yaitu rakyat itu sendiri. Karena pemegang kendali pengelolaan sumber daya alam bervisi untuk semaksimal mungkin manfaat bagi rakyat, maka tinggal memformulasikan apa yang paling dibutuhkan oleh rakyat ini.
Kepentingan rakyat terbesar adalah terjaganya kebutuhan pokok mereka untuk hidup, terjaganya keyakinan mereka, kehormatan mereka, terjaganya kemerdekaan pemikiran mereka, terjaganya keturunan mereka dan tentu juga terjaganya jiwa dan harta mereka.
Saat ini kita masih menantikan Pemimpin yang dapat menjalankan Visi tersebut, semoga lekas ditemukan, aamiin.
www.rumah-hikmah.com
25/08/2017
: Generasi Tanpa Daya.
Hampir semua ilmu itu kini tersedia bebas untuk bisa kita pelajari di belantara dunia maya, namun ini tidak menjadi jaminan bahwa orang yang hidup di jaman ini menjadi lebih cerdas dalam mengatasi perbagai persoalan hidupnya. Bahkan kini muncul generasi yang tanpa daya – sangat sedikit menguasai sesuatu. Banyak sekali pekerjaan terbuka, tetapi serba tidak bisa dilakukannya – disuruh bekerja ini tidak bisa, yang itu-pun tidak bisa. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan generasi Tanpa Daya ini ?
Bisa jadi mereka rajin berjam-jam berinteraksi dengan dunia maya, tetapi mereka tidak belajar sesuatu. Bisa jadi mereka lulusan perguruan tinggi ternama, lagi-lagi mereka tidak belajar sesuatu. Maka waktu yang ditempuh dalam seluruh proses yang seharusnya menambah ilmu dan ketrampilannya, terbuang sia-sia.
Dunia bisa berubah dengan sangat cepat di era teknologi informasi, tetapi proses menuntut ilmu dan mengembangkan ketrampilan tidak berubah. Metode paling efektif-nya exactly the same dengan yang diajarkan oleh Allah kepada utusan terakhirnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Melalui ayat yang pertama turun Iqra’ – bacalah ! ini jendela ilmu terbuka untuk pertama kalinya. Maka dengan melimpahnya sumber ilmu di dunia maya, kita bisa mempelajari apa saja apabila kita rajin membaca.
Tetapi membaca saja tentu tidak cukup bila dia tidak membekas dalam pikiran kita, maka kita juga harus memiliki daya ingat yang baik untuk bisa mengingat apa yang kita baca. Bahkan ada sumber segala sumber ilmu yang dijamin mudah diingat atau dihafalkan – yaitu Al-Qur’an.
Sampai empat kali Allah mengulang ayat yang sama : “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran (diingat), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar : 17,22,32,40).
Dibaca saja Al-Qur’an sudah memberi manfaat, dihafalkan tentu lebih baik lagi bagi yang mau melakukannya – tetapi lebih dari itu karena Al-Qur’an juga merupakan jawaban untuk seluruh persoalan kehidupan (QS 16:89), dia juga harus dipahami. Bagaimana menjawab persoalan jaman bila tidak memahami petunjuk yang senantiasa valid untuk itu ?
Tetapi hanya sampai paham juga belum menyelesaikan persoalan, masalah yang perlu dihadapi di masyarakat adalah konkrit – maka solusinya juga harus konkrit. Seperti konon ungkapan para wali dalam menyelesaikan tantangan dakwahnya di Jawa : sing udo klambenono, sing luwe pakanono, sing ngelak ombenono, sing kudanan/kepanasan payungono – yang telanjang berilah pakaian, yang lapar berilah makan, yang haus berilah minum, yang kehujanan/kepanasan berilah payung (rumah) !
Agar kita tidak termasuk generasi Tanpa Daya marilah kita bersama-sama beramal sholeh mencari solusi atas segala permasalahan di negeri ini berdasarkan petunjuk yang Haq dari Pencipta Alam Semesta ini. InsyaAllah.
www.rumah-hikmah.com
25/08/2017
: Membuat Perubahan dari Menanam Pohon.
