PonPes Al Wahid Bener, Weding

PonPes Al Wahid Bener, Weding Pendidikan agama

Dokumentasi Tes Qiroatul Kutub Santri Al-Wahid Putra menjelang Haflah Nisfussanah
17/08/2026

Dokumentasi Tes Qiroatul Kutub Santri Al-Wahid Putra menjelang Haflah Nisfussanah

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Momen ini mengingatkan kita pada perjuangan panjang para pahlawan, termasuk para ula...
17/08/2026

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Momen ini mengingatkan kita pada perjuangan panjang para pahlawan, termasuk para ulama dan santri yang gigih merebut kemerdekaan. Semangat 'Jihad' mereka dalam membela tanah air adalah teladan abadi.

Mari kita, generasi penerus, khususnya para santri, mengisi kemerdekaan ini dengan 'Jihad' yang sesungguhnya: menuntut ilmu, berakhlak mulia, dan berkontribusi nyata bagi bangsa. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Merdeka!

#81

Bulan Rabi'ul Awwal telah tiba, bulan penuh berkah yang mengingatkan kita pada kelahiran manusia termulia, Baginda Nabi ...
13/08/2026

Bulan Rabi'ul Awwal telah tiba, bulan penuh berkah yang mengingatkan kita pada kelahiran manusia termulia, Baginda Nabi Muhammad SAW. ✨ Mari kita isi bulan istimewa ini dengan meningkatkan kecintaan kita kepada beliau melalui shalawat, meneladani akhlaknya, dan memperbanyak amal shaleh.

Selamat datang bulan Rabi'ul Awwal 1448 H. Semoga keberkahan senantiasa menyertai kita semua. Amin. 🙏

ngaos selapanan UNTUK UMUM
07/08/2026

ngaos selapanan
UNTUK UMUM

Dalam belajar ilmu tajwid, salah satu sifat huruf yang sangat krusial namun sering kali terabaikan adalah sifat Hams (ال...
01/08/2026

Dalam belajar ilmu tajwid, salah satu sifat huruf yang sangat krusial namun sering kali terabaikan adalah sifat Hams (الْهَمْس). Secara bahasa, hams berarti samar atau berbisik. Sedangkan menurut istilah tajwid, hams adalah mengalirnya napas ketika huruf diucapkan karena renggangnya pita suara.

Jika napas tidak mengalir dengan benar saat melafalkannya, maka sifat huruf tersebut akan berubah menjadi Jahr (tertahannya napas), yang bisa mengubah identitas huruf atau membuat bacaan terdengar tidak fasih.

Kelompok Huruf Desis (As-Shofir)
Kelompok ini terdiri dari huruf س (Sin), ص (Sho), dan ش (Sya).

6. Sin س (Desis Tipis): Ujung lidah sejajar dengan celah gigi seri atas dan bawah (posisi lidah di bawah). Embuskan napas hingga menghasilkan suara desis tajam yang tipis.

7. shod ص (Desis Tebal): Posisinya sama dengan Sin, namun pangkal lidah belakang diangkat ke langit-langit (sifat Istilah). Napas mengalir menghasilkan desis yang berat dan tebal.

PERLU DIPERHATIKAN :Huruf ص dibaca seperti "So" dengan memonyongkan bibir: Banyak orang memonyongkan bibir secara berlebihan untuk menebalkan huruf Sho. Tebalnya Sho murni karena pangkal lidah yang naik, bukan karena bibir yang monyong (kecuali jika huruf tersebut berharakat dhommah).

8. Sya ش (Menyebar): Tengah lidah diangkat ke langit-langit tanpa menempel. Napas diembuskan dengan gigi atas rapat dengan gigi bawah dan udaranya menyebar luas di dalam mulut.

PERLU DIPERHATIKAN : Huruf ش dibaca kurang menyebar: Suara Sya sering terdengar lemas seperti "S" biasa. Pastikan udara benar-benar memenuhi rongga mulut saat berembus.

Kunci utama dalam menguasai huruf-huruf hams adalah keberanian untuk mengalirkan udara. Saat berlatih, Anda bisa menaruh telapak tangan di depan mulut. Jika Anda merasakan embusan angin yang jelas saat melafalkan 10 huruf hams, berarti Anda telah berhasil menghidupkan sifat Hams dengan benar. Selamat mencoba dan teruslah bertalaqqi dengan guru yang bersanad!

