Gema Fikroh

Gema Fikroh

Share

Mencari Kedamaian dalam Koridor Fitrah Islam

11/03/2020

Program Kajian & Dakwah Pusat Studi Islam Al Manar Jakarta.

Melayani :

✍️ Kajian Keislaman Tematik.
✍️ Ceramah Tarawih.
✍️ Kultum Ramadhan.
✍️ Ceramah Jelang Ifthor.
✍️ Kajian Lepas Jam Kerja.
✍️ Kajian Duhur.
✍️ Kajian Dhuhaa.
✍️ Ceramah Subuh.
✍️ Khutbah Jum'at.
✍️ Dll.

Untuk :

✔️ Masjid.
✔️ Perkantoran.
✔️ Perusahaan.
✔️ Instansi Pemerintah & Swasta.
✔️ Mushalla.
✔️ Kompleks & Perumahan.

Nara Sumber :
🏝️ Alumni Lipia & Timur Tengah.

1. Ust. KH. Amir Qosim, Lc.
2. Ust. H. Abdul Muyassir, Lc., M. Pd.I.
3. Ust. H. Tholhah Nuhin, Lc.
4. Ust. H. Munir Hasan Lc., M.H.I
5. Ust. H. Haryanto Mukarno, Lc., M.H.I
6. Ust. H. Aminuddin, Lc., M. Pd.
7. Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A.
8. Ust. H. Abdul Qadir Abu, Lc., M.A.
9. Ust. Ahmad Husain, Lc., M.Pd.
10. Dll.

📞☎ Kontak Person :

H. Idrus Abidin 0813 - 9873 - 4621 atau bisa langsung tekan link dibawah ini :

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281398734621&text=Daftar%20Kerjasama%20Pengajian%20/Taklim%20Al-Manar.%0ANama%20Instansi:%0ANama%20PJ:%0ANo%20WA:%0AAlamat:

27/02/2020

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*Penawaran Kerjasama Taklim/Pengajian Duhur Ramadhan Th. 2020 M/1441 H. Khusus Wilayah Jakarta*

🌵🌿🌾🍇🍉🍒🍓

Mengingat makin dekatnya bulan Ramadhan tahun ini. Kami, *Pusat Studi Islam Al-Manar*, menawarkan kepada berbagai lembaga pemerintahan, swasta, BUMN, perusahaan, kompleks perumahan dan pengurus DKM kerja sama kegiatan Ramadhan, meliputi :

1⃣ *Kajian Dhuhur*
2⃣ *Kajian Buka puasa*
3⃣ *Kajian Dhuha*
4⃣ *Kajian Lepas Kerja*
5⃣ *Ceramah Tarawih*
6⃣ *Kajian I'tikaf*
7⃣ Dll.

♻🔰♻🔰♻🔰♻🔰

Paket Kajian Yang Ditawarkan :

📌 *A. Paket Serba Serbi Islam*
➖➖➖➖➖➖➖📚

🛍 Sub Tema :

🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐

✍ Menjadi Muslim Seutuhnya (Kaffah)
✍ Menggapai Nikmatnya Silaturahmi.
✍ Perbedaan Azab dan ujian.
✍ Indikator Kecintaan Allah terhadap HambaNya.

🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐

📌 *B. Pesona dan Hikmah Kisah-Kisah Qur'ani*

🛍 Sub Tema :

🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐

✒ Dakwah Cerdas Bapak Para Nabi (Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam)
✒ Petualangan Menjemput Takdir (Kisah Nabi Yusuf alaihissalam.
✒ Kehancuran Pelaku LGBT (Kisah nabi Luth alaihissalam)
✒ Antara Kesucian dan Eksistensi (Kisah Bunda Maryam dan Nabi Ismail)

📌 *C. Sehat Islami dengan Terapi Ruqyah Syar'iyyah*

🛍 Sub Tema :

🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐

✒ Keistimewaan Terapi Ruqyah Syar'iyyah.
✒ Ruqyah Syar'iyyah VS Ruqyah Syirkiyyah.
✒ Hukum Terapi Ruqyah Syar'iyyah.
✒ Tutorial Ruqyah Mandiri.

*Nara Sumber* :

🏝️ Alumni Lipia & Timur Tengah.

1. Ust. KH. Amir Qosim, Lc.
2. Ust. H. Abdul Muyassir, Lc., M. Pd.I.
3. Ust. H. Tholhah Nuhin, Lc.
4. Ust. H. Munir Hasan Lc., M.H.I
5. Ust. H. Haryanto Mukarno, Lc., M.H.I
6. Ust. H. Aminuddin, Lc., M. Pd.
7. Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A.
8. Ust. H. Abdul Qadir Abu, Lc., M.A.
9. Ust. Ahmad Husain, Lc., M.Pd.
10. Dll.

