22/03/2024
At-Taqwa College Depok
At-Taqwa College (ATCO) Depok is an undergraduate education that emphasizes understanding of Islamic
22/03/2024
22/03/2024
12/03/2024
Assalamualaikum wrwb
Kepada yth
Para pecinta ilmu dan adab
Kami maklumkan, bahwa Pesantren At-Taqwa Depok membuka kesempatan untuk menikmati suasana Ramadhan di pesantren dan sekaligus ikut Taklim Sehari tentang ISLAMIC WORLDVIEW. Acara dilanjutkan dengan Buka puasa Bersama santri. Silahkan yang mau lanjut shalat Tarowih.
Sabtu, 16 Maret 2024
Pukul : 08.00-18.00 WIB
Tempat : Pesantren At-Taqwa Depok.
Pendaftaran ke:
Ust Wildan: 081380489347
08/03/2024
Alhamdulillah pada hari Kamis 7 Maret 2024, Mahasantri At-Taqwa College Depok mengadakan kunjungan literasi ke Perpustakaan Nasional RI dan Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
27/02/2024
Innalilahi wa innailaihi raajiun
Telah berp**ang ke Rahmatullah salah satu guru kami Prof. Dr. Wan Suhaimi Wan Abdullah
11/12/2023
Mengulas Kembali Hubungan Pancasila dengan Islam
Oleh: Muhammad Wisnu Fadillah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok, 16 Tahun)
INSISTS Saturday Forum (Insaf) ialah program kajian pemikiran dan peradaban Islam pekanan yang diselenggarakan oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization. Tepat pada Sabtu, 9 Desember 2023, kami, mahasiswa At-Taqwa College berkesempatan untuk hadir di dalam forum ini.
Pengisi acara kali ini ialah Ustadz Dr. Suidat selaku ‘Sekretaris Jendral’ di at-Taqwa, dengan tema yang dihidangkan: ‘Pancasila dalam Timbangan Pemikiran Tokoh-tokoh Islam’. Dalam kajiannya, Ustadz Suidat menyampaikan hasil observasinya terhadap hubungan antara Pancasila dengan Islam. Berbicara tentang Pancasila sebenarnya tidak harus berpatokan pada acara di bulan Juni atau yang dikenal dengan ‘Hari Lahirnya Pancasila’, sebab sebagai Dasar Negara, pembahasan tentang hal ini sangat relevan di manapun dan kapanpun.
Ketika Dasar Negara mulai diperbincangkan pada Sidang BPUPK pertama, masyarakat hanya mengenal hanya tiga tokoh di dalamnya, yakni Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Padahal, dalam 4 hari penyelenggarannya (29 Mei-1 Juni), sidang itu diisi oleh banyak tokoh umat muslim yang tidak dicantumkan namanya pada kurikulum sejarah.
Ustadz Suidat lantas menegaskan, bahwa Pancasila tidaklah sekuler. Beredarnya isu-isu Pancasila sebagai produk sekular sangat tidak pantas untuk diperdebatkan, karena akar dari Pancasila sendiri ialah Islam.
Mohammad Natsir menyatakan dalam bukunya, Capita Selecta 2, “…ini tidak berarti bahwa Pancasila itu sudah identik atau meliputi ajaran-ajaran Islam. Pancasila akan menjadi sekuler manakala ditempatkan pada posisinya sebagai penghias kata-kata, atau pemanis bibir saja, apalagi diucapkan oleh orang skeptis pada agama.”.
Mohammad Roem juga menyebutkan, “Sila Ketuhanan yang Maha Esa itu menjadi Sila Pertama adalah sangat tepat. Pengamalan & pemaknaannnya tergantung pada kita, bukan pada orang lain”
Maka, Pancasila bisa dibedakan dalam dua arti, yang pertama ialah faktor agamis/filosofis, dan yang kedua ialah politik. Hal-hal yang agamis ialah pancasila adalah satu filsafat negara republik Indonesia dan sama sekali bukan agama, dan agama adalah yang menuntun segala aspek pancasila dan bukan sebagai filsafat. Adapun dalam politik, ialah hanya bersifat duniawi yang menegaskan pada masyarakat saja.
