Pesantren Alhamidiyah
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pesantren Alhamidiyah, Religious school, Jalan Sawangan Raya Km 2/12 RT 005/04, Depok.
Pesantren Al-Hamidiyah didirikan pada tanggal 17 Juli 1988 oleh KH Achmad Sjaichu untuk mewujudkan cita-cita luhurnya mengembangkan dunia pendidikan dan dakwah Islamiah melalui pesantren.
”PENINGKATAN MUTU PENYELENGGARAAN PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM SWASTA”
Orasi Ilmiah: Disampaikan pada acara Wisuda Sarjana ke- VIII
STAI Al-Hamidiyah, Kamis 28 Nopember 2013
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Yth. Ketua STAI Al-Hamidiyah, Drs.Choliluddin AS, MA;
Yth. Ketua Yayasan Al-Hamidiyah;
Yth, Anggota Senat, Dosen dan Civitas Academika STAI Al-Hamidiyah;
Yth. Orang tua/pendamping wisudawan/wati; dan yang paling berbahagia para wisudawan/wati.
Alhamdulillah, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampaikan orasi ilmiah dengan judul: “Peningkatan Mutu Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta”. Judul ini merupakan pendalaman/modifikasi dari judul yang diberikan oleh panitia kepada saya, yaitu “Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi di Era Globalisasi”.
Hadirin yang terhormat.
Keberadaan Perguruan Tinggi, secara umum dan PTAIS secara khusus, saat ini, tidak dapat lagi menutup diri dari perubahan-perubahan paradigma dan visi tentang pengembangan pendidikan tinggi, baik secara nasional ke Indonesiaan maupun secara internasional, global. Paradigma baru pengembangan perguruan tinggi abad ini, telah dirumuskan oleh UNESCO, diantaranya:
Pertama, misi utama perguruan tinggi adalah memberikan kontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Intinya disini perguruan tinggi diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat kini dan mendatang.
Kedua, memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan, seumur tinggi.
Ketiga, menciptakan, memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelian (riset) untuk membantu masyarakat umum dalam mengembangkan ekonomi, sosial dan budaya.
Keempat, membantu untuk menafsirkan, mengembangkan dan memelihara budaya nasional, regional daninternasional dalam semangat pluralisme.
Kelima, membantu memperkuat nilai-nilai sosial dan nilai-nilai demokratis kepada generasi muda.
Hadirin yang terhormat.
Kementrian pendidikan dan kebudayaan, dalaam rangka memberikan respon terhadap paradigma baru pendidikan tinggi secara nasional maupun global, merumuskannya menjadi tiga hal.
Pertama, memberikan otonomi yang luas kepada perguruan tinggi secara manajerial dan penentuan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, dunia kerja.
Kedua, akuntabilitas (greater accountability). Disini perguruan bukan hanya mempertanggung-jawabkan sumber-sumber keuangan, akan tetapi juga pengembangan keilmuan dan program penyelenggaraan pendidikan.
Ketiga, jaminan peningkatan mutu (greater quality assurance). Masalah jaminan mutu ini dilakukan melalui evaluasi secara internal dan eksternal. Sekarang ini dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Melalui hal yang ketiga ini yaitu penyelenggaraan perguruan tinggi yang bermutu, diharapkan perguruan tinggi di Indonesia mampu bersaing pada tingkat regional dan internasional, karena dia memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Oleh sebab itu tugas penyelenggara pendidikan sekarang adalah melahirkan perguruan tinggi yang bermutu, menghadapi AFTA 2015.
Hadirin yang terhormat.
Parameter mutu.
Paling tidak ada dua parameter yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melihat mutu dan kemampuan operasional PTAIS di bawah Koordinator Wilayah I DKI Jakarta.
Pertama, adalah Keputusan Menteri Agama RI Nomor: 394 Tahun 2003, tentang Pedoman Pendirian perguruan Tinggi Agama, dan;
Kedua, Peraturan Mendiknas Nomor 28 Tahun 2005 tentang BAN-PT.
Tentu saja suatu perguruan tinggi dipandang bermutu, manakala memenuhi standar-standar mutu yang ditetapkan oleh kedua institusi tersebut.
