Bebisehat - Balita Pintar

Bebisehat - Balita Pintar

Share

Jadikanlah Anda kenangan bagi anak di kemudian hari dengan cara menjadi bagian dari hidupnya sekarang - Anonymous. Pelancar asi dan perawatan kewanitaan

Photos from Bebisehat - Balita Pintar's post 01/12/2018

Biasanya bayi berusia 12 bulanan sudah mulai s**a sekali corat-coret ya mak, dan ini lah yang ibunya baim rasakan. Setiap nulis alamat buat kirim barang, baim pasti mau rebut pulpen. Jadilah, dikasih pulpen dan buku. Bayi 15 bulan ini seru corat coret buku.

Bukan anak-anak namanya kalau ga bereskplorasi. Lanjut ke kardus, ditusuk-tusuk kardus dengan pulpen. Karena bolong-bolong, dia ketawa kegirangan 😂😂

Dan ternyata memegang pulpen/pensil ini juga melatih motorik halusnya loh mak. Bahkan ada beberapa permainan untuk menstimulasi kemampuan memegang pulpen/pensil dan menulis pada anak. Yuk, kita stimulasi.. 😍

01/12/2018

Alhamdulillah, bulan kemarin ibunya baim dapat amanah lagi jadi penanggung jawab group arisan promo November. Semoga semua peserta amanah sampai akhir ya 😊😊

Photos from Bebisehat - Balita Pintar's post 30/11/2018

Menyandang status sebagai orangtua bukanlah tugas yang mudah, nak karena kelak kami akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Sejauh mana kami mengenalkan Sang Pencipta kepadamu, bagaimana cara kami mendidikmu, kami pun harus memastikan makanan yang halal yang masuk kedalam tubuhmu.

Sesungguhnya ini adalah pengingat diri sendiri dan menjadi Pe-er terbesar bagi kami untuk senantiasa mendidikmu di atas agama-Nya. Bantu kami ya nak, untuk sama-sama menjalani kehidupan dengan penuh rasa taat kepada-Nya.

Bismillah, semoga Allah mampukan kita semua yaa mak. Karena sebaik-baik pengharap hanyalah berharap pada-Nya.

Photos from Bebisehat - Balita Pintar's post 29/11/2018

Semalem habis dengerin sharingnya Bun Mayasari Zulkarnaini waahh masyaAllah kece bener loh materinya 😍

Iyes, tentang mendongeng buat anak 💚

Siapa yang kecil dulu s**a didongengin sama orangtua di rumah? Atau s**a baca dongeng? Masih inget ga dongeng apa yang dibaca mak? hihi

Saya mah ingetnya dongeng di Majalah Bobo doang, itupun dulu bacanya kudu minjem tetangga 🙈

Ternyata loh yaa, dongeng jaman kecil tuh bisa berpengaruh sampai anak dewasa. Jadiii jangan sampai lah yaa "salah bacain" cerita.

Apalagi cerita yang diadaptasi dari penulis luar, kan banyak tu yang ga sesuai sama nilai yang kita anut, atau dari sisi agama kita misalnya.

Makanya kalo buku dongeng saya termasuk yang cukup pemilih 😄. Ada yang mengganjal dikit langsung disortir.

Nah kalau ada buku dongeng yang isinya ga cuma cerita bagus, tapi bisa bikin anak berpikir kritis dan menambah wawasan kenapa enggak kan?

