PAUDShare

PAUDShare

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from PAUDShare, Depok.

23/11/2015

Stop Jadi Orangtua Helikopter

Pengasuhan "helikopter" atau orangtua "helikopter" merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan sikap orangtua yang selalu mengatur anak sampai ke hal terkecil sekalipun, bersikap terlalu protektif sehingga selalu membayangi anak di mana dan kapan saja.

Pengasuhan ala helikopter seperti ini justru tidak menumbuhkan kemandirian anak. Orangtua "helikopter" yang bersikap paranoid, sebenarnya adalah mereka yang tidak mampu mengatasi rasa khawatirnya terhadap anak.

Anda lah yang selalu menghubungi pengajar preschool si kecil untuk mengeluhkan berbagai hal. Termasuk protes ketika ada anak lain yang menyerobot antrian dan membuat anak Anda tergeser ke belakang. Anda lah yang tak merasa yakin si kecil bisa membersihkan dirinya sendiri di toilet, dan Anda membersihkannya kembali untuk membuat Anda merasa lebih tenang. Hal-hal seperti inilah yang kerap dilakukan orangtua helikopter. Kalau Anda merasa memiliki kebiasaan ini, sebaiknya hentikan mulai sekarang.

* Pahami pengasuhan helikopter dan tinggalkan. Cobalah ingat kembali ke masa kecil Anda. Bisa jadi orangtua Anda tidak terlalu protektif seperti Anda. Banyak faktor yang membuat orangtua masa kini cenderung lebih khawatir, cemburu, protektif terhadap anaknya. Seperti faktor teknologi, ekonomi, dan sosial. Anda harus menghentikan pengasuhan seperti ini. Carilah informasi yang tepat untuk mengasuh anak. Membludaknya informasi melalui dunia maya dan berbagai media lainnya, dapat membantu Anda.

"Anda bisa mencari informasi di internet untuk menemukan hal-hal yang menakutkan yang Anda khawatirkan terjadi pada anak. Anda juga bisa menggali berbagai macam penyakit yang mungkin bisa dialami anak. Dengan memiliki informasi yang tepat, Anda tidak memberikan ruang pada rasa takut dan khawatir," jelas Christie Barnes, penulis The Paranoid Parents Guide: Worry Less, Parent Better, and Raise a Resilient Child.

Margaret Nelson, profesor sosiologi Middlebury College, Vermont, dan penulis buku Parenting Out of Control: Anxious Parents in Uncertain Times mengatakan sikap orangtua yang terlalu protektif justru meningkatkan kecemasan pada anak dan membuatnya depresi.

"Meski Anda telah menyiapkan finansial dan berbagai fasilitas untuk anak, Anda tetap merasa khawatir anak tidak menduplikasi kesuksesan yang Anda miliki saat ini. Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang sebaiknya Anda siapkan untuk anak dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak. Temukan jawabannya, karena jika tidak orangtua akan terus menerus menyediakan berbagai hal termasuk bantuan yang berlebihan untuk anak," jelas Nelson.

* Mundur perlahan. Waktunya untuk mundur perlahan dari sikap Anda yang terlalu mengawasi anak termasuk terlalu protektif. Analoginya, jika Anda adalah pilot helikopter, mulailah untuk menyerahkan izin terbang, dan tinggalkan helikopter Anda meski Anda merasa nyaman dengannya.

Studi terkini di North Carolina State University, menunjukkan anak-anak yang diasuh dengan sikap protektif orangtua yang berlebihan cenderung takut melakukan permainan yang sifatnya spontan dan berhubungan dengan fisik. Para peneliti memelajari hal ini dari orangtua dan anak di 20 taman bermain berbeda selama dua bulan.

Penelitian juga dilakukan para psikolog dari University of Washington, melibatkan lebih dari 200 anak dan ibunya, berlangsung tiga tahun. Temuannya, ketika anak sudah memiliki kontrol diri yang baik, namun diasuh oleh heli-mom dengan terlalu banyak arahan dan tidak menumbuhkan kemandirian, justru anak-anak ini berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Anak-anak ini berusia sembilan. Namun frustasi pada anak dapat terjadi di usia berapa pun dengan sikap orangtua yang terlalu mengarahkan dan protektif berlebihan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orangtua? Nelson menyarankan sebaiknya orangtua terus mencari tahu cara terbaik untuk melepaskan dirinya dari sikap terlalu protektif terhadap anak. Meskipun, sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara masalah personal orangtua bahkan masalah pernikahan, dengan sikap protektifnya terhadap anak. "Fokuslah mencari informasi untuk menemukan cara terbaik melepaskan pengasuhan helikopter, bukan pada masalah personal," jelasnya.