Kemenag, misalnya menetapkan standar mutu penyelenggaraan perguruan tinggi pada enam aspek penilaian, yaitu:
Aspek manajemen akademik, mencakup: rencana pengembangan, manajemen sumberdaya manusia, manjemen mutu, akademik dan dukungan kerjasama;
Aspek pendanaan, meliputi: kebutuhan dana investasi, kebutuhan dana operasional, penerimaan internal, dan penerimaan eksternal;
Aspek tenaga pendidik, mencakup kompetensi dosen dan kecukupan dosen;
Aspek kurikulum program studi, meliputi: kualifikasi kompetensi lulusan yang diharapkan, peta kurikulum, dan rujukan program yang digunakan;
Aspek sarana dan prasarana, yaitu: ketersediaan ruang kuliah, ruang dosen, ruang seminar, laboratorium, perpustakaan, fasilitas komputerisasi, fasilitas teknologi informasi, dan fasilitas lain pendukung penyelenggaraan pendidikan.
BAN-PT juga menerapkan sejumlah standar dan kriteria penilaian dalam menetapkan mutu suatu perguruan tinggi, yaitu pada tujuh komponen aspek penilaian.
Pertama, komponen visi, misi, tujuan dan sasaran serta strategi pencapaian.
Penilaian diarahkan pada kejelasan, ke realistis-an dan strategi pencapaiannya serta efektivitas sosialisasinya pada civitas akademika.
Kedua, komponen tata pamong, kepemimpinan, sistim pengelolaan, dan penjaminan mutu. Penilaian ditujukan pada terwujudnya tata pamong dan kepemimpinan yang efektif, pelaksanaan penjaminan mutu dan menjamin keberlanjutan program studi.
Ketiga, komponen Mahasiswa dan lulusan, aspek yang dinilai mencakup: sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru, rasio mahasiswa reguler dan transfer, rata-rata masa studi lulusan, IPK dan peningkatan mutu lulusan.
Komponen keempat, Sumber Daya Manusia, aspek penilaian mencakup: kecukupan dan kualifikasi dosen tetap, upaya pengembangan dan peningkatan mutu dosen, dan dosen yang memperoleh gelar tambahan.
Komponen kelima, kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, aspek penilaian mencakup: Peran sekolah tinggi dalam pengembangan kurikulum, melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran dan peran sekolah tinggi dalam menciptakan suasana akademik yang kondusif.
Komponen keenam, pembiayaan, sarana dan prasarana serta sistem informasi. Aspek yang dinilai meliputi: sumber dana dan kecukupan dana sekolah tinggi, upaya pengembangan dana, investasi untuk pengadaan sarana dan prasarana.
Komponen ketujuh, Penelitian, pengabdian masyarakat dan kerjasama. Aspek yang dinilai meliputi: jumlah kegiatan penelitian dosen, besarnya dana penelitian, pengembangan kegiatan penelitian, besarnya dana untuk kegiatan pengabdian masyarakat, upaya pengembangannya, serta jumlah dan mutu kerjasama dengan instansi lain.
Hadirin yang terhormat.
Inilah standar penilaian yang ditetapkan oleh BAN-PT untuk menentukan tingkat mutu suatu perguruan tinggi atau program studi.
Semakin tinggi skor yang dimiliki suatu perguruan tinggi, maka dipandang semakin bermutu perguruan tinggi tersebut.
Dan begitu p**a sebaliknya, semakin rendah skor yang didapati oleh suatu perguruan tinggi, maka semakin rendah p**a mutu perguruan tinggi tersebut.
Adapun skor, peringkat akreditasi dan sebutannya dinyatakan sebagai berikut:
Interval skor:
360 < 400, peringkat akreditasinya A, dengan sebutan sangat baik,
300 < 360, peringkat akreditasinya B, dengan sebutan baik,
200 < 300, peringkat akreditasinya C, dengan sebutan cukup,
Sedangkan skor dibawah 200, tidak terakreditasi.
Berdasarkan standar mutu yang ditetapkan tersebut, kita dapat mengelompokan posisi mutu perguruan tinggi agama Islam pada tiga kategori (peringkat), yaitu:
1. Kategori I (Pertama), PTAIS yang memiliki potensi dan peluang besar dalam memenuhi persyaratan formal untuk pendirian dan penilaian PTAIS. Mempunyai prospek yang cukup cerah, hal ini disebabkan karena sudah mempunyai nama besar juga mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.
