10/09/2025
Shuhbah, Khidmah, dan Relasi Guru-Murid dalam Tradisi Keilmuan Islam
(Sekelumit Penggalan Wawancara Sidogiri Media bersama Dr. Muhammad Ardiansyah, M.P.D.i)
Dalam sistem atau tradisi pendidikan Islam itu ada yang disebut dengan konsep shuhbah. Sebenarnya konsep relasi antara kiai dan santri lebih cocok disebut dengan shuhbah. Sebagaimana dalam syair al-Imam asy-Syafii disebut, salah satunya adalah wa-shuhbatu ustādzihi. Jadi hubungannya itu terus bersahabat dengan guru. Jadi dekat tapi tidak kehilangan rasa hormat. Namun jangan terlalu jauh juga, kalau terlalu jauh nanti kehilangan berkah. Jadi tetap adil.
Hubungan antara guru dan murid itu sangat indah kalau masing-masing mengamalkan adab. Santri mengamalkan adab kepada kiainya, kiai mengamalkan adab kepada santrinya.
Khidmah dan tawadhu tidak hanya untuk santri, tetapi untuk kiai juga. Hanya saja beda dalam bentuk khidmahnya. Kalau kita buka dalam kitab-kitab ulama salaf, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa khidmahnya kiai itu dengan cara mengajar, menulis, dan menyampaikan ilmu. Itulah bentuk pendekatan kiai kepada Allah SWT.
Santri yang belum mencapai level tersebut, khidmah dalam bentuk membantu kiai sesuai dengan kemampuannya. Jadi, semua itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah melalui khidmah masing-masing. Begitu juga dengan tawadhu. tawadhu itu bukan hanya untuk santri kapada gurunya, guru pun tidak boleh sombong kepada santrinya.
Bahkan kata Imam al-Ghazali, guru atau kiai mesti bersyukur karena ada santrinya. Karena tanpa kehadiran santri, guru tidak bisa menyampaikan ilmunya, dan tidak punya ladang pahala. Maka, konsep ini harus benar-benar dipahami dengan baik.
Ketika kita baca fakta sejarah, banyak sekali relasi indah antara santri dan kiai. Contoh yang paling gampang adalah antara Imam Malik dan Imam asy-Syafii, relasi guru dan murid. Mereka banyak perbedaan tapi tetap beradab. Bukan berarti ketika ada perbedaan dianggap tidak beradab.
Imam asy-Syafii menulis kitab Khilafu Malik, yang berisi pandangan-pandangan beliau yang berbeda dengan Imam Malik. Beliau mengarang kitab tersebut karena sebagian murid Imam Malik terlalu mengultuskan Imam Malik. Tapi Imam asy-Syafii menulis kitab demikian perlu waktu dan istikharah selama satu tahun.
Ini adalah adab yang luar biasa. Namun perlu digaris-bawahi, yang ditulis bukan karena sentimen kepada gurunya, tapi berdasarkan argumen. Hal itu biasa dalam ranah keilmuan Islam.
Begitu juga Imam asy-Syafii punya murid yang bernama Imam Ahmad bin hanbal. Ada banyak perbedaan antara Imam Ahmad bin Hanbal dengan gurunya, Imam asy-Syafii.
Coba perhatikan, Imam asy-Syafii dan Imam Malik, hubungan guru dan murid, pendapat mereka berbeda tapi tidak ada yang saling mencela. Begitu juga gurunya tidak pernah mengatakan kualat dan tidak berkah. Imam asy-Syafii dan Imam Ahmad juga seperti demikian. Imam asy-Syafii tidak pernah menyumpahi muridnya. "Kenapa Anda berbeda dengan saya? Kenapa Anda membuat mazhab baru? Tidak! beliau berdua bahkan saling mendoakan dan saling support.