12/11/2023
Sekilas Kenangan dalam Rihlah Kali Ini (Catatan Rihlah Atco #15)
Oleh: Subhan Ramadhan (Mahasantri At-Taqwa College, 17 tahun)
Tidak terasa, hari ini (12/11/23) adalah hari ke-13 angkatan kami menjalani program Rihlah Ilmiah di Malaysia. Rihlah kali ini cukup berbeda dari edisi tahun-tahun sebelumnya. Pertama, waktunya cukup panjang, sehingga kegiatan berlangsung cukup banyak. Kedua, ini kali pertama Rihlah di Balai Jawi.
Sebagaimana yang sudah diceritakan tulisan sahabat-sahabat saya sebelumnya, Balai Jawi merupakan basecamp kami selama di Malaysia. Rumah ini berarsitektur khas ISTAC, yang menggunakan interior estetik, dengan tembok yang dilapisi dengan ketebalan dua kali lipat dari bangunan biasa.
Di antara yang menjadi ciri khas Balai Jawi adalah air mancur dan menaranya yang bergaya Andalusia. Selain itu, tempat ini juga memiliki kamar mandi dengan shower dan bathroom yang merupakan khas gaya kamar mandi di Eropa.
Seiring berjalannya waktu, kami menghadiri berbagai macam kajian keilmuwan. Salah satu yang paling berkesan adalah seminar bersama Prof. Wan di Balai Jawi. Beliau adalah seorang ilmuwan, aktivis dan penulis asal Malaysia. Ia merupakan salah satu rekan-pendiri dari Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) dan pernah menjabat sebagai Wakil Direktur di bawah ilmuwan besar, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Dalam seminarnya, beliau menjelaskan bahwa ikatannya dengan Balai Jawi begitu kuat, sebab dahulu rumah ini merupakan tempat tinggalnya dengan keluarga selama puluhan tahun. Selain itu, beliau juga menguraikan hal yang penting terkait ilmu. Ilmu yang benar akan mengantarkan kita kepada pengenalan dan pengakuan yang tepat akan tempat akan segala sesuatu. Prof Wan mengatakan, tujuan ilmu pada hakikatnya adalah menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Maka semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya ia makin dekat dengan Allah SWT.
Selama kami berada di Malaysia, kami juga mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di antaranya Masjid Negara, KLCC, Sentral Market, Museum Kuala Lumpur, CASIS, ISTAC, UKM, IIUM, dan kota Malaka.
Ada tiga etnis utama di Malaysia, yakni Melayu, Tionghoa, dan India. Di samping itu, tidak sedikit warga Eropa, dan negara-negara tetangga yang belajar dan bekerja di negara ini. Kebanyakan penduduk mengendarai mobil dibandingkan motor. Selain pengemudi food-delivery online - yang hanya mengantarkan makanan, bukan manusia - sedikit sekali penduduk yang memakai motor.
Hari ini kami tidak memiliki jadwal di luar. Kami lantas menggunakn waktu senggang untuk untuk membuat video Bahasa Inggris sebagai tugas selama di sini. Di pagi hari, seusai shalat shubuh berjama’ah, biasanya kami bekerja bakti di sekitar Balai Jawi. Selepas itu, kami menyantap sarapan roti canai dan teh tarik di warung tak jauh dari sini. Menjelang waktu siang, santri mengunakan waktu untuk beristirajat. Dan sorenya kami dipersilahkan untuk membaca buku di perpustakaan, dan berkeliling menikmati waktu senja.
Malam harinya, tak lupa santri mencari makan di kedai dengan beraneka macam makanannya. Mulai dari masakan meegie (mie dengan rasa indomie goreng) yang begitu enak rasanya; tomyam (dicampur ayam, bawang, sereh dan tomat) rasanya seperti makan seblak Indonesia namun tidak ada telur, baso, dan ceker ayamnya.
Di Malaysia, santri menjalani kegiatan seperti halnya di pondok seperti dzikir-ibadah harian membaca al-Qur’an, mengevaluasi kegiatan setiap harinya, dan sebagainya. Kami akan mengenang pengalaman dan mengambil Ibroh dari segala kegiatan yang kami lakukan. (Editor: Azzam Habibullah)