16/03/2026
Pesantren Ramadhan Curug Tangerang
09 Maret 2026 - Agar Puasa Tidak Sia-sia
solusi semua penjualan Anda
gratis konsultasi bisnis bit.ly/askmister
16/03/2026
Pesantren Ramadhan Curug Tangerang
09 Maret 2026 - Agar Puasa Tidak Sia-sia
15/11/2025
Plakat Penghargaan
Beberapa kenang-kenangan plakat dari beberapa kampus dan lembaga atas kesediaan saya berbagi di acara mereka. Mencoba men-digitalisasi agar kelak jika rusak atau bilang, kenangannya bisa menetap lebih lama.
Terima Kasih kepada lembaga yang sudah mempercayakan saya untuk berbagi, sedikit banyaknya semoga meninggalkan manfaat.
Aamiin
14/10/2025
Menjadi Expert Program Jobhun Academy
Bertemakan HR Future Skills Batch 12
Dengan Materi:
Operasional SDM yang Efisien: Manajemen Kinerja, Administrasi, & Legalitas
- Teknik penilaian kinerja: KPI, OKR, dan Review 360 derajat.
- Feedback konstruktif dan pengembangan karyawan
Proses dokumentasi sistem personalia dengan baik dan efektif
- Fungsi-fungsi manajemen SDM berikut dengan tahapan-tahapannya
- Pembuatan SOP perusahaan sesuai dengan deskripsi pekerjaan pada setiap posisi
- Memahami administrasi dalam human resource, seperti
presensi/kehadiran, payroll, pajak penghasilan, tunjangan, THR, hingga BPJS.
- Memahami proses pembuatan perjanjian kerja untuk karyawan dan apa saja yang harus tertuang dalam perjanjian kerja
- Memahami proses pembuatan laporan human resource
- Memahami UU Ketenagakerjaan, PP (Peraturan Perusahaan), PKB (Perjanjian Kerja Bersama), PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu), PKWTT
- (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu).
Memahami apa saja yang harus tertuang dalam PP (PeraturanPerusahaan)
Via Zoom
Rabu, 1 Oktober 2025
14/10/2025
Menjadi Fasilitator
Leaderless Group Discussion untuk para Peserta Beasiswa Utama LPS 2025 dari seluruh Indonesia.
Workshop ini bertujuan untuk mempersiapkan para penerima beasiswa LPS agar siap kerja pasca kelulusan mereka di Universitas masing-masing
at Hotel Sheraton Bandara Soetta, Tangerang, Banten.
30/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 30: Perjalanan yang Baru
Kilatan cahaya keperakan menyapu langit malam di atas kerajaan Arvanea. Di medan pertempuran yang beruap darah dan bara, Ardan berdiri tegap, napasnya berat, pedang besarnya menancap ke tanah, tubuh naga terakhir tergeletak tak bernyawa di belakangnya. Gemuruh sorak para kesatria dan penduduk menggema memenuhi langit, seakan seluruh semesta merayakan kemenangan itu.
Dari kejauhan, Raja Eldrian melangkah pelan, jubah emasnya berkibar. Ia menepuk bahu Ardan dengan lembut, matanya penuh kebanggaan. "Ksatria Ardan," ucapnya mantap, "perjuanganmu telah selesai. Kerajaan ini akhirnya damai kembali. Kini, kau bebas untuk menjalani hidupmu, bukan sebagai prajurit, tapi sebagai manusia biasa yang layak bahagia."
Ardan menunduk perlahan. Dadanya sesak oleh emosi, antara lega, haru, dan rasa kehilangan yang belum ia mengerti.
Tiba-tiba, dunia di sekelilingnya mulai berpendar, mengabur. Sebuah layar transparan muncul di hadapannya seperti notifikasi dari sebuah permainan.
Congratulations, Ardan.
You have finished the quest.
You may live your best life starting now.
Level Up System: DEACTIVATED.
Tulisan itu berkedip sekali, lalu perlahan menghilang… selamanya.
"Tunggu!" seru Ardan. Tangannya mencoba meraih kembali layar itu, namun hanya menyentuh udara kosong. Tak ada balasan. Tak ada sistem. Tak ada lagi misi.
Ia terbangun.