Kita tentunya ingin membuat suatu perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Masing-masing kita tentunya juga punya pilihan di bidang apa kita ingin membuat perubahan itu. Bahkan Allah perintahkan langsung kepada kita untuk membuat perubahan itu:
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS 8:53)
Jadi yang akan membuat perubahan terhadap nikmat berupa apapun yang kita terima, itu adalah dimulai dari diri kita sendiri yang mau merubahnya – lalu Allah-pun merubahnya sesuai dengan yang kita lakukan.
Konon salah satu indikator negeri yang buruk atau negeri yang akan terus mengalami kemunduran itu adalah bila suatu negeri tidak mau menanam pohon bahkan gemar menanam tanaman yang tidak bisa dimakan. Entah siapa yang mulai merumuskan indikator ini, tetapi ini juga sejalan dengan formulasi negeri yang sebaliknya – yaitu negeri yang baik menurut AlQur’an. Bila negeri yang baik itu adalah negeri yang di kanan dan kirinya kebun-kebun yang menghasilkan buah yang di makan.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15).
Maka yang sebaliknya juga sangat mungkin berlaku, negeri yang buruk adalah negeri yang tidak peduli untuk menanam tanaman yang bisa dimakan. Sesubur apapun suatu negeri, bila yang ditanam adalah tanaman-tanaman yang tidak dimakan – lantas dari mana rakyatnya akan memperoleh makanannya secara cukup dan berimbang ?
Tentu ini tidak berlaku untuk negeri-negeri yang secara khusus sudah ditetapkan oleh Allah sebagai negeri yang diberkahi seperti Syam, juga negeri yang dipenuhi buah-buahan atau makanan meskipun tidak perlu menanamnya – sebagai bentuk terkabulnya do’a bapak para nabi yaitu Mekah. Negeri kita bukan Syam dan bukan Mekah, maka bila rakyatnya tidak gemar menanam tanaman yang dimakan dikhawatirkan akan masuk kategori negeri yang buruk atau negeri yang mengalami kemunduran.
Gejala-gejalanya mudah dilihat di sekitar kita. Negeri yang subur ijo royo-royo ini baru berkutat di satu atau dua dari lima jenis makanannya – yaitu karbohidrat dan mungkin juga lemak (minyak). Kita tidak bisa mencukupi kebutuhan protein, vitamin dan mineral – yang sebagian besarnya harus diimpor.
Gejala lain juga mudah kita temukan di sepanjang jalan yang kita lalui baik tol maupun non-tol, baik jalan-jalan yang di kota maupun yang antar kota, juga di perumahan-perumahan yang elite maupun yang tidak elite. Perhatikan apa yang ditanam di tempat-tempat tersebut ?, dimakankah ?, rata-rata bukan dari jenis tanaman yang bisa dimakan.
Kita membuang begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan makanan, padahal makanan inilah problem utama rakyat negeri ini dan juga negeri-negeri lain di dunia.
Ilmu manusia terlalu sedikit dan umur nya terlalu pendek untuk bisa mengetahui secara bijak apa yang seharusnya ditanam untuk jangka panjang ini, maka kami ambilkan tanaman-tanaman yang namanya disebut secara langsung di Al-Qur’an.
Yang kami bayangkan adalah suatu saat nanti akan meluas di masyarakat kegemaran menanam pohon-pohon yang menghasilkan makanan. Di kanan kiri kita atau dimanapun kita berjalan akan melihat kebun-kebun makanan, maka saat itulah negeri kita menjadi negeri yang baik seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas. InsyaAllah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang membuat perubahan di bidang kita masing-masing menuju kemakmuran umat sebagai wujud amal sholeh kita dan menjadikan kita pantas menjadi golongan kanan - Umat yang Rahmatan lil Alamin. Aamiin Ya Robbal Alamin.
www.agribisnis-indonesia.com
11/01/2016
MENGAPA KITA SERING "CAPEK" DI DUNIA INI?
Beginilah al-Qur'an bertutur, membuat sebuah panduan yang berharga untuk setiap Muslim, bahwa apa yang kita tuju menentukan cara kita untuk sampai kepadanya...
(1) Urusan Berdzikir (Shalat), perintahnya adalah..
"Berlarilah!"
"Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat jum'at, maka BERLARILAH kalian MENGINGAT ALLAH dan tinggalkanlah jual beli."
TQS. al-Jum'ah: 9)
(2) Urusan melakukan Kebaikan, perintahnya adalah..
"Berlombalah!"
