Naungan Qur'an

Naungan Qur'an

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Naungan Qur'an, Pondok Duta 2 Jalan Metro Duta Blok BB I/4 Cimanggis, Depok.

02/10/2020

Dalam kisah Nabi Musa a.s yang disampaikan dlm Al-Quran, tongkat beliau berubah wujudnya menjadi bentuk yang lain dalam 3 moment, yaitu :

1. Ketika diangkat sebagai Rasul di bukit Tursina
Tongkat beliau berubah menjadi ular kecil yang bergerak cepat, sebagaimana disebutkan dl QS 20:19-20
"Qoola Alqihaa Yaa Musa"
(Dia (Allah) Berfirmas :"Lemparkanlah Tongkatmu, Hai Musa")
"Fa Alqoohaa Fa Idzaa Hiya HAYYATUN TAS'AA"
(Maka Dia(Musa) Melemparkan Tongkatnya, Maka Tongkatnya Menjadi ULAR KECIL YANG BERGERAK CEPAT)

2. Ketika berhadapan dengan Fir'aun di istananya
Tongkat beliau berubah menjadi ular besar, sebagaimana disebutkan dlm QS 172:107
"Fa Alqoo 'Ashohu Fa Idza Hiya TSU'BAANUN MUBIIN"
(Maka Dia(Musa) Melemparkan Tongkatnya Maka Tongkatnya Menjadi ULAR BESAR YANG NYATA)

3. Ketika berhadapan dengan para penyihir Fir'aun
Tongkat beliau berubah menjadi sesuatu yang menelan tongkat & tali yang dilemparkan para penyihir Fir'aun,
dimana tongkat2 & tali2 tsb dimata ribuan manusia yang menyaksikan terlihat seperti ular2 yang bergerak
Sebagaimana disebutkan dlm QS 172:116-117
" ... Falammaa Alqou Saharuu A'yunannaasu Was Tarhabuu Wa Jaa-u Bi Sihrin 'Adziim"
(Maka Setelah Para Penyihir Itu Melemparkan Tongkat&Tali, Maka Mereka Menyihir Mata Manusia Dan Membuat Takut Orang-Orang(Yang Menyaksikan) Dan Mereka Mereka Datang Dengan Sihir Yang Menakjubkan)
"Wa Au Hainaa Ilaa Muusa An Alqi 'Ashooka, Fa Idzaa Hiya TALQOFU MAA YA-FIKUUN"
(Dan Kami Wahyukan Kepada Musa :"Lemparkan Tongkatmu". Maka Tongkatnya MENELAN (DENGAN CEPAT) SEGALA KEDUSTAAN MEREKA (PARA PENYIHIR))

Pada momen ke 1, Al-Quran menyebutkan perubahan wujud dari tongkat menjadi ular kecil yang bergerak cepat, karena tujuan dari mu'jizat ini adalah sebagai penegas bagi tanda2 kerasulan Musa a.s. bkn utk membuat Nabi Musa a.s takut, meskipun pada saat itu Nabi Musa merasa kaget, sehingga sempat lari menghindar

Pada moment ke 2, Al-Quran menyebutkan perubahan wujud dari tongkat menjadi ular besar yang nyata (mungkin seukuran ular phyton) karena tujuan dari mu'jizat ini adalah membuat takut Fir'aun dengan harapan dia mau beriman. Fir'aun ketakutan tapi tetap ingkar

Pada momen ke 3, Al-Quran tdk menyebutkan perubahan wujud dari tongkat menjadi apa, tapi menyebutkan perbuatan dari tongkat Nabi Musa a.s, mengapa demikian ... ?
Ada beberapa penjelasan yang bisa disampaikan :
- Tongkat tsb berubah menjadi sesuatu,-(sebagian mufassir menyebutkan menjadi ular)- yang besarnya tdk bisa dibayangkan oleh manusia. Dlm beberapa kitab tafsir diantaranya : Bahrul Muhith ( Abu Hayyan Al-Andalusi) dan Mafatihul Ghaib ( Imam Ar-Razi) disebutkan tongkat tsb berubah menjadi ular yang sangat besar luar biasa, yang lebar mulutnya ketika menganga memenuhi ufuk dan menelan semua tongkat & tali yang dilemparkan para penyihir Fir'aun, yang telah menyihir pandangan mata orang2 yg menyaksikan, seolah2 itu adalah ular2 yang merayap.
Karena luar biasa & tdk terbayangkan perubahan wujudnya, maka Al-Quran tdk menyebutkan bentuk perubahan bentuknya, tapi menyebutkan perbuatannya
- Tujuan dari mu'jizat ini adalah utk menafikan sihir yang telah menyihir mata manusia yang menyaksikan pertarungan antara Nabi Musa a.s dan para penyihir Fir'aun, sehingga yang ditekankan adalah konteks perbuatan menafikan sihir tsb, bukan media/benda yang digunakan utk menafikan sihirnya.
Dengan demikian secara ibroh/konteks momen ke 3 ini bisa menginspirasi sepanjang masa, karena bentuk kata kerjanya, yaitu TALQOFU adlah bentuk Fiil Mudhori (Continous), bahwa kebatilan dengan segala media/sarana bisa saja menyihir mata mannusia (baik mata dzhohir maupun mata batin), maka kebenaran juga dengan segala bentuk sarana/media hrs menyampaikan hujahnya agar kebatilan yang menyihir manusia bisa ternafikan

