Puskantro UNUD

Puskantro UNUD

Share

Dalam forum ini bebas berpendapat atau memberikan opini tanpa saling melecehkan satu sama lain.

Tujuan dari Pusat Kajian Antropologi adalah mengembangkan antropologi sebagai ilmu pengetahuan tentang manusia dengan segala aspeknya yang meliputi penelitian sosial-budaya dan etnografi, serta memajukan kepentingan profesional antropolog Indonesia, termasuk penyebaran pengetahuan antropologi dan penggunaannya untuk memecahkan masalah kemanusiaan. Selain itu boleh melakukan posting gambar atau tul

06/09/2017

Homecoming Antropologi UI diawali dengan Koentjaraningrat Memorial Lecture XIV/2017. Kuliah umum tahunan kali ini akan membahas Masa Depan Kebinekaan Indonesia oleh Prof. (Emeritus) Dr. S. Boedhisantoso.

Diharapkan kehadirannya para kerabat semua.
fkai.org

23/08/2017

SEETAN : SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL MASYARAKAT DESA PAKRAMAN SUSUT KELOD, BANGLI

MADE ANDIKA HADIPUTRA EVAGANNA
NIM 1301605003

ABSTRAK
Masyarakat memiliki adat-istiadat sebagai pandangan hidup bersama, yang pada dasarnya merupakan suatu tata kelakuan. Namun, kenyataannya tidak semua masyarakat dapat tunduk dan taat terhadap adat istiadat. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem pengendalian sosial yang dapat menjaga suatu keutuhan sosial. Masyarakat Susut Kelod memiliki suatu tradisi yang unik, yang dinamakan seetan sebagai alat absensi dalam kegiatan paruman, ngayah, dan karang ngudud. Seetan pada dasarnya merupakan bentuk konkret dari adat istiadat yang dirasakan mampu menciptakan kontrol sosial pada masyarakatnya. Adapun masalah dalam penelitian ini berfokus pada dua hal, yaitu: (a) bagaimana aplikasi seetan di masyarakat Desa Susut Kelod dan (b) apa implikasi seetan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Desa Susut Kelod.
Kedua rumusan masalah dapat dibedah dengan dua teori, yaitu teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski dan teori tindakan Talcott Parsons. Konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah konsep seetan, konsep pengendalian sosial, dan konsep Bali Mula. Begitu p**a, penelitian ini menggunakan metode etnografi berupa penelitian kualitatif dengan teknik pengump**an data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukka, seetan tidak hanya dipandang sebagai benda fisik yang memiliki makna tunggal, tetapi mengandung nilai dan norma-norma yang mengatur tata kelakuan krama desa. Krama desa terbagi ke dalam empat kelompok dengan mengemban tugasnya masing-masing. Kemudian, pada setiap kelompok menggunakan seetan sebagai alat absensinya. Keempat seetan tersebut yaitu: seetan desa ageng, seetan puseh, seetan dalem, dan seetan desa sami. Masing-masing seetan memiliki aturan atau ketentuan yang sama secara teknis.
Aplikasi seetan pada setiap kegiatan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada hari raya galungan, di mana pada saat itu dilakukan nuduk dedosan. Seetan berimplikasi terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat Susut Kelod. Banyak nilai-nilai positif yang muncul, walaupun dirasakan sangat mengekang tindakan masyarakat. Dengan sanksinya, seetan dapat memunculkan rasa malu dan rasa takut bagi krama desa ketika tidak menghadiri kegiatan adat dan agama. Seetan juga mampu mempertebal keyakinan masyarakat kepada leluhurnya. Selain itu, seetan dirasa mampu menegakkan awig-awig, akibat dari ketaatan dan kepatuhan yang dilaksanakan melalui kebiasaan dan kegiatan yang menggunakan seetan.