Ardan tersentak dari tidurnya, matanya langsung menyapu sekeliling. Bangku-bangku bandara, koper di samping kaki, suara pengumuman dari speaker menggantikan sorak kemenangan dan suara raja. Ia duduk di ruang tunggu boarding internasional. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 08.27 pagi.
Rombongan Pak Seno, Pak Raka, dan Bu Citra sudah tidak terlihat. Mereka telah pamit setelah mengantar Ardan satu jam sebelumnya. Ia hanya tertidur sebentar, namun mimpi itu terasa seperti satu kehidupan.
Ardan menghela napas panjang. "Quest selesai, ya..." gumamnya lirih, antara lega dan rindu.
Lanjut di kolom komentar ⤵️
29/07/2025
I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 29 – Perpisahan yang Menguatkan
Hari itu langit mendung menggantung, seolah ikut merasakan bahwa momen-momen ini akan segera menjadi kenangan. Kelas terakhir kursus bahasa Inggris berlangsung dengan suasana yang berbeda. Kelas sudah usai, ujian sudah selesai, tidak ada lagi tugas, tidak ada lagi canda tawa yang bebas. Hanya percakapan-percakapan ringan, senyum yang dipaksakan, dan tatapan yang seakan ingin berkata lebih banyak daripada lisan.
“Terima kasih sudah jadi bagian dari kelas ini, kalian semua luar biasa,” ucap Ms. Ria, tutor utama mereka. “Semoga apapun tujuan kalian ke depan, kalian terus belajar dan berkembang.”
Semua murid bertepuk tangan. Kinan berdiri di depan, mengangguk dan menyampaikan pesan singkat. “Meski kursus ini selesai, tapi semoga relasi yang terjalin tetap berjalan. Dan jangan lupa, bahasa adalah jendela dunia… jadi teruslah buka jendelanya.”
Seketika tatapan Ardan dan Kinan bertemu. Mereka saling tersenyum, menyembunyikan rasa getir dalam hati masing-masing.
Selesai kelas, semua peserta kursus berkumpul di depan gedung. Foto bersama, saling bertukar kontak, dan ucapan perpisahan. Dirga menggoda Dila agar tidak menangis. Dila hanya tersenyum kecil dan mencubit lengan Dirga. Namun sorot matanya lebih sering tertuju ke Ardan, yang berdiri tak jauh dari Kinan.
Ardan tak ingin momen ini berlalu begitu saja. Ia menoleh ke Kinan. “Bisa ngobrol sebentar?”
Kinan mengangguk, dan mereka berdua berjalan ke halaman belakang gedung, tempat yang sunyi dan penuh pohon-pohon besar yang biasa menjadi tempat mereka istirahat kala jam istirahat.
“Aku bakal ke luar negeri semester depan,” ucap Ardan tanpa basa-basi.
Kinan terdiam, menatap daun kering yang jatuh di kakinya.
Lanjutan di Kolom Komentar ⤵️
28/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 28 Penyelamat di Balik Layar
Pagi itu, matahari baru menyusup malu-malu di balik awan saat notifikasi dari grup kursus berbunyi. Kinan mengirim pesan singkat.
"Guys, ada yang bisa kontak Dila nggak? Dia sempat izin sakit dua hari lalu, tapi sekarang nggak ada kabar. Aku khawatir."
"Aku ngajar private siang ini, nggak bisa jenguk. Mungkin Dirga bisa?"
Dirga membalas cepat.
"Sorry banget, Miss. Hari ini aku harus ke perusahaan bokap, kelarin laporan CSR kemarin. Tapi kita harus pastikan dia oke. How bout U Ardan?"
Ardan menatap layar ponselnya, lalu menulis pelan.
"Oke, Biar aku aja yang jenguk."
Ardan mengerutkan dahi. Dila memang belakangan terlihat agak murung dan pucat. Ia mencoba menghubungi langsung, tapi hanya centang satu. Instingnya berkata sesuatu tidak baik terjadi.
Tanpa pikir panjang, Ardan melacak alamat yang Dila pernah kirim saat mereka diskusi tugas video—sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, dekat perumahan tua. Ia naik motor, menyusuri jalanan basah dengan degup jantung yang tak biasa.
Sampai di sana, lampu teras rumah menyala redup. Seorang wanita paruh baya membuka pintu saat Ardan mengetuk.
“Apa benar ini rumah Dila?” tanya Ardan sopan.
“Iya, kamu siapa, Nak?” jawab ibu itu dengan lembut namun letih.