Peristiwa di momen ke 1 & 2 menekankan pada wujud fisik sehingga secara konteks peristiwa tdk akan pernah terulang lagi, karena mu'jizat Nabi berakhir begitu mereka wafat, sedangkan peristiwa di momen ke 3 menekankan pada substansi perbuatan sehingga konteksnya bisa berlangsung sepanjang zaman

والله اعلم

15/09/2020

Kisah pertarungan antara Nabi Musa a.s dengan para penyihir Fir'aun yang berujung dengan berimannya para penyihir Fir'aun diabadikan diantaranya dlm QS Al-'Araaf ayat 115 - 122

Dalam rangkaian ayat yang mengisahkan pertarungan antara Nabi Musa a.s dengan para penyihir Fir'aun tsb, diawali dgn dialog antara para penyihir Fir'aun dengan Nabi Musa a.s
Para penyihir Fir'aun tsb mengawali dialog dengan menawarkan ke pada Nabi Musa a.s apakah beliau yang lebih dahulu melemparkan tongkatnya atau mereka yang terlebih dahulu melemparkan tongkat & tali yang mereka pegang. Lalu Nabi Musa a.s mempersilahkan para penyihir Fir'aun tsb utk terlebih dahulu melemparkan tongkat & tali yang hendak mereka jadikan sarana sihir. Setelah tiba giliran Nabi Musa a.s melemparkan tongkatnya & nampak mu'jizat oleh mereka, maka seketika itu juga para penyihir Fir'aun menyatakan beriman ...

Sebagaimana sudah menjadi mafhum, bahwa hidayah iman adalah rahasia Allah yang dianugrahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya

Imam Fakhrudin Ar-Razi dlm tafsir beliau Mafatihul Ghaib memberikan penjelasan mengapa Allah menganugerahkan hidayah iman kepada para penyihir Fir'aun ....

Beliau menjelaskan bahwa diantara sebab Allah menganugrahkan hidayah iman kepada para penyihir Fir'aun adalah karena ADAB yang ditunjukan oleh para penyihir Fir'aun tsb ketika awal berdialog dgn Nabi Musa a.s menjelang pertarungan antara mu'jizat tongkat Nabi Musa a.s dengan sihir tongkat & tali para penyihir Fir'aun

Sebagaimana di sebutkan sebelumnya, pada awal dialog tsb para penyihir Fir'aun menawarkan kepada Nabi Musa a.s apakah beliau atau mereka yang terlebih dahulu melempar.

Imam Fakhrudin Ar-Razi menyampaikan bahwa hal tsb adalah bentuk ADAB yang ditunjukan para penyihir Fir'aun kepada Nabi Musa a.s, meskipun situasi yang dihadapi adalah pertarungan yang akan mempertaruhkan kredibilitas mereka sebagai penyihir

Berkat ADAB tersebut kekufuran yang menempel pada jiwa2 para penyihir Fir'aun tsb, tdk berapa lama kemudian dengan kehendak Allah berubah menjadi hidayah iman ketika mereka menyaksikan mu'jizat yang diperlihatkan Nabi Musa a.s, dan seketika itu mereka bersujud sebagai tanda keimanan mereka

Kondisi kekufuran yang diiringi ADAB, bisa menjadi sebab Allah menganugrahkan hidayah iman bagi siapa yang dikendaki-Nya

Kondisi keimanan tanpa diiringi ADAB, bisa menjadi sebab Allah mencabut hidayah iman bagi siapa yang dikehendaki-Nya

والله اعلم

05/09/2020

Bulan Muharram adalah bulan yang di dalamnya banyak peristiwa penting terjadi, di antaranya adalah kemenangan Nabi Musa a.s dengan tenggelamnya Fir'aun beserta bala tentaranya di Laut Merah

Peristiwa tenggelamnya Fir'aun beserta bala tentaranya tsb, diantaranya dlm QS Al-Qoshosh, ayat 40 :
" Fa Akhodznaahu Wa Junuudahu Fa Nabadznaahu FIL YAMMI ...."
(Maka Kami Adzab Dia(Fir'aun) Dan Balatentaranya, Maka Kami Tenggelamkan Mereka Ke DALAM LAUT ... )

Kata YAMM dlm ayat tsb, diterjemahkan dengan LAUT, padahal LAUT dlm bahasa Arab, masyhur disebut dengan BAHR
Mengapa Allah memilih kata YAMM sebagai sarana tenggelamnya Fir'aun dan balatentaranya ... ?