📞☎ Kontak Person :

H. Idrus Abidin 0813 - 9873 - 4621 atau bisa langsung tekan link dibawah ini :

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281398734621&text=Daftar%20Kerjasama%20Pengajian%20/Taklim%20Al-Manar.%0ANama%20Instansi:%0ANama%20PJ:%0ANo%20WA:%0AAlamat:
Demikian penawaran ini kami sampaikan. Wajazakumullah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

🕋🕋🕋🌐🌐🌐🕋🕋🕋

21/01/2020

*UMROH SPESIAL AWAL RAMADHAN* 🕋‎
_*HARI PERTAMA RAMADHAN DI TANAH SUCI*_

BURUAN DAFTAR dari sekarang..🥰*

📋 *20 April 2020*

*✈ SAUDI AIRLINES*
*Direct Jakarta-Jedah* _(No Transit)_

_*PAKET SUKKARI (9 Hari)*

💵 Harga : 28.116.800

🏨 Hotel :
*MADINAH*
NADA ASSALAM / KHOZAMA / setaraf (+/- 200m)

*MAKKAH*
MARRIOT/ AJYAD MAKAREM / DAR AL EIMAN GRAND / setaraf (+/- 200m)

*HARGA SUDAH TERMASUK :*
✅ Tiket Internasional Jakarta - Jeddah - Jeddah - Jakarta
✅ Visa
✅ Goverment tax
✅ Hotel
✅ Makan 3 x sehari
✅ Muthowif
✅ City tour kota Madinah, Mekkah, Jeddah
Dan air zam zam 5 L
✅ Perlengkapan
*PERLENGKAPAN :*
🛍 Koper Bagasi
💼 Koper Cabin
🎒 Tas Pasport
👘 Baju Batik (sudah dijahit)
👳🏼 Kain Ihram + Sabuk
👰🏼 Jilbab Syar'i (2)
📗 Buku Panduan Doa
🔖 ID Card
🎀 Syal
🖼 CD Album Kenangan Foto Bersama
🎧 Alat bantu dengar *(Receiver)*

⛑ Include Travel Insurance selama Perjalanan Umroh👈🏻

*BELUM TERMASUK :*
❎ Pasport
❎ Suntik Miningitis

*CASH :*
_*Booking Seat :*_ 10.000.000,-
_*Pelunasan & Dokumen :*_ 40 hari sebelum keberangkatan

*ANGSUR :*
*DP 6 JUTAAN LANGSUNG BERANGKAT UMROH*

*SIMULASI ANGSURAN* :
_*1 th :*_ 2.195.000,- / bln
_*2 th :*_ 1.265.000,- / bln
_*3 th :*_ 964.000,- / bln
* bayar Dp setelah dinyatakan ACC

Dengan akad Murabahah / Ijarah Multijasa.
Sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor : 44/DSN-MUI/VIII/2004

Segera hubungi :

*Idrus Abidin*
*0813-9873-4621*

_Segera daftar dari sekarang, jangan sampai kehabisan seat_

Skrg Umroh bukan lagi impian.
Umroh semudah senyuman🥰

INSPIRASI UMROHKU...🕋
Labbaik....
Labbaik....
Allahu Akbar...

PT. Samira Ali Wisata
Izin PPIU Kemenag : D 834 Thn 2016
SAHABAT UMROH KELUARGA ANDA

17/01/2020

Mau? Silahkan japri.

Photos from Gema Fikroh's post 15/10/2019

Argumentasi Rasional Ahlu Sunnah Atsariyah Seputar Rasio Sebagai Dasar Intelektual Kedua Setelah Fitrah Dalam Studi Akidah/Teologi (Mengenal Allah)

Seri 1

Oleh. Idrus Abidin.

Posisi Rasio dalam Lingkup Akidah (Teologi).

Masalah-masalah utama yang merupakan wilayah kajian akidah mencakup:

A. Masalah ketuhanan. Yaitu masalah yang terkait dengan Allah swt dari sisi rububiyah-Nya, keesaan, asma dan sifat-sifat-Nya.
B. Masalah kenabian. Yaitu masalah seputar kenabian, keterbebasan mereka dari beragam kesalahan dan dosa (‘ismah), tingkat kebutuhan manusia terhadap pengarahan para nabi serta mukjisat dan kitab suci yang mereka bawa.
C. Masalah ghaib. Yaitu masalah seputara malaikat, jin, ruh, kehidupan di alam barzakh, kahidupan di akhirat dan juga masalah takdir. Dalam kategori filsafat, biasanya maslah ini ditinjau dari persfektif metafisika.

Sebelum lebih jauh membicarakan kerja akal dalam ranah akidah, sebaiknya kita melihat pemetaan ilmu pengetahuan berdasarkan pada kemampuan akal untuk memperolehnya. Dalam hal ini, al-Syatibi dalam kitab al-I’tisham membagi ilmu yang bisa masuk dalam jangkauan rasio menjadi tiga bagian:

1) Pengetahuan yang sangat mendasar (pengetahuan fitrawi) Yaitu pengetahuan yang tidak bisa daragukan lagi kebenarannya, karena ia dibenarkan oleh semua orang dan mereka sama sekali tidak bisa menolaknya; seperti pengetahuan manusia tentang keberadaannya sendiri, bahwa dua lebih dari satu, dan ketidakmungkinan menyatukan dua hal yang bertentangan, atau hilangnya dua hal tersebut sekaligus.