Dalam sejarah Islam, keagungan Nabi Muhammad SAW tidak hanya terpancar dari keindahan akhlak dan kedalaman ajaran Al-Qur...
01/08/2026

Dalam sejarah Islam, keagungan Nabi Muhammad SAW tidak hanya terpancar dari keindahan akhlak dan kedalaman ajaran Al-Qur'an. Allah SWT juga mengaruniai beliau berbagai mukjizat indrawi (hissiyyah) yang membuktikan kenabian beliau di hadapan para sahabat. Salah satu kisah paling menakjubkan adalah peristiwa memancarnya air dari sela-sela jari Rasulullah SAW.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 Hijriah di wilayah Hudaibiyah. Saat itu, Rasulullah SAW memimpin sekitar 1.400 sahabat dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah umrah.

Di tengah perjalanan yang panas dan tandus, rombongan dihadapkan pada ancaman besar: krisis air bersih. Sumur-sumur di sekitar Hudaibiyah mengering total karena diambil secara terus-menerus. Pasokan air habis, sementara kehausan mulai melanda ribuan orang beserta hewan-hewan tunggangan mereka.

Kepanikan pun tak terhindarkan. Para sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan melapor bahwa mereka tidak lagi memiliki air, baik untuk mengobati rasa haus yang menyiksa maupun untuk bersuci (berwudu).

Melihat kondisi umatnya, Rasulullah SAW tetap tenang. Di hadapan beliau hanya terdapat sebuah wadah (rakwah) kecil berisi sisa air wudu yang sangat sedikit.

Rasulullah SAW kemudian membaca basmalah dan memasukkan jemari tangan beliau ke dalam wadah tersebut. Tak lama kemudian, kejadian luar biasa terjadi di depan mata ribuan sahabat. Air segar memancar deras dari sela-sela jari jemari beliau, meluap bagaikan mata air yang tak kunjung habis!

Sahabat Jabir bin Abdullah RA yang hadir dan menyaksikan langsung kejadian tersebut menceritakan:

"Aku melihat air keluar dari sela-sela jari beliau seperti mata air yang memancar. Kami pun minum dan berwudu dari air itu. Seandainya jumlah kami 100.000 orang pun, air itu akan cukup. Namun jumlah kami saat itu adalah 1.500 orang."
-HR. Bukhari & Muslim

Para ulama menyebut mukjizat ini sangat istimewa. Jika Nabi Musa AS memukul batu lalu keluar air—di mana batu secara alami memang bisa menyimpan air—maka memancarnya air dari daging dan darah jemari seorang manusia adalah hal yang secara hukum alam sepenuhnya mustahil tanpa pertolongan dan kuasa Allah SWT.

Kisah di Hudaibiyah ini bukan sekadar pertunjukan keajaiban, melainkan simbol pertolongan Allah (ma'unah) di saat-saat paling kritis. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita tentang arti kepercayaan penuh kepada Allah SWT dan betapa besarnya keberkahan yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW bagi seluruh alam.







"Seseorang itu merespons/menyikapi suatu perkara sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ketika hatinya bergantung ...
01/08/2026

"Seseorang itu merespons/menyikapi suatu perkara sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ketika hatinya bergantung pada akhirat, ia memahami bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali ke akhirat."
KH. Mujahidin Mukhlas

Dalam Islam, menolak secara tegas anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial (thiyarah). Anggapan bahwa bulan Safar me...
30/07/2026

Dalam Islam, menolak secara tegas anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial (thiyarah). Anggapan bahwa bulan Safar membawa kemalangan, bencana, atau tidak boleh mengadakan hajat (seperti menikah, memulai usaha, atau bepergian) adalah mitos sisa tradisi Jahiliyah yang bertentangan dengan akidah tauhid.

1. TEGURAN TEGAS DARI ROSULULLAH SAW.
Rasulullah SAW secara eksplisit menghapus keyakinan bahwa Safar membawa sial. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
"Tidak ada penyakit yang menular (dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial karena sesuatu), tidak ada burung hantu (pembawa sial), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
— HR. Bukhari (No. 5757) & Muslim (No. 2220)

2. PANDANGAN ISLAM DALAM MENYIKAPI BULAN SAFAR

A. Meluruskan Akidah dan Tawakal
S**a dan duka, rezeki dan musibah, segalanya terjadi atas izin dan takdir Allah SWT. Tidak ada nama hari, tanggal, atau bulan yang memiliki kekuatan sendiri untuk membawa nasib buruk.
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi maupun pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya..."
— QS. Al-Hadid: 22
Mempercayai bahwa suatu waktu secara mandiri membawa sial bisa merusak kesempurnaan tawakal, bahkan terjebak dalam syirik kecil (menyakini ada kekuatan selain Allah yang mengatur nasib).