Mari kita lihat ke awal2 QS Al-Qoshosh, yaitu ayat 7 yang mengisahkan tentang ibunda Nabi Musa a.s yang melarungkan bayinya yang kelak menjadi Nabi Musa a.s ke aliran sungai Nil agar tdk dibunuh oleh tentara Fir'aun :
"Fa Auhainaa Ilaa Ummi Muusa An Ardhi'ihii, Fa Idzaa Khifti 'Alaihi Fa Alqiihi FIL YAMMI ..."
(Maka Kami Ilhamkan Kepada Ibunya Musa: "Susuilah Dia, Maka Jika Engkau Takut (Akan Keselamatannya), Maka Hanyutkanlah Dia (Bayi Musa) Ke Dalam Sungai ...)

Kata YAMM dlm ayat tsb diterjemahkan dengan SUNGAI, padahal SUNGAI dlm bahasa Arab, masyhur disebut dengan NAHR
Mengapa Allah memilih kata YAMM sebagai sarana dihanyutkannya bayi Nabi Musa dlm peti ... ?

Disinilah keindahan bahasa ungkapan Al-Quran ...

YAMM secara makna mudahnya adalah gerak air yang menakutkan baik itu di sungai, laut atau danau

Untuk itu Allah memilih kata YAMM sebagai sarana tenggelamnya Fir'aun dan balatentaranya dan juga sebagai sarana selamatnya bayi Nabi Musa dari target pembunuhan tentara Fir'aun karena Allah ingin menyampaikan konteks suasana yang melingkupi dua peristiwa yang bertolak belakang endingnya tsb, bukan lokasi peristiwa

Seperti disampaikan sebelumnya, kata YAMM secara bahasa mudahnya adalah gerak air yang menakutkan. Bagi Fir'aun dan balatentaranya yang berkekuatan penuh dan bersenjata lengkap, ternyata YAMM tsb menjadi sarana kehancuran mereka sedangkan bagi bayi Nabi Musa yang lemah tanpa pengawalan & pelindung, hanya terbaring di peti kayu, ternyata YAMM tsb menjadi sarana yang meyelamatkannya dari pembunuhan tentara Fir'aun

Allah ingin mengungkapkan dlm Al-Quran bahwa Fir'aun dengan balatentaranya yang begitu kuat dihadapan Allah tdk ada apa2nya dibanding seorang bayi yang masih lemah, sehingga konteks suasana kehancurannya disamakan dengan konteks suasana selamatnya seorang bayi

والله اعلم

21/08/2020

" .... لمسجد أسس على التقوى من أول يوم ..."
" ...Sungguh Masjid Yang Didirikan Atas Dasar Taqwa, SEJAK HARI PERTAMA ... " ( QS 9 : 108 )

AWALU YAUMIN, ... frasa kata ini hanya terdapat dalam QS At-Taubah ayat 108, yang konteks ayatnya berbicara tentang masjid pertama yang dibangun oleh Nabi saw & para sahabat pada saat beliau baru tiba di Quba (daerah pinggiran Madinah) dlm perjalanan hijrah dari Mekkah

Sebagaimana masyhur diriwayatkan dalam sejarah, penentuan awal tahun penanggalan Hijriyah dilakukan di masa Khalifah Umar ra dengan keputusan beliau menetapkan tahun dimana Nabi saw melakukan perjalan hijrah dari Mekkah ke Madinah sebagai tahun pertama dlm penanggalan Hijriyah/Islam.

Para ahli tarikh menyebutkan penetapan keputusan Khalifah Umar ra tersebut atas usulan dari Ali bin Abi Thalib ra. Lalu dari mana Ali bin Abi Thalib ra mendapatkan ilham atas usulannya tsb ?

Kita tahu bahwa Ali ra adalah sahabat yang kecerdasannya diatas rata2. Masyhur diriwayatkan bahwa ketika Khalifah Utsman kebingungan ketika menghadapi kasus wanita yang usia kehamilannya baru 6 bulan tapi sdh melahirkan bayinya, sedangkan umumnya usia kehamilan hingga melahirkan adalah 9 bulan,sehingga banyak orang yang menyangka bayi tsb hasil perzinahan sebelum pernikahan dengan suaminya.