“
Saya teman kursusnya, Bu. Nama saya Ardan, Saya dengar Dila sedang sakit?”
Wanita itu mengangguk. “Dila demam sejak dua hari lalu. Dia lagi nggak mau makan. Sepertinya dia kecapekan dan… kaya ada yang dia pikirin.”
Dengan izin sang ibu angkatnya, Ardan masuk. Kamar Dila remang, hanya diterangi lampu belajar yang temaram. Dila terbaring di kasur, selimut membungkus tubuhnya. Matanya terpejam, wajahnya pucat, napasnya pelan.
Lanjut di kolom komentar ⤵
27/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 27: Menembus Batas Zona Nyaman
Matahari pagi baru saja merangkak naik ketika Ardan dan Dirga sudah berada dalam mobil SUV hitam milik keluarga Dirga. Di kursi kemudi, Pak Darmawan — ayah Dirga, seorang pengusaha mapan di bidang konstruksi dan properti — menyapa Ardan dengan senyum tenang namun penuh wibawa.
"Akhirnya bisa ngobrol langsung sama kamu, Ardan," ujar Pak Darmawan. "Dirga banyak cerita soal kamu. Anak muda yang lain daripada yang lain."
Ardan hanya bisa tersenyum kaku. Ini bukan pertemuan biasa. Mereka sedang menuju sebuah desa di pedalaman Jawa Tengah, dalam rangka program CSR tahunan perusahaan milik keluarga Dirga. Tujuannya: membantu membangun fasilitas pendidikan dasar yang layak di daerah terpencil.
Tawaran itu memang mendadak, Dirga cuma bilang rekreasi keluarga, 3 hari 2 malam, untuk mengobati patah hati katanya. Ia setengah memaksa, menjamin kalau Ardan pasti akan menyukainya.
Separuh hati ia akhirnya menyetujui perjalanan itu. Sekolah masih libur, Kursus pun baru lanjut minggu depan, ia sepertinya memang butuh pengalih perhatian dari Kinan yang selalu menghantui pikirannya.
Di perjalanan, Dirga seperti biasa, heboh sendiri dengan playlist lagu rock lama dan jokes receh. Tapi Ardan justru memandangi sawah yang terbentang di luar jendela. Entah kenapa, perjalanan ini terasa... penting.
Sesampainya di desa tujuan, sambutan masyarakat begitu hangat. Anak-anak menyambut mereka dengan senyuman tulus, bahkan beberapa berlarian sambil meneriakkan nama Dirga — yang ternyata sudah pernah ke sana tahun lalu.
Pak Darmawan berdiri di depan warga dan memperkenalkan Ardan. “Ini Ardan, mahasiswa calon pendidik masa depan. Saya ingin kalian kenal dia. Karena saya percaya, membangun bangsa tidak hanya dengan batu dan semen, tapi juga dengan semangat belajar dan keteladanan.”
Ardan tersentak. Ia tak menyangka diperkenalkan sedemikian rupa.
Lanjut di kolom komentar ⤵️
26/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 26: Confession Between Timelines
---
Hujan turun pelan sore itu. Gerimis membentuk pola-pola halus di kaca kantin kecil di pojok ruko. Di dalamnya, hanya ada dua orang yang duduk berhadapan di sudut ruangan dekat jendela. Ardan dan Kinan.
Aroma kopi instan dan gorengan hangat memenuhi udara. Di luar, jalanan masih basah. Tapi di antara mereka, ada percakapan yang belum selesai sejak pertemuan di bengkel beberapa hari lalu.
“Jadi ini kantin legendaris yang katanya wajib buat traktiran?” Ardan membuka percakapan sambil tersenyum.
Kinan tertawa pelan. “Eh, jangan diremehkan. Di sinilah para guru masa depan belajar bertahan hidup,” ujarnya sambil menunjuk daftar menu yang semuanya di bawah dua puluh ribu rupiah.
Mereka tertawa bersama. Untuk sesaat, waktu terasa ringan. Tapi di dalam dada Ardan, ada ketegangan yang belum lepas. Ia tahu, ada sesuatu yang ingin ia katakan. Harus ia katakan.
---
Setelah beberapa menit mengobrol ringan, topik mulai berubah.