B. Menghentikan Larangan-Larangan Mitos
Di masyarakat, sering kali timbul anggapan tidak boleh menikah, membangun rumah, atau memulai perjalanan di bulan Safar. Dalam Islam, semua aktivitas kebaikan boleh dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Safar. Para sahabat Nabi pun tetap melangsungkan hajat dan ekspedisi penting pada bulan ini tanpa rasa takut.

C. Memahami Hakikat Kesialan yang Sebenarnya
Kesialan dalam Islam bukanlah karena pengaruh nama bulan, melainkan akibat dari dosa dan kemaksiatan manusia itu sendiri. Jika seseorang mengalami musibah di bulan Safar, itu adalah ketetapan takdir atau ujian atas perbuatannya, bukan karena pengaruh bulan tersebut.
Berikut adalah doa yang dianjurkan untuk dibaca saat memasuki awal bulan baru dalam kalender Hijriah (termasuk bulan Safar atau bulan-bulan lainnya).
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Ya Allah, masukkanlah bulan ini kepada kami dengan membawa rasa aman, keimanan, keselamatan, keislaman, keridaan dari Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih), serta perlindungan dari (gangguan) setan."

(HR. Al-Baghawi dalam Mu’jam as-Shahabah & Ibn Hajar Al-Asqalani)






Gunung Uhud bukan sekadar tumpukan batu dan tanah yang membisu di utara Madinah, melainkan saksi bisu ikatan emosional y...
29/07/2026

Gunung Uhud bukan sekadar tumpukan batu dan tanah yang membisu di utara Madinah, melainkan saksi bisu ikatan emosional yang mendalam antara alam semesta dan Rasulullah SAW.

Salah satu peristiwa paling menggetarkan jiwa terjadi ketika beliau mendaki gunung tersebut bersama tiga sahabat utamanya: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Saat kaki-kaki mulia itu menapak di puncaknya, Gunung Uhud mendadak bergetar dan berguncang hebat. Guncangan itu bukan berasal dari gempa bumi biasa, melainkan luapan rasa gembira sekaligus rasa segan yang tak tertahankan dari sang gunung karena sedang dipijak oleh manusia teragung di muka bumi beserta para kekasih Allah.

Merasakan pijakannya bergetar, Rasulullah SAW dengan penuh ketenangan menghentakkan kaki mulianya ke permukaan batu Uhud. Beliau lalu bersabda untuk menenangkannya,

"Tenanglah engkau, wahai Uhud! Karena sungguh di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan dua orang Syahid."
-HR. Bukhori

Ketundukan benda mati itu begitu nyata; seketika kalimat tersebut terucap, Gunung Uhud langsung hening dan berhenti berguncang, patuh sepenuhnya pada perintah sang Nabi.

Peristiwa ini tidak hanya memperlihatkan mukjizat ketaatan alam semesta kepada utusan Allah, tetapi juga menyimpak nubuat masa depan yang sangat presisi. Ucapan Rasulullah SAW terbukti beberapa tahun kemudian ketika Abu Bakar wafat secara alami, sementara Umar dan Utsman betul-betul gugur sebagai syahid dalam peristiwa terbunuhnya mereka saat menjabat sebagai khalifah.

Peristiwa ini semakin menegaskan sabda Rasulullah SAW dalam riwayat lain mengenai hubungan emosional antara beliau dan Gunung Uhud:

"Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya."
-HR. Bukhari & Muslim

Ketika ilmu diniatkan untuk ibadah, maka tidak ada kata lelah yang sia-sia. ❤️Nasihat indah dari Mu'adz bin Jabal RA ini...
28/07/2026

Ketika ilmu diniatkan untuk ibadah, maka tidak ada kata lelah yang sia-sia. ❤️

Nasihat indah dari Mu'adz bin Jabal RA ini jadi pengingat buat kita semua bahwa mengajar dan berbagi ilmu yang bermanfaat pun nilainya setara dengan sedekah.

Siapa nih sosok/guru yang paling berdampak dalam perjalanan menuntut ilmumu sampai hari ini? Tag mereka di kolom komentar ya! 👇

Address

Bener, Weding, Bonang
Demak
59952

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PonPes Al Wahid Bener, Weding posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category