Maka Ali ra menyampaikan argumennya berdasarkan ayat Quran yang menyampaikan tentang jumlah waktu masa mengandung & menyapih secara sempurna itu 30 bulan (Qs 46:15), dimana waktu menyapih yang sempurna adalah 2 tahun (24 bulan, -QS 31:14-).
Sehingga menurut Ali ra berdasarkan isyarat Al-Qura, usia kandungan 6 bulan tapi sdh melahirkan bayi adalah hal yang wajar meskipun sangat jarang terjadi, karena berdasarkan isyarat Al-Quran masa kandungan + masa menyapih adalah 30 bulan. Jika waktu menyapih yang sempurna adalah 24 bulan, maka usia kandungan yang paling minimal adalah 30 - 24 = 6 bulan

Kembali ke latar belakang usulan Ali ra mengenai acuan penentuan awal tahun penanggalan Hijriyah, dimana beliau mengusulkan agar tahun dimana Nabi saw melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah digunakan sebagai acuan sebagai tahun pertama dlm kalender Hijriyah ... Boleh jadi Ali ra terilhami dari frasa kata "AWALU YAUMIN" yang secara makna mudahnya adalah HARI PERTAMA. Frasa kata tsb hanya terdapat dlm QS 9:108, yang konteks ayatnya tentang pembangunan masjid pertama dlm sejarah Islam yang masjid tsb dibangun ketika Nabi saw baru tiba di Quba dlm perjalanan hijrah.

AWALU YAUMIN ... HARI PERTAMA ... awal penanggalan dimulai
AWALU YAUMIN ... disebutkan dlm ayat yang mengisyaratkan peristiwa hijrah

Sehingga penentuan tahun dimana Nabi saw melakukan perjalanan hijrah sebagai tahun pertama dlm kalender Islam, bukan sekedar keputusan intuisi dari Khalifah Umar berdasarkan usulan dari Ali bin Abi Thalib ra semata, tapi merupakan inspirasi Qurani .......

والله اعلم

28/06/2020

QS Al-Mumtahanah adalah surat yang dari awal hingga akhir surat berbicara tentang loyalitas kepada Allah & Rasul-Nya saw. Menurut para ulama tafsir, surat ini turun direntang waktu antara setelah perjanjian Hudaibiyah (6 H) dan sebelum Fathu Mekkah (8 H). Jadi QS Al-Mumtahanah ini turun ketika perjanjian Hudaibiyah sedang berlangsung antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy Mekkah

Yang menarik adalah di QS Al-Mumtahanah ini adalah disebutkannya kata “MAWADDAH” sebanyak 3 kali, yaitu di ayat 1 disebut 2 kali dan di ayat 7 disebut satu kali. Di ayat 1 konteksnya adalah larangan bagi kaum muslimin utk memberikan “MAWADDAH” kepada kaum kafir Quraisy Mekkah, sekalipun di antara mereka terdapat karib kerabat. Sedangkan di ayat 7 konteksnya adalah harapan terjadinya “MAWADDAH” antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy Mekkah ..

Apakah ini ada pertentangan antara ayat 1 & ayat 7 ? .... sekali2 tidak

Kata MAWADDAH secara makna adalah rasa cinta yang memberikan manfaat kepada orang/pihak yang dicintai atau sebaliknya, berbeda dengan MAHABBAH yang maknanya adalah sekedar rasa cinta, karena itu dlm QS Ar-Rum ayat 21 yang sering dinukil sebagai doa pernikahan, kata yang digunakan adalah MAWADDAH, bukan MAHABBAH ... karena dlm pernikahan sepasang suami isteri akan saling memberikan rasa cinta yang memberikan manfaat satu sama lain, diantaranya : nafkah & kenikmatan seksual

Dalam QS Al-Mumtahanah ayat 1 larangan utk memberikan MAWADDAH yang dimaksud adalah larangan memberikan manfaat seperti yang menjadi asbabun nuzul turunnya ayat 1 tsb, yaitu ketika sahabat Nabi saw, Hatib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat rahasia kepada pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah yang berisi informasi rencana Nabi saw & kaum muslimin menaklukan kota Mekkah.

Surat tsb dititipkan kepada budak perempuan yang dikirim oleh karib kerabat Hatib bin Abi Balta’ah ra ke Madinah utk meminta bantuan karena karib kerabatnya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Surat tsb dikirim Hatib ra, dikarenakan kekhawatirannya jika Nabi saw & kaum muslimin menaklukan kota Mekkah, akan terjadi sesuatu yang tdk diharapkan kepada karib kerabatnya tsb.

Yang Allah larang adalah pemberian informasi kepada kaum kafir Quraisy Mekkah karena itu memberikan keuntungan/manfaat kepada pemimpin kafir Quraisy dlm situasi pertarungan antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kafir Quraisy Mekkah saat itu, dan ini adalah bagian dari MAWADDAH, meskipun latar belakangnya adalah kekhawatiran akan nasib karib kerabatnya, sedangkan pemberian bantuan ekonomi kepada kerabat Hatib bin Abi Balta’ah sebagai wujud kasih sayang kepada kerabat,- MAHABBAH-, tdk dilarang oleh Nabi saw.

