Amar Ma'ruf

Amar Ma'ruf

Share

Channel Kajian berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah
Sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

MENGAPA BID'AH DILARANG 10/07/2023

MENGAPA BID'AH DILARANG

Pada dasarnya semua ibadah telah disyariatkan dan ada tuntunannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sehingga harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Jika sebuah ibadah namun dikerjakan tidak sesuai tuntunan itu termasuk bid’ah, dan itu sangat terlarang dalam agama.

Bid’ah adalah segala yang diada-adakan dalam agama, dan tanpa didasarkan pada suatu dalil. Yaitu mengadakan sesuatu yang baru, menyandarkan sesuatu yang baru tersebut kepada agama, dan hal baru yang diadakan tersebut tidak memiliki dalil syariat, baik yang bersifat khusus ataupun yang bersifat umum.

Bid’ah dalam ibadah dan dalam agama sangat tegas ditolak dan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan kelembutannya menasehati umatnya dari bahaya bid’ah. Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dalam riwayat lain:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Benar bahwa bid’ah bukanlah bagian dari hukum taklifiyyah yang terdiri dari wajib, mandub, mubah, makruh dan haram (lihat pembagian ini dalam Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl), hal 11).

Namun bukanlah bermakna bahwa bid’ah adalah sebuah istilah yang kosong dalam kitab para ulama. Mereka, para ulama, banyak menulis tentang bid’ah dan berbagai kaidah yang berhubungan dengan bid’ah. Mereka p**a mewanti-wanti kaum muslimin untuk menjauhi bid’ah karena adalah bid’ah sebuah larangan.

Ibadah yang bid’ah, selain berisiko ditolak oleh Allah dan divonis sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di dalamnya juga terdapat pendustaan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menegaskan bahwa agama Islam ini telah sempurna, sehingga tidak perlu inovasi dan ditambah dengan ibadah baru atau cara baru dalam melakukan ibadah.

Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan dalam Alquran yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al-Maidah ayat 3).

Banyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka dalam memahami hadits tentang bid’ah dan dalil-dalil syar’i.

Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti-wanti umat beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah.

Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufiq.

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏
https://youtu.be/B_642wS6pOA

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

MENGAPA BID'AH DILARANG Mengapa bid'ah dilarang, salah kaprah tentang bid'ah, bahaya bid'ah, bolehkah berpindah pindah madzhab, bid'ah dilarang, bid'ah hasanah, bid'ah artinya, bid'...

KENALI SUNNAH ENGKAU AKAN MENGENAL BID'AH 08/07/2023

KENALI SUNNAH ENGKAU AKAN MENGENAL BID'AH

Dalam setiap mukaddimah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengulang menyebutkan kata bid’ah, dengan tujuan untuk memperingatkan umat islam agar menjauhi perkara bid’ah tersebut. Dan bahwa pengulangan tersebut berarti sebagai bentuk pengukuhan urgensi kewajiban mengenali bid’ah, agar umat islam untuk bisa menghindarinya.

Berikut adalah petuah yang selalu diulang di setiap mukaddimah:
Artinya : “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”.

Kita akan faham tentang makna TAUHID kecuali dengan menjauhi lawannya, yaitu SYIRIK. Kita akan faham tentang makna IMAN kecuali dengan menjauhi lawannya, yaitu KUFUR. Maka kebenaran tidak akan didapatkan, kecuali dengan mencermati kesalahan. Dan yang sepenuhnya sama seperti itu adalah makna “SUNNAH”. Maka pemahaman sunnah tidak akan jelas dan tanda-tandanya tidak akan terang kecuali dengan mengetahui lawan katanya, yaitu “BID’AH”.