2) Pengetahuan teoretis (pengetahuan rasional). Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui seperangkat teori dan sejumlah alasan yang mendasarinya. Pengetahuan jenis ini menuntut adanya dukungan dari jenis pengetahuan pertama yang mendasar (fitrah) seperti pada poin pertama, untuk memferivikasi kebenarannya. Dalam kategori inilah ilmu pengetahuan yang ada, terutama yang sifatnya pengetahuan sains, perlu dimasukkan. Bahkan terdapat ilmu yang dirancang melalui pengetahuan rasional secara murni.

3) Pengetahuan yang tidak bisa diketahui melalui perangkat rasio murni, tetapi dibutuhkan pengarahan wahyu untuk memahaminya seperti pengetahuan masalah yang bersifat ghaib.[5]

Dalam masalah akidah, Islam menjadikan referensi utamanya adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, fitrah, rasio, dan indera. Dan, jika masalah akidah hendak dibatasi, maka masalah utama yang menjadi perhatian khusus al-Qur’an adalah masalah ketuhanan dan hari kiamat. Karenanya, memandang kerja rasio dalam ranah akidah, pembahasan difokuskan pada masalah ketuhanan Allah Ta'ala mencakup tiga aspek tauhid, yaitu: tauhid rububiyah, tauhid asma’ was sifat dan tauhid uluhiyah dan masalah keimanan secara mendalam terhadap hari kebangkitan.

Namun demikian, jika kita mau melihat secara global metodologi akal dalam wilayah akidah ini, maka ditemukan hal-hal berikut:

1) Islam menjadikan fitrah sebagai landasan utama untuk memasuki wilayah ini. Yang mana, agama merupakan penjelasan yang bersifat fitrawi dan manusia dari sejak awal kelahirannya juga dalam kondisi fitrah. Dengan meyakini fitrah sebagai keaslian manusia dan wahyu sebagai navigasi untuk memandu manusia untuk sampai ke kondisi fitrahnya, maka pengetahuan akidah juga berisi banyak argumenasi rasional yang bisa dipahami oleh akal dan diakses secara luas.

2) Jika fitrah manusia tersebut berubah, sebagaimana realitas sekuler-liberal hari ini, dan membuat pandangannya makin kabur dalam menentukan standar kebenaran akibat dari pengaruh luar yang menginterfensi keyakinan manusia yang benar, maka wahyu datang dengan seperangkat argumenasi rasional untuk membangunkan dan memperbaiki kembali kerusakan fitrah yang terjadi. Argumenasi rasional demikianlah yang hendak dibuktikan melalui studi ini.

3) Juga akal bekerja dalam rangka memaparkan masalah-masalah akidah dengan berusaha mendapatkan persfektif wahyu pada setiap sistematika akidah dengan metodologi akal tentunya sesuai batas-batas kemampuan maksimal rasio.

4) Kerja akal yang dimaksud pada bidang akidah ini hanya terbatas pada pembuktian keberadaan sesuatu tanpa harus berusaha mendalami hakikatnya dan berusaha mencari tahu bentuk dan gayanya (kaifiyah). Karena dalam kerja-kerja demikianlah rasio sering kali tepeleset karena memasuki wilayah yang tidak masuk dalam ukuran kemampuannya. Seperti yang banyak terjadi dalam kajian filsafat rasional dan dalam metodologi ketuhanan yang digunakan oleh ahli kalam.

5) Juga disinggung bahwa metode rasio demikian bukanlah seperti yang banyak dipaparkan oleh ahli kalam, karena metodologi mereka banyak dipengaruhi oleh persfektif filsafat yang mengandalkan akal untuk membahas masalah metafisika dengan hanya mengandalkan akal murni.[6]

Semoga kita mendapatkan manfaat dari pemaparan singkat ini. Aamiinn. Wallahu Yatawallas Shalihin.

Bersambung......in syaa Allah

Depok, 15 Oktober 2019.

Sumber :

[1] Al-Qamus al-Muhith,
[2] Al-Zunaidi, Mashadir al-Ma’rifah, ( KSA : Maktabah al-Muayyid ), cet.1, th.1992.
[3] Nabil al-Samaluthi, Bina al-Mujtama al-Islami wanuzhumih, (Libanon : Dar al-Syurug), cet.2, th. 1408 H/1988 M, hal.23.
[4] Risalah al-‘Aqaid, Hasan al-Banna, Dikutip oleh Sulaiman al-‘Asyqar dalam kitab al-‘Aqidah Fillah, (Yordan : Dar al-Nafais), cet.15, hal.11, th. 1423 H/2004 M.
[5] Al-Syatibi, al-I’tisham, vol. hal.318-322., Lihat p**a kitab Manahij al-Istidlal, hal.176
[6] Lihat: Al-Zunaidi, Abdul Rahman Zaid, Mashadir al-Ma’rifah, ( KSA : Maktabah al-Muayyid ), cet.1, th.1992. hal.415.

01/06/2019

Antara Maksiat dan Rahmat Allah (Lupa Diri dan Istidraj)

By. Idrus Abidin.