Lalu pada ayat ke 7, yang dimaksud MAWADDAH di sini adalah harapan masuk Islamnya tokoh2 kafir Quraisy Mekkah, yang dengan masuk Islamnya para tokoh2 tsb memberikan manfaat bagi kejayaan Islam & kaum muslimin. Hal tsb terbukti dengan banyaknya orang2 kafir Quraisy yang masuk Islam selama perjanjian Hudaibiyah berlangsung,- rentang waktu dimana QS Al-Mumtahanah ini turun-, yang berpuncak pada masuk Islamnya 3 tokoh Quraisy, yang dijuluki oleh Nabi saw sebagai “jantung hatinya” Quraisy, yaitu : Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah.

Sejarah kemudian membuktikan ke 3 tokoh tsb bukan hanya sekedar masuk Islam, tapi memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kejayaan Islam & kaum muslimin, sebagai bentuk MAWADDAH mereka kepada Allah & Rasul-Nya saw, setelah sekian lama memberikan mudharat kepada kaum muslimin

Pemilihan redaksi kata dalam Al-Quran akan selalu terbukti kemu’jizatannya. Dalam hal loyalitas ditengah pertarungan antara Nabi saw & kaum muslimin dengan musuh2 nya, -dlm hal ini kafir Quraisy Mekkah-, yang menjadi tema dari QS Al-Mumtahanah tsb, redaksi kata yang dipilih adalah MAWADDAH bukan MAHABBAH, karena MAHABBAH adalah naluri & fitrah manusia utk mencintai & menyayangi kerabat dekatnya, meskipun kerabatnya tsb ada di pihak musuh. Al-Quran tdk akan bertentangan dengan naluri & fitrah manusia.

Sedangkan pemilihan redaksi kata MAWADDAH di ayat ke 7, secara isyarat halus memberikan pelajaran kepada kaum muslimin, bahwa orang yang sebelumnya memusuhi Islam, karena kehendak Allah bisa menjadi orang yang MAWADDAH kepada Islam, dengan kontribusinya yang diberikan, apatah lagi orang2 yang sejak awal sdh muslim, sdh seharusnya bisa memberikan MAWADDAH nya kepada Islam lebih baik lagi, bukan hanya sekedar MAHABBAH ...

والله اعلم

06/06/2020

Pada ayat penutup QS As-Shaf, Nabi Isa a.s menyeru kepada para murid2 nya yang lebih dikenal dengan nama Hawariyyin, utk membantu beliau dlm perjuangan di jalan Allah menegakkan risalah yang dibawanya

Menarik kalau dicermati redaksi kalimat yang dipilih dlm ayat penutup QS Ash-Shaf tsb ...

Nabi Isa a.s menyeru Hawariyyin dengan redaksi kalimat :
"...Man ANSHORII Ilallah?"
( ... Siapakah PENOLONG2KU (Dlm Menegakkan Agama ) Allah ?)

Hawariyyin menjawab seruan tsb dgn redaksi kalimat :
" ...Nahnu ANSHORULLAH"
(... Kamilah PENOLONG2 (AGAMA) ALLAH)

Secara padanan kalimat, antara seruan Nabi Isa a.s & jawaban Hawariyyin harusnya sbb :
- Ketika seruan Nabi Isa a s redaksinya "Man ANSHORI Ilallah?"(Siapakah PENOLONG2-KU (Dlm Menegakkan Agama) Allah ?)
Maka jawaban yg sepadan adalah "Nahnu ANSHORU-KA Ilallah"(Kami PENOLONG2 ENGKAU (Dlm Menegakkan Agama) Allah)

- Ketika jawaban Hawariyyin redaksinya "Nahnu ANSHORULLAH"(Kami PENOLONG2 (AGAMA) ALLAH)
Maka seruan yg sepadan adalah "Man ANSHORULLAH"(Siapakah PENOLONG2 (AGAMA) ALLAH)

Mengapa redaksi kalimat pada ayat penutup QS Ash-Shaf tsb seperti apa yg kita baca dlm mushaf ? ...

Pemilihan redaksi2 kalimat tsb seakan mengisyaratkan pelajaran penting yaitu, isyarat kepada setiap tokoh/pemimpin umat agar berjuang bersama2 umatnya sesusah sepenanggungan, bukan duduk di menara gading, karena itu redaksi seruan yg disampaikan Nabi Isa a.s adalah seperti yg tercantum di ayat penutup QS Ash-Shaf tsb, yg mengisyaratkan konteks kebersamaan dlm perjuangan.