Karena dongeng ga harus fairy tale seperti cerita luar yang terkenal itu. Bisa jadi lewat sebuah cerita petualangan seru. Salah satunya seperti di buku yang satu ini 💚

Jazakillaah khoir yaaa Bunmay sharingnyaa, izin reshare yaaa 😘

Photos 20/09/2018

MERUBAH CARA PANDANG

“Praaannnggg!!!” dan botol kaca itupun terhempas dan berkecai di lantai. Wajah kecil itu memucat dan perlahan memandang keatas, ke wajah seseorang yang amat dikenalinya. Menunggu respons.. menerima nasib. Anak kecil itu memandang ibunya, setelah secara tidak sengaja, tangannya menyenggol sebuah pot kaca dan memecahkannya. Respons yang dia tunggu..? Teriakan, Marah, Kecewa sekaligus rentetan nasihat. Ia mempersiapkan dirinya. Mentalnya. Ia tahu ia salah.
Lalu, ibu itu mencoba meredam keterkejutannya, belajar perlahan menghadirkan senyum, dan berkata dengan perlahan : Ngak papa nak, ngak sengaja kan?
Anak kecil itu tergamam. Bukan ini respons yang diharapkannya, ia terkejut. Kenapa mamanya tiba-tiba berubah? Padahal ia sedang mempersiapkan diri menghadapi murkanya.
Lalu perlahan wajah kecil itu mulai sedikit demi sedikit berubah santai, masih mencoba mencerna, apa yang membuat ibunya berubah. Drastis! 360 derajat!.
Ibu itu lagi dengan sigap mengangkat anak kecil itu dari tempatnya berdiri, memindahkannya ke tempat yang lebih aman, dan menyuruhnya menjauh. Ia pun perlahan lahan mulai membersihkan serpihan kaca yang bertabur radius 100 meter dari tempat awal pot kaca itu berada.

Si anak mencoba memahami, apa yang sedang terjadi. Kemana ibunya yang s**a emosi, mudah marah dan teriak itu pergi. Ia masih belum bisa percaya.
Kejadian diatas terdengar familiar?
Mungkin bagi orang tua yang masih memiliki balita, iya. Namun respons ibunya? Apakah anda seperti itu juga?

Seringkali kita bertidak reaksional, responsive, pada kejadian disekitar kita. Tanpa terlebih dahulu memberikan otak semenit dua untuk mencoba lebih memahami keadaan dan berfikir bagaimana bereaksi atasnya?

Padahal, satu dua menit itulah yang justru SANGAT KRUSIAL dan PENTING yang akan SANGAT membedakan bagaimana kita kelak bereaksi. Tanpa harus menyesalinya kemudian.

Masalah pecah/rusaknya suatu benda di rumah, memang sangat mudah untuk memancing ibu-ibu untuk beremosi. Padahal, jauh di lubuk hati, kita tahu.. semua ada waktunya. Ada waktunya untuk semua benda rusak/diganti, bahkan ada waktunya untuk kita juga pergi, selama-lamanya.
Terkadang waktu suatu benda untuk tetap utuh, ada yang lama, ada juga yang baru saja sampai di rumah, langsung tiada. Belum rezeki namanya. Namun lucunya, jika benda tersebut dirusak/dipecahkan oleh orang lain atau tamu, mendadak kita bisa bereaksi sopan dan memaafkan sambil mengatakan “Ah, ngak papa kok, namanya juga anak kecil”, “Ini murah kok”, “Besok bisa beli lagi”, “Lagian ini juga udah tua”, dan ribuan alasan lainnya untuk mengurangi rasa tidak enak sang tamu yang telah melakukan kesalahan tersebut.

Tapi, kenapa kita tidak bisa melakukannya pada anak?
Apa karena anak sengaja memecahkan / merusak benda tersebut? Ngak juga kan? Terkadang, tangannya licin, motorik kasarnya belum sempurna, terkadang gengamannya belum kuat, dlsb. Tapi, kita memilih untuk menepikan semua itu, dan marah pada anak.

Jika anak saya menumpahkan makanan yang baru saja kami pesan atau beli, dan bahkan belum sempat kami cicipi, saya berusaha “menggeser paradigma” dalam melihat hal ini. Saya akan tersenyum pada anak yang merasa bersalah, dan mengatakan “Mungkin ada sesuatu yang kurang baik yang ada di makanan itu, yang Allah ngak mau kita makan. Ya sudah, ngak papa.. kita beli aja lagi”.

