16/05/2019
MEMBUMIKAN PUASA #10
Dr. Amie Primarni
Tak terasa sudah masuk hari ke 10. Puasa kali ini sungguh membutuhkan energy yang prima. Jika siang terik matahari serasa memapar wajah dan kepala dengan sangat kuat. Saya paling tidak tahan dengan terik matahari. Sebentar lewat pukul 12 ke atas,mendung pekat menggelayut dan guntur, mengguruh terdengar dari kejauahan. Angin kencang menggugurkan daun, bahkan ranting pohon yang rapuh pun turut tersapu.
Sedang asik, menyiapkan makanan buka puasa, sekitar pukul empat sore. Terdengar suara anak menangis keras, meraung dan berteriak "sakit, mbak. Aku takut dimarahin papa". Jantungku langsung berdesir, aku paling tidak bisa mendengar suara anak menangis. Kumatikan kompor dan kutinggalkan dapur, aku bergegas mencari suara tangisan. Oh, rupanya di taman depan rumahku. Seorang anak menangis ditemani pengasuhnya. Aku masuk kembali sebab kupikir sudah ada yang menjaganya. Tapi tangisan tak juga berhenti, magrib segera tiba. Tak baik anak menangis hingga magrib tiba. Aku keluar kembali, kutanya " ada apa nak? Ada yang bisa ibu bantu? " sakit bu, katanya. "Apa yang sakit nak?". " kuku kakiku berdarah, kesandung". "Oh, sini ke rumah ibu, coba ibu tengok dulu". kataku.
Beruntung anak ini mau mendekat, wajahnya berpeluh. Anak ini sedang cemas tingkat tinggi. Kuku jempol kaki yang patah memang sakit, tetapi akan terasa lebih sakit sebab dia cemas takut dimarahi ayahnya.
Kuminta dia duduk, tarik nafas panjang, tiga kali. Ku lihat kuku jempol kakinya, berdarah. Lalu, kuambil revanol dan kapas. Kuajak dia bicara, "ibu akan tuangkan revanol ini ke kuku kamu ya, ini obat namanya revanol, tidak pedih". "Iya", jawabnya sambil mengangguk tapi matanya menatap aku "nanti kalau pedih gimana?". "Insya allah ini tidak pedih".
Kutuangkan revanol di kuku jempol kakinya, dan kusapu darah yang ada dengan kapas."Nah, coba rasakan tidak pedihkan?". "Iya ya", katanya. Anak ini mengelap mukanya dengan kedua tangannya sambil menarik nafas panjang.
"Haaah", seperti ada rasa lega.Tapi sesaat kemudian paniknya kembali muncul. "Nanti, kalau papa marah gimana?". Lalu, aku berjongkok dihadapannya sambil berkata"insya allah papa tidak marah. Kamu kesandung dan kakimu luka,masa anak luka dimarahi?. yuuk tarik nafas panjang dan lepaskan, berpikir positif ya nak?". kata ku. "Kamu anak hebat, dan kuat, insya allah kamu bisa". Tubuh anak ini memang besar, kulit putih dan wajahnya tampan tapi masih terlihat polos dan lugu, ternyata dia baru kelas tiga SD. Pantas masih menangis meraung-raung ketika panik.
"Nah, sebentar lagi mau magrib, kamu p**ang sama mbak ya, kakinya sudah tidak sakitkan?". "Kalau mandi nanti kakinya sakit gak? tanyanya - rupanya dia masih menyisakan pertanyaan. " oh kalau itu mudah, kaki yang luka letakkan di atas closet dan kamu mandi, jadi lukanya tidak kena air". "Oh, iya". Lalu dia terlihat lega. "Tos kita?". Tosss ...
Haah, puasa ke sepuluh yang menyenangkan, terasa seperti merawat anak sendiri. Sudah lama saya lewati berjibaku dengan luka-luka kecil. Alhamdulillah, masih bisa mengingatnya.
Hanya satu pikiran yang mengganjal, apakah ayah anak ini demikian galaknya, hinggq si anak begitu takut dan panik menghadapi masalah. Terkadang, kita sebagai orang tua keliru dalam menggunakan emosi. Ketika anak sakit atau luka, kendalikan dulu amarah yang muncul, obati dulu sakit dan lukanya, buatlah anak tenang menghadapi masalah. Jangan ditambah dengan amarah dan serentet nasehat dadakan.
Seorang yang sedang sakit hanya butuh penerimaan dulu, lalu bantu hilangkan atau kurangi sakitnya, dan doakan kesembuhannya.
Emosi adalah kecerdasan yang paling lama dibentuk, hal itulah yang diajarkan selama 30 hari pada bulan ramadhan.
Proaktif jangan reaktif.