Betapa indahnya perkataan Ibnu Qudamah:
“Hikmah dan kemampuan tidak akan tampak sempurna kecuali dengan menciptakan lawannya agar masing-masing diketahui dengan pasangannya. Cahaya diketahui dengan adanya gelap, ilmu diketahui dengan adanya kebodohan, kebaikan diketahui dengan adanya keburukan, kemanfaatan diketahui dengan adanya kemudharatan, dan manis diketahui dengan adanya pahit”. Dan yang termasuk kepada yang seperti itu adalah “SUNNAH”, dimana sunnah tidak dikenal kecuali dengan “BID’AH”.

Imam Abu Syamah Al-Maqdisi dalam Al-Ba’its (hal 11) berkata:
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat serta orang-orang yang setelah mereka telah memperingatkan orang-orang yang semasanya dari bid’ah dan hal-hal yang baru dalam agama, dan memerintahkan mengikuti sunnah yang akan menyelamatkan dari segala marabahaya”.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Artinya: “Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Sebab jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” [Al-An’am : 153]

Dan diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Jabr Al-Makki, seorang tokoh tabi’in dan ahli tafsir, menjelaskan ayat diatas, “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”, ia berkata, “Yakni, janganlah kamu mengikuti segala bentuk bid’ah dan syubhat”.

Al-Marrudzi berkata, “Saya berkata kepada Abu Abdullah –yakni Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimanha pendapatmu tentang seseorang yang tekun shalat dan berpuasa, namun dia diam dan tidak membantah ahlul bid’ah?” Maka muramlah muka beliau lalu berkata, “Jika dia shalat dan puasa, namun menjauh dari manusia, bukankah yang demikian itu untuk dirinya sendiri ?” Saya berkata, “Benar”. Ia berkata, “Jika dia bicara maka untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain. Dan berbicara itu lebih utama”.

Dan betapa indahnya perkataan Imam Qatadah:
“Sesungguhnya seseorang jika melakukan suatu bid’ah maka harus diingatkan sehingga bid’ah itu ditinggalkan”.

Imam Rabi bin Hadi Al-Madkholi Hafidzahullah berkata:
“Ketahuilah kedudukan As-Sunnah, kenalilah pengikutnya dan kedudukan mereka. Berpeganglah dengan bimbingan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena demi Allah sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus”.

Dan ini adalah bukti yang pasti bahwasanya tidak ada keselamatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, melainkan dengan bersungguh-sungguh dalam mengetahui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan mengilmuinya dan mengamalkannya.”

Berkata al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:
“Kenalilah sunnah niscaya engkau akan mengenal bid’ah. Adapun bila engkau mengenal bid’ah maka tidak mungkin engkau akan mengenal sunnah”.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
“(hakekat) Orang yang meraih kebahagiaan adalah mereka yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Dan (hakekat) orang yang celaka adalah mereka yang jahil terhadap kebenaran dan tersesat darinya, atau mengetahui kebenaran tapi menyelisihinya dan mengikuti selain kebenaran.” (Ighotsatul Lahafan hal.25)

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏
https://youtu.be/4T3iOxQcdTs

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

KENALI SUNNAH ENGKAU AKAN MENGENAL BID'AH Kenali sunnah engkau akan mengenal bid'ah, ciri ciri ahlul bid'ah, apa yg dimaksud bid'ah, apakah mushaf bid'ah, bahaya bid'ah, ciri ahlul bid'ah, ceramah bi...

ORANG YANG MENGAJAK ANDA KEPADA SUNNAH adalah ORANG YANG MENYAYANGIMU 08/07/2023

ORANG YANG MENGAJAK ANDA KEPADA SUNNAH adalah ORANG YANG MENYAYANGIMU

Keimanan adalah dasar persaudaraan seseorang hamba. Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainnya sekalipun berbeda nasab dan asal daerahnya. Mencintai seorang muslim adalah sebuah keimanan. Kecintaan seorang muslim kepada muslim lainnya diwujudkan dengan mengharapkan kebaikan, mendukung, membantu, dan mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS.al-Hujurat: 10)

Maka sebagai bentuk rasa kasih sayang kepada sesama muslim, patutlah kita mengajak kepada tuntunan Islam yang benar. Yaitu pemahaman beragama Islam berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunnah.

