Metamorphosis Homeschooling: Pilihan Cerdas Dalam Mempersiapkan Masa Depan Anak
Berbagai bentuk pendidikan terus berkembang di seluruh dunia hingga saat ini. Konsep homeschooling ini dipopulerkan John Holt sejak 1970-an di Amerika Serikat dan terus berkembang ke seluruh dunia. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa homeschooling semakin diminati dan telah menuai hasil yang menggembirakan. Laurie B
lock Spigel, salah satu orangtua homeschooler, dari Bronx, New York menuliskan, “The world was our teacher. The world is the well, and students and parents go to the well together. Education becomes a shared adventure. Kids had dozens of teacher – far more than they would have had in school. Students are out in the world, engaging in countless social, artistic and educational activities, learning from museums, libraries, internships and more – living in an environments for learning that reaches far beyond any classroom”. (New York Times, 2015)
Pernyataan ini semakin membuka mata dunia untuk melihat betapa konsep homeschooling sebagai salah satu alternatif bentuk pendidikan mampu berkontribusi positif dalam mempersiapkan generasi masa depan yang lebih tangguh dengan belajar dari dunia nyata (real world). Belajar ala homeschooling menjadi suatu petualangan dan pengalaman yang sangat luas. Homeschoolers (anak- anak homeschooling) belajar lebih luas di dunia yang sangat luas ini. Di Indonesia, meski konsep homeschooling belum terlalu dikenal secara secara luas oleh masyarakat, semakin banyak orangtua yang meliriknya. Pemerintah juga telah membuka pintu untuk konsep pendidikan homeschooling ini. Melalui UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003, Pemerintah telah menetapkan tiga jalur pendidikan yaitu pendidikan formal di sekolah, non formal seperti kursus, pendidikan kesetaran, dan pendidikan informal seperti homeschooling (sekolah rumah). Kebijakan dan eksistensi pendidikan homeschooling di Indonesia semakin diperkuat melalui Permendikbud 129/2014. Pemerintah membuka ruang yang lebar bagi pengembangan pendidikan anak-anak Indonesia dengan berbagai latar belakang dan karakteristiknya. Pendidikan bukanlah milik lembaga atau institusi pendidikan, melainkan hak dan kewajiban setiap orang (Pasal 31 UU 1945). Dengan demikian, setiap warga negara berhak dan wajib mengembangkan potensi dirinya dalam suasana dan proses pembelajaran yang terencana (Definisi Pendidikan menurut UU Sisdiknas no.20/2003). Berdasarkan Permendikbud 129/2014, ada tiga jenis homeschooling yang dapat dikembangkan oleh para orangtua dan praktisi pendidikan yaitu homeschooling pribadi, homeschooling majemuk dan homeschooling komunitas. Orangtua diberi kebebasan untuk memilih jenis homeschooling yang tepat bagi anak-anaknya, sesuai kebutuhan anak dan kesanggupan orangtua dalam menjalankannya. Yang terpenting adalah tanggung jawab penuh terhadap proses dan hasil pendidikan anak tersebut. Metamorphosis Homeschooling memilih jalur homeschooling majemuk yang terdiri dari beberapa orangtua yang memiliki visi-misi dan komitmen bersama. Selain itu, perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman dan sumber daya yang kami miliki semakin menguatkan panggilan kami untuk bergabung di homeschooling majemuk ini. Tujuan kami adalah untuk memaksimalkan seluruh potensi anak sebagai calon-calon pemimpin masa depan. Rumah (home) adalah sekolah pertama dan pusat pembelajaran terutama bagi anak. Di rumah, anak mulai belajar sejak ia lahir, bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi seutuhnya di bawah bimbingan orangtua. Orangtua menjadi guru pertama dan terutama bagi anak. Menjadi tanggung jawab orangtua untuk memilih tempat, komunitas atau lembaga pendidikan belajar lainnya yang dirasa perlu sebagai penunjang pendidikan anak. Pada prinsipnya, orangtua harus berpikir kritis dalam memilih jalur pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dan kecerdasan anak yang berbeda-beda. Teori Multiple Intelligences (Gardner, 1983) merupakan konsep dasar dalam pengembangan pendidikan di seluruh dunia. Setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda dan tidak ada anak yang ‘bodoh’. Hal ini menjadi menarik dan menyemangati orangtua dan praktisi pendidikan di dunia. Anak perlu dihargai sebagai pribadi yang unik dan membutuhkan sentuhan pendidikan yang berbeda antara satu anak dengan anak lainnya. Dengan demikian, potensi anak yang terpendam dapat digali dan dikembangkan secara maksimal. Di sinilah kehadiran homeschooling membuka ruang seluas-luasnya dalam menggali, menemukan, dan mengembangkan potensi dan kecerdasan anak secara maksimal. Sekolah formal belum tentu dapat melakukan hal ini secara maksimal mengingat keterbatasan waktu, sumber daya, perhatian, banyaknya aturan dan kebijakan yang tidak berhubungan langsung dengan