2. Kategori II (Kedua), PTAIS yang memiliki potensi dan peluang sedang dalam memenuhi persyaratan formal dalam pendirian dan penilaian. PTAIS ini, dilihat dari segi dukungan lingkungan, hanya cukup untuk bertahan hidup, tidak dapat memacu perkembangan. PTAIS semacam ini adalah yang terbanyak.
3. Kategori III (Ketiga), adalah PTAIS yang memiliki potensi kecil dalam memenuhi persyaratan dan penilaian. Jika dilihat dari segi dukungan yang dimiliki PTAIS ini, cukup sulit untuk dapat bertahan, bahkan untuk membayar gaji tenaga yang dimilikinya pun sangat sulit.
Langkah-langkah yang dilakukan PTAIS:
Berupaya memenuhi sarana untuk penyelenggaraan proses belajar-mengajar dan kebutuhan fisik lainnya;
Berupaya memenuhi persyaratan formal yang harus ada dalam penyelenggaraan PT.
Menjaga stabilitas kelembagaan dalam menghadapi berbagai goncangan;
---0---
DIALOG BUYA HAMKA DENGAN PENGHUNI GAIB RUMAHNYA
Jumat, 31 Januari 2014, 21:35 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bercerita hal mistis dalam buku terbarunya, "Selalu Ada Pilihan". Tulisan hal mistis ini memunculkan kehebohan karena media asing membicarakan kepercayaan seorang Presiden akan hal-hal yang berbau klenik.
Sebenarnya bukan hanya Presiden SBY yang pernah mengalami peristiwa mistis. Cerita serupa pun pernah dialami oleh almarhum Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Cerita mistis yang dialami oleh Buya HAMKA ini diceritakan kembali oleh Irfan Hamka melalui novel yang berjudul: "Ayah...Kisah Buya Hamka".
Kisah ini tertulis dalam novel, halaman 59 s/d 78, Bab Tiga, "Ayah Berdamai dengan Jin". Dituliskan, pada 1956, Buya Hamka dan seluruh keluarganya tinggal di rumah baru, tepatnya di Jalan Raden Fatah III, Kebayoran Baru, Jakarta.
Di rumah baru itu, Buya Hamka sekeluarga sempat mengalami gangguan dari mahluk ghoib. Singkat cerita, karena sering mengalami gangguan oleh mahluk ghoib, akhirnya Buya Hamka mengajak seluruh keluarganya sholat sunnah dua rakaat, berdo'a kepada Allah SWT dan berdialog dengan mahluk ghoib itu.
"Besok malam kita coba menghubungi pemilik bunyi sesuatu itu," ujar Buya Hamka kepada keluarganya.
Lalu pukul 23.00 malam, Buya Hamka mengajak anak-anaknya sudah bersiap. "Ayah mengajak abang-abangku untuk mengerjakan shalat sunah dua rakat. Setelah itu, terdengar ayah berdzikir, diikuti oleh semua yang hadir. Setelah berdzikir, terlihat mulut Ayah terus komat-kamit," tulis Irfan Hamka dalam novelnya, halaman 67.
Menjelang pukul 12 malam, lanjut Irfan Hamka, tiba-tiba terdengr suara cecak berbunyi bersahut-sahutan. Terdengarnya dari seluruh sudut rumah.
Di kejauhan, dari arah depan rumah, terdengar suara ketukan seperti suara benda keras beradu dengan batu kerikil yang terdapat di sekeliling rumah. Mula-mula suaranya lemah, berangsur-angsur suara itu tambah nyaring, tutur Irfan Hamka.
"Assalammu'alaikum, ya Abdillah, kami sengaja menunggu kehadiran Saudara untuk berkenalan. Bisa saudara mendengarnya? Bila bisa, tolong beri tanda tiga kali ketukan!," seru Buya Hamka dengan suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.
Baru saja Ayah selesai bicara, terdengar tiga kali ketukan. "Tok-Tok-Tok," terdengar suara ghaib yang tak berbentuk namun terdengar seperti ketukan tongkat itu.
"Saya bangun rumah ini dengan susah payah dari hasil kerja keras dan keringat. Tidak mungkin saya tinggalkan rumah ini hanya karena sering saudara ganggu dan takut-takuti keluarga saya. Kalau memang itu maksud Saudara, coba beri tanda lagi dengan suara ketukan satu kali, kalau bukan, beri tanda dua kali ketukan," tutur Buya Hamka melanjutkan permintaannya.
