Ilmu Kita Private Course

Ilmu Kita Private Course

Share

Ilmu Kita (Private Course) adalah lembaga les privat dari Cirebon yang mendatangkan guru kerumah murid agar belajar dengan maksimal, nyaman, dan aman.

Photos from Ilmu Kita Private Course's post 28/07/2016

Karena anak-anak, seharusnya menyanyikan lagu anak-anak p**a. Bukan lagunya orang dewasa kan???

Like and Share yah kalau setuju 😊

Photos from Ilmu Kita Private Course's post 19/07/2016

Teach your kids through this wonderful technique 😊🐜🐝🐥🐟🐣

Photos 27/06/2016

Membangun Lingkungan yang Mencerdaskan Anak dari Dalam Rumah

Oleh Kiki Barkiah
(Disampaikan sebagai materi pembuka kuliah via whatsapp group IIP Mesir)

Bab 1 : Pendidikan Yang Mencerdaskan

Semua orang tua pasti bahagia jika memiliki anak-anak yang cerdas. Sayangnya sebagian diantara mereka menganggap bahwa salah satu jalan mencerdaskan anak adalah dengan menyekolahkan anak sedini mungkin. Padahal masa-masa pengikatan hubungan anak dan orang tua yang paling berharga dan menjadi modal besar bagi hubungan mereka di masa yang akan datang adalah kedekatan di masa -masa awal tumbuh kembang mereka. Sekolah memang salah satu sarana mencerdaskan anak, namun bukan berarti proses mencerdasakan anak tidak dapat dilakukan diluar bangku sekolah.

Saat ini berbagai produk-produk edukasi mulai berjamur di masyarakat dan menginspirasi para orang tua untuk mengisi waktu yang berkualitas dengan anak-anak mereka. Berbagai pengetahuan kognitif mulai diberikan sedini mungkin bahkan tak jarang para ibu berbayi disibukkan dengan membacakan kartu belajar kepada bayi-bayi mereka.

Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Sebelum kita membahas proses, tentunya kita harus dapat mendefinisikan kecerdasan yang kita ingin raih dari proses yang kita dilakukan. Menyimpulkan dari beberapa definisi cerdas yang ditulis para ahli, kecerdasan yang sebaiknya kita bangun dalam diri anak-anak diantaranya:
1. Kemampuan menyimpan informasi dalam memori
2. Kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
3. Kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
4. Kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
5. kemampuan untuk memecahkan masalah
6. kemampuan untuk menciptakan hal baru
7. kemampuan untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru

Dari point diatas dapat jelas terlihat bahwa yang lebih penting dalam sebuah proses belajar adalah bagaimana ilmu itu dapat berbuah amal. Bagi seorang muslim kecerdasan yang dibangun dengan definisi diatas belumlah sempurna. Dalam sebuah hadist disebutkan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah)

Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Bertapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian.

Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia.

Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih bagi anak-anak kita, baik itu pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal seperti melalui kursus dan pelatihan, ataupun pendidikan di dalam rumah yang kini terkenal dengan istilah home education dan homeschooling, upayakanlah agar proses itu menjadi proses pendidikan yang mencerdaskan.

Bab 2: membangun lingkungan yang mencerdasakan anak-anak usia pra sekolah dari dalam rumah

Sebagian besar orang tua tidak menyadari bahwa hal-hal yang terlihat sepele atau yang biasa terjadi didalam lingkungan rumah adalah proses pendidikan yang menentukan kecerdasan. Sebagian dari mereka berfikir bahwa membangun kecerdasan dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi yang bersifat memberi tambahan pengetahuan kognitif. Bahkan sayangnya mereka cenderung disibukkan dengan proses belajar membaca, menulis dan menghitung. Sehingga tidak jarang kita melihat anak-anak pintar yang berprestasi di sekolah masih manja dan tidak bisa memenuhi keperluan dirinya.

Hal yang jauh lebih penting dalam mempersiapkan anak-anak usia pra sekolah bukanlah kemampuan mereka dalam membaca, menulis dan berhitung namun mempersiapkan mereka memiliki perilaku dan sikap yang baik dalam belajar sehingga terbangun kepribadian manusia pembelajar dalam diri mereka.