Penulis: WAF
Sumber: kompas.com

03/12/2014

Kata Kata Pertama si Kecil

Begitu ananda terlahir ke dunia, ia hanya bisa menangis untuk mengatakan semua kebutuhannya. Seiring waktu, kita akan mengenalkan kata atau bahasa sebagai cara untuk mengatakan kebutuhan dan perasaan perasaan.

Mengenalkan kata dilakukan secara alami, dengan cara sederhana yaitu bicara padanya. Hindarkan mengajarkan kata dengan cara pasif seperti menyediakan tontonan televisi.

Semua kata sehari hari kita ucapkan, dengan menghadapkan badan kita kepadanya, dan menatap mata, tidak sambil lalu, dengan kata kata yang jelas pengucapan dan maknanya

Perhatikan intonasi, variasikan tinggi rendah, volume besar kecil, jelas, ataupun berbisik. Variasi ini akan menarik perhatian anak. Suara yang mengecil layaknya suara anak juga disukai oleh mereka.

Hayati bahwa bicara itu menyenangkan, penuh tawa dan efektif untuk menyatakan rasa dan kebutuhaan. Bentuk persepsi positif yang kuat terhadap aktivitas bicara. Minimalkan terlalu banyak bicara dengan emosi negatif seperti marah berlebihan, yang membuat takut, hingga anak enggan bicara.

Diam itu emas, bicara itu perak berlaku saat ayahbunda sedang dikuasai emosi negatif. Pastikan bicara untuk mengeluarkan kata positif. Jika sedang tidak bisa, lebih baik diam, menahan lisan, sambil menyiapkan kata yang mau diucapkan.

Diam itu emas, tidak berlaku dalam suasana keseharian. Sebisa mungkin kita banyak bicara dalam kata yang kaya dan melimpah. Agar anak kita menyimpan kosa kata, mengingat, dan mengucapkannya kelak.

Ada kata kata pertama yang perlu pembiasaan agar anak terampil mengucapkannya.

Pertama, panggilan untuk orang orang terdekatnya.
Kedua, doa sederhana, seperti ucapan salam dan bismillah sebelum beraktivitas
Ketiga, kalimat positif seperti permisi, tolong, terima kasih, dan maaf.
Keempat, kata label emosi seperti sedih, takut, marah, senang.
Kelima, kata kebutuhan sehari hari seperti, makan, minum, tidur, mandi.

Semua stimulasi, aspek apapun itu, diperlukan satu hal yaitu konsistensi. Luangkan waktu kita agar bisa konsisten, menstimulasi bicara dengan sebaik baiknya ikhtiar. Karena bicara akan menunjang aspek lainnya yaitu sosial (bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain ), emosi (bagaimna ia mengekspresikan emosi dengan kata kata), dan intelektual secara umum.

26/11/2014

Anak memang tidak boleh dipacu, tapi juga tidak boleh diabaikan potensinya. Mereka amanah dari Allah yang perlu optimal perkembangannya. Kenali potensi anak sebaik baiknya. Siapa tahu ternyata anak berbakat dan bisa lebih cepat perkembangannya, tak perlu kita menghalang halanginya untuk memperoleh pencapaian yang lebih cepat. Walau demikian, bagaimanapun perkembangan anak, ketika ada satu aspek yang melejit, biasanya diiringi dengan " PR" di aspek yang lain. Mengapa? Sebagai jalan orangtua menuai pahala:)

Prinsipnya perkembangan anak itu perlu seimbang. Baik aspek motorik (fisik), kognitif (intelektual), bahasa, sosial, emosi. Karena dalam perjalanannya, anak memerlukan semuanya. Ini berarti kita perlu menstimulasi semuanya.