Seandainya redaksi kalimat yg diserukan adalah "Man ANSHORULLAH" maka kontekas yg tersirat adalah Nabi Isa a.s hanya sekedar menyeru, karena tdk menisbatkan seruan tsb kepada diri beliau

ٍٍSedangkan redaksi kalimat jawaban yang diungkapkan Hawariyyin merupakan isyarat kepada setiap pengikut untuk menjadikan Allah sebagai tujuan & fokus perjuangannya, bukan tokoh/pemimpin yang diikutinya sehingga terhindar dari figuritas yang merupakan virus berbahaya dlm setiap perjuangan menolong agama Allah, karena itu redaksi jawaban yg disampaikan Hawariyyin adalah seperti yg tercantum di ayat penutup QS As-Shaf tsb, yg mengandung konteks Allah sebagai tujuan & fokus

Seandainya redaksi jawaban Hawariyyin adalah "Nahnu ANSHORU-KA Ilallah", maka konteks yg tersirat adalah fokus kepada figuritas pemimpin/tokoh, sehingga jika pemimpin/tokoh yg diikuti dlm perjuangan tsb menyimpang maka pengikutnya ikut menyimpang, atau jika pemimpin/tokoh yg di ikuti tsb wafat, maka berhenti juga perjuangan para pengikutnya

والله اعلم

01/06/2020

Pada ayat 7 & 8 dari QS Ash-Shaf, kalimat penutup dari masing2 dua ayat tsb adalah :
“…. WA LAU KARIHAL KAAFIRUUN” di ayat 7
“…. WA LAU KARIHAL MUSYRIKUUN” di ayat 8

Kafir & Musyrik pada hakikatnya sama, yaitu lawan dari pada Keimanan … tapi mengapa di ayat 7 & 8 QS Ash-Shaf tsb, Allah menyampaikan kata penutup yang berbeda ? … apakah Allah hanya ingin sekedar menyampaikan variasi kata/kalimat …? Sekali2 bukan ..

Imam Fakhrudin Ar-Razi dlm tafsirnya Mafatihul Ghaib menyampaikan bahwa pada ayat ke 7 konteks ayatnya tentang penegasan Allah tentang kemustahilan upaya orang-orang yang hendak menutupi & memadamkan cahaya-Nya, karena itu lah penutup ayat 7 tsb menggunakan kata KAAFIRUN yang makna bahasanya adalah orang2 yang menutupi

Sedangkan pada ayat ke 8 konteksnya tentang janji Allah tentang kemenangan Rasul-Nya (Nabi Muhammad saw) & risalah Islam yang dibawanya atas seluruh Dien yang lain, termasuk paganisme yang dianut oleh bangsa Arab khususnya musyrikin Quraisy, - kaum yang permusuhan & pertarungannya dihadapi langsung oleh Nabi Muhammad saw & kaum muslimin, karena itulah penutup ayat 8 tsb menggunakan kata MUSYRIKUUN, utk lebih mempertegas konteks ayat

والله اعلم

28/05/2020

Dlm Qs Ash-Shaf, Nabi Musa a.s memanggil kaumnya dgn panggilan " YAA QOUMII (WAHAI KAUMKU)", sedangkan Nabi Isa a.s memanggil kaumnya dgn panggilan "YAA BANI ISRAIL (WAHAI BANI ISRAIL)"

Mengapa demikian ? padahal keduanya diutus kepada kaum yang sama, yaitu Bani Israil ... Hal tsb justru menunjukan konsistensi Al-Quran. Justru jika seandainya panggilan Nabi Isa a.s kepada Bani Israil sama dengan panggilan Nabi Musa a.s, maka akan terlihat kontradiksi dgn kisah kelahiran Nabi Isa a.s di QS Ali Imran & QS Maryam

Perbedaan panggilan seruan kepada Bani Israil dlm QS Ash-Shaf menunjukan kebenaran uslub Al-Quran. Nasab seseorang itu mengikuti jalur ayah, sehingga seseorang biasanya dinisbahkan kepada kaum dimana ayahnya berasal, sehingga ketika Nabi Musa menyeru kepada Bani Israil, maka beliau menyeru dengan panggilan "WAHAI KAUMKU", karena beliau menisbahkan dirinya kepada Bani Israil, karena ayah beliau adalah orang Bani Israil.

Sedangkan Nabi Isa a.s tdk memiliki ayah, karena Allah menghendaki beliau lahir dr rahim Maryam yang tdk pernah tersentuh laki2 sedikitpun (disebutkandlm QS Ali Imran & QS Maryam), sehingga beliau tdk menisbahkan dirinya kepada Bani Israil, karena itu beliau memanggil Bani Israil dgn panggilan "WAHAI BANI ISRAIL", bukan dgn panggilan "WAHAI KAUMKU"

Begitupun di surat2 lain dlm Al-Quran, Nabi Isa a.s memanggil kaumnya, yaitu Bani Israil dgn panggilan "WAHAI BANI ISRAIL", berbeda dengan para Rasul2 yang lain yg diutus kepada Bani Israil, yang memanggil mereka dengan panggilan "WAHAI KAUMKU"

والله اعلم

21/05/2020

Ada yang menarik dari QS Ash-Shaf, yang redaksi ayatnya sering disalahpahami oleh sebagian orang
“يأيهاالذين أمنوا لم تقولون ما لا تفعلون”
(Hai Orang2 Yang Beriman Mengapa Kalian Mengatakan Apa Yang Tidak Kalian Lakukan) QS 62:2

Sebagian orang memahami ayat ini dengan pemahaman yang kurang tepat, sehingga mengambil sikap cuek & tdk mau terlibat dlm amar ma’ruf & nahi munkar, karena takut dengan redaksi ayat tsb & ayat sesudahnya, dengan alasan merasa belum mampu melakukan kebaikan yang dinasihatkannya atau belum mampu meninggalkan kemungkaran yang dinasihatkannya utk dijauhi.