Hidup di dunia ini memang ujian. Ujian kesadaran dan kesabaran. Sadar mengikuti kebenaran dan saling menguatkan di atas konsistensi dengan berbekal lautan kesabaran. Karena pelaku maksiat pun membela diri dengan beragam kekuatan; ilmu, kedudukan dan kekayaan. Merasa diri sedang membela kebenaran dan harga diri. Yakin sedang melakukan kebaikan dan perbaikan. Percaya diri sebagai reformis sejati tanpa cacat hati dan trac record keberutalan. Justru yang mereka yakini sedang merusak dan propokator adalah pihak sebelah. Bukan mereka. Demikianlah perasaan orang Munafik di zaman Rasulullah Saw. Tidak bisa dilarang ketika menebar kerusakan dengan nifaknya. (QS Al-Baqarah 11) Tidak menerima disuruh beriman secara total tanpa kepalsuan dan pencitraan semata. Beriman layaknya Rasulullah dan para sahabatnya dianggap kebodohan. (QS Al-Baqarah 13) Sementara mereka merasa pintar; tak mungkin mudah beriman dengan celotehan Rasulullah, layaknya sahabat yang kurang akal itu, menurut mereka. Orang munafik tidak pernah merasa bersalah, apalagi menyesal. Jangan pernah tunggu mereka bertaubat. Karena hal itu mustahil dalam kamus kemunafikan. Mereka mudah menuduh pihak lain sebagai perusak. Lihatlah Fir'aun. Dia menuduh nabi Musa sebagai perusak dan pengacau negara. Bahkan, menuduh beliau gila beneran dan gila ketenaran. Mereka semua itu jebolan terbaik universitas Iblis dengan keahlian s**a menuduh pihak lain bersalah dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri. Jangankan nabi dan para pengikutnya, bahkan Allah saja mereka tuduh bersalah karena telah menyesatkan mereka. Hanya pernyataan terakhir ini yang mengandung sedikit kejujuran (merasa tersesat), tapi itupun hanya umpan untuk menyalahkan Allah. Betul sekali firman Allah yang berbunyi, 'Maukah kalian mengetahui orang paling buruk perbuatannya?! Orang yang sikapnya salah dalam dunia ini, namun mereka yakin sepenuhnya sedang melakukan kebaikan". (QS al-Kahfi: 103-104)

Rahmat Allah Melenakan dan Melalaikan Pelaku Maksiat.

Apapun di dunia ini pasti Rahmat Allah. Allah memang sangat pengasih dan maha penyayang. Bahkan, dosa dan maksiat seperti kufur, nifaq, pencurian, zina, riba, sombong, syirik juga terjadi karena rahmat Allah. Rahmat dalam artian diizinkan terjadi dan diulur hingga waktu tertentu, tanpa azab, teguran dan sanksi berarti. Itulah bagian dan bentuk rahmat Allah di dunia ini. Sehingga tak sedikit pelaku dosa merasa Allah tidak ada. Bahkan mereka kadang menantang, kalau Allah betul ada, tunjukkan siksaanNya sekarang juga. Mereka lupa, hidup ini ujian. Dengan rahmatNya, Allah menunda azab selama ujian ini masih berlangsung. Seperti kita ketika ujian, walaupun salah tidak langsung diberi balasan. Sekalipun lupa tidak langsung sanksi diberlakukan. Itulah makna ujian dan rahmat Allah di dunia ini.

Dibiarkan Tak Berarti Diridhai.

Terjadinya maksiat dan dibiarkannya para pelaku dosa tanpa disegerakan azab oleh Allah tak berarti Allah ridha dan lupa serta tidak mengetahui semua kejahatan itu. Allah dengan hikmahNya memilih agar ketaatan dan kepatuhan kepadaNya tidak sekedar karena rasa takut yang ditebar kepada para pelaku maksiat dengan azabNya. Allah ingin agar ibadah manusia murni karena kecintaan kepadaNya, karena penuh harap kepada rahmatNya dan ditambah rasa takut kepada azabNya (ikhlas). Itulah tiga paket ibadah resmi di dunia ini. Dan itu p**a makna ujian dan tujuan hidup kita sebagai hamba. Menunjukkan rasa cinta, membuktikan rasa butuh terhadap rahmatNya dan menampakkan rasa takut terhadap azabNya. Itulah keikhlasan yang menjadi syarat utama dan pertama ibadah kita, selain mengikuti Rasulullah secara utuh.

Jika para pelaku dosa diazab dengan segera ketika mereka bermaksiat, saat mereka kafir dan munafik maka hidup ini tidak akan berlangsung lama. Karena mereka semua segera mati oleh dosa dan maksiatnya sebelum sempat menikah dan berkembang biak (QS Fathir : 45) Hidup ini tidak lagi berfungsi sebagai lahan ujian, tapi berubah jadi surga semata. Bahkan ibadah dari orang-orang yang tulus cintanya kepada Allah, murni harapannya kepadaNya dan total rasa takutnya; hanyalah teori semata. Akhirnya, ibadah manusia hanya karena takut azab saja. Hikmah dan tujuan hidup ini hanya penyiksaan; tidak ada lagi kasihsayang Allah. Allah tidak lagi maha lembut (latif) dan tidak p**a maha halus (rauf) kepada hambaNya. Allah hanya sebagai tukang bantai (muntaqim) dan penuh kesombongan (mutakkabbir). Subhanallah. Sungguh Allah maha suci dari semua kegilaan seperti ini.

