19/02/2024
https://bit.ly/RegFitrahKeimananOL
Ada berita kurang baik dalam pendidikan keislaman anak-anak kita pada saat ini: bahwa ada sebuah khazanah teramat mendasar yang telanjur menjadi *'anak tiri' nan terabaikan* dalam kurikulum pendidikan keislaman mereka: keimanan dan aqidah.
Dengan gegap-gempita yang patut disyukuri dari kegiatan-kegiatan tahfizhul Qur'an yang kini semakin semarak, tema keimanan dan aqidah masih belum ditempatkan sebagai fokus yang paling mendasar dari upaya kita menegakkan bangunan keislaman anak-anak kita.
*Bentuk pendidikan keislaman yang paling populer adalah bentuk pendidikan keislaman yang terukur dan teknis.* Tentu mudah mengukur telah seberapa banyak hafalan anak-anak kita dan apakah mereka telah lulus ujian mempraktikkan rukun dan sunnah wudhu dan shalat. Namun, bagaimana kita *mengukur* sebuah keimanan?
Sementara itu... Ciri dari orang beriman adalah "apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah keimanan mereka" (Qur'an Surah Al-Anfal: 2). *Bagaimana cara mengukur 'bergetarnya hati dan bertambahnya iman?' Sangat sulit!* Tapi, apakah dengan demikian pendidikan aqidah dan keimanan harus diabaikan?
*Maka, hakikatnya...* Pendidikan keimanan laksana fondasi dari sebuah bangunan. Dia ada, namun tertanam dalam, sehingga tidak terlihat! Tapi, tanpa adanya fondasi kokoh yang tertanam tanpa terlihat itu, sebuah bangunan tidak akan bisa berdiri tegak.
Dengan iman dan _mahabbatullah_ (kecintaan kepada Allah), anak-anak kita akan menjalankan keislamannya dengan sadar dan sengaja, bukan karena terbiasa. Sebab, mereka adalah *manusia yang berhati,* bukan *robot-robot saleh yang diprogram* untuk shalat dan berpuasa!
Berita baiknya, keimanan itu adalah sebuah fitrah yang telah ada, maka kita hanya tinggal menumbuhkan dan merawatnya.
_______________
Ikuti Seminar 2 Hari *Mendidik Fitrah Keimanan Anak* sebanyak 8 sesi. Berminat mengikuti kajian yang penting dan menarik ini? Daftarkan diri anda sekarang π