Taman Tahfidhul Qur'an Al Ikhlash Malang

Taman Tahfidhul Qur'an Al Ikhlash Malang Hidup izzah dengan Al Qur'an

_*“30 TAHUN MENDATANG ANAK KITA”*__Oleh : Ustadz Muhammad Fauzil Adhim_Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak !Jika tel...
31/01/2018

_*“30 TAHUN MENDATANG ANAK KITA”*_

_Oleh : Ustadz Muhammad Fauzil Adhim_

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak !

Jika telah terikat hatinya dgn Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa.
Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala2 yg menghadang.

Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yg akan datang.

Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak2 di sekolah, ingatlah sejenak.
Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan ... !!!

Engkau sedang berdakwah.
Sedang mempersiapkan generasi yg akan mengurusi ummat ini 30 tahun mendatang.

Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yg memerlukan kesungguhan berusaha, niat yg lurus, tekad yg kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main2 dalam urusan ini.
Apa pun yg engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30-40 tahun yg akan datang.

Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan...
Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan ummat sedang engkau pertaruhkan !!!

Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak2 kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan...

Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun hal ini sama sekali tidak kita inginkan.
Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yg bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang.

Apa yg akan terjadi pada ummat ini jika anak2 kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal ?

Maka..., ketika engkau bersibuk dgn cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini.
Bukan p**a demi piala2 yg tersusun rapi.

Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yg harus mengurusi umat ini di zaman yg bukan zamanmu.
Kitalah yg bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yg boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yg paling mengkhawatirkan adalah masa depan ummat ini.
Maka, keharusan untuk belajar bagimu.

Wahai Para Guru..., bukan semata urusan akreditasi.
Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi.
Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan ummat... Urusan dakwah.”

Jika orang2 yg sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak2.
Mereka mungkin cerdas, tapi Adab dan Iman tak terbangun.

Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru..., belajarlah dgn sungguh2 bagaimana mendidik siswamu.

Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan.

Engkau belajar dgn sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak2 kaum muslimin.
Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.”

Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu ?”

Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!”
{HR. Bukhari}

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh2, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata.
Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut Dien ini sebagai seorang murabbi (guru).

Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yg engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru..., singkirkanlah tepuk tangan yg bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yg Allah Ta'ala berikan kepada mereka.
Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan Iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar.

Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu.
Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau2 ada yg menyimpang dari tuntunan-Nya.
Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru..., sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yg paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yg mungkin akan terjadi.
Ada yg lebih perlu engkau tangisi dgn kesedihan yg sangat mendalam.

Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan.

Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan.
Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya.
Tanamkan adab dalam diri mereka.
Tumbuhkan p**a dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah.

Bukan menyibukkan mereka dgn kebanggaan atas dunia yg ada dalam genggaman mereka.

Ingat do’a yg kita panjatkan:

"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yg benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya.
Dan tunjukilah kami bahwa yg bathil itu bathil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yg sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita.
Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yg keliru.
Demikian p**a kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya.

Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh PERSEPSI SENDIRI.

Pelajarilah dgn sungguh2 apa yg benar; apa yg haq, lebih dulu dan lebih sungguh2 daripada tentang apa yg efektif.
Dahulukanlah mempelajari apa yg TEPAT daripada apa yg MEMIKAT.

Prioritaskan mempelajari apa yg BENAR daripada apa yg penuh GEBYAR.
Utamakan mempelajari hal yg benar dalam mendidik daripada sekedar yg membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar.

Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yg engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yg benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari.

Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik p**a menetapi kebenaran.

Dakwah terhadap anak harus kita perhatikan.
Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan.
Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa.

Semoga Bermanfaat utk kita sbg org tua & guru bg anak2 kita
Juga Asatiidz/ah (Guru-guru) anakku ...