Rahmat Allah di Dunia, Istidraj Bagi Orang-Orang Lalai.

Ketika para pelaku maksiat mengamuk dengan beragam pelanggaran mereka, gembok jiwa makin kokoh menutupi setiap celah-celah hidayah yang ada di hati. Akhirnya, hidup mereka diliputi oleh kesombongan dan lupa diri. Mereka tidak merasa takut sedikit pun kepada Allah. Tak ada rasa butuh dan keinginan sedikit pun untuk mengharap rahmatNya. Harga diri mereka hanya sebatas materi; kekayaan dibanggakan dan diandalkan. Kedudukan dianggap gengsi yang melambungkan citra diri. Kekuatan dianggap terus menerus terjamin tanpa pernah terancam oleh kelemahan dan kematian. Akhirnya egoisme menjadi sikap resmi. Mereka menjadi makhluk yang dibenci Allah karena tersesat jalan dan tak memiliki orientasi hidup selain bumi ini (materi). Langit sebagai kiblat kebenaran (spiritual) tak lagi berarti. Akhirnya, mereka tidak lagi ditegur oleh Allah dengan sayangNya berupa musibah dan bencana yang umumnya menyadarkan manusia yang masih ada secercah iman pada kedalaman hatinya. Tapi mereka dibiarkan dalam gelapnya lorong kelalaian yang berkepanjangan. Bahkan, terkadang mereka terus diberi umpan kenikmatan yang mereka tidak sadari sebagai jebakan setan menuju lorong-lorong neraka jahanam. Mereka merasa bahagia dan bangga dalam dosa dan maksiat. Akhirnya, mereka mati dalam kekafiran dan kemusyrikan. Naudzubillah.

Allah Tidak Lupa dan Tak Mungkin Lalai.

Orang-Orang lalai dan lupa diri ini mengira Allah tidak ada. Padahal, Allah menunda mereka murni karena bentuk ujian sehingga terbukti trac record mereka sebagai pecinta dan pengasong keburukan (QS Muhammad : 31). Allah membiarkan mereka agar dosa dan maksiatnya memenuhi catatan sehingga alasan untuk menyiksa mereka dalam neraka pun tak lagi bisa diragukan (QS Ali Imran : 178). Allah membiarkan mereka dalam jeratan dan perangkap dosa agar mereka mendapatkan siksa di akhirat yang membelalakkan mata akibat ngerinya yang luar biasa (QS Ibrahim : 42).

Setan Mengelabui, Menipu dan Mengibuli Manusia (Musang Berbulu Domba).

Makin lalai manusia dari Allah semakin mudah mereka terperangkap dalam jebakan dan tipu daya setan. Mereka akan terus dikibuli dengan beragam gengsi dan harga diri sehingga tidak mau menerima nasehat. Segala tindak tanduknya dianggap sebagai kebenaran dan ditujukan untuk ketenaran. Setan tampil sebagai teman setia yang seolah tulus agar manusia mendapatkan harapan dan keinginan duniawi mereka. Seperti ketika berusaha Mengibuli Adam dan Hawa dengan nasehat rasional penuh jebakan. Bahwa pohon itu sengaja diblacklist Allah dari menu makanan agar mereka tidak menjadi malaikat yang kekal menghuni surga. Namun, ketika larangan itu dilabrak Adam dan Hawa; justru mereka dengan segera disuruh meninggalkan surga. Demikianlah musang yang berbulu domba berusaha menjebak buruannya yang kehilangan pegangan, prinsip dan keyakinan (iman).

Orang-Orang Ikhlas Tak Akan Terperangkap dalam Jebakan Setan.

Orang-orang ikhlas adalah mereka yang hatinya sensitif dan merasakan nikmat dan segala yang dimilikinya sebagai bentuk cinta dan kasih sayang Allah kepadanya. Mereka itulah yang senantiasa menyebut-nyebut nama kekasihnya (Allah) pada setiap tempat dan dalam beragam kondisi dan keadaan. Ketika berdiri, saat duduk dan bahkan ketika berbaring sekali pun (QS Ali Imran : 190-191). Mereka itulah orang-orang yang disebut ulul albab dan ulul Abshar; melek hati dan matanya. Telinganya rindu nasehat. Nalarnya mudah menangkap rasionalitas Islam yang berbalut dengan fitrah suci manusia. Orang-orang seperti ini, setan tidak merasa punya nyali dan kehilangan kepercayaan diri untuk bisa merecokinya. Sekalipun bisa memperlambatnya dari ketaatan sesekali, namun penyesalan dan istighfarnya kembali menutupi keterlambatan tersebut di catatan malaikat. Bisa jadi terkadang jatuh dalam kubangan dosa. Tapi tiba-tiba kesadarannya kembali membuatnya taubat dan istighfar. Maka, dosa itu berganti dengan kebaikan yang memenuhi catatan (QS al-Furqan : 79). Di saat makan, bismillah diucapkan. Setannya jadi kelaparan. Saat tidur, bismika allahumma ahya wa amut, dibaca. Setan tak lagi punya akses untuk mengganggunya. Demikianlah seterusnya. Akhirnya orang-orang ikhlas menjadi manusia merdeka dari tekanan dan penyesatan Iblis dan setan serta semua konco-konconya. Mereka hanya tunduk dan patuh penuh cinta, penuh harap akan rahmatNya dan sangat merasa ngeri karena takut akan bahaya siksaNya. Semoga kita termasuk orang-orang ikhlas yang membuat geram setan karena ketulusan cintanya kepada zat ilahi Rabbi. Allahumma amiiiin.