Oleh sebab itu, Ustadz Dr. Suidat berpesan bahwa dalam kajian ini penting sekali untuk memahami sejarah, memahami substansinya, dan tidak mempertentangkan dengan Islam.
15/11/2023
Hari Terakhir Petualangan di Malaysia (Catatan Rihlah Atco #17)
Oleh: Khalishah Inas Tsabitah (Mahasiswa At-Taqwa College, 17 tahun)
Tidak terasa hari ini (14/11/23) adalah hari terakhir kami menjalani program Rihlah Ilmiah At-Taqwa College 2023. Pasca menghadiri berbagai forum keilmuwan, serta melawat dan berbagi di beberapa kampus, kami mengakhiri program ini dengan berkunjung ke Genting Highlands, Pahang.
Genting Higlands ialah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa yang berada di perbatasan Pahang dan Selangor. Kini, tempat ini merupakan pusat wisata dan perbelanjaan terkenal di Malaysia.
Perjalanan dari Balai Jawi ke Genting menempuh perjalanan kurang lebih Dua jam dengan jarak 82 km. Menjelang sampai di Genting, aroma belerang mulai tercium pekat. Udara segar khas pegunungan juga mulai menyelimuti kami. Tepat pukul 10, kami pun tiba di Genting.
Sesampainya di sana, kami langsung berkumpul untuk mengambil beberapa foto. Setelah itu kami membeli tiket untuk menaiki Awana Skyway Gondola, yang masyhur sebagai landmark Genting.
Karena batas maksimal satu gondola hanya 10 orang, kami akhirnya berpecah menjadi 2 kelompok. Dari atas gondola, dapat terlihat hamparan hijau pegunungan Titiwangsa yang sebagian diselimuti kabut. Udara dingin menyeruak masuk ke dalam gondola, menambah suasana syahdu yang menyenangkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, kami akhirnya tiba di puncak Genting.
Di puncak ini terdapat berbagi tempat hiburan dan wisata. Ada mall dengan barang-barang premium, resort, taman bermain, hall konser, dan sebagainya. Usai puas berkeliling, kami pun kembali ke lereng gunung dengan menaiki gondola.
Kami kemudian bergerak ke jantung kota Kuala Lumpur, tepat di salah satu pusat perbelanjaan dan oleh-oleh paling masyhur seantereo Malaysia, Haniffa. Di sana, kami membeli berbagai buah tangan untuk keluarga dan para guru di pondok.
Hari kami ditutup dengan acara Barbeque bersama di halaman Balai Jawi. Dengan bahan seadanya, kami mencoba memasak berbagai varian makanan, mulai dari ikan, sosis, udang, dan lain-lainnya. Bala bantuan juga Bang Mustofa dan Bang Farid, sahabat kami dari Akademi Jawi Malaysia yang p**a membantu kami selama Rihlah ini. Setelah acara “makan-makan” usai, kami pun segera berkemas, untuk besok berangkat kembali ke pondok tercinta. (Editor: Azzam Habibullah)
13/11/2023
Pentingnya Menjaga Istilah Kunci dalam Islam (Catatan Rihlah Atco #16)
Oleh: Isy Karima (Mahasiswa At-Taqwa College, 17 tahun)
Sening siang (13/11/23), selepas shalat dzuhur berjamaah, kami menyelenggarakan forum diskusi bersama Ustadz Haerul Anwar. Beliau adalah alumni Pesantren Tebuireng, dan merupakan kandidat PhD di RZS CASIS UTM.
Pada kesempatan kali ini, beliau mengulas buku guru sekaligus supervisor disertasinya, Dr. Wan Suhaimi, berjudul “Khulasah Faham Ilmu”. Buku ini merupakan uraian pemikiran Imam al-Ghazali tentang ilmu dalam Kitab Ilmu Ihya Ulumuddin.
Ustadz Haerul menjelaskan, bahwa rang-orang berilmu atau yang sering disebut sebagai ulama ialah pewaris nabi dalam hal keilmuan sekaligus qudwah.
