Ustadz Syahrullah Hamid

Ustadz Syahrullah Hamid

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Ustadz Syahrullah Hamid, Educational consultant, Jalan Gn. Resimuka Barat, Gang Griya Resi, No. 4, Denpasar.

Pegiat Dakwah Bali
Anggota Dewan Pertimbangan MUI Bali
Agent Travel Pelaksana Resmi HAJI dan UMRAH
Penjual Kambing dan Sapi Qurban
Founder Taman Ilmu Bali
Mudir Bali Belajar Islam

01/05/2026

Kalau saja saya berada di posisi beliau, mungkin saya akan berbicara kepada murid-murid terdekat:
“Saya punya proyek dakwah berupa penelitian. Kira-kira ada yang bisa membantu?”

Atau memberi motivasi agar mereka ikut bersemangat dalam menyebarkan ilmu, lalu setelah itu membuka donasi.

Atau dengan ungkapan yang lebih halus, seperti:
“Harga kertas sekarang agak mahal ya?”, berharap ada yang menanggapi, “Memang untuk apa, Syaikh?”

Atau dengan cara lain:
“Apakah ada kertas di rumahmu? Saya pinjam dulu, nanti saya kembalikan.”

Atau bisa juga:
“Kira-kira kertas apa yang paling murah saat ini? Saya ingin menulis sebuah penelitian.”

Namun, hal-hal seperti itu tidak pernah beliau lakukan. Saya pun bertanya-tanya, mental seperti apa yang dimiliki oleh beliau, hingga mampu menjaga diri untuk tidak meminta-minta, baik secara langsung maupun tidak langsung, padahal itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk ilmu dan dakwah.

Kesulitan hidup beliau rahimahullah mencapai tingkat yang sangat berat, sampai-sampai beliau menulis penelitian-penelitiannya di atas kertas-kertas yang ditemukan di jalan.

---------

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah berkisah:

“Guru kami, Al-Albani rahimahullah, pernah menugaskan saya untuk meninjau beberapa bagian dari As-Silsilah Adh-Dha‘ifah sebelum dicetak. Beliau memberikan kepada saya jilid kelima dari kitab tersebut. Saya mengambil naskah tulisan tangan beliau sebelum dicetak. Ketika saya mengeluarkannya dari sebuah kantong dan melihatnya, saya langsung menangis.

Beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu?’
Saya tidak menjawab, tetapi beliau melihat air mata di mata saya.

Ternyata beliau menulis jilid kelima Adh-Dha‘ifah di atas kertas hadiah, bahkan di atas bungkus gula dan beras, yakni kantong merah yang biasa digunakan orang untuk menimbang bahan-bahan tersebut.

Beliau juga berkata, ‘Saya memiliki benang yang saya celupkan ke tinta, lalu saya bentangkan di atas kertas agar menjadi bergaris.’

Kemudian beliau berkata, ‘Saya tidak punya uang untuk membeli kertas.’”

Asy-Syaibani dalam kitab Hayat Al-Albani (hlm. 43) menyebutkan:

“Di antara beratnya kesulitan yang dialami Syaikh adalah beliau tidak memiliki selembar kertas pun untuk menuliskan ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya. Maka beliau berjalan di jalan-jalan dan gang-gang, mencari kertas bekas yang tercecer untuk digunakan menulis di bagian belakangnya. Biasanya bagian depan kertas itu sudah berisi tulisan, seperti undangan acara, pernikahan, atau iklan produk.

Beliau pernah memperlihatkan kepada saya beberapa manuskrip yang ditulis di atas kertas-kertas tersebut. Kebanyakan sudah robek di bagian tepinya dan mulai rusak.

Beliau juga pernah berkata, ‘Saya biasa membeli kertas bekas dengan ditimbang karena harganya murah.’”

---------

Syaikh adalah sosok yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Beliau pandai menutup rapat kesulitan hidupnya dan tidak bergantung pada uluran tangan atau belas kasihan orang lain.