Kata kunci: Seetan, pengendalian sosial, Masyarakat Bali Mula. viii

ABSTRACT
Society has their own customs as their way to see life, which is basically are the code of conduct. But, in reality not all people can comply and obey the customs. Therefore, it needs a social control system that can maintain a social unity. Susut Kelod community has a unique tradition, which is called seetan as a tool of absence in paruman, ngayah, and karang ngudud activities. Seetan is essentially a concrete form of custom, which is perceived capable of creating social control on its people. As for the problem in this study focuses on two things, a). How the application of seetan in the community of Susut Kelod village. b). What are the implication on various aspects of Susut Kelod village community.
Both of formulation of problem can be dissected by two theories, which are Branislow Malinowski functionalism theory and Talcott Parsons action theory. The concept that being used as a guide in this research is the concept of seetan, the concept of social control, and Bali Mula concept. So did, this research using ethnography method in the form of qualitative research with data collection technique, through participant observation, in-depth interview and literature study.
The results showed, seetan not only seen as physical objects that have a single meaning, but also contains values and norms which govern the etiquette behavior of krama desa. Krama desa divided into four groups by carrying out their respective duties. Then, each groups using seetan as their tool of absence. Fourth types of seetan which are : seetan desa ageng, seetan puseh, seetan dalem, and seetan desa sami. Every single seetan has its own rules or terms but still have the same similarity in the technically state.
Application of seetan continues on every activity until it reaches its peak on galungan day, where at that time nuduk dedosan also being done. Seetan has implications for various aspects of Susut Kelod community life. Many of positive values are emerging, although some people also felt it is very curbing the actions of the people. Seetan comes with sanctions, seetan can bring shame and fear to the krama desa when they are not attending the activities of customs and religion. Seetan is also able to strengthen public beliefs to their ancestors. Other than that, seetan is perceived being able to enforce awig–awig, as a result of compliance and obedience carried out through habits and activities using seetan.

Keyword : Seetan, Social Control, Bali Mula Community.

19/08/2017

EKSISTENSI BALIAN USADA DALAM PENGOBATAN PADA MASYARAKAT DESA TIGA, KECAMATAN SUSUT, BANGLI

I GUSTI BAGUS ARYA PUTRA
NIM 1301605004

ABSTRAK
Kecanggihan pengobatan modern Barat tidak selamanya mampu memberikan kesembuhan secara menyeluruh kepada pasien. Melengkapi pengobatan yang ada, masyarakat Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli masih tetap melirik pengobatan tradisional sebagai pengobatan alternatifnya. Hal tersebut tercermin dari kebiasaan dan kepercayaan masyarakat memilih seorang balian usada ketika menderita sakit. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) mengapa balian usada masih tetap eksis dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat Desa Tiga dan (b) bagaimana proses serta mekanisme sistem perawatan kesehatan yang dilakukan oleh balian usada dalam menangani pasien.
Pilihan pengobatan masyarakat Desa Tiga kepada balian usada dapat dikaji melalui pendekatan ekologi kesehatan, sedangkan alasan tetap dipilihnya balian usada sebagai pengobatan alternatif dapat dikaji melalui teori health belief model. Konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah konsep eksistensi, konsep balian usada, dan konsep pengobatan. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan metode penelitian etnografi yang termasuk ke dalam penelitian kualitatif dengan teknik pengump**an data melalui observasi partisipasi, wawancara, serta studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi balian usada dalam pelayanan kesehatan di Desa Tiga hingga saat ini masih tetap tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu (a) faktor kedekatan pasien terhadap balian usada, di mana semakin dekat pasien terhadap seorang pengobat yang mereka pilih, maka semakin tinggi tingkat keyakinan pasien untuk sembuh; (b) faktor latar belakang budaya yang sama, membuat pasien lebih mampu menyesuaikan praktik perawatan kesehatannya; (c) faktor kepercayaan masyarakat terhadap balian usada, di mana tingkat harapan kesembuhan penyakit akan semakin tinggi apabila ditangani oleh pengobat yang memperoleh kemampuan secara turun-temurun; dan (d) faktor biaya, di mana tidak adanya patokan harga untuk berobat atau bersifat tulus ikhlas. Profesi balian usada di Desa Tiga diperoleh berdasarkan keturunan (ascribed roles) dan atas pandangan masyarakat. Menjadi balian usada di Desa Tiga harus melalui tiga tahapan, yaitu: tahap persiapan diri, tahap proses belajar, dan tahap praktik pengobatan. Adapun proses dan mekanisme sistem perawatan kesehatan dalam menangani pasien yang diterapkan oleh balian usada di Desa Tiga, dimulai dari mendiagnosa penyakit dengan berbagai cara yaitu melihat kondisi pasien, menyentuh bagian tubuh pasien yang sakit, merasakan getaran tubuh pasien, meminta petunjuk dari alam, dan menggunakan media atau benda yang dianggap sakral. Terkait dengan perawatan dan pengobatan pasien, balian usada berpedoman pada Lontar Usada dan pengetahuan lisan secara turun-temurun. Kosmologi dan sistem perawatan kesehatan masyarakat Desa Tiga dalam konteks sehat-sakit merupakan masalah keseimbangan dan ketidakseimbangan antara alam semesta dengan manusia itu sendiri.

Kata Kunci: balian usada, eksistensi, dan pengobatan.