Para ulama dari zaman dahulu hingga saat ini memiliki hubungan yang erat, baik secara sanad keilmuan maupun secara pemikiran. Hal ini disebabkan adanya perantara, yang seharusnya dimiliki setiap umat muslim, yakni Worldview of Islam atau pandangan alam Islam.
Dengan Worldview of Islam, pemikiran antara masa lampau dengan masa kini dapat terhubung. Sebagai contoh, kita dapat menemukan hubungan antara pemikiran Prof. Al-Attas dengan Imam Al-Ghazali, sebab kedua ilmuwan ini memiliki kerangka pemikiran yang serupa pada taraf pandangan alam.
Keduanya sama-sama berusaha untuk terus menjawab tantangan zaman. Ustadz Haerul lantas mencontohkan, bagaimana keduanya berupaya memperbaiki beragam istilah kunci dalam Islam yang maknanya disimpangkan dari makna aslinya. Prof. Al-Attas menekankan, bahwa jika kita tidak mengenal makna yang sebenarnya dari tiap istilah penting itu, kita akan mengalami confusion of knowledge.
Imam al-Ghazali menjelaskan beberapa istilah yang bahkan sejak zamannya telah bergeser dari makna aslinya. Di antara istilah-istilah yang maknanya telah menyimpang ialah islah atau damai; fiqih yang dipersempit maknanya menjadi ilmu yang membahas hukum-hukum syariat saja; serta istilah tauhid yang dimaknai sebagai ilmu kalam atau ilmu berdebat.
Istilah lainnya ialah dzikir wa tadzkirah yang dimaknai peringatan dan memberi peringatan. Padahal makna aslinya lebih luas dari itu, yakni amar ma'ruf nahi munkar karena Allah ta'ala. Hal ini merupakan istilah yang meti dipahami, sebab kala itu - bahkan hingga hari ini - kebanyakan masyarakat senang menjual ilmu agamanya dengan dunia.
Contoh terakhir yang dijelaskan oleh Ustadz Haerul berdasarkan pemikiran Imam al-Ghazali ialah istilah hikmah atau dimaknai dengan kebijaksanaan. Hikmah yang sesungguhnya tidak bisa didapatkan hanya dengan mempelajari sesuatu dari internet tanpa bertemu dengan gurunya langsung. Hikmah hanya dimiliki orang-orang yang benar-benar berilmu. (Editor: Azzam Habibullah)
12/11/2023
Sekilas Kenangan dalam Rihlah Kali Ini (Catatan Rihlah Atco #15)
Oleh: Subhan Ramadhan (Mahasantri At-Taqwa College, 17 tahun)
Tidak terasa, hari ini (12/11/23) adalah hari ke-13 angkatan kami menjalani program Rihlah Ilmiah di Malaysia. Rihlah kali ini cukup berbeda dari edisi tahun-tahun sebelumnya. Pertama, waktunya cukup panjang, sehingga kegiatan berlangsung cukup banyak. Kedua, ini kali pertama Rihlah di Balai Jawi.
Sebagaimana yang sudah diceritakan tulisan sahabat-sahabat saya sebelumnya, Balai Jawi merupakan basecamp kami selama di Malaysia. Rumah ini berarsitektur khas ISTAC, yang menggunakan interior estetik, dengan tembok yang dilapisi dengan ketebalan dua kali lipat dari bangunan biasa.
Di antara yang menjadi ciri khas Balai Jawi adalah air mancur dan menaranya yang bergaya Andalusia. Selain itu, tempat ini juga memiliki kamar mandi dengan shower dan bathroom yang merupakan khas gaya kamar mandi di Eropa.