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang. (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini.” (Sittu Duror, hal.53).

Mengenal jalan kebenaran yang satu
Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawabannya adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

الجهل بالطريق و آفاتها و المقصود يوجب التعب الكثير، مع الفائدة القليلة

“Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit.” (Sittu Duror, hal. 54).

Karena begitu pentingnya mengenal jalan kebenaran tersebut, maka mari kita mempelajari jalan kebenaran yang hanya ada satu itu, yang semua kaum muslimin mensepakatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Ya, jalan kebenaran yang hanya satu itu adalah jalan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah jalan yang lurus. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

الصِّرَاطُ الْمُستَقـِيْمُ الَّذِي تَرَكَنَا عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ

“Jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditinggalkan Rasulullah untuk kami.” (Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari dan yang lainnya).

Dalil Al-Quran adalah jalan yang lurus, Allah Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”. (Al-Ahqaaf: 30).

Dalil As-Sunnah adalah jalan yang lurus
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Asy-Syuuraa: 52).

Dengan demikian Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus, inilah satu-satunya jalan kebenaran, keduanya hakikatnya adalah satu kesatuan, sama-sama wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏
https://youtu.be/o0jFKR4nUHs

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

ORANG YANG MENGAJAK ANDA KEPADA SUNNAH adalah ORANG YANG MENYAYANGIMU Mengajak kepada sunnah, mengajak kebaikan dalam islam, mengajak pada kebaikan, kembali ke alquran dan sunnah, al quran dan sunnah, kembali kepada alquran dan...

MENJELASKAN BID’AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA 03/07/2023

MENJELASKAN BID’AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA

Kalau ada orang yang menasehati, “amalan yang Anda lakukan ini adalah bid’ah”, atau “amalan yang Anda lakukan ini tidak ada tuntunannya”, sama sekali orang tersebut tidak sedang memvonis neraka kepada orang yang dinasehati.

Begitu juga . . . Ketika para da’i menasihati dan melarang amalan-amalan bid’ah, maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka.

Ini adalah kesalahpahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalahpahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah Sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena itu mari kita luruskan duduk perkaranya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah teladan dalam hal memperingatkan tentang masalah bid’ah, bahkan Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) juga sangat mengingkari adanya bid’ah dalam agama.

Jadi . . . Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim No. 1718).

Dalam hadits riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578).

Beberapa hadits tersebut diatas adalah hadits wa’id (ancaman). Artinya kita diancam oleh syariat, bahwa bisa jadi kita masuk neraka karena sebab bid’ah yang kita lakukan. Namun apakah pasti masuk neraka? Ya belum tentu. Kalau Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni bisa jadi tidak masuk neraka sama sekali.

Sebagaimana juga kalau kita menasehati orang yang berdusta. Apakah dengan itu kita memvonis neraka? Padahal hadits mengatakan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada perbuatan fajir (maksiat) dan perbuatan fajir membawa ke neraka.” (HR. Muslim no. 2607).

Tentu tidak bukan? Karena ini juga hadits wa’id (ancaman). Artinya kita diancam bahwa bisa jadi kita masuk neraka karena sebab dusta yang kita lakukan. Namun apakah pasti masuk neraka? Ya belum tentu.

Bahkan tidak hanya sekali - dua kali Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) memperingatkan masalah bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam setiap memulai khutbah, biasanya Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim No. 867).

Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) masih mewanti-wanti masalah bid’ah. Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu mengatakan:

صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ يَومٍ، ثُمَّ أقبَلَ علينا، فوَعَظَنا مَوعِظةً بَليغةً ذَرَفَتْ منها العُيونُ، ووَجِلَتْ منها القُلوبُ، فقال قائلٌ: يا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كأنَّ هذه مَوعِظةُ مُودِّعٍ، فماذا تَعهَدُ إلينا؟

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menghadap kami kemudian memberikan nasihat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada yang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. At Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Jadi STOP menuduh para da’i yang memperingatkan umat dari bid’ah, bahwa mereka memvonis orang pasti masuk neraka.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufiq.