Jakarta, 31 Mei 2019 (26 Ramadhan)

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :

1. Telegram Channel : Gemah Fikroh.
2. YouTube Channel : Gema Fikroh.
3. Blog :http://idrusabidin.blogspot.com/?m=1.
4. Facebook Sudah Full Pertemanan.

Idrus Abidin Blog Mencari ke-khusyu-an,Menggapai Ilmu yang Berbasis worldview dan Efistemologi Islam yang Kokoh

24/01/2019

Segera Terbit.

Photos from Gema Fikroh's post 21/12/2018

Islam Budaya VS Islam Taat.
(Refleksi Kegiatan Natalan dan Tahunbaruan di Tengah Komunitas Muslim)

By. Idrus Abidin.

Islam adalah produk Allah yang maha mengetahui maslahat manusia di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Karenanya, tidak mungkin salah, tanpa hikmah, tidak adil dan tidak full manfaat. Dunia ini adalah cerminan profesional (Ihsan) Allah dalam mencipta, termasuk kita, sekitar kita, tanpa cela. Islam demikian tercatat dalam Al-Qur'an, tertulis dalam laporan Sunnah, tersusun dalam ijma', terbentuk dalam qiyas; berdasarkan ijtihad ulama empat madzhab.

Islam yang telah mengalami proses penyesuaian dengan budaya Arab. Sehingga Arab dan sekitarnya mendapatkan kehormatan untuk mendunia dan mengakhirat lewat formulasi Kitab suci yang berbahasa Arab dan nabi yang berkebangsaan Arab. Artinya, Arab telah menjadi bagian dari keberagamaan kita, tanpa perlu dipertanyakan lagi. Ga ada shalat tanpa Qur'an (Al-fatihah dan Surat lain) yang berbahasa Arab. Makanya, untuk mengerti al-Qur'an dan hadits, dibutuhkan pemahaman budaya Arab era jahiliah dan zaman keislaman. Karena di sanalah terjadi proses Islamisasi Arab dalam budaya dan bahasa. Sehingga shalat yang tadinya hanya berarti do'a, kini berubah menjadi istilah. Yaitu gerakan yang diawali dengan takbir lalu diakhiri dg taslim (salam). Begitu p**a takwa. Awalnya hanya berarti preventif, menjadi upaya menjauhkan diri dari neraka (tameng) dg cinta, harap dan rasa takut kepada Allah. Demikian p**a zakat, sedekah, ilmu dll.

Islam KTP dan Islam Gado-Gado.

Tanpa proses penyesuaian dengan Islam melalui kegiatan belajar tentu susah menyatakan seseorang itu muslim sejati. Karena saat ini, budaya yang menyongsong kelahiran kita adalah budaya lokal yang terkontaminasi dengan nuansa kesyirikan. Mitos menjadi dasar keyakinan. Jampi-jampi sebagai alternatif pengobatan; termurah dan murahan. Hingga dukun-dukun sebagai referensi. Pamali seolah menjadi dasar halal haram dan sejumlah keyakinan dinamisme dan animisme lainnya. Islam baru kelihatan saat idul adha dan idul Fitri, maulidan, mikrajan, tahlilan, barzanjian dll. Ketika pengajian, belajar tajwid, belajar Sirah, tidak banyak yang nongol. Sekali pun banyak yang mengaku cinta nabi. Islam akhirnya seperti gado-gado; serba ada dan tidak ada proses seleksi dan adapsi.

Do'a Akhir Tahun VS Do'a Ma'tsurat (Pagi Petang) dan Do'a Setiap Awal Bulan.

Salah satu bentuknya adalah do'a akhir tahun. Alasannya, tidak ada larangan untuk berdo'a di setiap waktu. Padahal, do'a pagi petang dan do'a tiap awal bulan hijriah belum tentu dilakukan. Apa pentingnya do'a akhir tahun klo do'a harian dan awal tiap bulan sudah dilakukan!? Demikianlah setan mengelabui (syubhat) manusia, agar tidak mengenal jalur cepat masuk surga. Disibukkan dengan amalan2 rekaan, padahal amalan Sunnah bertebaran tiada kira banyaknya. Telah dipraktekkan nabi dan manusia terbaik di zaman emas Islam. Demikian p**a setiap kreativitas ibadah baru pasti mengusir sunnah-sunnah baku.