Seiring berjalannya waktu, kami menghadiri berbagai macam kajian keilmuwan. Salah satu yang paling berkesan adalah seminar bersama Prof. Wan di Balai Jawi. Beliau adalah seorang ilmuwan, aktivis dan penulis asal Malaysia. Ia merupakan salah satu rekan-pendiri dari Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) dan pernah menjabat sebagai Wakil Direktur di bawah ilmuwan besar, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Dalam seminarnya, beliau menjelaskan bahwa ikatannya dengan Balai Jawi begitu kuat, sebab dahulu rumah ini merupakan tempat tinggalnya dengan keluarga selama puluhan tahun. Selain itu, beliau juga menguraikan hal yang penting terkait ilmu. Ilmu yang benar akan mengantarkan kita kepada pengenalan dan pengakuan yang tepat akan tempat akan segala sesuatu. Prof Wan mengatakan, tujuan ilmu pada hakikatnya adalah menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Maka semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya ia makin dekat dengan Allah SWT.
Selama kami berada di Malaysia, kami juga mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di antaranya Masjid Negara, KLCC, Sentral Market, Museum Kuala Lumpur, CASIS, ISTAC, UKM, IIUM, dan kota Malaka.
Ada tiga etnis utama di Malaysia, yakni Melayu, Tionghoa, dan India. Di samping itu, tidak sedikit warga Eropa, dan negara-negara tetangga yang belajar dan bekerja di negara ini. Kebanyakan penduduk mengendarai mobil dibandingkan motor. Selain pengemudi food-delivery online - yang hanya mengantarkan makanan, bukan manusia - sedikit sekali penduduk yang memakai motor.
Hari ini kami tidak memiliki jadwal di luar. Kami lantas menggunakn waktu senggang untuk untuk membuat video Bahasa Inggris sebagai tugas selama di sini. Di pagi hari, seusai shalat shubuh berjama’ah, biasanya kami bekerja bakti di sekitar Balai Jawi. Selepas itu, kami menyantap sarapan roti canai dan teh tarik di warung tak jauh dari sini. Menjelang waktu siang, santri mengunakan waktu untuk beristirajat. Dan sorenya kami dipersilahkan untuk membaca buku di perpustakaan, dan berkeliling menikmati waktu senja.
Malam harinya, tak lupa santri mencari makan di kedai dengan beraneka macam makanannya. Mulai dari masakan meegie (mie dengan rasa indomie goreng) yang begitu enak rasanya; tomyam (dicampur ayam, bawang, sereh dan tomat) rasanya seperti makan seblak Indonesia namun tidak ada telur, baso, dan ceker ayamnya.
Di Malaysia, santri menjalani kegiatan seperti halnya di pondok seperti dzikir-ibadah harian membaca al-Qur’an, mengevaluasi kegiatan setiap harinya, dan sebagainya. Kami akan mengenang pengalaman dan mengambil Ibroh dari segala kegiatan yang kami lakukan. (Editor: Azzam Habibullah)
11/11/2023
Mengenal Hakikat Insan dalam Pandangan Alam Islam (Catatan Rihlah Atco #14)
Oleh: Nabila (Mahasantri At-Taqwa College, 18 Tahun)
Sejurus usai menyantap makan malam di Kampung Baru, kami menutup city tour Kuala Lumpur hari ini (10/11/23) dengan menghadiri kuliah publik yang diampu oleh Dr. Roslan Abd Jelani bertajuk "Sharahan Hakikat Insan" di Dewan Jumuah, RZS CASIS-UTM. Beberapa hari sebelumnya kami juga hadir di tempat yang sama dalam forum Saturday Night Lecture bersama Prof. Wan.
Seperti sebelumnya, kami hadir sebelum forum dimulai. Kami singgah di Masjid UTM untuk shalat Isya berjamaah.
Dr. Roslan Abd Jelani ini merupakan supir pribadi sekaligus murid Prof. Syed Naquib Al-Attas. Kedekatan beliau dengan Prof. Al-Attas tidak diragukan lagi. Persahabatan keduanya telah berlangsung selama puluhan tahun, sehingga tidak heran, Dr. Roslan begitu piawai dalam menguraikan pemikiran Prof. Al-Attas sekaligus mengungkap sisi lain dari sang intelektual yang tak tertuang di dalam buku.
Dr. Roslan mengawali forum dengan menjelaskan tentang betapa hebatnya tiga generasi awal Islam sebagai para insan hasil pendidikan Nabi. Mereka disebut sebagai generasi terbaik karena keikhlasannya dalam mempelajari aqidah, serta keimanan yang kuat dalam hati mereka.