15/04/2017

🌷☘🌷☘🌷☘🌷☘
_Alhamdulillaah... Berikut data muhsinin & perolehan donasi sementara :_

1. Bpk. Heriyanto-Malang Rp. 500.000,- (by cash)
2. Bpk. Iqbal-Pasuruan Rp. 500.000,- (by transfer)
3. Bpk. Azar Machsudi-Tangerang Rp. 1.000.000,- (by transfer)

4. Hamba Allaah-Malang Rp. 300.000,- (by transfer)

5. Abu Naura - Denpasar Rp. 400.000,- (by transfer)

6. Bpk. H.Endo Martin-Malang Rp.250.000,- (by cash)

7. Hamba Allaah-Kota Batu Rp. 500.000,- (by transfer)

8. Abu Zahira-Denpasar Rp. 200.000,- (by transfer)

9.
10.

Dst.

*Total donasi sementara Rp.3.650.000,-*

*Total kebutuhan dana Rp.30.000.000,-*

*_Kekurangan Rp.26.350.000_*

⬇⬇⬇⬇⬇

*Bismillaah...*

Dengan Memohon Rahmat dan Ridho ALLOH ...

🕌🕌🕌 Telah Dibuka Salah Satu Akses Ke Jannah ... Via Taman Tahfidzul Qur'an AL IKHLASH

📊 *Pembangunan Lokal Asrama Diniyyah Putri*
📆 _1438 H / 2017_

🎯 Berlokasi di jl. Margobasuki 62 Dermo, Dau, Malang

🎁 *Anggaran Biaya : Rp. 30.000.000,-*

_Estimasi ongkos kerja tukang Rp. 10.000.000,-_

_Estimasi bahan material Rp. 20.000.000,-_
__________
🏵 Dipersilahkan membelanjakan donasi zakat / infaq / wakaf Antum via :
🏧 *Bank Muamalat*
💳 *719 000 1925*
a/n *Bhahrin Fatah & Taufiq Tri*

📱 Konfirmasi Transfer dan Informasi ke :

- *Ust. Bhahrin Fatah: 085855969004* atau
- *Abu Azka: 087851303230*

_Jazaakumullohu khoiron atas donasi Antum semua. Semoga menjadi amal jariyah yang diterima Allah Ta'ala_

🏎Layanan Jemput Donasi hubungi Taufiq Abu Azka 087851303230

*Kapan giliran Antum berinfaq ?*
_Katakan : In syaa Allaah ana selanjutnya!_

06/01/2017

*Kemudahan Senantiasa Membersamai Kesulitan*

Banyak mereka-mereka yang mengeluh akan kesulitan yang senantiasa dihadapi.
Merasa sulit mendidik anak agar hafal Qur'an, atau merasa sulit mendidik anak agar menjadi anak yang disiplin, atau patuh kepada kita.

Bukannya bersabar, namun kita justru menjadi putus asa dan hilang harapan.
Akhirnya menyerah....
Bahkan mengeluarkan anak dari komunitas yang baik.

Justru sikap seperti ini merupakan kesalahan.

Lantas bagaimana sikap kita?

Perhatikan penggalan surat Al-Insyirah ayat 5-6 berikut:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6

Pada ayat ini, Allah mengulang kalimat yang sama sebanyak dua kali. Apa maknanya?

Kalimat di atas mempunyai faidah yang sangat mendalam.

Dalam bahasa arab, pengulangan kata menunjukkan *“penekanan”.* Dan huruf “إنّ” pun berfungsi untuk penekanan. Sehingga maknanya, apa yang ingin disampaikan adalah *benar-benar suatu yang pasti, nyata adanya dan tidak ada keraguan di dalamnya.* Kata الْعُسْرِ (kesulitaan) pada kalimat di atas menggunakan isim ma’rifat (khusus), adapun يُسْرًا (kemudahan) menggunakan isim nakirah (umum). Dari hal ini dapat diketahui bahwa kata الْعُسْرِ (kesulitan) pada ayat ke 5 adalah الْعُسْرِ (kesulitan) sama dengan ayat yang ke 6. Adapun يُسْرًا (kemudahan) pada ayat ke 5, berbeda dengan يُسْرًا (kemudahan) pada ayat ke 6. Sehingga 1 kesulitan yang di alami manusia, maka ada 2 kemudahan di dalamnya. Pada kalimat di atas, ternyata Allah menggunakan kata مَعَ (bersama) bukannya menggunakan kata بَعْدَ (setelah). Maknanya, 2 kemudahan itu tidaklah datang setelah adanya kesulitan, namun 2 kemudahan tersebut senantiasa membersamai 1 kesulitan tersebut.