Setelah agak lama tidak ada jawaban, suasana rumah pun semakin hening menunggu jawaban dari "suara gaib" itu. "Kalau ingin menakuti keluarga saya, saya sanggup mengusir saudara dari rumah saya," kata Buya Hamka dalam tulisan Irfan Hamka.
"Tok, Tok," terdengar "suara ghaib" berupa ketukan dua kali. sebagai jawabannya.
"Saya tidak mau melupakan kehendak Allah, karena kami sekeluarga beriman kepada Allah. Apa saudara beriman juga kepada Allah? Beri jawaban dengan ketukan satu kali," ujar Buya HAMKA melanjutkan permintaannya.
"Tok," terdengar suara ketukan satu kali.
"Senang Saudara tinggal di rumah ini? Kalau tidak, tidak usah dijawab. Kalau senang, ketuk satu kali," lanjut Buya HAMKA.
"Tok," suara ghaib itu terdengar kembali.
"Mari kita diami rumah ini bersama-sama, saling menghormati. Saya telah serahkan keamanan rumah dan keluarga saya kepada Allah semata-mata. Tolong diamati dan diperhatikan. Setuju?," tutur Buya HAMKA lagi.
Setelah itu, terdengar kembali ketukan tiga kali, "Tok, Tok, Tok," tulis Irfan Hamka. Kemudian, Buya HAMKA pun mengajak seluruh keluarganya untuk berdoka kepada Allah SWT.
SIKAP SPIRITUAL HADAPI BENCANA
Potensi sumber daya air Indonesia adalah terbesar kelima di dunia.
Kondisi ini jika dikelola dengan baik akan mengantarkan Indonesia sebagai negara makmur air yang menyejahterakan. Faktanya air justru menjadi dilema dan momok yang mendatangkan bencana. Bencana kekeringan hadir pada setiap kemarau dan banjir selalu menyapa setiap penghujan.
BNPB (2013) melaporkan bencana hidrometeorologi terbesar sejak tahun 1815 sampai tahun 2012 adalah banjir dengan 18.615 korban dari 4.291 kejadian.
BMKG memprediksikan bahwa puncak musim penghujan adalah Desember 2013 hingga Februari 2014. Pada kurun waktu itu banjir akan menghantui nusantara. Terbukti banjir sudah dan sedang melanda banyak wilayah, seperti Manado, Jakarta, Pantura, tepi Bengawan Solo, dan banyak lagi. Tanah longsor juga baru saja terjadi di Kudus dan menewaskan 12 orang. Penyikapan terhadap banjir tidak hanya memerlukan upaya teknik-teknokratik. Psikologis masyarakat penting dikelola agar meyikapi banjir secara bijak sehingga tidak menimbulkan efek negatif.
Dahaga Spiritual
Giddens (2001) menungkapkan “Era kehidupan seperti yang kita jalani sekarang tidak pelak lagi akan memunculkan kebangkitan agama dan berbagai filsafat zaman baru, yang berbalik menyerang pandangan ilmiah”. Realitas menunjukkan semakin modern kehidupan, semakin banyak kerusakan dan permasalahan pelik.
Peradaban materialisme sekarang tidak dapat lagi dipertahankan sehingga akan lahirlah pandangan baru yang akan mendasari peradaban zaman selanjutnya, yaitu agama dam filsafat kehidupan kontemporer.
Ruh spiritual sebagai pegangan fundamental tidak hanya direalisasikan dalam pola hubungan vertikal dengan Tuhan. Spiritualisme mesti dilaksanakan secara horisontal dengan semua makhluk dan alam semesta. Agama-agama besar terbukti tidak hanya membentuk dan menumbuhkan, tetapi menurut Christopher Dawson (dalam Husaini, 2001) juga menjadi fondasi bertahannya peradaban besar, seperti Yunani, Romawi, dan Islam.
Al-Qardhawi (2002) menegaskan bahwa permasalahan lingkungan pada dasarnya merupakan persoalan moralitas sehingga solusi efektifnya adalah dengan revitalisasi nilai-nilai moral, keadilan, keramahan, dan sebagainya.
Spiritualisme hadir sebagai oase bagi dahaga moralitas manusia modern. Tesis tersebut semakin menguatkan argumentasi untuk menempatkan agama sebagai landasan fundamental dalam pengelolaan lingkungan atau disebut ekospiritualisme.