Iman yang merupakan prinsip utama dalam segala aspek kehidupan, ditopang oleh keyakinan dan kesadaran akan amanah Tuhan. Keimanan juga tidak hanya berkaitan dengan wahdaniyyat, tetapi juga kepatuhan akan perintah dan larangan Rasulullah Saw. Sebab keimanan seseorang tidak akan sempurna tanpa mengakui kenabian Muhammad Saw.
Pembahasan tentang keyakinan dalam konsep ilmu Islam, termasuk kaitannya dengan tingkatan keyakinan, itu tidak dimiliki oleh agama maupun ideologi pemikiran lain. Di sinilah Dr. Roslan membahas mengenai problem pendidikan sekarang yang bercondong pada aspek sains-teknologi saja, tanpa memedulikan aspek keimanan-keyakinan yang sejatinya adalah fondasi. Sebab dengan ilmu inilah kita dapat menjawab tantangan zaman, dan melaksanakan pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Keyakinan, sebagaimana yang diuraikan beliau, juga berkaitan dengan daya dan gerak diri untuk mengenal al-Haqq. Di dalam aqidah Islam, Kebenaran dan Realitas yang sejati adalah Allah Swt. Bila kita terlalu fokus kepada aspek sains-teknologi, tanpa mengokohkan keyakinan kita terhadap Allah Swt, dapatkan kita disebut sebagai Insan yang beradab?
Selain berbicara mengenai keimanan dan keyakinan, Dr. Roslan juga menekankan kepada kita untuk mendalami konsep tawakkal. Sebab tawakal ini di ibaratkan sebagai buah dari keimanan.
Kita mesti paham, bahwa segala kesempurnaan yang ada di dunia ini bukan semata-mata karena sains-teknologi akan tetapi karena adanya kuasa Allah Swt. Maka seorang dikatakan sebagai insan yang sejati, bilanana imannya telah dihiasi oleh keyakinan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bertawakal secara sempurna.
Beliau mengatakan, bahwa kini ilmu ekonomi modern cenderung menjauhkan manusia pada tawakkal pada Allah. Orang-orang senantiasa merasa ragu dengan rezeki Allah. Begitu p**a ketika dia terlalu mengandalkan sains-teknologi untuk menjelaskan banyak hal. Akibatnya apa? Fenomena-fenomena alam yang rasanya belum mampu dijangkau oleh sains-teknologi dianggap sesuatu yang mustahil dan tidak rasional. (Editor: Azzam Habibullah)
10/11/2023
Menapak Kaki di Jantung Kota Kuala Lumpur (Catatan Rihlah Atco #13)
Oleh: Nabila (Mahasantri At-Taqwa College, 18 tahun)
Jam dinding di Balai Jawi menunjuk pukul 11.30 ketika kami bersiap bertolak menuju Kuala Lumpur. Hari ini adalah jadwal kami mengeksplore Kuala Lumpur.
Destinasi pertama kami ialah Masjid Jamek Sultan Abdul Samad. Masjid ini merupakan salah satu monumen terkenal di Kuala Lumpur. Masjid ini dibangun pada tahun 1909 dan diarsitekturi oleh Arthur Benison Hubback.
Hari ini suasana masjid sangat ramai. Para penduduk sekitar dan wisatawan berbondong-bondong menunaikan shalat Jum’at. Para mahasantri Atco yang laki-laki pun turut meramaikan, sementara kami yang perempuan, bergantian mencari makan siang.
Usai puas berkeliling di kawasan Masjid ini, dan menunaikan shalat Jum’at-Dzuhur, kami kemudian bertolak ke Dataran Merdeka. Tempat ini merupakan saksi bisu momen paling bersejarah bagi rakyat Malaysia. Pada 31 Agustus 1957, di tempat ini bendera persemakmuran Inggris, Union Jack berhasil diturunkan dan bendera Federasi Malaysia berkibar secara resmi; menandakan kemerdekaan Malaysia atas Inggris.