Mengajarkan bahwa mungkin ada hal hal yang diluar sepengetahuan kita yang terjadi, adalah cara memandang sesuatu agar bisa lebih menerima keadaan. Toh, memang ada Allah yang maha mengatur segala, dan tidak ada yang tidak sengaja bagi Allah. Semua dalam perhitunganNYA secara tepat dan detail.

Memang, bisa juga hal tersebut terjadi karena keteledoran anak. Tapi yakinlah, tidak ada anak yang dengan sengaja menjatuhkan makanan yang baru dipesan dan atau memecahkan sebuah benda kaca agar dimarahi oleh orang tuanya.
Cara orang tua, terutama ibu, jika ia adalah pengasuh utama anaknya, menghadapi dan berespons terhadap kejadian kejadian ‘kecelakaan’ seperti ini, jauh dan lama efeknya.
Anak akan sempat melihat kedalam dirinya, menyadari kesalahannya, dan mungkin bahkan lebih berhati hati kedepannya. Dibandingkan dengan mereka yang di marahi, dibentak, disalahkan dll.. mereka akan lebih sibuk untuk menyelamatkan perasaanya, merasa semakin bersalah, dan yang terpenting.. menyimpan semua itu dalam memorinya, dan kelak bereaksi yang sama ketika ada yang melakukan hal seperti itu juga.

Orang tua itu contoh. Tidak bisa tidak. Tidak bisa lebih ditekankan lagi. Maka setiap gerak geriknya akan dicontoh. Tidak terkecuali, reaksinya ketika kaget dana atau kesal/marah.
Mencoba mengajak anak bernalar, bahwa mungkin ada hikmah dibalik kejadian ini, akan berakibat panjang dan lama pada anak. Sehingga, ketika ia menemukan kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya kelak, ia sudah terbiasa “menggeser paradgima”, dan mencoba melihat segala sesuatunya dari sisi lain. Mungkin yang maha kuasa ingin menyelamatkan kita daripada suatu keburukan. Mungkin Allah akan gantikan dengan yang lebih baik. Mungkin ada hikmah dibelakang semua ini.
Mereka akan lebih mudah menerima suatu kesusahan, dan tidak reaksional terhadapnya.
Bukankah ini yang kita harapkan nantinya? Agar mereka bisa lebih bijaksana dalam melihat suatu kejadian yang tidak pas dengan harapan dan usahanya?
Sudahkah kita mencontohkannya? Terutama pada kejadian kecil sehari-harinya?
Kalau bukan sekarang, mulainya kapan?
Kalau ngak terus belajar, betulnya kapan?
Wallahu a’lam bis shawab.

Wina Risman
18 September 2018
Kuala Lumpur

Photos 19/02/2017

[Tahapan Persalinan]

Bunda, yuk kita intip tahapan persalinan.

1. Kala 1 (Pembukaan)
Tahap awal persalinan. Kalau menurut teori sih lamanya tahap ini bisa berbeda-beda tergatung kehamilan yang keberapa. Kehamilan pertama sekitar 12-24 jam, untuk kehamilan seterusnya bisa 6-10 jam.
Apa yang sebetulnya terjadi ? Di sana terjadi penipisan dan pembukaan serviks, kala 1 persalinan disebut lengkap saat pembukaan jalan lahir menjadi 10 cm, selama proses ini kontraksi akan semakin sering dan kuat.
Para bunda harus mulai mengatur nafas ya, supaya tidak terlalu tegang menghadapi tahapan selanjutnya