Padahal tidaklah Allah memilih redaksi kalimat dalam suatu ayat kecuali mengandung hikmah yang agung. Mengapa dalam ayat tsb Allah tdk menggunakan redaksi “ … Mengapa Kalian Tidak Melakukan Apa Yang Kalian Katakan “, tapi menggunakan redaksi “ … Mengapa Kalian Mengatakan Apa Yang Tidak Kalian Lakukan”. Dua redaksi kalimat tsb mempunyai makna & konteks yang berbeda

Jika redaksi kalimatnya adalah :” … Mengapa Kalian Tidak Melakukan Apa Yang Kalian Katakan “, tentu akan sangat berat bagi manusia kebanyakan. Apakah setiap orang yang memberikan nasihat kebaikan harus selalu melakukan sama persis seperti apa yang dinasihatkannya ..? Apakah setiap orang yang memberikan ilmu tentang haji, harus melakukan haji juga ? sedangkan dia sendiri secara finansial belum mampu. Apakah setiap orang yang memberikan ilmu tentang zakat, harus menunaikan zakat ? sedangkan dia sendiri bukan tergolong orang kaya. Apakah setiap orang yang menasihati pejabat/pemimpin utk berbuat adil & amanah, harus jadi pejabat/pemimpin dulu ?
Jika demikian halnya, maka rasanya tidak akan ada manusia yang sanggup melakukan amar ma’ruf & nahi munkar, kecuali hanya para Nabi & Rasul

Maka Maha Benar Allah yang telah memilih redaksi kalimat seperti yang disebutkan di QS Ash-Shaf ayat 2 tsb. Konteks ayat tsb adalah memberikan arahan kepada orang2 beriman agar tidak mengklaim amal perbuatan yang sebenarnya tdk dilakukannya atau melalukan hal yang berbanding terbalik dengan kebaikan yang dinasihatkan/disampaikannya.

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita utk bisa melakukan nasihat2 kebaikan yang mungkin pernah kita sampaikan dan melindungi kita dari amal perbuatan yang bertolak belakang dengan kebaikan2 yang pernah kita nasihatkan

Ref: روائع التفسيرابن رجب الحنبلي

والله اعلم

17/05/2020

Dalam mushaf, QS Ash-Shaf terletak sebelum QS Al-Jumu’ah. Diantara keterkaitan QS Ash-Shaf dengan QS Al-Jumu’ah antara lain :

- Dalam QS Al-Jumu’ah Allah menyindir orang2 Yahudi dengan permisalan seperti keledai yang memikul kitab2 besar, yang merupakan sebuah permisalan bagi orang2 yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang2 Yahudi yang mengetahui kenabian & risalah Nabi Muhammad saw melalui kitab Taurat, sebagai sumber ilmu mereka, tapi mereka mengingkarinya
- Dalam QS As-Shaf Allah menegur & mengingatkan orang2 beriman, mengapa mereka mengatakan apa2 yang tidak mereka lakukan. Yang konteksnya hampir mirip dengan yang disebutkan di QS Al-Jumu’ah tadi sebelumnya

- Dalam QS Al-Jumu’ah, orang beriman yang memenuhi syarat diwajibkan utk melakukan shalat Jumat, - satu2nya shalat yang semua ulama sepakat, wajib dilakukan dengan berjama’ah - yang dengan hal tsb bisa terlihat barisan shaf-shaf kaum muslimin sebagai sebuah syiar
- Dalam QS As-Shaf, Allah mencintai orang2 yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur & tersusun rapih, seperti bangunan saling menopang satu sama lain

- Dalam QS Al-Jumu’ah, orang2 beriman diperintahkan utk segera meninggalkan perniagaan yang sdg dilakukan, ketika panggilan utk shalat Jumat sdh berkumandang
- Dalam QS As-Shaf, Allah menawarkan/menunjukan perniagaan yang bisa menghindarkan diri dari adzab yang pedih

- Dalam QS Al-Jumu’ah, jamaah shalat Jumat berhamburan menuju kafilah dagang yang baru tiba di Madinah, meninggalkan Nabi Muhammad saw yang sedang berkhutbah
- Dalam QS Ash-Shaf, Nabi Musa a.s bertanya kepada kaumnya ( Bani Israil ) mengapa mereka selalu menyakitinya, padahal mereka mengetahui bahwa beliau adalah Nabi & Rasul yang diutus kepada mereka

والله اعلم

10/05/2020

Dua surat yang rutin dibaca oleh Nabi saw ketika shalat Jum’at adalah QS Al-Jumu’ah & QS Al-Munafiqun. Kedua surat tsb terletak berurutan di dalam mushaf, yaitu surat ke 62 dan surat ke 63
Tentu bukan tanpa sebab Nabi saw rutin membaca dua surat yang berurutan dlm susunan mushaf tsb ketika shalat Jum’at.