Di kawasan Dataran Merdeka terdapat dua lokasi yang boleh jadi adalah spot foto wajib di Kuala Lumpur, yakni Gedung Sultan Abdul Samad dan Galeri Kuala Lumpur.
Gedung Sultan Abdul Samad diambil dari nama pemimpin Selangor, Sultan Abdul Samad yang menjabat pada 1857-1898. Gedung ini dahulu digunakan bersama oleh Negeri Selangor dan Sekretraiat Persekutuan hingga tahun 1974. Pembangunan gedung ini dinahkodai oleh arsitektur kerajaan kolonial Inggris, Maxwell dan Spooner. Gaya bangunan ini mengadopsi arsitektur Islam ala Kerajaan Mughal di India dan bangunan Eropa klasik.
Galeri kuala Lumpur merupakan museum dan pusat informasi mengenai negara Malaysia, di dalamnya terdapat miniatur kota dan foto-foto lawas sejarah perkembangan Kuala Lumpur. Galeri kuala lumpur ini didirikan sejak tahun 1899 oleh inisiator Andrew J. K. Lee dengan tujuan untuk mempromosikan peninggalan dan budaya negara Malaysia.
Selepas berkeliling di kawasan Dataran Merdeka, kami pun mencoba menggunakan KRL Malaysia. Perbedaan kereta dalam kota di Indonesia dengan Malaysia adalah di sini menggunakan koin sebagai tiket masuk stasiun. Berbagai moda transportasi publik di Malaysia terlihat terintegrasi satu sama lain, dengan biaya yang cukup murah. Bahkan, ada yang gratis seperti Bus GoKL.
Dari Dataran Merdeka, kami menuju KLCC, landmark paling ikonik dari Malaysia. Setelah itu, kami menikmati suasana sore hari di Malaysia dengan berjalan kaki menuju kawasan Kampung Baru dengan melewati jembatan Saloma.
Jembatan pejalan kaki dan sepeda ini terbilang bangunan baru di kawasan Kuala Lumpur. Jembatan sepanjang 69 meter ini menghubungkan antara area pusat kota Kuala Lumpur dengan Kampung Baru, dan menyebrangi sungai Klang. Dari atas bangunan ini, kita dapat mengumpulkan deretan landmark kota Kuala Lumpur dalam satu frame photo. Sungguh menarik! (Editor: Azzam Habibullah)
09/11/2023
Salah Satu Tradisi Zikir di Alam Melayu (Catatan Rihlah Atco #12)
Oleh: Cut Aisyah (Mahasantri At-Taqwa College, 17 tahun)
“Ratib al-Haddad nama diberi, karya agung wali Allah al-Yamani. Buat amalan pelindung diri, Ketika manusia mengharapkan kasih ilahi.”
Demikian kutipan gurindam dari buku “Tradisi Ratib al Haddad di Alam Melayu: Manuskrip, Sanad, Kitab dan Pembudayaannya”, yang ditulis oleh Abdul Razak Abdul Rahman. Buku ini diulas oleh salah satu punggawa Akademi Jawi, Ustadz Amir, dalam kelas bersama mahasantri Atco pada Kamis siang (09/11/2023).
Ratib al-Haddad adalah dzikir riayah yang disusun oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad. Makna ri’ayah adalah memelihara. Dalam hal ini, Ratib al-Haddad diharapkan dapat memelihara kemaslahatan hati agar memperkuat kebersamaan dengan Allah.
Dizkir ini pun ditujukan supaya dapat melatih pembacanya agar berakhlaq terhadap Allah dengan menjaga diri daripada terlupa dan tertipu oleh bisikan shaitan. Ratib al-Haddad, atau yang juga dikenali dengan sebutan Ratib Ashahir, adalah amalan ratib yang telah diamalkan di belahan dunia.
Keunikan dari buku ini adalah penulis tidak sekedar mencantumkan beberapa manuskrip Ratib al-Haddad. Abdul Razak bin Abdul Rahman juga memaparkan terkait pengenalan serta pembudayaannya. Penulis buku yang lahir di Sungai Petani Kedah ini telah menggambarkan kepada pembaca bagaimana pengaruh Ratib al-Haddad terhadap kaum muslimin.