Sikap yang perlu dibangun untuk melahirkan anak-anak yang cerdas pada awal-awal usia kehidupan mereka yang jauh lebih penting daripada memberikan pengetahuan kognitif, diantaranya:

1. Anak dapat menunjukkan semangat dan rasa ingin tahu sebagai seorang pembelajar
2. Anak memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
3. Anak bersikap menyenangkan dan kooperatif dalam kegiatan belajar.
4. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan satu atau lebih anak-anak
5. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
6. Anak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
7. Anak dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
8. Anak bersedia bergiliran dan berbagi mainan
9. Anak dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
10. Anak dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
11. Anak dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
12. Anak dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
13. Anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
14. Anak dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
15. Anak dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
16. Anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
17. Anak mendengarkan dengan antusias saat dibacakan buku
18. Anak dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
19. Anak dapat menunjukan urutaan cerita melalui gambar secara logis
20. Anak dapat bermain peran dengan benda-benda
21. anak dapat mengambil peran dalam permainan berpura-pura

Adapun berbagai pengetahuan kognitif yang dapat kita sampaikan kepada anak anak usia pra sekolah diantaranya:

Huruf
1. Mengenalkan huruf
2. Mengidentifikasi huruf besar
3. Mengidentifikasi huruf-huruf kecil

Logika Matematika
1. Pola dan hubungan berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran
2. pengelompokan benda
3. Mengenali pola sederhana dan menduplikasi pola

Konsep angka dan operasi
1. menghitung sampai 20
2. menghitung benda dalam kisaran jumlah 10
3. Mencocokan angka
4.Mengidentifikasi angka secara simbolik 0-10

Geometri dan hubungan spasial
1. Mengidentifikasi 4 bentuk- lingkaran, persegi, persegi panjang, segitiga
2. Menunjukkan konsep posisi / arah, konsep (atas / bawah, di atas /di bawah, didalam/ diluar, di belakang / di depan, di samping / di antara, tinggi / rendah, kanan / kiri, nyala / mati, pertama / terakhir, jauh / dekat, maju/berhenti).

Pengukuran

1. Menunjukkan pemahaman dalam menggunakan kata-kata pembanding (besar / kecil, pendek / panjang, tinggi / pendek, lambat / cepat, sedikit / banyak, kosong / penuh, kurang / lebih.

Keterampilan motorik kasar

1. Dapat menggunakan dan mengendalikan sepeda roda tiga
2. Melompat di tempat dan mendarat dengan dua kaki
3. Dapat berdiri dengan satu kaki selama 5 detik
4. Melompat dengan 1 kaki 2-3 kali lompatan
5 Melempar bola dengan arah
6. Menangkap bola yang dilempar dengan tangan
7. Memanjat tangga bermain
8. Melompat dengan lancar selama 20 kaki

Keterampilan Motorik halus

1. Menumpuk sampai 10 balok
2. Meronce manik manik besar
3. Melengkapi puzzle tujuh potongan
4. Membuat pancake, ular, dan bola dari plastisin
5. Memegang pensil dengan benar
6. Menyalin garis vertikal, garis horizontal, lingkaran, persegi, V, segitiga
7. Menulis nama depan
8. Menulis nama depan tanpa contoh
9. Memegang gunting dengan benar
10. Potongan dalam garis lurus di atas kertas konstruksi
11. Memotong persegi di atas kertas konstruksi
12. Memotong segitiga di atas kertas konstruksi
13. Memotong lingkaran di atas kertas konstruksi
14. Menggunakan lem dan menempel tepat
15. Menggunakan lem dalam jumlah yang tepat saat mengerjakan tugas-tugas

Semua materi diatas sifatnya hanya pengenalan. Mungkin ada beberapa anak yang mudah menwrima konsep tersebut tapi ada juga yang membutuhkan waktu. Proses tersebut dapat terus kita lanjutkan sedemikian hingga diharapkan anak anak telah memiliki pencapaian berikut diakhir usia TK:

1. Anak dapat mengikuti aturan kelas
2. Anak dapat terpisah dari orang tua atau pengasuh dengan mudah
3. Anak bersedia melakukan sesuatu secara bergiliran
4. Anak dapat memotong menggunakan gunting mengikuti garis
5. Anak telah menentukan tangan mana yang secara dominan
6. Anak memahami konsep-konsep waktu seperti kemarin, hari ini, dan besok
7. Anak dapat berbaris dengan tertib
8. Anak dapat menyetujui dan mengikuti petunjuk dengan mudah
9 Anak dapat berkonsentrasi selama 15 sampai 20 menit
10. Anak dapat memegang krayon dan pensil dengan benar
11. Bersedia berbagi mainan dan alat belajar
12. Mengetahui 10 warna dasar: merah, kuning, biru, hijau, oranye, hitam, putih, dan pink, coklat, ungu
13. Anak dapat mengenali dan menulis huruf-huruf alfabet dalam bentuk huruf besar dan huruf kecil
14. Anak dapat mengetahui hubungan antara huruf dan suara yang mereka buat
15. Anak diharapkan dapat mengenali kata atau membaca kalimat sederhana
16. Anak dapat mengeja atau menulis nama lengkapanya
17 Anak dapat menceritakan kembali cerita yang telah dibaca dengan suara keras
18 anak dapat menyampaikan pendapat melalui menggambar, menulis, atau berbicara
19 Anak dapat mengidentifikasi dan menulis angka 0-20
20. Menghitung dengan satuan dan puluhan hingga 100
21. Menyelesaikan soal penjumlahan sampai dengan 10
21. Menyelesaikan soal pengurangan dengan angka 0-10
22. Mengetahui bentuk dasar seperti persegi, segitiga, segi empat, dan lingkaran
23. Mengetahui alamat dan nomor telepon nya untuk keperluan keamanan diri
24. Anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan gerak tubuh (seperti senam atau tari) dalam kelompok
25. Anak dapat menggunakan berbagai bahan-bahan seni untuk pengalaman eksplorasi


Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:
1. proses menamkan kecintaan kepada buku dan ilmu
2. Melatih kemampuan anak dalam memahami isi bacaan.
3. Memperluas kosakata melalui kegiatan membaca
4. Memperluas wawasan melalui kegiatan membaca

Ketidakbijaksanaan dalam.mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurang tepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.