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏
https://youtu.be/wBMzg0NKINE

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

MENJELASKAN BID’AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA Menjelaskan bid’ah, bahaya bid'ah, apa yg dimaksud bid'ah, apakah ada bid'ah hasanah, bid'ah hasanah, didikan ahlul bid'ah, debat bid'ah, hukum bid'ah, bid'a...

PENGERTIAN BID’AH secara BAHASA dan ISTILAH 01/07/2023

PENGERTIAN BID’AH SECARA BAHASA dan ISTILAH

Definisi Secara Bahasa
Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

‘Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah)

Definisi Secara Istilah
Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau menjelaskan bid’ah adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.”

Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi). Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

“Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).”
[AI-I’tisham hal 51-52, Dar Ibnu Affan, Saudi, cet. I, 1412 H, Syamilah].

Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,

وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ

“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)

Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)

Segala bentuk bid’ah dalam masalah agama hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak.“

Dan dalam riwayat lain disebutkan:
“Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak.“

Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam masalah agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.

Adapun mengenai ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat atau bukan hal baru dalam masalah agama. Karena sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencontohkannya, yaitu shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam.
Semoga bermanfaat, aamiin . . .

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏
https://youtu.be/SanuQZEqYms

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

PENGERTIAN BID’AH secara BAHASA dan ISTILAH Bid’ah secara bahasa dan istilah, pengertian bid'ah, penjelasan tentang bid'ah, apa yg dimaksud bid'ah, apa arti bid'ah, bid'ah artinya, membahas bid'ah seca...

SALAH KAPRAH MEMAHAMI ARTI BID'AH 29/06/2023

SALAH KAPRAH MEMAHAMI ARTI BID'AH

“Dikit-dikit dibilang bid’ah, dikit-dikit bid’ah ?! Mau baca surat Yasin tiap malam Jumat dibilang bid’ah, mau dzikir 7777 kali tiap malam Rabu Pahing dibilang bid’ah, ini bid’ah, itu bid’ah. Kalo begitu pergi haji pake unta aja kayak zaman Nabi, pesawat kan gak ada di zaman Nabi, itu pakai pesawat bid’ah . . .mobil bid’ah . . . HP bid’ah . . .dlsb . . .”

Komentar di atas adalah komentar orang yang belum mengerti tentang hakikat bid’ah. Padahal memahami bid’ah sama pentingnya dengan memahami sunnah, sebagaimana pentingnya memahami syirik lawan dari tauhid.

Pengertian bid’ah secara ringkas
Sebelumnya ada baiknya kita mengetahui apa itu bid’ah. Sebenarnya untuk lebih memahami bid’ah maka butuh pemahasan yang agak panjang dengan berbagai jenis dan macam serta kaidah-kaidahnya. Akan tetapi kami bawakan pejelasan ringkasnya agar lebih memahami judul dari tulisan ini.

Bid’ah secara ringkas adalah:
Pakar Bahasa Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata mengenai pengertian bid’ah,

الحدث في الدين بعد الإكمال

“Suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna.“
[Al-Qamus Al-Muhith hal. 702, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VIII, 1426 H, Syamilah].

atau

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.”
[Qawa’id Ma’rifatil Bida’ hal. 8, Syamilah].

Dan pengertian yang cukup lengkap sebagaimana dijelaskan Ast-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas seluk-beluk bid’ah). Beliau menjelaskan bid’ah adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.”

Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi). Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

“Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).”
[AI-I’tisham hal 51-52, Dar Ibnu Affan, Saudi, cet. I, 1412 H, Syamilah].