Bagaimana kita bisa menemukan potensi anak? Lekatlah dengan anak, banyak bermain dan beraktivitas bersama mereka. Kenali kelebihan dan kekurangan mereka. Pelajari tahap perkembangan yang semestinya mereka capai. Stimulasi secara menyeluruh semua aspek perkembangan. Lalu amati, bagaimana perkembangan motorik kasar, halus, kognitif, sosial dan emosinya. Apakah ada yang sangat menonjol. Jika ya, bisa jadi itulah potensinya. Misal anak usia 2 tahun tapi sudah pandai bercerita dengan runtut dan panjang, dan menarik untuk didengar. Hal ini menjadi bisa menjadi petunjuk bahwa ia memiliki potensi yang sangat baik dalam hal bahasa. Tentu masih panjang masa bagi anak untuk terus distimulasi sehingga kelak semakin nyata apa saja potensinya. Jika benar benar sudah nampak apa bakat minatnya, ketika usia sekolah, bisa jadi ia memerlukan stimulasi yang lebih dari teman sebayanya. Bisa saja stimulasi itu dengan cara masuk komunitas, les/ kursus, atau aktivitas pengayaan yang membuat anak ini sibuk. Nah saat kondisi demikian tercipta, apakah anak akan merasa jenuh, lelah dan marah? Bisa jadi ia malah sangat bahagia karena melakukan yang ia senangi. Motivasi berprestasinya meluap luap, seakan haus untuk terus disiram stimulasi.

Kata lain, tidak selalu aktivitas pengayaan itu berakibat buruk pada anak. Selama diberikan pada saat anak siap secara fisik (bukan hanya kekuatan fisik seperti sehat, tetapi juga kematangan fisik) dan psikis, aktivitas pengayaan seperti aktif dalam satu komunitas/ les/ kursus .Bisa jadi anak yang malah membutuhkannya karena energi masih melimpah ruah, dan minat yang besar terhadap suatu bidang

26/11/2014

Apakah anak kita seperti segelas kaca, yang jika ia tersentuh kesalahan orang dewasa, akan langsung jatuh pecah terkeping-keping? Tidak, saya tidak pernah mau berpikir demikian. Karena setiap harinya, ada saja kesalahan yang saya lakukan. Saya hanya berusaha menutup satu kesalahan saya, dengan tak hingga kebaikan. Berharap dan meyakini seandainya ada luka yang tercipta dari kesalahan, semoga terobati oleh kebaikan.

Tak hingga kebaikan yang selalu kita usahakan, semoga menjadi jalan keberkahan. Semoga menjadi jalan agar Allah menyempurnakan setiap ikhtiar yang dilakukan.

Suatu hari, saat penat melanda suara ibu lebih keras, Nak. Mungkin engkau terkejut. Akan tetapi senyum ibumu, belaian ibumu, pangkuan ibumu, dengan izin Allah semoga mendamaikan hatimu dan bahagia.

Ibu tahu, ibu bukan malaikat, akan tetapi ibu juga yakin tidak perlu menjadi malaikat untuk menjadi ibumu.

(Lita edia)

25/11/2014

Era digital membuat orangtua perlu jeli untuk mengamati apakah anak cukup bergerak hari ini? Atau terlalu lama duduk di depan gadget/ televisi?

Jika teramati anak jarang bergerak dari tempat duduknya. Yuk ajak anak bermain!

Main apa yaa? Apa saja, usahakan permainan yang membuat anak bergerak!

Saat anak aktif bergerak, apakah itu berjalan, berlari, melompat, loncat loncat, memanjat, darah akan mengalir ke otaknya, mengantarkan oksigen yang mencukupi. Hal ini akan membuat anak lebih mudah untuk memusatkan perhatiannya.

Saat anak aktif bergerak, protein dalam otak terus diproduksi. Protein ini sangat berguna untuk prosss belajar dan mengingat.

Sangat bermanfaatnya aktivitas fisik dan olahraga bagi anak, bisa menjadi perhatian juga untuk orangtua saat memilih sekolah. Pilihlah sekolah yang variatif aktivitasnya. Tidak hanya duduk terus menerus, terutama untuk sekolah setingkat PAUD. Variasi aktivitas itu bisa berupa olahraga atau bermain kelompok yang sederhana sekali seperti bermain petak umpet.

Mendidik anak dengan sederhana. Ajak mereka bermain, aktif bergerak dan olahraga.

25/11/2014

Mendidik anak itu membosankan jika kita tidak memvariasikan cara kita. Jika ada sesuatu yang baru dalam sikap sikap kita, yang positif tentunya, bukan hanya anak anak yang gembira, tetapi kita juga loh!

Hal yang bisa kita variasikan tanpa harus berpikir panjang di antaranya adalah intonasi suara. Besarkan dan kecilkan suara dengan aksen naik turun layaknya pendongeng, akan menarik perhatian anak...sangat tertarik tepatnya. Mata mereka akan berbinar binar mendengarkan dan memperhatikan yang kita ucapkan. Lalu tiba tiba ayahbunda juga bisa berbisik, padahal sedang memintanya melakukan sesuatu. Bayangkan...anak yang biasanya diminta melakukan sesuatu dengan suara yang keras, tiba tiba jadi berbisik. Seruu kan... walau hanya berbekal suara dan bicara.