Dari pemaparan diatas ternyata proses menciptakan lingkungan yang mencerdaskan anak menjadi sangatlah sederhana. Orang tua yang ingin melakukan homeschooling di usia dini tidak perlu terlalu panik dalam menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran. Dalam pendapat penulis yang dibutuhkan dalam usia awal-awal kehidupan mereka hanyalah sebagai berikut:
1. Perbanyak menyusui secara langsung tanpa bantuan botol
2. Perbanyak diskusi tentang lingkungan sekitar
3. Perbanyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari
4. Perbanyak melatih mereka melakukan keperluan dirinya sendiri dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi
5. Perbanyak kegiatan membaca buku bersama mereka dan mendiskusikan isi bacaan
6. Perbanyak olahraga bersama mereka
7. Perbanyak melakukan kegiatan bermain aktif
8. Perbanyak cinta dan kasih sayang
9. Perbanyak membaca al quran sejak dalam kandungan
10. Perbanyak doa dan sedekah, insya Allah

Referensi
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Intelligence
http://www.greatschools.org/students/academic-skills/1207-kindergarten-benchmarks.gs
http://www.icanteachmychild.com/71-things-your-child-needs-to-know-before-kindergarten/
Miseducation preschool at risk; David Elkind

Photos 21/06/2016

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti Septi Peni Wulandani?

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliau pun menikah.

Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja.

Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah……Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitu pun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik, lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.

Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak kedua. Ia sangat s**a minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20. Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan.

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktik nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “Kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini p**a Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara homeschooling di mana ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe… Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana pondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.

Hhhhmmm… Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimp**an bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Sumber : Kompasiana

Photos from Ilmu Kita Private Course's post 17/06/2016

Cara mudah untuk anak menggambar dan lbh kreativ 😊

Photos 03/06/2016

👉7 Manfaat Bimbingan Belajar Melalui Les Privat Bagi Anak

Bimbingan belajar dapat meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar anak. Salah satu bentuk bimbingan belajar yang memiliki banyak kelebihan adalah dengan les privat. Dengan les privat anak akan mendapatkan bimbingan belajar secara pribadi. Berikut beberapa manfaat bagi anak yang mengikuti bimbingan belajar secara privat.

1. Meningkatkan Kemampuan Akademik
Bimbingan belajar dapat membantu meningkatkan kemampuan akademik anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Les privat menyediakan waktu belajar tambahan bagi anak selain waktu belajar di sekolah.

2. Waktu Belajar Fleksibel
Dengan mengikuti bimbingan belajar secara privat, anak dapat menyesuaikan jadwal belajar dengan waktu yang tersedia.

3. Lebih Fokus
Dengan les privat, guru les dapat memberikan fokus pengajaran pada pelajaran dan topik tertentu yang lebih urgen misalnya saat akan ulangan matematika, saat ada PR, dan memberikan penekanan pada topik pelajaran yang sulit dikuasai anak.

4. Pendekatan yang Lebih Personal
Guru les umumnya dapat segera mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa yang dididiknya. Hal ini kan membantu guru les menentukan metoda terbaik untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kemampuan akademik anak.

5. Mudah Dipantau Orangtua
Bimbingan belajar dengan les privat membuat orangtua lebih mudah memonitor aktivitas belajar anak. Orangtua juga dapat berkonsultasi setiap saat dengan guru les untuk memantau perkembangan kemampuan akademik anak.

6. Anak Lebih Berkonsentrasi
Les privat menggunakan fasilitas belajar sendiri yang lebih nyaman, dan anak selalu ditemani oleh guru les sehingga anak akan lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar.

7. Membantu Orangtua yang Sibuk
Bimbingan belajar dengan les privat sangat membantu orangtua yang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menemani atau memberikan bimbingan kepada anak saat belajar.

Photos 02/06/2016

Ilmu Kita (Private Course) adalah lembaga ilmu les privat di Cirebon yang mendatangkan guru kerumah untuk membimbing, menemani dan belajar dirumah lbh nyaman dengan cara yang menyenangkan bersama kami.

Want your school to be the top-listed School/college in Cirebon?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jln. Setiabudi, Pegagan, Palimanan
Cirebon
45161