Dari hal ini, sungguh merugilah orang-orang yang senantiasa mengeluh dalam hidupnya atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi. *Jika saja ia yakin akan ayat ini, sungguh ia akan mudah untuk bersabar dan akan segera hilanglah kesulitan tersebut darinya.*

Karena kemudahan itu pasti ada di dalam kesulitan yang dialaminya. Tidak hanya 1 kemudahan, melainkan 2 kemudahan yang diberikan Allah padanya. Dan 2 kemudahan tidaklah datang setelah adanya kesulitan, namun 2 kemudahan itu sudah senantiasa ada membersamai kesulitan.

Jika kita termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan kitab-Nya, tentunya ayat ini adalah motivasi terbesar bagi kita untuk senantiasa bersabar dan yakin ketika mengalami kesulitan, serta senantiasa sabar berusaha untuk mencari kemudahan tersebut.

Jadi, orang yang merasa sulit ketika menjalani proses tarbiyah anak-anak kita, adalah orang-orang yang kalah dan termasuk orang-orang yang tidak yakin akan firman Allah di atas.

Bersabarlah, teruslah berusaha, jangan mengeluh apalagi putus asa, *karena KEMUDAHAN PASTI ADA DAN SENANTIASA MEMBERSAMAI KESULITAN KITA.*

Semoga bermanfaat
Baarokallaahufiikum..

Pengasuh PGTK TTQ Al Ikhlash,

Barokah Ummu Qonita

Masa kecil anak-anak kita tidak lama. Setelah itu mereka beranjak remaja dan dewasa. Terhenyak saat mengingat betapa ana...
06/01/2017

Masa kecil anak-anak kita tidak lama. Setelah itu mereka beranjak remaja dan dewasa. Terhenyak saat mengingat betapa anak-anak sekarang sudah semakin besar, sementara masih sangat kecil yang telah kuperbuat untuk mereka. Saat berharga untuk anak kita, alangkah banyak yang berlalu begitu saja...
(Ust. Mohammad Fauzil Adhim–Pakar Parenting)

25/11/2016

Tarbiyatul Aulad:
🔑🌻🗂 Faidah Tarbiyah Anak

🏹🍵 MELATIH ANAK TUK BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال أتي النبي صلى الله عليه وسلم بقدح فشرب منه وعن يمينه غلام أصغر القوم والأشياخ عن يساره فقال يا غلام أتأذن لي أن أعطيه الأشياخ قال ما كنت لأوثر بفضلي منك أحدا يا رسول الله فأعطاه إياه

✒️_Dari Sahl bin Sa'ad (bin Malik bin Khalid al-Anshoriy al-Khojrojiy as-Saa'idiy berkunyah Abul 'Abbas, ada yang mengatakan Abu Yahya, red.) radhiallahu 'anhu berkata: "Didatangkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebuah bejana, maka Rasulullah minum dari bejana tersebut dan di sebelah kanan beliau ada seorang anak (yakni 'Abdullah bin 'Abbas berusia antara 9-10 th), sementara para Syaikh (berusia 50 th keatas) berada di sebelah kiri Rasulullah, maka Rasulullah berkata: "Wahai anak, apakah engkau mengizinkanku untuk saya berikan sisa minum ini kepada syaikh?" Kemudian anak itu berkata: "Saya tidak akan lebih mengutamakan bahagianku dari engkau (yakni sisa minum Nabi) kepada seorang pun wahai Rasulullah," Akhirnya Nabi memberikan kepada anak tersebut." (HR. al-Bukhori)

📂 Diantara faidah hadits:

❶ Melayani seseorang yang memiliki keutamaan,
❷ Mendahulukan sebelah kanan pada saat minum atau yang semisalnya (bersalaman, red)
❸ Bolehnya memberikan kepada yang lebih tua yang berada di sebelah kiri jika telah mendapat izin dari orang yang berada sebelah kanan, ini sebagai adab dan tidak menunjukkan sebuah kewajiban,
❹ Keutamaan yang sebelah kanan daripada yang kiri,
❺ Keutamaan shahabat 'Abdulloh bin 'Abbas,
❻ Bolehnya bertabaruk bekas sisa minumnya Rasulullah (ini kekhususan bagi Nabi saja),
❼ Mengajari anak untuk beradab (yakni meminta izin ketika hendak melakukan sesuatu),
❽ Hasungan untuk semangat dalam berbuat kebaikan dan untuk anak-anak perlu pengarahan dengan baik.

Alhamdulillah, mendapat tambahan buku dan kitab2 sebagai pelengkap perpustakaan Al Ikhlash. dari  jamaah MASJID MUHAJIRI...
29/10/2016

Alhamdulillah, mendapat tambahan buku dan kitab2 sebagai pelengkap perpustakaan Al Ikhlash. dari jamaah MASJID MUHAJIRIN, GRIYA SHANTA MALANG Semoga Mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

25/10/2016
04/10/2016

✨🌺 Renungan 🌺✨

Ayah Yang Durhaka Kepada Anak

Kisah ini terjadi saat Umar bin Khattab menjadi khalifah. Seorang bapak melaporkan kekerasan yang dilakukan oleh anaknya. Ayah tersebut sedih memiliki anak yang durhaka.

Umar : Seperti apa kelakuan anakmu?

Bapak : Anakku berbicara kasar dan membentak. Dia pernah menendangku. Dia juga tak segan-segan memukul. Dan masih banyak perbuatan durhaka yang lain.

Umar : Baiklah, kami akan bawa anakmu ke sini.

Selang beberapa waktu, sang anak hadir dalam ‘persidangan’ tersebut.

Umar : Anak muda! Kenapa kamu berani bertindak kasar kepada Ayahmu. Apakah kamu tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya.

Anak : Wahai Amirul Mukminin, jangan buru-buru menilaiku buruk. Aku akan jelaskan kepada Anda apa yang terjadi sebenarnya.

Umar : Katakan sekarang!

Anak : Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa seorang ayah memiki hak yang harus ditunaikan buah hatinya. Tapi, bukankah seorang anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi ayahnya?

Umar : Benar.

Bapak : Lalu apa hak anak yang wajib ditunaikan ayahnya?

Umar : Ada tiga kewajiban. Pertama, memilihkan calon ibu yang baik, jangan sampai memilih wanita yang sifatnya tercela dan s**a berbuat maksiat. Kedua, memberi nama yang indah dan baik. Ketiga, mengajarinya menghafalkan Al-Quran.

Anak : Amirul Mukminin! Demi Allah! Ayahku tidak menunaikan kewajiban tersebut satu pun!

Umar : Kenapa?

Anak : Ibu saya adalah budak hitam yang ayahku beli dengan harga hanya 2 dirham. Kemudian ibu saya hamil. Ketika saya lahir, ayah menamiku Ju’al (si hitam). Selain itu, ayahku tidak pernah mengajarkan Al-Quran kepadaku. Di sini saya ingin menjelaskan bahwa saya terlahir dari rahim seorang budak wanita dan ayahku tidak menghendaki aku terlahir ke dunia ini. Dia tidak mau memberiku nama yang baik seperti Abdullah atau Ahmad. Juga tidak pernah mengajarkan Al-Quran.

Perkataan itu membuat Umar menyimpulkan bahwa yang durhaka sebenarnya bukan sang anak, melainkan sang ayah.