Manusia dituntut mampu belajar mengambil hikmah sekaligus membaca dinamika lingkungan (reading the words, reading the world). Hal itu dapat dilakoni jika manusia mampu menjadi ulil albab (manusia pemikir) yang senantiasa membaca (iqra’) atas segala kejadian.
Disinilah titik penting perlunya ummat muslim melek atau memiliki kecerdasan ekospiritual (Ecospiritual Quotient). Yaitu kemampuan berselaras dan menjaga alam lingkungannya dengan motivasi dan aksi berbasiskan nilai spiritual Islam.
Aspek lingkungan mestilah ditempatkan sejajar dengan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lainnya dalam ibadah kontekstual.
Ekospiritualisme dikenal dalam ajaran berbagai agama (Ling, 1994). Ajaran Islam mewajibkan umatnya membina hubungan baik dengan lingkungan. Ajaran Taoisme menekankan konsep keselarasan dan kesempurnaan alam dalam memandang manusia dan alam sebagai suatu kesatuan. Hindu mengajarkan alam sebagai penjara manusia dapat dikalahkan melalui pengetahuan tentang struktur alam. Nasrani juga menekankan ajarannya sebagai cinta kasih dalam berinteraksi, termasuk dengan lingkungannya.
Manusia cenderung dominan mengintervensi keseimbangan alam secara lebih eksploitatif.
Islam telah memperingatkan akan implikasi yang dirasakan dari diabaikannya pengelolaan alam yang arif dan berkelanjutan (QS ar-Rum: 41). Banjir, tanah longsor, kekeringan, merosotnya cadangan bahan tambang. dan fenomena lainnya merupakan harga yang harus ditebus akibat tindakan manusia.
Refleksi Ekospiritualisme
Islam menunjukkan khazanah intelektual yang aplikatif dalam segala hal, termasuk konservasi sumber daya air. Islam menyuguhkan konsepsi konservasi sumber daya air untuk mewujudkan keseimbangan input-output, sekarang mendatang, serta ketersediaanya di seluruh penjuru bumi.
Sejarah mencatat bagaimana peradaban Islam membuktikannya. Misalnya, ketika Umar bin Khattab RA menyikapi kondisi masyarakat Arab yang kehausan karena tidak mampu membeli air yang dimonopoli seorang Yahudi.
Kesadaran religi dan kecerdasannya menjawab melalui strategi bertahap sampai akhirnya bisa membeli dan menyumbangkan seluruhnya secara gratis kepada masyarakat.
Pemanfaatan sumber daya air mesti sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
Air juga perlu diperhatikan keterjangkauan dan kelestariannya. Kedua tuntutan itu merupakan aplikasi prinsip keadilan dalam pengelolaan sumber daya air.
Sumber daya air haruslah menjangkau seluruh manusia, tanpa pandang bulu dan domisili.
Keadilan berupa pemerataan pelayanan merupakan kunci yang harus diperhatikan otoritas manapun dalam pengelolaan sumber daya air.
Islam memandang bahwa air merupakan nikmat Sang Pencipta.
Konskuensi logisnya adalah bersyukur dengan terus menjaga kelestarian dan keberlanjutannya untuk generasi mendatang.
Sikap dermawan, kasih sayang, mengutamakan orang lain, dan lainnya merupakan etika yang ditekankan.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa setelah mati, seluruh amal manusia otomatis terputus, kecuali tiga hal, anak saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah.
Anak saleh dapat berarti sadar lingkungan, ilmu bermanfaat dengan mendakwahkan ajaran Islam ramah lingkungan, serta amal jariyah dengan upaya konkret agar keturunan kita mampu menikmati sumber daya alam.
Penyebab banjir bukanlah hujan (God error), melainkan perbuatan manusia yang merusak keseimbangan lingkungan (human and social error). Islam memandang hujan sebagai rahmat.
“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya”. (QS. Al Mukminun[23] :18). Allah SWT sesungguhnya menurunkan hujan dengan ukuran. Al Imam Al Suyuthi dalam kitab tafsir al-Jalalain memberikan tafsiran “dengan ukuran” yaitu yang sesuai dengan kecukupan dan dan kemaslahatan (penghuni alam semesta).
"Kebaikan yang tidak terorganisasi akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi,"demikian Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA memberi nasihat.