“Kamu sendiri,” tanya Kinan sambil menyeruput teh manis panas, “Kenapa sih ikut kursus ini? Bahasa Inggris kamu udah bagus banget.”
Ardan menghela napas. “Awalnya buat persiapan S2. Tapi makin ke sini, aku ngerasa belajar bukan cuma soal akademik… tapi tentang hidup juga.”
Kinan mengangguk pelan. “Hidup ya…”
Ardan menatap Kinan lama. Sinar lampu kantin memantul di matanya. Ada sesuatu yang ingin melompat dari dadanya, tapi ditahan.
“Boleh jujur?” tanya Ardan akhirnya.
Kinan meletakkan gelasnya. “Boleh.”
“Aku nggak tahu sejak kapan… Tapi, aku mulai punya perasaan.”
Kinan terdiam.
“Ke kamu.”
Sunyi. Hanya suara hujan di luar dan gesekan sendok dengan piring yang terdengar dari dapur belakang.
Ardan melanjutkan, pelan tapi tegas, “Aku tahu ini mungkin aneh. Kita ketemu di kelas, kamu instrukturnya, aku murid. Tapi… aku nggak bisa bohong ke diriku sendiri.”
Lanjut di kolom komentar ⤵️
25/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 25: Tanda Tanya di Hati
Suasana kelas sore itu terasa berbeda. Mungkin karena hujan yang mengguyur pelan sejak siang, atau karena atmosfer tak kasat mata yang menyelimuti tiga orang peserta kursus yang mulai terlihat tidak seluwes biasanya.
Ardan duduk di bangkunya, membuka buku latihan tanpa banyak suara. Di hadapannya, Kinan berdiri sambil menjelaskan grammar structure “wish + past perfect” dengan gestur tangan yang biasa ceria, tapi kini terasa agak formal. Senyumnya tetap sama, tapi kontak mata yang biasanya hangat kini lebih singkat. Ardan menyadari itu.
Tidak ada yang terjadi di antara mereka. Tapi ada jarak tipis, nyaris tak terlihat—namun cukup terasa—yang muncul sejak beberapa hari terakhir. Sejak peristiwa motor mogok dan obrolan kecil itu di bengkel.
“Next, Dirga,” kata Kinan.
Dirga, yang duduk di sebelah Ardan, segera berdiri dan menjawab dengan semangat. “I wish I had studied harder so I could impress Ms. Kinan,” katanya, menatap Kinan sambil tertawa lepas.
Kinan mengangkat alis dan tertawa kecil. “You’re improving, Dirga. Though your grammar was correct, your intention is still suspicious,” katanya setengah menggoda.
Kelas tertawa pelan, termasuk Ardan. Tapi tawanya tidak selepas biasanya.
Dirga mencolek bahu Ardan. “Bro, giliran lo. Bikin kalimat pake wish tapi jangan pake ‘had met Kinan sooner’, nanti dikira copy-paste,” bisiknya dengan suara cukup keras untuk membuat Dila yang duduk dua kursi di belakang ikut mendengar dan pura-pura tidak dengar.
Ardan menatap Dirga sekilas, tersenyum kecut. “I wish I had practiced more, so I wouldn’t feel this awkward,” katanya, pelan tapi terdengar jelas.
Kinan mengangguk, mencatat. “That’s a good sentence,” ujarnya, sopan.
---
Setelah sesi kelas usai, sebagian peserta langsung keluar. Ardan masih duduk membereskan buku-bukunya dengan pelan. Saat ia bangkit, terdengar suara pelan perempuan di sampingnya.
“Eh, hmm, Mas Ardan…”
Lanjut di kolom komentar ⤵️
24/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 24 - Tanda-Tanda yang Tak Terbaca
Senin pagi. Pekan kedua kursus Bahasa Inggris.
Matahari menyelinap malu-malu di balik awan mendung. Gedung kursus tampak lengang, belum terlalu ramai. Ardan duduk di tangga depan ruangan kelas, membuka catatan sambil sesekali melirik jam tangan. Jam tiga kurang lima. Masih sepi.
Tak lama kemudian, suara motor menderu mendekat.
“Kamu datang lebih awal juga ternyata,” sapa Kinan, turun dari motornya dengan senyum cerah seperti biasa. Ia memeluk dua buku tebal di dadanya.
Ardan berdiri, tersenyum gugup. “Biasanya aku datang telat, tapi entah kenapa hari ini lagi semangat.”