Umar : Masalah kalian ini terjadi bukan karena ulah sang anak. Yang sebenarnya salah adalah engkau, sang Ayah. Engkau tidak bisa mendidik anakmu dengan benar sejak ia lahir. Kamu juga tidak memikirkan akibatnya nanti. Inilah akibat yang harus kamu tanggung. (Mas’uliyatur Rajul li Usratihi, Syaikh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Arify)

✨===========✨✨==========✨

MADINA -Majelis Dakwah Islam Indonesia-

07/09/2016

🌿 *Perkembangan daftar peserta Qurban 1437 bersama _Lembaga Pendidikan Islam TTQ Al Ikhlash_* 🌿

Alhamdulillah hingga *Rabu, 07 September 2016* terdapat penambahan _1 peserta urunan SAPI_, berikut daftar lengkap peserta Qurban 1437 bersama LPI TTQ Al Ikhlash :

*Qurban SAPI Kelompok 1*
1. Abu Amira
2. Qonita faqihah A/Abu Qonita
3. Abu nasyatul laila
4. Bambang-Bali
5. Bastian
6. Reyhan Ammar-dieng
7. Harwanto-Araya

*Qurban SAPI Kelompok 2*
1. Iwan-Griyashanta
2. ...
3. ...
4. ...
5. ...
6. ...
7. ...

*Qurban KAMBING*
1. Hilmi M/Abu Hilmi
2. Thoha/Abu thoha
3. Bu Masto-GPA
4. Nurjab
5. Sabdo
6. Samsul
7. Bambang supriyanto
8. Bambang Abu noval-GPA
9. Herwin-BCT
10. Wahyu
11. Heri Abu aini
12. Bramantyo
13. Ahmad Abu Fatih
14. Ananda Ikhsan
15. Ananda Naura
16. Slamet Riyadi
17. Hamzah/Abu hamzah-tirtasani
18. ...
19. ...
20. ...

Untuk biaya qurban tahun ini (1437):Urunan SAPI 7 orang ➡ -+ Rp. 2.150.000,- per orangKAMBING ➡ -+ Rp. 1.500.000,- atau sesuai budget

Dengan perkiraan berat hewan (tulang + daging):SAPI ➡ 140-150 kgKAMBING ➡ 26-28 kg

Dana qurban dapat diberikan dengan 2 cara:
1⃣ Transfer ke:
Bank Muamalat a.n. Bhahrin Fatah G and Taufiq
No. Rekening 7190001925

*Setelah transfer konfirmasi ke: +62 85855969004 (SMS)
dgn _format_: QURBAN # JENIS_HEWAN # NAMA # JUMLAH_TRANSFER
_contoh_: QURBAN # SAPI # ABDULLAH # 2.300.000

2⃣ Antar ke sekretariat . Hubungi terlebih dulu +62 85855969004 (WA)
→ Jl. Mergobasuki No.62 Dermo Malang, Jawa Timur

_Mari berqurban bersama LPI TTQ Al Ikhlash! Amanah dan tepat sasaran, in syaa Allah_

hubungi: 📞✉ *+6285855969004/+6287851303230*

! (:

_________________
*Lembaga Pendidikan Islam Taman Tahfidhul Qur'an Al Ikhlash*,
🏠 _Jl. Mergobasuki No.62 Dermo Malang, Jawa Timur_
www.facebook.com/ttqalikhlash

Hidup izzah dengan Al Qur'an

30/08/2016

*HUBUNGAN KITA & ANAK…*
*(Kini dan “Nanti”)*
*~~~~~~~~~~~~~~~~*

_Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi..._

_Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan…_

_Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita…_

_Diantara mereka ada yang merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita…_

_Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka…_

_Entah kapan…_

_Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini…_

_Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta…_

_Orangtua dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala…_
_Ada yang saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan…_

_Ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan, sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama…_

_Adakah itu termasuk kita?_

_Alangkah besar kerugian di hari itu…_
_Jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala…_

_Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri…_

_Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak p**ang ke kampung akhirat?_

_Dan dunia ini adalah ladangnya…_

_Kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati…_

_Anak-anak berpisah dengan kita untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala…_