Bentuk-bentuk eksploitasi lingkungan yang merusak sumber daya air telah menjadi jaringan yang cukup rapi dan sistematis, baik melalui persekongkolan politik, sekutu invasi budaya, maupun lainnya. Lihat misalnya malapraktek pembangunan di perkotaan yang dikuasi pemodal besar serta pertambangan yang tidak ramah lingkungan juga banyak dilakukan perusahaan multinasional. Keduanya telah menimbulkan konversi lahan yang salah satu efek besarnya adalah bencana banjir di setiap musim penghujan.
Umat penting disadarkan dengan sentuhan spiritual bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bukti keimanan. Pembangunan mesti dilaksanakan secara ramah lingkungan. Allah SWT dalam Q.S Ar-Rum (41) memberikan informasi bahwa kerusakan bumi sejatinya karena ulahmanusia dan diperingatkan dengan kalimat “agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Kembali disini mengisyaratkan untuk menjalani kehidupan yang sadar etika lingkungan serta pandai memahami keseimbangan dalam ayat-ayat kauniyah (alam) sebagai wujud kembali kepada kebenaran.
Diposkan 6 days ago oleh Ribut Lupiyanto
DO’A KEHILANGAN
Rasul SAW mengajarkan Doa Kehilangan : "Allahumma ajirniy fii mushiibaty, wa akhlif Lii Khairan Minhaa" (SHahih Muslim)
(Wahai Allah Berilah aku pahala dari kehilanganku ini dan gantikan aku dengan yang lebih baik darinya"
Doa ini barangsiapa membacanya berulang ulang saat terkena musibah atau kehilangan, maka Allah akan mengembalikan barangnya, atau Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Seorang teman saya pernah kehilangan HP komunikatornya di Taxi, ia kerahkan beberapa orang mencari taxi itu tapi tak diketemukan, sedangkan data data penting di komunikator itu sangat banyak, maka saya ajarkan untuk amalkan doa itu, dan beberapa hari kemudian sopir taxi itu menelpon dan minta sedikit uang saja sebagai upah untuk hp komunikator itu, padahal jika ia menjualnya akan sangat mahal.
Dan jika tidak kembali maka ALLAH SWT akan menggantinya dg yg lebih baik, seorang saudara kita pernah kecelakaan tabrakan mobilnya, mobil yg cukup mewah itu hancur total, ia mengamalkan doa ini, maka tak beberapa bulan kemudian ia mendapat keluasan hingga dapat membeli mobil yg lebih mewah dari yg hancur tsb dengan harga yg murah.
Demikian Mukjizat Nabi SAW yg muncul pada sunnah beliau SAW.
Subhanallah....
BERKAH SHALAWAT; DARJO KULI KASAR YANG UTUH JASADNYA
Minggu, 16 Februari 2014 13:43
Waktu mondok saya mondok di Kedung Paruk Purwokerto. DISANA ADA TUKANG KULI ANGKUT BERNAMA DARJO, PEKERJA KASAR, ADA BERAS YA NGANGKUT BERAS. Biasa setelah salat subuh tidur sebentar jam 7 keluar kerja kepasar. PAK DARJO PEKERJA KASAR WAFAT. SETELAH 9 TAHUN ANAKNYA KEMUDIAN WAFAT. Maksudnya karena tempatnya sempit, ditempat pemakaman itu banyak orang saleh seperti ayahya Mbah Kiai Abdul Malik yaitu Kiai Ilyas.
AKHIRNYA KUBURAN PAK DARJO MAU DIBONGKAR, TERNYATA KAIN KAPANNYA MASIH UTUH, WANGI LUAR BIASA SEPERTI BARU DIMAKAMKAN BEBERAPA JAM.
Setelah kejadian itu saya menghadap ke guru saya Mbah Kiai Abdul Malik. Mbah Kiai Abdul Malik sedang duduk santai didepan rumah, tersenyum melihat kedatangan saya. Tiba-tiba mbah Malik bilang, pie Darjo mayite isih utuh; Darjo mayitnya masih utuh? Belum bicara Mbah Malik sudah menjelaskan. KATA BELIAU, DARJO KUI WONG AHLI SHALAWAT ORA TAHU TINGGAL SHALAWAT, TIAP BENGI DURUNG TURU SADURUNGE MOCO SHALAWAT 16.000. Darjo itu istiqamah tiap malam tidak pernah meninggalkan membaca shalawat, sebelum membaca shalawat 16.000 Darjo tidak akan tidur. Shalawatnya Allahumma shali ala Muhammad, Allahumma Shali ala Muhammad. Lahirnya kuli kasar ternyata Pak Darjo temasuk orang saleh.