15/08/2017

RITUS KENI KESIPAT DI PURA PENATARAN
DESA ADAT PENGLIPURAN
KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI

NI LUH EKAYANI
1201605009

ABSTRAK
Pura Penataran Desa Adat Penglipuran Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli memiliki ritual atau Ritus yang menarik yaitu Ritus Keni Kesipat. Ritus ini dilakukan oleh warga masyarakat yang telah melanggar larangan-larangan di tempat keramat yang ada di dalam pura. Ritus Keni Kesipat merupakan Ritus permohonan maaf atau guru piduka namun memiliki keunikan, sehingga menarik untuk diteliti dengan rumusan masalah: 1. Mengapa masyarakat Desa Adat Penglipuran melakukan Ritus Keni Kesipat di Pura Penataran; dan 2. Bagaimana fungsi dan makna Ritus Keni Kesipat bagi masyarakat Desa Adat Penglipuran
Penelitian ini menggunakan tiga teori yaitu: teori hukum dari R.Brown, teori tabu dari Douglas, dan teori fungsionalisme manifest dan laten dari Robert K. Merton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengump**an data menggunakan metode observasi partisipasi, metode wawancara dan kepustakaan, data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Ritus Keni Kesipat dilakukan oleh warga masyarakat yang telah melakukan pelanggaran terhadap larangan yang ada di Pura Penataran. Larangan yang ada di pura Penataran terkait dengan tempat-tempat yang dikeramatkan dan dianggap suci. Larangan-larangan di Pura Penataran berlaku bagi perempuan yang sudah menikah untuk tidak menyentuh, duduk, atau berada dibawah cucuran atap Bale Agung, Bale Deha, palinggih Ratu Ayu Melasem dan Ratu Pingit, larangan bagi ibu hamil dan orang tua yang telah mempunyai kumpi atau buyut untuk tidak melewati Kori Agung. Ritus Keni Kesipat dipimpin oleh Jro Kubayan. Sarana yang dipergunakan ada dua yaitu pengolem dan banten penyeneng.
Fungsi Ritus Keni Kesipat bagi masyarakat Penglipuran adalah 1. sebagai permohonan maaf kepada Dewa Brahma karena telah melakukan pelanggaran di tempat-tempat yang dikeramatkan, 2. Fungsi Ritus Keni Kesipat untuk menjaga kesucian pura dengan melakukan Ritus agar pura tetap suci. 3. Fungsi Ritus Keni Kesipat untuk menjaga keselamatan agar terhindar dari musibah baik secara sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata). 4. Fungsi Ritus Keni Kesipat sebagai sarana introspeksi diri agar masyarakat tidak melakukan pelanggaran yang sama di Pura Penataran, Makna Ritus Keni Kesipat bagi masyarakat Penglipuran, 1. Makna Ritus Keni Kesipat untuk menjaga keseimbangan agar antara alam, manusia dan Tuhan terjalin keharmonisan, 2. Makna Ritus Keni Kesipat untuk menjaga sikap dan perilaku agar berhati-hati di Pura Penataran supaya tidak melakukan pelanggaran, 3. Makna Ritus Keni Kesipat sebagai bentuk menumbuhkan sikap patuh dan jujur agar masyarakat yang melakukan pelanggaran bersikap patuh dan jujur meskipun telah melakukan pelanggaran di Pura Penataran.

Kata Kunci : Pura Penataran, Ritus Keni Kesipat, Larangan

ABSTRACT
Penataran Temple Penglipuran Custom Village, Bangli Subdistric, Bangli Regency has such kind of interesting ritual or rite which is called as Keni Kesipat Rite. This rite is hold by the villagers who break the prohibitions in the sacred places which is located in temple area. Keni Kesipat rite is a kind of an apology or it is called as guru piduka, but it has its own uniqueness so that it is interesting to be researched with the statement of the problems: 1. Why the villagers in Penglipuran Custom Village held Keni Kesipat rite in Penataran Temple; 2. What is the functions and the meaning of Keni Kesipat rite for the villagers in Penglipuran Custom Village. This research used three theories, those are: law theory fromR.Brown, Taboo theory from Douglas, and manifest Functionalism and Laten theory of Robert K. Morthon. This research used qualitative approach, the techniques were used to collect the data namely participatory observation, interview and literature techniques, the data obtained were analyzed descriptively.
Keni Kesipat Rite is hold by the villager who has broken the prohibitions which there are in Penataran Temple. The prohibitions in Penataran temple is related with the sacred and holy places. The prohibitions in Penataran Village valid for the married women to do not touch, sit, or being there under the eaves of Bale Agung, Bale Deha, Ratu Ayu Melasem Temple, and Ratu Pingit, the prohibition for the pregnant woman and elderly people who already have great grand children for not passing Kori Agung. Keni Kesipat Rite is led by Jro Kubayan. And there are two things which are used as the offering; those are pengolem and banten penyeneng.
The functions of Keni Kesipat Rite for the villagers are: 1. As an apology thing to Lord Brahma for committing such kind of violation in sacred places, 2. The second function of Keni Kesipat Rite is to maintain the holiness of the temple by held the Keni Kesipat Rite, 3. The third function is to maintain the salvation in order to avoid disaster both in sekala and niskala {real and unreal), 4. Keni Kesipat Rite also used as a mean of self introspection in order to make the villagers does not do any kind of the same violation in Penataran Temple. The meanings of Keni Kesipat Rite for the Penglipuran villager are, 1. The first meaning is to maintain a good harmony among environment, god and human, 2. The meaning of Keni Kesipat is to maintain the attitude and behavior to be careful in order does not to do any kind of violation, 3. The meaning of Keni Kesipat as the form of growing loyality and honesty, in order to make the villager who make the violation become submissive and honest even though they have done any kind of violation in Penataran Temple.