Bahkan, beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Waktu yang beliau gunakan untuk bekerja hanya beberapa jam setiap hari, sementara sisa waktunya beliau curahkan sepenuhnya untuk meneliti, menulis, dan berdakwah.

(Sucipto Hadi Saputro)

27/04/2026

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mari hadiri & ramaikan Kajian Setiap Senin Malam bersama,

Ust. Syahrullah Hamid, S.Pd.I
-Pebelajar Darul Hadits Yaman
-Alumni Institut Agama Islam STIBA Makassar
-Anggota Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Bali

Dengan pembahasan Kitab Hadits Riyadhussholihin.

📅 Senin, 27 April 2026
⏰ 18.00 WITA (setelah sholat Magrib berjama’ah)
📍 Musholla Hasan Ali, Gedung MUI Bali

Jangan lewatkan kesempatan menghadiri majelis ilmu yang penuh berkah ini. Ajak keluarga, sahabat, dan kerabat untuk bersama-sama menuntut ilmu, mempelajari hadits-hadits Nabi kita yang tercinta Muhammad shallallahu'alaihi wasallam.

Semoga Allah mudahkan langkah kita menuju majelis ilmu.

InsyaAllah malam ini. Mari sama2 kita ramaikan ikhwah/akhwat.🤝

22/04/2026

SYAIKH AL UTSAIMIN TIDAK MEMAAFKAN SIAPA PUN YANG MENCELA MENGGIBAH ATAU MERUSAK KEHORMATANNYA

Dalam sebuah acara, ada seseorang yang bertanya kepada Syaikh Musthafa Al-'Adawi hafizahullah, berikut redaksi pertanyaan dan jawaban dari beliau,

--------------

Pertanyaan:
"Apa pendapat Anda mengenai seseorang yang berkata, "Aku memaafkan setiap muslim yang telah mencela kehormatanku"? Apakah ucapan ini tepat?

Syaikh Musthafa Menjawab:
Ucapan seperti ini justru bisa membuat orang lain semakin berani mencemarkan kehormatan kita.
Bahkan, secara sekilas dapat dikatakan bahwa hal seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (memaafkan secara terbuka dan umum sebelum gangguan terjadi).

Dalam hal ini, saya teringat akan sikap seorang alim besar umat ini, yakni Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah.
Dahulu, saat Syaikh dalam keadaan sakit yang mengantarkan pada wafatnya, ada seorang kawan yang berkata kepada saya,
"Aku ingin menjenguk Syaikh Utsaimin, karena aku merasa pernah berbuat salah kepada beliau."
Maka berangkatlah saya mengantarkan kawan tadi menjenguk beliau di sebuah rumah sakit di Riyadh.

Di sana saya berkata (tanpa menyebut nama kawan tadi),
"Wahai Ayahanda, semoga Allah menjaga Anda. Kami memohon satu permintaan, kami berharap Anda sudi memaafkan setiap muslim yang pernah mencela kehormatan Anda."
Beliau bertanya,
"Apa katamu?"
Saya ulangi,
"Kami mohon kemurahan hati Anda untuk memaafkan muslim yang mencela Anda."
Beliau bertanya lagi,
"Apa katamu?"
Untuk ketiga kalinya saya menjawab hal yang sama.

Lalu beliau menjawab dengan tegas,
"Dengar wahai Musthafa! Siapa saja yang menggibahi diriku berdasarkan kebenaran (fakta), maka ia aku maafkan, menyebutkan aib yang memang ada pada diriku. Namun, bagi siapa saja yang mencelaku dengan kebohongan dan dilakukan secara sengaja, maka aku tidak akan memaafkannya."

Saya mencoba membujuk beliau kembali (karena merasa kasihan dengan kawan tadi), namun jawabannya tetap sama. Saya ulangi lagi, beliau tetap pada pendiriannya. Teman yang bersama saya saat itu merasa sedih, sementara saya membatin, "Aduhai, sekiranya Syaikh mau memaafkan mereka agar Allah pun mengampuninya."