Kita yang tidak harus 16.000, minimal 300 saja setiap malam sudah bagus.
SIAPA YANG MEMBACA SHALAWAT TIAP HARI BUAT KELUARGA DAN PUTRA-PUTRINYA TIAP MALAM 300 KALI, INSYA ALLAH PUTRA-PUTRINYA AKAN DIBERKAHI, DAN JIKA NAKAL SENAKAL APAPUN ANAKNYA, PADA WAKTUNYA AKAN MENJADI BAIK. INSYA ALLAH.
Maulana Habib Lutfi bin Yahya berpesan. (Tsi)
KEAGUNGAN NABI MUHAMMAD SAW
Dalam Alqur’an, tidak ada seorang nabi yang dipuji begitu tinggi melebihi Nabi Muhammad SAW.
Dalam satu ayat, Nabi disebut sebagai teladan yang baik (uswah hasanah), yakni tokoh identifikasi atau dalam bahasa sekarang dinamakan role model (QS Al-Ahzab {33}:29).
Dalam ayat yang lain, tidak tanggung –tanggung Allah SWT menyebut Baginda Rasul sebagai manusia dengan pribadi yang benar-benar agung (QS Al-Qolam {68}: 4). Mungkin ada yang bertanya, dari mana keagungan itu dicapai oleh Nabi?.
Keterangan dalam Alqur’an surah Al-An’am bisa menjadi kunci jawabannya. Dalam surah ini, diceritakan nabi-nabi terdahulu, mulai dari Nuh, Ibrahim, Ya’qub, Yusuf, dan lain-lain.
Pendeknya, ada 18 nabi dikemukakan di situ.
Pada ayat ke-90, setelah cerita nabi-nabi itu, lalu Allah menegaskan, “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”.(QS Al-An’am {6}: 9).
Para nabi dan rasul itu adalah mereka yang mendapat bimbingan dari Allah.
Mereka dengan keistimewaan masing-masing tak ubahnya bintang-bintang yang menerangi dan mencerahkan alam dan kehidupan. Nabi Muhammad SAW sebagai pamungkas para nabi, diperintahkan oleh Allah agar mengikuti dan meneladani mereka.
“Maka, ikutilah petunjuk mereka,”firman-Nya. Jadi, Baginda Rasul mewarisi kemuliaan dan keistimewaan nabi-nabi terdahulu sehingga membentuk akumulasi keagungan yang benar-benar agung.
Abbas Mahmud Aqqad dalam “‘Alqariyyatu Muhammad “, menilai keagungan Nabi SAW itu benar-benar sempurna karena terjadi dalam segala ukuran, baik menurut ukuran agama, ilmu pengetahuan, maupun ukuran kehalusan rasa dan keluhuran budi pekerti.
Bahkan, keagungan Nabi diakui oleh orang-orang yang berbeda agama. Jadi, keagungan Nabi diafirmasi bukan hanya oleh sahabat dan para pengikutnya, melainkan juga oleh lawan dan orang-orang yang memusuhinya.
Pada bagian akhir bukunya, Aqqad kembali menunjukkan keagungan Baginda Rasul dengan menjelaskan beberapa karakter atau kualitas yang menjadi kekuatannya.
Aqqad menyebutnya “al-thba’i ‘al-Arba” (empat karakter) yang amat menonjol pada diri Nabi SAW, yaitu: Karakter Ibadah; Karakter Berpikir;Karakter Berkomunikasi; dan Karakter Kerja & Berjuang.
Empat Karakter itu diakui Aqqad jarang menyatu pada diri seorang.
Keagungan Nabi tampak nyata dan memperoleh dukungan amat kuat, baik dalam Alqur’an maupun dalam sejarah, sehingga tak seorang pun dapat menyangkalnya. Sampai-sampai filsuf Muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal, pernah berkata, “Orang boleh jadi tidak percaya kepada Tuhan, tetapi ia tak mungkin ingkar kepada keberadaan dan kebesaran Nabi Muhammad SAW” Wallahu a’lam.
Kolom Hikmah Republika oleh A.Ilyas Ismail.
