01/05/2026
Kalau saja saya berada di posisi beliau, mungkin saya akan berbicara kepada murid-murid terdekat:
“Saya punya proyek dakwah berupa penelitian. Kira-kira ada yang bisa membantu?”
Atau memberi motivasi agar mereka ikut bersemangat dalam menyebarkan ilmu, lalu setelah itu membuka donasi.
Atau dengan ungkapan yang lebih halus, seperti:
“Harga kertas sekarang agak mahal ya?”, berharap ada yang menanggapi, “Memang untuk apa, Syaikh?”
Atau dengan cara lain:
“Apakah ada kertas di rumahmu? Saya pinjam dulu, nanti saya kembalikan.”
Atau bisa juga:
“Kira-kira kertas apa yang paling murah saat ini? Saya ingin menulis sebuah penelitian.”
Namun, hal-hal seperti itu tidak pernah beliau lakukan. Saya pun bertanya-tanya, mental seperti apa yang dimiliki oleh beliau, hingga mampu menjaga diri untuk tidak meminta-minta, baik secara langsung maupun tidak langsung, padahal itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk ilmu dan dakwah.
Kesulitan hidup beliau rahimahullah mencapai tingkat yang sangat berat, sampai-sampai beliau menulis penelitian-penelitiannya di atas kertas-kertas yang ditemukan di jalan.
---------
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah berkisah:
“Guru kami, Al-Albani rahimahullah, pernah menugaskan saya untuk meninjau beberapa bagian dari As-Silsilah Adh-Dha‘ifah sebelum dicetak. Beliau memberikan kepada saya jilid kelima dari kitab tersebut. Saya mengambil naskah tulisan tangan beliau sebelum dicetak. Ketika saya mengeluarkannya dari sebuah kantong dan melihatnya, saya langsung menangis.
Beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu?’
Saya tidak menjawab, tetapi beliau melihat air mata di mata saya.
Ternyata beliau menulis jilid kelima Adh-Dha‘ifah di atas kertas hadiah, bahkan di atas bungkus gula dan beras, yakni kantong merah yang biasa digunakan orang untuk menimbang bahan-bahan tersebut.
Beliau juga berkata, ‘Saya memiliki benang yang saya celupkan ke tinta, lalu saya bentangkan di atas kertas agar menjadi bergaris.’
Kemudian beliau berkata, ‘Saya tidak punya uang untuk membeli kertas.’”
Asy-Syaibani dalam kitab Hayat Al-Albani (hlm. 43) menyebutkan:
“Di antara beratnya kesulitan yang dialami Syaikh adalah beliau tidak memiliki selembar kertas pun untuk menuliskan ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya. Maka beliau berjalan di jalan-jalan dan gang-gang, mencari kertas bekas yang tercecer untuk digunakan menulis di bagian belakangnya. Biasanya bagian depan kertas itu sudah berisi tulisan, seperti undangan acara, pernikahan, atau iklan produk.
Beliau pernah memperlihatkan kepada saya beberapa manuskrip yang ditulis di atas kertas-kertas tersebut. Kebanyakan sudah robek di bagian tepinya dan mulai rusak.
Beliau juga pernah berkata, ‘Saya biasa membeli kertas bekas dengan ditimbang karena harganya murah.’”
---------
Syaikh adalah sosok yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Beliau pandai menutup rapat kesulitan hidupnya dan tidak bergantung pada uluran tangan atau belas kasihan orang lain.
Bahkan, beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Waktu yang beliau gunakan untuk bekerja hanya beberapa jam setiap hari, sementara sisa waktunya beliau curahkan sepenuhnya untuk meneliti, menulis, dan berdakwah.
(Sucipto Hadi Saputro)
27/04/2026
22/04/2026
17/04/2026