"Maka BERLOMBA-LOMBALAH dalam berbuat KEBAIKAN."
(TQS. al-Baqarah: 148)
(3) Urusan Meraih Ampunan, perintahnya adalah..
"Bersegeralah!"
"Dan BERSEGERALAH kamu menuju AMPUNAN dari Tuhanmu dan menuju SURGA.."
(TQS. Ali Imran: 133)
(4) Urusan Menuju Allah, perintahnya adalah..
"Berlarilah Dengan Cepat"
"Maka BERLARILAH kembali taat kepada ALLAH."
(TQS. adz-Dzaariyat: 50)
(5) Tapi... Urusan Menjemput Rizki (Duniawi), perintahnya hanyalah...
"Berjalanlah!"
"Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka BERJALANLAH di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RIZKI-Nya."
(TQS. al-Mulk: 15)
Semestinya kita memahami, kapan kita perlu BERLARI, atau menambah kecepatan lari kita, atau bahkan cukup BERJALAN saja.
Jangan-jangan selama ini kita merasa lelah, capek, sibuk, tidak sempat... karena justru berlari mengejar dunia yang seharusnya cukup dengan BERJALAN..
Astaghfirullah hal'adziim..
Subhanallah.
Alhamdulillah..
Allahu Akbar!
01/09/2015
Disaat kondisi dalam negeri sedang kesulitan mencukupi kebutuhan pangan dan menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Mengapa dana lebih BUMN, ekses likwiditas perbankan dan industri keuangan lainnya tidak fokus diarahkan untuk mengentaskan kemiskinan dan mencegah kelaparan ? Mungkin dianggap kalau sektor riil itu dipandang beresiko tinggi dari kacamata para pengelola dana, maka wajar mereka memilih yang aman saja yaitu menaruh dananya di Deposito dan SBI.
Bayangkan situasi ini, ketika ekonomi sedang terengah-engah, lapangan pekerjaan terancam, infrastruktur belum banyak mengalami kemajuan, pasar dibanjiri barang impor, harga daging mahal dlsb – sementara ada modal yang begitu besar terkunci di brankas-nya BI sampai 9-12 bulan kedepan ?
Itu baru dana dari uang Anda yang ada di bank, bagaimana dengan dana pensiun Anda, uang asuransi Anda, dana hari tua Anda –semuanya bernasib sama – yaitu kalau tidak untuk nguyahi segoro pasar modal, ya tersimpan di deposito bank yang berujung di SBI tersebut.
Tapi yang salah kembali ke rakyat kayak kita-kita juga sebenarnya, mengapa kita terlalu mengandalkan mereka untuk mengelola uang kita. Kebanyakan masyarakat kita lebih memilih menabung di bank, reksadana, unit link, asuransi, dana pensiun dlsb – yang notabene menyerahkan dana kita untuk dikelola di sektor yang semu, ketimbang untuk belajar membangun usaha sendiri, belajar menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan dan mencegah kelaparan di sekitar kita.
Maka Allah-pun mempertanyakan : “Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar ? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu ? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, …” (QS 90 :11-14)
"Melepaskan budak dari perbudakan" bisa dimaksudkan menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kemakmuran dan mengentaskan kemiskinan. InsyaAllah bisa membebaskan perbudakan - memakmurkan umat
"Memberi makan pada hari kelaparan" bisa dimaksudkan membangun ketahanan pangan dengan memakmurkan bumi (perkebunan, pentanian dan peternakan) - memakmurkan bumi.
Tidak ada yang mudah memang, itulah sebabnya Allah sendiri menyebutnya jalan yang mendaki lagi sukar. Meskipun demikian kita rela dengan ikhlas menempuhnya karena kita hanya berharap akan ridloNya untuk kemudian menaruh kita di golongan kanan (QS 90:18). Aamiin.
http://www.facebook.com/noer.rachman.hamidi
Noer Rachman Hamidi
Kump**an Catatan Noer Rachman Hamidi.
27/08/2015
Riil atau nyata lawan katanya adalah semu, jadi bila dalam bidang ekonomi kita mengenal sektor riil – diluar sektor riil ini berarti bisa disebut sektor semu ? Aneh kita mendengarnya – tetapi inilah yang sebenarnya nampak jelas dalam beberapa hari terakhir. Semua perusahaan dan kegiatan sektor riil berjalan normal apa adanya, tetapi di dunia yang semu – Rupiah jatuh dan demikian p**a bursa saham di seluruh dunia. Anehnya energi kita begitu banyak terbuang untuk merespon yang semu ini ketimbang menggerakkan yang nyata.