kemajuan anak. Di pihak lain, anak membutuhkan perhatian dan penanganan khusus, cepat, tepat dan maksimal. Metamorphosis Homeschooling sebagai homeschooling majemuk menyadari pentingnya perkembangan dan pembentukan jati diri anak seutuhnya melalui pendidikan terintegrasi antara pengetahuan, karakter dan kecakapan hidup (life-skill). Pembelajaran diselenggarakan melalui proses pengamatan, pertanyaan, percobaan hingga proyek-proyek kecil yang langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami menyebut model pembelajaran ini sebagai Holistic and Project-Based Learning. Model pembelajaran ini didukung dengan berbagai kunjungan ke berbagai tempat yang mendukung tema-tema pelajaran. Berbagai tempat seperti museum, perpustakaan, tempat wisata edukatif, pusat perbelanjaan, kantor polisi, dan lain sebagainya merupakan “ruang belajar” bagi anak. Banyak informasi dan pengetahuan yang dapat digali dan didiskusikan bersama. Pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain, berdiskusi dan mencipta dengan pembiasaan berbahasa Inggris yang terintegrasi dengan materi pelajaran. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan anak didik menghadapi persaingan global. Melalui konsep ini, setiap anak termotivasi untuk belajar, mengejar pengetahuan dan cakap mengomunikasikan dan menerapkan ilmunya dalam hidup sehari-hari. Keunggulan lainnya dari belajar di homeschooling adalah, anak-anak bukan hanya belajar mengenai pengetahuan akademis, tetapi juga belajar tanggung jawab, organisasi, etiket, budi pekerti, dan berbagai kecakapan hidup lainnya (Jessica Lahey, Psychologist, Author and Presenter). Metamorphosis Homeschooling melaksanakan pembelajaran yang disampaikan oleh Jessica Lahey melalui pembelajaran karakter yang terintegrasi dengan materi pelajaran. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk hidup secara baik dan benar (berintegritas). Materi-materi non-akademis tersebut dipelajari dan diterapkan bersama anak-anak sehingga sikap dan tindakannya berterima di masyarakat dan membawa pengaruh positif terhadap dirinya dan lingkungannya. Selain itu, homeschooling juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kepribadiannya melalui kegiatan bermain. Anak-anak perlu bermain karena dengan bermain mereka memperkuat ikatan sosialnya, membangun kematangan emosinya, mengembangkan kecakapan kognitifnya, dan meningkatkan kesehatan fisiknya. Namun sering sekali orang dewasa membatasi anak bermain yang sebenarnya di sanalah poin krusial perkembangan anak (Jessica Lahey). Metamorphosis Homeschooling memberi ruang bagi anak untuk bermain sambil belajar dengan memfasilitasi kebutuhan bermain mereka. Ada kalanya, anak dan orangtua bermain bersama melalui permainan edukatif yang melatih rasa, kepekaan, inisiatif dan berbagai kecerdasan lainnya. Diharapkan anak-anak peka terhadap berbagai persoalan di sekelilingnya dan siap menghadapi tantangan zaman. Untuk mencapai tujuan tersebut, orangtua homeschoolers dituntut sebagai guru yang termotivasi dan berdedikasi tinggi bagi anak-anak didiknya. Peter Gray, Professor Psikologi di Boston College Amerika Serikat, dalam penelitiannya menemukan bahwa banyak homeschoolers yang telah mencapai pendidikan tertinggi dan berbagai keberhasilan dengan motivasi belajar yang tinggi dan mandiri. Mereka lebih rajin dibandingkan dengan teman-temannya dari sekolah formal karena belajar merupakan keputusan pribadinya. Hasil penelitian tersebut dan pernyataan Laurie Block Spiegel di awal tulisan ini membuktikan bahwa anak-anak homeschoolers memiliki keunggulan lebih dibanding anak-anak di sekolah formal. Homeschoolers memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk mengeksplorasi pengetahuan, mengembangkan potensi diri, bahkan hingga menciptakan penelitian kecil-kecilan (mini research) dalam suasana yang fun, nyaman, dan riil. Perlu dipahami bahwa kunci untuk mencapai hasil yang maksimal dari bentuk pendidikan homeschooling ini, peran orangtua sangat utama. Orangtua adalah guru pertama dan terutama, sekaligus menjadi sahabat belajar bagi anak kapan saja dan di mana saja. Dalam hal itu, orangtua sedang menanam nilai investasi yang tak terhitung harganya sekaligus menjadi tanggung jawab moral orangtua terhadap anak. Hal ini tentunya tidak mudah sebab membutuhkan kerja keras dan komitmen tinggi untuk melakukannya. Satu hal yang pasti ialah bahwa semua kerja keras orangtua tidak akan sia-sia. Kerja keras hari ini akan terlihat nantinya saat anak-anak menjadi pribadi yang terdidik, berkarakter, memiliki motivasi belajar tinggi, kritis, mandiri dan mampu bersaing secara global. Homeschooling adalah salah pilihan cerdas untuk mempersiapkan generasi anak bangsa yang lebih baik. Selamat ber-homeschooling! Depok, September 2016
Maratur Siahaan, S.S, M.Min. (Leader of MHS - Praktisi Pendidikan)