“Semangat karena materi grammar?” Kinan tertawa ringan.
“Semangat karena… pengajarnya,” ucap Ardan lirih, tapi Kinan tak mendengarnya karena sudah melangkah masuk sambil berbasa-basi.
Di dalam kelas, suasana terasa seperti biasa—tenang, sedikit canggung. Tapi sesuatu terasa berubah dalam diri Ardan. Ia menjadi lebih sadar terhadap detail kecil. Bagaimana Kinan tertawa. Bagaimana ia menanggapi setiap pertanyaan siswa dengan sabar. Bahkan caranya memperbaiki letak jilbabnya di cermin kecil di ujung kelas.
Namun, perhatian Ardan terusik oleh satu hal: Dirga.
Sejak minggu kedua ini, Dirga tampak semakin akrab dengan Kinan. Mereka sering bercanda sebelum kelas dimulai, bahkan pernah kedapatan makan siang bareng di warung dekat kursus. Dirga memang pandai membuat suasana cair. Ia ceplas-ceplos, tak kenal sungkan. Dan Kinan, sebagai pribadi yang ramah dan terbuka, menanggapinya dengan mudah.
Bagi Ardan, itu cukup untuk menimbulkan bara kecil di dadanya.
Siang itu, saat istirahat kelas, Ardan memutuskan untuk menyendiri di balkon lantai dua. Dari atas, ia bisa melihat tempat parkir kecil dan jalanan yang ramai. Suara tawa Dirga dan Kinan yang sayup terdengar dari bawah, menusuk hatinya pelan-pelan.
“Kenapa aku cemburu?” gumamnya sendiri. “Bukankah itu cuma hal biasa? Mereka seumuran. Wajar akrab…”
Lanjut di kolom komentar ⤵️
23/07/2025
"I Am Leveling Up Every Day in the New-rmal World"
No magic, no monsters. Just real life—with stats, skills, and a second chance.
Chapter 23 — The Language of Connection
Suasana kelas sore itu jauh lebih hidup daripada biasanya. Ms. Kinan membuka sesi dengan ice-breaking singkat—permainan tebak gambar dalam bahasa Inggris. Dirga langsung mengangkat tangan, antusias. Dila memilih diam, memandangi layar sambil sesekali mencatat. Ardan... berusaha fokus. Tapi matanya, telinganya, pikirannya—seringkali kembali ke sosok Kinan yang menjelaskan dengan gerak tubuh yang luwes dan senyum yang hangat.
"You're up next, Ardan," ucap Kinan sambil menunjuknya.
Ardan berdiri, menggambar sesuatu di papan tulis. Tangannya agak gemetar, tapi ia bisa mengendalikan diri.
"Coffee?" jawab Dirga cepat.
"Yup!" Ardan mengangguk. Dirga mengangkat tangan untuk toss dan Ardan menyambutnya.
Kelas sore itu selesai dengan sesi roleplay. Ardan berpasangan dengan Dila. Dila agak gugup, tapi bisa mengikuti. Setelah selesai, Dila mengangguk kecil.
"Thanks, mas Ardan..." ucapnya pelan.
"Yup anytime, thanks juga tadi sudah jadi temen conversation yang baik," Ardan membalas sambil tersenyum. Dila menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.
Seusai kelas, Dirga menarik Ardan ke minimarket depan tempat kursus.
"Bro, kayanya lo cocok jadi konten kreator edukasi deh. Sumpah, tadi waktu lo bantu Dila, kelihatan banget lo sabar dan ngerti cara ngajarin."
Ardan hanya tersenyum. "Thanks, Ga. Lo juga asik banget tadi di kelas, semuanya jadi ikutan aktif gitu."
Dirga membuka botol minumannya. "Gue anaknya emang nggak bisa diem. Tapi jujur ya... gue tuh disuruh bokap buat kursus ini. Biar siap kuliah bisnis ke luar negeri, terus lanjutin perusahaan bokap gue. Padahal..." Ia menghela napas. "Gue pengen jadi atlet dan punya bisnis kopi sendiri."
Ardan menatapnya. "Lo kan masih muda. Bisa aja jalanin dua-duanya. Nanti juga ketemu mana yang lebih asik, jangan-jangan jadi bos di perusahaan bokap lebih asik"
Lanjut di kolom komentar ⤵️