23/08/2017
SEETAN : SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL MASYARAKAT DESA PAKRAMAN SUSUT KELOD, BANGLI
MADE ANDIKA HADIPUTRA EVAGANNA
NIM 1301605003
ABSTRAK
Masyarakat memiliki adat-istiadat sebagai pandangan hidup bersama, yang pada dasarnya merupakan suatu tata kelakuan. Namun, kenyataannya tidak semua masyarakat dapat tunduk dan taat terhadap adat istiadat. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem pengendalian sosial yang dapat menjaga suatu keutuhan sosial. Masyarakat Susut Kelod memiliki suatu tradisi yang unik, yang dinamakan seetan sebagai alat absensi dalam kegiatan paruman, ngayah, dan karang ngudud. Seetan pada dasarnya merupakan bentuk konkret dari adat istiadat yang dirasakan mampu menciptakan kontrol sosial pada masyarakatnya. Adapun masalah dalam penelitian ini berfokus pada dua hal, yaitu: (a) bagaimana aplikasi seetan di masyarakat Desa Susut Kelod dan (b) apa implikasi seetan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Desa Susut Kelod.
Kedua rumusan masalah dapat dibedah dengan dua teori, yaitu teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski dan teori tindakan Talcott Parsons. Konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah konsep seetan, konsep pengendalian sosial, dan konsep Bali Mula. Begitu p**a, penelitian ini menggunakan metode etnografi berupa penelitian kualitatif dengan teknik pengump**an data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukka, seetan tidak hanya dipandang sebagai benda fisik yang memiliki makna tunggal, tetapi mengandung nilai dan norma-norma yang mengatur tata kelakuan krama desa. Krama desa terbagi ke dalam empat kelompok dengan mengemban tugasnya masing-masing. Kemudian, pada setiap kelompok menggunakan seetan sebagai alat absensinya. Keempat seetan tersebut yaitu: seetan desa ageng, seetan puseh, seetan dalem, dan seetan desa sami. Masing-masing seetan memiliki aturan atau ketentuan yang sama secara teknis.
Aplikasi seetan pada setiap kegiatan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada hari raya galungan, di mana pada saat itu dilakukan nuduk dedosan. Seetan berimplikasi terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat Susut Kelod. Banyak nilai-nilai positif yang muncul, walaupun dirasakan sangat mengekang tindakan masyarakat. Dengan sanksinya, seetan dapat memunculkan rasa malu dan rasa takut bagi krama desa ketika tidak menghadiri kegiatan adat dan agama. Seetan juga mampu mempertebal keyakinan masyarakat kepada leluhurnya. Selain itu, seetan dirasa mampu menegakkan awig-awig, akibat dari ketaatan dan kepatuhan yang dilaksanakan melalui kebiasaan dan kegiatan yang menggunakan seetan.
Kata kunci: Seetan, pengendalian sosial, Masyarakat Bali Mula. viii
ABSTRACT
Society has their own customs as their way to see life, which is basically are the code of conduct. But, in reality not all people can comply and obey the customs. Therefore, it needs a social control system that can maintain a social unity. Susut Kelod community has a unique tradition, which is called seetan as a tool of absence in paruman, ngayah, and karang ngudud activities. Seetan is essentially a concrete form of custom, which is perceived capable of creating social control on its people. As for the problem in this study focuses on two things, a). How the application of seetan in the community of Susut Kelod village. b). What are the implication on various aspects of Susut Kelod village community.
Both of formulation of problem can be dissected by two theories, which are Branislow Malinowski functionalism theory and Talcott Parsons action theory. The concept that being used as a guide in this research is the concept of seetan, the concept of social control, and Bali Mula concept. So did, this research using ethnography method in the form of qualitative research with data collection technique, through participant observation, in-depth interview and literature study.
The results showed, seetan not only seen as physical objects that have a single meaning, but also contains values and norms which govern the etiquette behavior of krama desa. Krama desa divided into four groups by carrying out their respective duties. Then, each groups using seetan as their tool of absence. Fourth types of seetan which are : seetan desa ageng, seetan puseh, seetan dalem, and seetan desa sami. Every single seetan has its own rules or terms but still have the same similarity in the technically state.
Application of seetan continues on every activity until it reaches its peak on galungan day, where at that time nuduk dedosan also being done. Seetan has implications for various aspects of Susut Kelod community life. Many of positive values are emerging, although some people also felt it is very curbing the actions of the people. Seetan comes with sanctions, seetan can bring shame and fear to the krama desa when they are not attending the activities of customs and religion. Seetan is also able to strengthen public beliefs to their ancestors. Other than that, seetan is perceived being able to enforce awig–awig, as a result of compliance and obedience carried out through habits and activities using seetan.
Keyword : Seetan, Social Control, Bali Mula Community.