Tapi, tiap generasi tak selalu beruntung mendapatkan kesempatan itu. Kendalanya, karena tiap generasi tak semua lahir di sendok emas, tercukupi secara materi dan financial. Sehingga, pengetahuan hebat dan modern yang dapat menyejahterakan sebuah generasi, hanya dinikmati mereka yang mampu membayarnya. Tapi, mesti melahirkan jalan keluar yang tak sebatas konsep dan retorika. Itulah yang menjadi pel
ecut Al-Azhar Peduli Ummat, mewujudkan rumah pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi titian sebuah generasi memperoleh kesempatan hidup lebih baik. Mereka, bisa jadi tak memiliki status pendidikan tinggi, bahkan hanya lulus Sekolah Dasar, karena ketidakmampuannya membiayai pendidikan formal. Lantas, apakah masa depannya kiamat karena tak ada yang memberinya kesempatan? Kita, tak boleh membiarkan ketimpangan menjulang. Pengetahuan dan keterampilan yang selama ini dinikmati kalangan mampu, harus p**a dibagi kepada mereka yang tidak mampu. Biaya yang selama ini jadi imperium menakutkan, harus diruntuhkan oleh nilai-nilai empati dan kepedulian yang membumi dalam diri tiap insan. Selama ini, kita telah meyakini, akar kemiskinan dapat ditumbangkan, jika warga bangsa di sebuah Negara telah memiliki ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan yang baik. Maka, sebuah era kegemilangan bagi kalangan tidak mampu harus kita wujudkan melalui Rumah Gemilang Indonesia (RGI). Tapi, RGI yang kecil ini, belum sebanding dengan jumlah warga bangsa yang miskin dan tak mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan. RGI, sebuah model yang dapurnya boleh dibongkar untuk dibagikan resepnya kepada semua pihak, pemerintah, lembaga nirlaba, perusahaan, dan masyarakat luas. RGI halal untuk diadopsi dan dibiakkan hingga pelosok-pelosok Indonesia. Semua ini, ikhtiar Al-Azhar Peduli Ummat untuk inspirasi Indonesia.