Berbicara kepada anakpun bisa menjadi hiburan yang menakjubkan untuk mereka :). Sudahkah ayahbunda mempraktekkannya di rumah?

Photos from PAUDShare's post 24/11/2014

Baca status fb teman teman...masih dalam suasana bbm naik, dan isu politik yang tiada henti. Jadi saya mau posting kabar baik saja nih Ayahbunda, supaya pikiran tidak terlalu penat:).

Ketika bbm naik, apa yang terpikirkan? Menghemat pengeluaran, menambah pendapatan...:) Nah satu lagi yang terpikir oleh saya, pendidikan anak. Hmm bagaimana nih dengan pendidikan. Harus mulai memikirkan hal sederhana yang bisa menstimulasi banyak hal pada anak.

Dalam benak saya, saya harus bisa mengadaptasi isu pendidikan yang sering dikenal mahal, menjadi hal sederhana yang bisa dihadirkan di rumah kita semua. Salah satunya konsep pendidikan montessori yang dikenal bahwa sekolah yang menerapkannya memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Ketika browsing hal hal yang berkaitan dengan montessori, sampailah saya pada satu situs yang menampilkan bagaimana tampilan kamar bayi yang dirancang dengan konsep montessori.

Kabar baiknya adalah... ternyata kamar bayi dan anak yang memperhatikan prinsip montessori itu sederhana loh. Bisa menggunakan material yang terjangkau. Prinsipnya anak bisa belajar dengan mengalami sendiri. Jadi ruangannya aman untuk mandiri dan bereksplorasi. Kekhasannya ada pada diletakkannya kasur/ matras yang tidak tinggi, digeletakkan saja di lantai, cermin besar yang diletakkan di bawah. Karpet/ playmat tebal dan empuk. Lemari yang terjangkau sehingga mainan, buku bisa ia ambil dan kembali rapi sendiri.

Mau coba menerapkannya di rumah?

Sumber foto: howwemontessori.com

13/11/2014

Pernah mendengar sekolah montessori? Orangtua biasanya puas dengan sekolah ini karena anak menjadi berprilaku baik. Untuk sekolah di sekolah montessori biasanya perlu biaya yang cukup besar. Memang untuk menyediakam fasilitas sesuai standar sekolah montessori kabarnya perlu biaya besar. Demikian p**a dengan pelatihan gurunya yang berstandar internasional. Namun bagaimanapun pendidikan yang benar adalah pendidikan yang selaras antara sekolah dan rumah. Jika kita ingin anak kita mengembangkan diri dengan konsep yang montessori, mengapa tidak kita mulai dari rumah. Montessori merupakan konsep yang sudah diterapkan lebih dari 100 tahun dan memperoleh kepuasan dari penggunanya. Konsep ini berlaku universal karena sudah diterapkan lintas negara, lintas budaya. Prinsip proses belajar pada anak usia dini berdasarkan konsep montessori adalah mereka bisa belajar secara alami dengan mengalami, mencoba dengan tangannya sendiri, mendengar, melihat, mencium, merasakan. Tentu saja mereka bisa memiliki kesempatan belajar alami dengan mengalami seperti ini dirumah. Fasilitasi intuisi untuk belajar dengan mengeksplorai lingkungan. Maka langkah pertama adalah menyediakan lingkungan yang aman untuk eksplorasi.

13/11/2014

Anak terlahir tanpa tahu apa dan siapa yang ia perlu kenal. Penting untuk berpikir sejenak, sebelum kita mengenalkan sesuatu pada anak. Mana yang lebih baik dikenal lebih dulu, mana yang selanjutnya. Mana yang lebih baik, memiliki teman terlebih dulu, bermain bersama mereka atau bermain sendirian dengan gadget / menonton televisi. Mana yang lebih baik dikenal lebih dulu, mengenal buku dan menyukainya atau mengenal gadget / televisi dan menyukainya. Memilah dan memilih mana yang baik diantara yang buruk. Mana yang lebih baik diantara yang baik. Itu menjadi tugas kita sebagain orangtua saat mendidik anak usia dini.

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Culinary Team

Attire

Telephone

Website

Address


Depok