2. Kala 2 ( Pengeluaran)
Bagaimana rasanya? Rasa mulas mulai terkoodinasi, kuat, cepat, dan lebih lama sekitar 2-3 menit sekali.
Saat ini, kepala janin mulai turun dan masuk ke ruang panggul, bun. Yang bunda rasakan adalah seperti ingin buang air besar karena adanya tekanan di otot dasar panggul. Nah saat mulai mengejan, rasanya luar biasa bun. Kepala janin bunda mulai terlihat serta bagian luar va**na membuka dan perineum menegang. Mengejanlah dengan pelan dan lembut, sedikit demi sedikit tubuh mungil bayi kita akan keluar.
Pada tahap ini sepertinya rasa yang ga karuan di perut kita hilang seketika bersamaan dengan lahirnya sang buah hati. Selamat ya bunda

3. Kala 3 (Pengeluaran Plasenta)
Setelah bayi keluar, plasenta juga akan keluar dengan sendirinya. Kontraksi rahim lah yang mendorong plasenta, prosesnya sekitar 5-30 menit. Setelah itu, dokter atau bidan akan cek ke dalam apakah plasenta sudah terlepas dari dinding atau belum
Demikian gambaran tahapan persalinan, sebaik-baiknya adalah mengatur nafas untuk menjalani persalinan yang nyaman ya bun.

[Sumber : Superbook for Supermom]

Photos 28/09/2016

“Satu jam Pertama” Yang Menakjubkan
Penulis: dra. Zuraidah, SKM, MPH
“Satu jam Pertama” Yang Menakjubkan kata ini dikutip dari buku Inisiasi Menyusu Dini, dr Hj. Utami Roesli, dalam tulisan beliau selanjutnya disampaikan bahwa ada satu hal yang selama ini tidak disadari dan tidak dilakukan baik oleh orang tua maupun tenaga medis tetapi begitu vital bagi kehidupan bayi selanjutnya. Ternyata, dalam satu jam pertama setelah melahirkan, ada perilaku yang menakjubkan antara bayi dan ibunya. Peristiwa itu adalah jika setiap bayi baru lahir diletakkan di perut ibu segera setelah lahir, dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi, bayi mempunyai kemampuan untuk menemukan sendiri payudara ibu dan memutuskan waktunya untuk menyusu pertama kali.
Apa itu Inisiasi Menyusu Dini? Untuk selanjutnya disingkat IMD, adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Sungguh sangat mempesona bayi baru lahir berjuang sendiri merangkak ke arah payudara menemukan puting susu ibunya, si bayi yang masih merah itu ternyata bisa memenuhi apa yang menjadi insting pertama dalam hidupnya, mencari sumber kehidupannya yakni minum air susu dari Ibu yang melahirkannya. Padahal selama puluhan tahun kita sebagai orang tua berpendapat bahwa bayi baru lahir tidak mungkin dapat menyusu sendiri.
Lalu hal-hal apakah yang harus dipersiapkan oleh seorang ibu untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini bagi bayinya akan dilahirkan?
Berikut ini langkah-langkah melakukan IMD yang dianjurkan :
1. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
2. Disarankan juga tidak menggunakan bahan kimia saat persalinan, karena akan mengganggu dan mengurangi kepekaan bayi untuk mencari puting susu ibu.
3. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
4. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tangannya.
5. Tali pusat dipotong lalu diikat.
6. Vernix (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
7. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu.
8. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.
Pentingnya Kontak Kulit & Menyusu Sendiri
1. Mengapa kontak kulit dengan kulit segera setelah bayi lahir dan bayi menyusu sendiri dalam satu jam pertama kehidupan sangat penting?
2. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypothermia).
3. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
4. Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya, dan dia akan menjilat-jilat kulit ibu, menelan bakteri baik di kulit ibu. Bakteri baik ini akan berkembang biak membentuk koloni di kulit dan usus bayi, menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.
5. Ikatan kasih sayang antara ibu-bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu biasanya bayi tidur dalam waktu lama.
6. Makanan awal non ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia, misalnya susu hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.
7. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih lama disusui.
8. Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi diputing susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.
9. Selamat mencoba dan terima kasih untuk menyebarluaskan informasi ini.
Juni 15, 2009

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Depok
13760