Do'a pagi petang (amalul yaum wa al-lailah) sudah banyak dikenal orang. Beda dengan do'a ketika melihat hilal di awal-awal bulan Hijriyah, blm banyak diketahui khalayak. Inilah do'a sunnahnya :
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأمْنِ وَالإيمانِ ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإسْلاَمِ ،والتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ ، هِلالُ رُشْدٍ وخَيْرٍ
“Allah Maha Besar, ya Allah, tampakkanlah hilal itu dengan membawa rasa aman dan iman, keselamatan dan Islam, juga menghadirkan taufik ke arah yang Engkau cintai dan ridhoi. Robbku dan Robbmu (wahai sang hilal) adalah Allah. Engkaulah hilal yang membawa petunjuk dan kebaikan”. (HR. Tirmidzi no. 3451. Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 4726.HR. Abu Dawud no. 5092.)

Islam Realitas Apa Adanya (Budaya)

Islam akhirnya dipahami sebagai apa yang ada dalam realitas ummat Islam terkini. Tidak terlihat jelas adanya upaya menjauh dari praktek syirik, kegiatan yang berbau sihir dan aktivitas budaya yang tidak diajarkan Islam. Natalan misalnya, begitu banyak pusat perbelanjaan, mall-mall, show room mobil memajang atribut natalan. Bahkan, pakaian ala sinterklas diobral habis-habisan. Termasuk topi merah putih yang khas itu.

Di akhir tahun, muda mudi dan ortu yang masih lupa diri, begitu ramai di diskotik, bar-bar, tempat rekreasi dll. Katanya, menanti pergantian tahun yang nantinya dianggap bersejarah. Tak sedikit kembang api dijadikan sarana selebrasi. Seolah bahagia itu karena akhir tahun. Padahal, dosa dan maksiat tak pernah ditangisi. Utang dan kewajiban kepada Allah tak pernah diseriusi.

Islam Ideal (Normatif); Islam Langit.

Bumi bersedih begitu perih, karena langit tak dipedulikan ketika manusia berbuat dan bertingkah laku di atasnya. Padahal, muslim yang baik; Membumi tanpa lupa visi langit. Katanya, amal yang diterima harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah. Itulah ikhlas dan mutaba'ah. Non muslim bisa saja ikhlas, tp tidak mungkin aktivitasnya mengikuti rasul, tanpa mereka masuk Islam. Itulah pentingnya prinsip la Ilaha Illallah, Muhammadun Rasulullah. Sementara, muslim bisa saja kegiatannya mengikuti Rasulullah, tapi jika nihil ikhlas apa gunanya!? Itulah kenapa Allah mengingatkan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah : 208)

Islamlah satu-satunya jalur yang benar dengan ikhlasnya dan patuhnya pada contoh praktis Rasulullah. Di luar itu, hanyalah langkah-langkah syetan. Yaitu, upaya memalingkan manusia dari jalur lurus menuju kesesatan dan ketersesatan. Dari fitrah ke arah menyimpang, tanpa ampun. Hanya orang-orang ikhlas (mukhlasin) yang bisa selamat dari penyesatan opini iblis beserta konco-konconya; yang memegang semua media, cetak maupun cetek (hehehe).

Larangan Mencontoh Praktik Budaya, Ibadah dan Tradisi Non Muslim.

Karena Islam adalah kiblat kebenaran, maka Amerika, eropa, Inggris, Jepang, China, dll tidak memiliki tempat dalam akidah dan idealisme Islam. Kalau urusan tekhnologi, bolehlah mereka dicontoh. Tapi masalah hidayah, fitrah dan khilafah kitalah pemegang lisensinya dari langit. Ga boleh kita ganti atau dioplos dengan budaya, tradisi dan agama lain. Tekhnologi dan sains masuk dalam kategori hikmah yang bisa dipungut dari mana pun selama selektif dari bias-bias mitos yang menginfeksi.

Menyerupai Non Muslim, Bentuk Rasa Cinta Dan Loyalitas (Wala') Yang Terlarang.

Islam melarang ummatnya menyerupai pihak-pihak yang jauh dari idealisme Islam. Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)

Kemiripan dari sisi hati, ucapan dan sikap merupakan indikasi kuat adanya sikap jatuh hati ke budaya lain. Padahal, cinta takkan beralih ke pihak lain, mana kala budaya sendiri dipahami dengan baik. Maka, sikap tak percaya diri dengan milik sendiri, lalu mencontek peradaban lain, bukti bahwa kita sudah terjajah secara jiwa, bahkan lidah dan fisik sekaligus. Maka, jika tak mawas diri kita pasti masuk dalam kategori ummat pembeo....
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti budaya orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi kalau bukan mereka dan semisalnya !?” (HR. Muslim no. 2669)

Biar tidak kepanjangan, semoga kita dimuliakan Allah dengan Taufik dan hidayahNya; dunia akhirat. Amiiiin.