Mulanya, Ratib al-Haddad ini disusun oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad karena permintaan seorang muridnya untuk memberikan suatu wirid dan dzikir sebagai amalan penduduk kampungnya. Hal itu diharapkan dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang terjadi di Hadramaut.
Ratib al-Haddad ini disusun berdasar ilham yang diterima Sang Habib pada malam Laylatul Qadar, 27 Ramadhan 1071 Hijriyah. Sejak tuntas disusun pada 1071 H/1661 M, ratib ini telah dibaca oleh banyak umat Islam, bahkan sampai saat ini Ratib al-Haddad masih tersebar dan diamalkan.
Sejatinya, Ratib al-haddad sama baiknya dengan ratib ataupun dzikir al-ma’tsurat lainnya. Sekalipun kandungan bacaan di dalamnya terdapat sedikit perbedaan, namun Ratib al-Haddad pun sama-sama disusun berdasar pada doa, shalawat dan istighfar yang terkandung dalam Qur’an, Hadits maupun yang diamalkan oleh para ulama.
Atas izin Allah, berdasar riwayat dari orang yang mengamalkannya, Ratib al-Haddad ini dapat memberikan ketenangan serta bermacam keberkahan. Hal ini tidak heran, sebab Allah Swt telah berjanji untuk menentramkan hati seseorang yang mengingat-Nya.
Dalam sejarah Alam Melayu, Ratib al-Haddad memiliki kedudukan penting di tengah umat Islam. Shaykh Yusuf al-Maqassari adalah sosok yang pertama kali menyebarkan ratib ini di kep**auan melayu. Hingga kemudian ratib ini semakin tersebar di kalangan umat Islam Melayu.
Berkenaan keunggulan Ratib al-Haddad, kalangan ulama Melayu telah banyak mencantumkan ratib ini dalam kitab-kitab mereka. Syaikh Daud al-Pattani menuliskannya dalam kitab Kayfiyyat Khatam Qur’an, Habib Utsman telah mengutipnya dalam kitab Maslak al-Akhyar fi al-Ad’iyyah wa al-adzkar al waridah ‘an Nabi al Musthofa dan lain sebagainya. Melalui sanad yang diberikan oleh alim ulama, maka praktik pembacaan ratib ini tersebar dan dilakukan oleh banyak dari masyarakt Melayu Islam.
Berhubung buku ini bersifat historis, Abdul Razak cukup banyak memberikan data-data berkaitan pengamalan Ratib al-Haddad dalam sejarah Melayu. Satu peristiwa unik yang ia paparkan adalah ketika M***i Negeri Johor, Habib Alawi bin Thahir al-Haddad mengarahkkan imam masjid kerajaan untuk membaca Ratib al-Haddad selepas waktu maghrib untuk membentengi negeri Johor daripada segala gangguan musuh Jepang dan komunis kala itu.
Pembacaan ratib ini ditujukan sebagai pengisian ruhani dan pendindinng masyarakat Islam. Sebab dalam berjihad, bukan hanya stamina fisik umat Islam yang diperhatikan, namun juga kekuatan hatinya.
Dari karya Abdul Razak ini setidaknya kita mengetahui bahwa Ratib al-Haddad dinilai memiliki peranan penting. Telah banyak dari kalangan ulama yang menjadikan Ratib al-Haddad ini sebagai amalan. Mengingat bahwa Ratib al-Haddad adalah salah satu cara untuk mengingat Allah, maka merupakan hal baik jika kita melestarikan pengamalan ratib ini. (Editor: Azzam Habibullah)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
Jalan Usman Hasbi, Kel. Jatimulya, Kec. Cilodong
Depok
16413
Opening Hours
| Monday | 08:00 - 17:00 |
| Tuesday | 09:00 - 17:00 |
| Wednesday | 08:00 - 17:00 |
| Thursday | 09:00 - 17:00 |
| Friday | 08:00 - 17:00 |
| Saturday | 08:00 - 17:00 |