23/08/2026
JANGANKAN-JANGAN ITU SUJUD TERAKHIRMU
Paksalah tubuhmu untuk bersujud dan merundukkan ego di atas sajadah, sebelum raga yang hari ini masih bugar menjadi kaku membeku ditelan tanah. Shalat bukanlah sekadar rutinitas fisik, melainkan ruang keselamatan untuk menyelamatkan jiwa dari jebakan keangkuhan duniawi.
Jangan biarkan anggota badan yang lentur ini enggan diajak bertumpu menyembah Sang Pemilik Jiwa. Sebab, jangan-jangan itu sujud terakhirmu—sebuah kesempatan pamungkas yang tak akan pernah berulang ketika raga sudah tak lagi mampu bergerak dan pintu amal telah tertutup rapat.
Paksalah dirimu untuk meratap, bertobat, dan mengakui segala cela serta dosa selagi napas masih dikandung badan. Menunda tobat adalah bentuk kelengahan yang berbahaya, seolah kita memegang kendali atas jatah usia besok hari.
Dalam setiap rakaat shalat, hadirkan kesadaran penuh seolah tak ada lagi hari esok untuk memperbaiki diri. Mengakui kefakiran jiwa di hadapan Sang Maha Pengampun hari ini jauh lebih mulia daripada meratapi keterlanjuran saat ruh sudah di kerongkongan, sebab jangan-jangan itu sujud terakhirmu untuk membersihkan noda masa lalu.
Paksalah p**a hatimu untuk terus bersyukur atas setiap jengkal takdir, sebelum Allah menarik kembali seluruh nikmat-Nya di detik akhir saat ruh perlahan terlepas dari raga. Shalat adalah puncak ekspresi terima kasih seorang hamba atas detak jantung dan kesempatan hidup yang kerap diabaikan. Jangan menunggu datangnya derita atau hilangnya kenikmatan baru kita tersentak untuk mengagungkan-Nya.
Selagi dada masih menghembuskan napas, resapi setiap bacaan dengan kepasrahan tertinggi dan jadikan shalatmu sebagai persembahan terbaik—karena jangan-jangan itu sujud terakhirmu sebelum kembali ke hadapan Sang Maha Cinta.