Berikut beberapa keterkaitan antara QS Al-Jumu’ah dengan QS Al-Munafiqun :
- Di Madinah Nabi saw & kaum mu’minin bergaul sekaligus berhadapan dengan dua kelompok yang paling keras permusuhannya terhadap mereka, yaitu kaum Yahudi dan kaum Munafik pimpinan Abdullah bin Ubay

- Dalam QS Al-Jumu’ah disebutkan pengingkaran kaum Yahudi terhadap kerasulan Nabi saw & risalah Islam yang dibawa beliau. Pengingkaran tsb bersifat lisan, oleh karena dalam hati mereka sebenarnya mengakui kerasulan Nabi saw beserta risalah yang beliau bawa karena hal tsb disebutkan dalam kitab Taurat yang menjadi pegangan mereka. Sehingga di ayat 5 Allah memberikan perumpamaan kepada mereka, seperti keledai yang membawa kumpulan kitab
- Dalam QS Al-Munafiqun disebutkan pengingkaran kaum munafik terhadap kerasulan Nabi saw & risalah Islam yang beliau bawa. Pengingkaran tsb tersembunyi dlm hati mereka, karena lisan mereka secara terpaksa mengakui kerasulan Nabi saw beserta risalah yang beliau, karena ada motif2 duniawi yang mereka incar. Di ayat 4 Allah memberikan perumpamaan kepada mereka, seperti kayu yang tersandar

- Dalam QS Al-Jumu’ah kaum Yahudi selalu membangun opini bahwa mereka adalah orang2 pilihan Tuhan, sebagaimana disindir oleh Allah dlm ayat 6
- Dalam QS Al-Munafiqun kaum Munafiq selalu membangun opini bahwa mereka adalah orang2 yang kuat secara kedudukan & harta, sebagaimana disindir oleh Allah dlm ayat 7 & 8

- Dalam QS Al-Jumu’ah & QS Al-Munafiqun, Allah menyampaikan bagaimana sikap mereka ketika dihadapkan pada kematian

Dua surat tsb rutin dibaca oleh Nabi saw ketika shalat Jumat, momen dimana kaum muslimin berkumpul utk shalat Jumat, sebagai nasihat & peringatan bagi kaum mu’minin utk selalu waspada dan mengambil pelajaran tentang keburukan yang Allah sampaikan dari dua kelompok tsb

والله اعلم

07/05/2020

Dalam rangkaian ayat puasa dari QS Al-Baqarah ayat 183 s.d 187, ada satu tema yg disebut terulang 2 kali, yaitu kondisi orang yang sedang sakit dan orang yg sedang safar ketika melakukan ibadah puasa Ramadhan

"... FA MAN KAANA MINKUM Mariidhon Au ' Alaa Safarin Fa 'Iddatun Min Ayyamin Ukhor ..." (QS 2 : 184)
" ... WA MAN KAANA Mariidhon Au 'Alaa Safarin Fa 'Iddatun Min Ayyamin Ukhor ..." (QS 2 : 185)

Mengapa di ayat 184 ada kata MINKUM (SEBAGIAN DARI KALIAN), sementara di ayat 185 tdk ada ...?

Ini mengandung isyarat tentang Tarikhut Tasyri' (Sejarah Pensyariatan) puasa ...
Para ulama ( diantaranya Imam Fakhrudin Ar-Razi ) menyampaikan bahwa puasa Ramdhan awalnya bersifat ikhtiari... Siapa yang hendak berpuasa maka dia berpuasa, dan siapa yg tdk hendak berpuasa (meskipun dia mampu berpuasa) maka dia membayar fidyah...
Maka sebagian kaum muslimin ada yg berpuasa, dan sebagian lagi memilih tdk berpuasa dgn gantinya yaitu membayar fidyah ... karena itu di ayat 184 tsb redaksinya menyertakan kata MINKUM, yg konteksnya adalah kaum muslimin yg memilih berpuasa ...

Sedangkan di ayat 185 tdk ada kata MINKUM, karena bentuk teknis puasa Ramadhan yg sblmnya di ayat 184 dinasakh oleh ayat ini, sehingga konsekuensinya seluruh kaum muslimin wajib berpuasa Ramadhan tanpa ada pilihan membayar fidyah, kecuali ada sebab yg diperbolehkan oleh syariat utk membayar fidyah ..

والله اعلم

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Pondok Duta 2 Jalan Metro Duta Blok BB I/4 Cimanggis
Depok
17433