Setelah meninggalkan Syaikh Utsaimin, saya menemui seorang pakar hadits di Riyadh yang sangat kami muliakan yakni Syaikh Dr. Saad al-Humaid. Saya ceritakan kejadian tadi kepadanya. Beliau pun menenangkan saya,
"Jangan bersedih, wahai Abu Abdillah. Syaikh Ibnu Utsaimin melakukan itu karena beliau adalah seorang alim (yang mempertimbangkan maslahat)."

​Lalu beliau memperlihatkan sebuah video kaum Syiah yang sedang mencaci maki Syaikh Ibnu Utsaimin dengan sangat keji. Syaikh Saad menjelaskan,
"Jika pintu maaf dibuka lebar secara umum dan diumumkan, maka orang-orang yang melampaui batas, yang mencaci dan melaknat Syaikh iIbnu Utsaimin, akan semakin berani dan menjadi-jadi dalam pelecehan mereka."
Seketika itu juga, barulah saya memahami sudut pandang Syaikh Ibnu Utsaimin dengan sangat baik. Semoga Allah merahmati beliau.

Kemudian saya terdorong untuk meneliti masalah ini dalam Al-Qur’an dan Sunnah:
Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan maaf secara umum kepada semua orang?
Saya tidak menemukan dalil yang tegas, kecuali sesuatu yang mendekati, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia biasa. Aku bisa marah sebagaimana manusia marah, dan aku bisa bersedih sebagaimana manusia bersedih. Maka, muslim mana saja yang pernah aku cela atau aku laknat, jadikanlah hal itu sebagai pembersih dosa baginya, wahai Rabb semesta alam."

Juga ketika beliau pernah menegur seorang pelayan Ummu Salamah yang terlambat dengan ucapan,
"Di mana dia? Semoga Allah memotong tangannya!"
Ummu Salamah pun khawatir dan berkata,
"Wahai Rasulullah, Anda mendoakan kecelakaan bagi pelayanku, ia bisa celaka."
Beliau menjawab,
"Tidakkah engkau tahu syarat yang aku ajukan kepada Tuhanku? Aku berkata: Ya Allah, aku hanyalah manusia... maka siapa pun muslim yang aku cela, jadikanlah itu sebagai kafarat (penebus dosa) baginya."

Riwayat di atas memang menunjukkan bolehnya memaafkan, namun hal itu tidak untuk diumumkan ke publik.
Artinya, Anda boleh menyimpan rasa maaf itu di dalam hati untuk bekal di akhirat, namun jangan menyuarakannya di hadapan orang banyak. Tujuannya agar orang-orang bodoh tidak semakin berani menginjak-injak kehormatan Anda. Di hadapan manusia, Anda tetap berwibawa, namun antara Anda dengan Allah, Anda boleh berkata:
"Aku memaafkan mereka."
Jadi, silakan memaafkan secara pribadi, tetapi tidak perlu dijadikan pernyataan umum.

Hal ini selaras dengan doa Nabi Nuh alaihissalam:
"Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran." (QS. Nuh: 28)

Memaafkan adalah sikap yang mulia. Namun, tidak perlu diumumkan secara umum, karena bisa menimbulkan dampak negatif.

Wallahu Subhanahu Wa Ta'ala A'lam.

(Oleh Ahmad Rajab)
✅ Sumber : Fawaid Al-'Ulama

------------------

NB : Dan tidak memberikan maaf, serta menuntut di akhirat juga merupakan hak orang yang terzalimi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam berbuat dan berucap, khawatirnya orang yang kita zalimi itu menggunakan haknya untuk tidak memaafkan kita, dan kita menjadi orang yang merugi di akhirat nanti.