12/11/2018

Sudut Pandang

12/11/2018

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DALAM ISLAM

By : Idrus Abidin

Tanggung jawab adalah tugas dan profesi yang harus diemban oleh setiap insan di pelataran bumi ini. Sehingga setiap petugas merupakan penanggung jawab terhadap satuan kerja yang menjadi beban tanggungannya, yang harus dihadapkan di pegadilan Allah Swt. di akhirat kelak. Manusia sebagai PJ ini dikenal dengan istilah mukallaf. Beban tanggung jawab ini mencakup niat, ucapan dan perbuatan yang berpotensi menjaring pahala atau dosa. Berarti ia termasuk dalam wilayah pilihan setiap manusia. Karena sesuatu yang tergolong di luar kendali (pilihan), dipastikan manusia tidak bertanggung jawab terhadapnya.

Dengan demikian, setiap tanggung jawab merupakan bentuk pilihan secara sadar dari seorang manusia. Pilihan ini adalah bentuk kebebasan yang masuk dalam ranah keikhlasan dalam istilah agama. Yakni, semua manusia bebas seikhlasnya memilih niat, ucapan dan perbuatan yang dipandang sesuai dengan beban tugasnya sebagai manusia yang seharusnya mengabdi dengan penuh ketataan, ketulusan dan rasa cinta yang dalam kepada Sang Pemimpin Sejati (wali) : Allah Swt.

Di sisi lain, pemimpin dan kepemimpinan merupakan simbol penugasan dan tanggung jawab sesuai keahlian dan pilihan manusia, berdasarkan rekomendasi dan pengarahan dari pemberi amanah (Allah). Karenanya, setiap pemimpin juga merupakan petugas dan PJ terhadap amanah kepemimpinan yang ada dalam lingkup kekuasaan dan kendalinya. Jika kedua terminologi ini sudah jelas dalam benak kita, mari kita melihat sejauh mana cakupan tanggung jawab dan kepemimpinan setiap kita dalam Islam.

Tanggungjawab Dan Cakupannya Dalam Islam

Tanggung jawab dalam Islam sangat terkait dengan akhirat, tempat di mana segala perbuatan dan tingkahlaku akan diberikan penjelasan dan pemaparan sekaligus pemberian pahala atau sanksi. Namun, tanggung jawab tidak hanya terkait dengan akhirat semata, tetapi jauh lebih luas dari itu. Ia terkait seutuhnya dengan Allah (ibadah) sebagai pemberi amanah dan beban tanggung jawab selama napas masih berada dalam raga pada lautan kehidupan ini. Lihat: Falsafah Tarbiyah Islamiyah, hal. 196

Tanggungjawab Dan Kepemimpinan Pribadi.

Wilayah pribadi merupakan tataran tanggung jawab dan kepemimpinan melekat bagi setiap insan. Siapa pun tidak bisa mengelak dari beban ini. Keculi jika mereka mengalami situasi yang menyebabkan dirinya tidak dianggap cakap oleh syari'at sebagai orang yang memiliki kebebasan penuh. Terkait ini, syari'at umumnya menjadikan akal sebagai pertimbangan utama. Artinya, setiap manusia yang berakal, balig dan tidak mengalami kondisi yang menyebabkan akalnya tidak berfungsi secara normal, maka ia tetap berada dalam lingkup tanggungjawab dan kepemimpinan. Kondisi abnormal tersebut seperti gila, tertidur dalam jangka waktu tertentu, pingsan, di bawah umur (belum balig), dipaksa oleh orang atau kondisi tidak normal.

Terkait tanggungjawab dan kepemimpinan pribadi, Allah mengaitkannya dengan mata, telinga, akal dan hati. Artinya, pilihan manusia untuk mengikuti pengarahan hidayah (Qur'an dan Sunnah), searah dengan petunjuk kepada mata, telinga, akal dan hati untuk membekali diri dengan pengetahuan‎ Islam. Karena dengan Qur'an dan Sunnah, mata, telinga, akal dan hati mendapatkan hak-haknya secara penuh untuk diajdikan landasan/pertimbangan dalam memilih kebenaran di antara serpihan kebatilan dan lautan kesesatan. Firman Allah:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al-Israa [17]: 36)

Itulah mengapa, Qur'an sering menyebut orang-orang tersesat (kafir dan munafik) sebagai orang yang bermasalah mata, telinga, akal dan hatinya. Sekalipun dengan istilah yang berbeda. Terhadap orang kafir yang tidak peduli terhadap hidayah, bahkan mereka menutup mata, telinga, akal dan hatinya dari Qur'an maka Allah membalas mereka sesuai sikap mereka (musyakalah). Perhatikan firman Allah berikut :
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS al-Baqarah [2]: 7)

Sementara orang munafik yang berada dalam lingkup kaum muslimin dengan tampilan dan sikap mereka yang Islami, sekalipun dengan hati yang diliputi kebencian, Allah sebut mereka sebagai : tuli, bisu, buta dan tidak akan mudah kembali [kepada kebenaran].
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS al-Baqarah [2]: 18)

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Perumahan Muslim Orchid Green Park, Jalan Ko Kekupu, RT. 06/08, Pasir Putih, Sawangan
Depok