Key words: Penataran Temple, Keni Kesipat Rite, prohibition.

01/08/2017

PEMERTAHANAN IDENTITAS ETNIK DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL PADA MASYARAKAT KAMPUNG BUGIS DI PULAU SERANGAN, KECAMATAN DENPASAR SELATAN, KOTA DENPASAR

NI PUTU AYU AMRITA PRADNYASWARI
0701605005
ABSTRAK
Provinsi Bali didiami oleh etnik Bali sebagai etnik mayoritas dan beberapa etnik lain seperti etnik Jawa, Madura, Melayu, Cina, Sasak, dan Bugis. Eksistensi etnik non Bali yang berada di Bali tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di Provinsi Bali adalah masyarakat multikultural. Masyarakat Bali yang multikultural juga dapat dijumpai pada p**au kecil di Denpasar Selatan, yakni Pulau Serangan. Masyarakat yang menetap di Pulau Serangan terdiri dari beberapa etnik, yakni etnik Bali yang merupakan penduduk asli dan mayoritas di Pulau Serangan. Etnik Jawa, Madura, dan Bugis merupakan etnik pendatang dan minoritas. Berbeda dengan etnik Jawa dan Madura, etnik Bugis telah bermigrasi dan menetap di Pulau Serangan sejak abad ke-17.
Masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan mengidentifikasi dirinya sebagai Orang Bugis Serangan, bukan Orang Bugis Sulawesi Selatan. Pemertahanan identitas keetnisan yang dilakukan masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan dibarengi oleh proses adaptasi sehingga masyarakat mempunyai ciri khas sebagai Kampung Bugis Serangan. Ciri khas tersebut merupakan salah satu bentuk hibriditas budaya. Hibriditas budaya merupakan percampuran elemen-elemen budaya yang berbeda untuk menciptakan makna dan identitas baru. Hal ini menarik untuk diteliti sehingga rumusan masalah yang digunakan adalah: (1) Apa potensi dan kendala dalam pemertahanan identitas Etnik Bugis pada masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan? (2) Bagaimana bentuk dan makna pemertahanan identitas Etnik Bugis yang dilakukan masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan ?
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori adaptasi dari John W. Bennett yang diformulasikan dengan teori penunjang yang diungkapkan Gulick dan Abu Lughod mengenai adaptasi yang dilakukan para migran di daerah yang baru, serta ditunjang oleh konsep pemertahanan, identitas, etnik, dan multikulturalisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian etnografi. Sumber data diperoleh dari informan dan sumber sekunder seperti buku-buku teks, dokumen, dan monografi desa. Teknik pengump**an data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara, dan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa hal yang menjadi potensi dalam pemertahanan identitas etnik Bugis di Pulau Serangan adalah kesamaan latar belakang sejarah, rasa saling ketergantungan, sistem religi dan kepercayaan, dan konsensus. Proses pemertahanan identitas etnik Bugis ini juga mengalami beberapa kendala, yakni kendala ekonomi dan ketersediaan infrastruktur, serta keterputusan proses pewarisan budaya.
Pemertahanan identitas etnik Bugis pada masyarakat Kampung Bugis di p**au Serangan terwujud pada hampir semua unsur kebudayaan, yaitu ritus keagamaan, bahasa, rumah, sistem kekerabatan, rumah, sistem dan organisasi kemasyarakatan, dan folkor. Makna pemertahanan identitas pada masyarakat Kampung Bugis Serangan semakin memperkuat ideologi mereka yang dijiwai xvi oleh agama Islam. Pemertahanan identitas yang dilakukan masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan berimplikasi pada cara mereka dalam memperkenalkan eksistensi mereka. Makna pemertahanan identitas bagi masyarakat Kampung Bugis di Pulau Serangan adalah untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga mampu memperkuat jati diri, serta memperjelas ideologi keetnisan mereka.

Kata kunci : identitas, pemertahanan identitas, adaptasi budaya.

Want your school to be the top-listed School/college in Denpasar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jalan Pulau Nias 13, Sanglah
Denpasar
80114