Di hari jatuhnya Rupiah menembus angka Rp 14,000/US$ dan harga saham juga jatuh, para pemimpin negeri ini dan pelaku usaha top berkumpul untuk berusaha menyelamatkan Rupiah dan pasar saham. Bahkan menteri BUMN serta merta menggerakkan kekuatan yang ada adalam kendalinya – yaitu para BUMN untuk menggelontorkan minimal Rp 10 trilyun untuk menyelamatkan bursa saham.
Tapi apa maknanya ini ? kalau toh para BUMN memiliki dana lebih begitu besar, apakah benar penggunaannya untuk menyelamatkan 1 atau 2 % IHSG yang memang sedang mengalami trend menurun bersama bursa-bursa saham dunia lainnya ? Apalah artinya 1- 2 % ini dibandingkan dana yang 10 trilyun tersebut ?
Mengapa tidak misalnya bila ada dana ngganggur yang begitu besar dipakai untuk menggerakkan sektor riil yang kini lagi haus modal ? Dunia pertanian kita yang tidak kunjung swasembada apalagi bersaing dengan industri pertanian negeri-negeri lain karena antara lain akses modal yang terbatas.
Kenapa tidak dipakai untuk membiayai pembibitan sapi – yang begitu banyak dagingnya dibutuhkan tetapi sangat-sangat sedikit yang mau melakukan pembibitan ini karena merupakan mata rantai peternakan sapi yang paling kecil margin keuntungannya – tetapi harus ada yang melakukannya.
Mengapa tidak dipakai untuk membuka lahan pertanian buah yang kita masih juga terus impor dengan laju yang semakin meningkat ? mengapa tidak untuk membiayai UKM yang justru menjadi andalan ekonomi ketika dunia lagi gonjang-ganjing ?
Pendek kata sangat banyak sektor riil yang bisa digerakkan dengan dana Rp 10 trilyun ini, belum lagi pada efek penciptaan tenaga kerjanya. Sementara ketika dana tersebut ditaburkan ke bursa saham yang memang lagi turun trend-nya, seperti menggarami lautan – nyaris tanpa efek. Kita mungkin hanya bisa sedikit berbangga bahwa bursa saham kita tidak seburuk bursa saham di negeri-negeri lainnya.
Tetapi dana Rp 10 trilyun-nya BUMN tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari miss orientasi penggunaan dana publik. Dari dunia perbankan bulan Agustus ini saja ada ekses likwiditas sebesar Rp 240 trilyun – sampai-sampai Bank Indonesia harus menambah instrumen baru yaitu SBI yang bertenor 9-12 bulan untuk menyerap ekses likwiditas tersebut.
Bayangkan situasi ini, ketika ekonomi sedang terengah-engah, lapangan pekerjaan terancam, infrastruktur belum banyak mengalami kemajuan, pasar dibanjiri barang impor, harga daging mahal dlsb – sementara ada modal yang begitu besar terkunci di brankas-nya BI sampai 9-12 bulan kedepan ?
Itu baru dana dari uang Anda yang ada di bank, bagaimana dengan dana pensiun Anda, uang asuransi Anda, dana hari tua Anda –semuanya bernasib sama – yaitu kalau tidak untuk nguyahi segoro pasar modal, ya tersimpan di deposito bank yang berujung di SBI tersebut.
Inilah akibatnya ketika kita terbius dengan ekonomi yang semu, kita teralihkan dari sesuatu yang nyata. Dampaknya adalah sementara para pemimpin ekonomi sibuk mempertahankan citra dan nilai semu Rupiah, setelah 70 tahun merdeka, 7 presiden berganti masih ada 27 juta lebih rakyat kita miskin dan bahkan menurut FAO 19.4 jutanya masih lapar dalam sebuah negeri subur yang kaya raya bumi dan lautannya.
Rumah Hikmah: Renungan Agustus 2015
http://www.rumah-hikmah.com/2015/08/renungan-agustus-2015.html
Rumah Hikmah: Renungan Agustus 2015: Mencari solusi dalam membangun (kembali) kemakmuran umat.