_Tingkatan amal kita dan anak-anak boleh jadi tak sebanding…_
_Entah mana yang lebih tinggi…_
_Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi…_

*Allah Ta’ala berfirman :*

*”والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين“*

_*“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”*_
*(QS. Ath-Thur 52:21)*

_Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini?_
_Saling susul kepada yang amalnya lebih tinggi…_
_Termasuk kitakah?_
_Adakah kita benar-benar mencintai anak kita?_

_Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit…_
_Kita tangisi mereka saat terluka…_
_Tapi adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat…_
_Sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib mereka di dunia…_
_Adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat…_
_Sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib kita “nanti” nya…_
_Kita sibuk menyiapkan masa depan mereka…_
_Bila perlu sampai letih badan kita…_
_Tapi disamping untuk diri kita sendiri…, adakah kita berlaku sama untuk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?_

_Tengoklah sejenak anakmu…_
_Tataplah wajahnya…_
_Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya?_

_Ingatlah sejenak, ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya…_

_Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?_

_Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali…_

_Adakah ketika itu kita saling susul ke dalam surga?_
_Ataukah saling bertikai?_

_“Maka, mari cintai anak-anak kita untuk selamanya!”_
_“Dengan mencintai mereka karena Allah Azza wa Jalla…”_

_Bukan hanya untuk hidupnya di dunia…_
_Cintai mereka sepenuh hati…_
_Untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap, kecuali pertolongan Allah Ta’ala…_

_Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia saja, lebih dari itu dapat berkumpul bersama kelak di surga…_

_Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat…_

_Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang…_

_Masa yang tak bertepi…_

¬¬¬¬¬¬¬¬
*Sumber :*

▶ Tulisan asli dari *Mohammad Fauzil Adhim*.
Penulis buku best seller _“Segenggam Iman untuk Anak dan Saat Berharga untuk Kita”_.

22/05/2016

[ ORANGTUA YANG DURHAKA ] ???
==============================

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ada dua hal potensial yang akan mewarnai dan membentuk kepribadian anak yaitu orang tua yang melahirkannya dan lingkungan yang membesarkannya.

Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA didatangi seorang tamu lelaki beserta anaknya yang mengadukan kenakalan anaknya itu. "Anakku ini sangat bandel," tuturnya kesal.

Umar berkata, "Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?" Anak yang pintar ini menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?"

Lalu Amirul Mukminin mengatakan, "Ada tiga, yakni pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan Al Qur’an."

Setelah mendengar apa yang disampaikan Khalifah Umar, anak tersebut mengatakan, "Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama 'Kelelawar Jantan', sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya.

Kemudian Umar menoleh kepada ayahnya seraya mengatakan, "Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu…."

Kisah tersebut mengajarkan bahwa Islam juga mengatur tanggung jawab orangtua khususnya sebagai pendidik bagi anak-anaknya, untuk mempersiapkan anak secara mental, moral, spiritual dan etos sosial agar anak dapat mencapai kematangan yang sempurna.

Salah satu metode penting dalam mendidik anak adalah memberikan keteladanan, karena disadari atau tidak, sikap dan tingkah laku orangtua selaku pendidik akan ditiru oleh anak. Di sinilah, peran penting orangtua dalam membentuk karakter sang anak.

Jika orangtua memperlihatkan sikap jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama, maka si anak juga akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama. Begitu p**a sebaliknya, jika orangtua mempertontonkan sikap dan perilaku yang buruk, tentu sang anak juga akan berperilaku yang sama, mencontoh apa yang dilihatnya.

Oleh sebab itu, sangatlah mudah bagi orangtua atau para pendidik untuk mengajari anak-anak dengan berbagai materi pendidikan, tetapi akan teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya manakala ia melihat orang yang mengajarkannya tidak mengamalkannya. Wallaahu a’lam.

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)
=======================================
Copas...semoga bermanfaat :)

Address

Jalan Margobasuki 62
Dau
65151

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taman Tahfidhul Qur'an Al Ikhlash Malang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category