PADA HARI INI,
KEPADA-NYA KITA MENADAHKAN TANGAN
MEMOHON AGAR,
SEUTUH PRIBADI KEMBALI DALAM FITRI
SETELAH SEBULAN PENUH MENCUCI DIRI
PADA HARI INI,
KEPADA SESAMA INSAN
KITA SALING MENGULURKAN TANGAN
BERSATU HARAPAN,
PULIHNYA NURANI SEPENUH HATI
TERBILAS LIMPAHAN MAAF
MINAL A'IDIEN WAL FAIZIEN
TAQABBAALLAHU MINA WA MINKUM
SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM
SELAMAT IDUL FITRI 1434 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Kami sekeluarga:
HRP.Hadi Tjahjono S.
Hj.Rachmawati Sjaichu (Almh)
R.Muh.Nur Abdul Hadi S.(Reza) - Asti Komala
R.Muh.Iman Sasraningrat - Ainur Rizzkiya
R.Muh.Ihsan Sasraningrat
R.Muh Iqbal Sasraningrat
Jl.Mandar 19.Blok DF 5 no. 5
Bintaro Jaya Sektor 3 A
Jakarta Selatan ^_^
KUTIPAN RENUNGAN KH.E.Z. MUTTAQIEN: ANAK2KU... Ada kehawatiran besar setiap orang tua, di saat tua, disaat daya melemah, di saat anak2nya semakin sibuk... KESENJANGAN.... Diawali dari merenggangnya komunikasi, terjadinya perbedaan alam pikir yang menjauh dan sulitnya saling memahami... Yang mungkin sekarang belum terbayang oleh orang tua kalian semua, tapi itu akan terjadi... KELAK pada saat nya kami hanya bisa berdoa dan berlinang air mata.... Mengiringi semua kekhawatiran yang menyelimuti hati kami.... Yang kami khawatirkan adalah keselamatan kalian juga syakaratul maut kami... "Akan adakah anak- anak tercinta menggumamkan kalimat talkin mengiringi perjalanan kami p**ang keharibaanNya dalam syakaratul maut?" SAAT INI kami sangat ingin komunikasi kita berjalan mesra, ramah penuh penuh rindu... Kami berharap komunikasi kita membuat kita saling faham..... Kita akan saling tengok dan berkunjung tidak hanya saat lebaran saja, MEMANG kebersamaan kita hanya sebentar.... Hanya 20 tahunan, sisanya kalian akan bersama pasangan kalian sampai akhir hayat kalian... Rasanya sangat sebentar, belum cukup kita berbagi rasa diwaktu duapuluh tahunan itu... Tapi... mudah2an komunikasi yang kita bangun sekarang ini bisa memperpanjang kebersamaan rohani kita... dan mengecilkan rasa khawatir yang selalu ada di hati kami.... ANAKKU... jaga sholat kalian... jaga shodaqoh kalian, selalu berbuat baik, jangan pernah letih untuk mendekatkan diri kepada Allah... Berbuat lah yang bisa membuat orang tua kalian berbahagia di alam barzah dan akhirat kelak.... Kami TITIPKAN masa depan akhirat kami kepada akhlaq mulia kalian.... ANAK-ANAKKU
KAMI PERSEMBAHKAN AIR MINUM MURNI, SEHAT “SULI-5” DAN BERKUALITAS,
UNTUK TERAPI KESEHATAN
Air Heksagonal Bio Energy “SULI-5” untuk anda, air minum yang diolah dengan teknologi pemurnian yang sempurna, bebas dari zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Tidak hanya menyehatkan, tapi juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan terapi khusus.
Bisa dibuktikan sendiri. Harga sama dengan harga air mineral biasa.
Tersedia kemasan ukuran: 19 liter, 5 liter, 1,5 liter, 600 ml.
Informasi Hubungi:
Kantor: Koperasi Pesantren Alhamidiyah Depok
Telp: (021) 7788 5437 CP: Tarmidzi: HP. 02141556683
”Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’ban wa balighna ramadhan”Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban yang mulia ini,serta sampaikan usia kami hingga Ramadhan, mohon maaf lahir dan bathin selamat bersiap menyambut bulan yang agung.Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya Aamiin Ya Rabbal Alamiin
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
Jalan Sawangan Raya Km 2/12 RT 005/04
Depok
16435