21/04/2026

Dahulukan Sunnah kata Imam Asy Syafi'i rahimahullah

19/04/2026
17/04/2026

Kalau benar perkataan Ustadz Abi Makki ini, maka pedang terhunus untuk Ahmad Al Misri al kadzzab. Fitnahnya terhadap Rasulullah adalah kekufuran. Pelecehannya terhadap Rasulullah lebih besar dari perbuatan dosa liwatnya itu sendiri. Wajib atas dia hukuman. Demi Allah kami tidak ridha dengan perkataannya ya Allah kami tidak ridha..😭

17/04/2026

Kemarin saya berkesempatan menjadi bagian dari proses wawancara calon karyawan dapur MBG Padangsambian Kelod, Yayasan Wadah Merah Putih. Saya mendapat amanah mewawancarai 17 orang, total lebih dari 60 pelamar, sementara yang akan diterima hanya 47 orang.

Yang membuat hati saya terenyu bukan jumlah, tapi kisah2 di balik mereka. Usia para pendaftar beragam, dari 20-an hingga bahkan ada yang sudah 60 tahun, padahal batas maksimal yang ditentukan adalah 50 tahun. Namun itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap mencoba.

Ada yang masih bekerja, tapi tinggal menghitung hari sebelum pekerjaannya berakhir. Ada juga yang sudah berbulan-bulan menganggur, datang dengan harapan besar agar bisa mendapatkan kesempatan. Laki-laki dan perempuan, semuanya membawa harapan yang sama, serta semangat untuk bertahan hidup dengan cara yang halal dan terhormat.

Yang juga menarik, para pendaftar datang dari latar belakang agama yang beragam, ada yang beragama Hindu, Kristen, dan mayoritas adalah kaum Muslimin. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pekerjaan dan penghidupan yang layak adalah kebutuhan bersama, lintas latar belakang.

Jujur, saya terharu… sekaligus sedih melihat realita ini. Ternyata masih banyak saudara kita yang ingin bekerja, yang siap bersungguh-sungguh, namun peluang yang tersedia sangat terbatas. Bagi sebagian orang yang penghasilannya sudah cukup, mungkin ini bukan masalah besar. Terlebih bagi yang isi dompetnya tebal dengan kartu ATM dari berbagai Bank dengan isi yang juga tebal. Mau makan apa dan dimana, bukan masalah. Tapi bagi mereka para pelamar, ini adalah harapan hidup.

Karena itu di sini kita perlu lebih jernih dalam memandang. Program seperti MBG ini, walaupun masih ada kekurangan, nyatanya membuka pintu harapan bagi banyak orang. Maka sangat disayangkan jika ada yang mudah menyudutkan, mencela, atau meremehkan tanpa melihat langsung realita di lapangan.

Khususnya di Bali, saya mengajak lembaga dan yayasan-yayasan Islam untuk mengambil peran yang lebih aktif. Persoalannya bukan hanya upaya membuka lapangan pekerjaan, tetapi lebih dari itu memastikan bahwa makanan MBG yang sampai kepada anak-anak Muslim benar-benar terjaga kehalalannya. Ini adalah amanah yang perlu kita jaga bersama.

Boleh kita mengkritik, tapi jangan kehilangan empati. Boleh kita berbeda pandangan, tapi jangan menutup mata dari kenyataan bahwa ada banyak orang yang sangat berharap pada peluang-peluang seperti ini. Pemerintah akan terus berjalan dengan program ini. Jangan habiskan waktu untuk mencela siang dan malam. Ambil waktu untuk berbuat walau anda tidak dapat sepeserpun.

Semoga Allah bukakan pintu rezeki bagi mereka semua yang hadir dengan penuh harap. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang diberi hati yang peka, bukan hanya pandai menilai dari jauh.

اللهم ارزقهم رزقًا طيبًا واسعًا وبارك لهم فيه

17/04/2026

Kebanyakannya tergoda, sedikit yg bisa seperti ini.

17/04/2026

Manfaatkan keduanya bagimu kebaikan

Want your school to be the top-listed School/college in Denpasar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jalan Gn. Resimuka Barat, Gang Griya Resi, No. 4
Denpasar