Bid’ah adalah dalam urusan agama saja
Dari berbagai penjelasan ulama mengenai pengertian bid’ah, sudah jelas bahwa bid’ah adalah dalam urusan agama dan bukan urusan dunia.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْأَحْدَثَفِىأَمْرِنَاهَذَامَالَيْسَمِنْهُفَهُوَرَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718].

Demikian juga penjelasan ulama yang lain.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata mengenai bid’ah,

مَنْاِخْتَرَعَفِيالدِّينمَالَايَشْهَدلَهُأَصْلمِنْأُصُولهفَلَايُلْتَفَتإِلَيْهِ

“Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung oleh dalil, maka ia tidak perlu ditoleh.” [Fathul Bari 5/302, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Syamilah].

Beliau juga berkata,

أصلهاماأحدثعلىغيرمثالسابق،وتطلقفيالشرعفيمقابلالسنّةفتكونمذمومة

“(Bid’ah) Asalnya adalah apa-apa yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya dan dimutlakkan dalam syariat (agama) yang menyelisihi sunnah sehingga menjadi tercela.” [Fathul Bari 4/532, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Syamilah].

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata mengenai bid’ah,

فكلُّمنأحدثشيئاً،ونسبهإلىالدِّين،ولميكنلهأصلٌمنالدِّينيرجعإليه،فهوضلالةٌ،والدِّينُبريءٌمنه،وسواءٌفيذلكمسائلُالاعتقادات،أوالأعمال،أوالأقوالالظاهرةوالباطنة.

“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqad (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin.” [Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam 2/128, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VII, 1422 H, Syamilah].

Bid’ah bukan dalam urusan dunia
Mereka yang tidak paham mungkin rancu dengan istilah bid’ah secara bahasa. Secara bahasa bid’ah adalah segala sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Jadi pesawat, HP dan mobil di zaman ini adalah bid’ah secara bahasa, bukan pengertian bid’ah dalam syariat.

Pengertian bid’ah secara bahasa adalah:

أنشأه على غير مِثَال سَابق

“Membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.” [Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/43, Majma’ Al Lugah Al ‘Arabiyah, Darud Dakwah, Syamilah].

Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

بَدِيعُالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta (Badii’) langit dan bumi.” ( Al Baqarah: 117)

Yaitu mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman-Nya,

قُلْمَاكُنْتُبِدْعًامِنَالرُّسُلِ

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (Al Ahqaf: 9)

Muhammad Al-Ruwaifi’ Al-Irfiqiy menjelaskan,

أي ما كنت أول من أرسل، قد أرسل قبلي رسل كثير

“Maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus, sesungguhnya telah diutus sebelumku banyak rasul.” [Lisanul Arab 8/6, Dar Shadir, Beirut, cet. III, 1414 H, Syamilah].

Jadi jelaslah bahwa pergi haji dengan naik pesawat bukanlah hal bid’ah dalam agama sebagimana pengertian bid’ah secara syariat. Akan tetapi pesawat adalah bid’ah dalam bahasa (penemuan baru yang tidak ada contoh sebelumnya). Dan macam-macam transportasi adalah masalah dunia. Begitu juga dengan perkara dunia yang lainnya.

Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Untuk lebih jelasnya,silahkan disimak videonya 🙏

https://youtu.be/pMFOv54o_Zc

Mari Bersama Kita Tholabul Ilmi
Mohon Like, Share, Tag, Mention Ke Orang Lain
Insyaa’Allah . . . Pahala Dakwah Untuk Anda

SALAH KAPRAH MEMAHAMI ARTI BID'AH Salah kaprah memahami arti bid'ah, salah kaprah tentang bid'ah, apa arti bid'ah, bid'ah dan khilafiyah, apa yg dimaksud bid'ah, arti bid'ah, ceramah tentang ...

Want your school to be the top-listed School/college in Denpasar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Kerobokan
Denpasar