28/06/2023
Saya, Shaum Arafahnya Hari Rabu, ldul Adhanya hari Kamis
Dengan tetap menghormati kepada yang berbeda pendapat, berikut ini argumentasi saya👇
7 DALIL UNTUK TIDAK RAGU SHAUM SUNAH ARAFAH TIDAK BERTEPATAN DENGAN WUKUF ARAFAH DAN IDUL ADHA BEDA DENGAN DI MEKKAH
Untuk sahabat-sahabat yang akan mengikuti penetapan pemerintah, tapi masih ragu karena berseliweran BC-BC di WA, IG, Tiktok dll, yang menentangnya dengan dalil-dalil ungkapan seperti; "Ya namanya juga shaum arafah, harus bersamaan dengan wukuf arafah d**g! Atau ya namanya juga lebaran haji, ya harus mengikuti orang yang haji d**g!", dan argumen - argumen lainnya.
maka, dengan tidak mengurangi rasa hormat, silahkan simak 7 argumentasi bahwa shaum arafah itu tidak harus berwaktu yang sama dengan wukuf arafah, juga idul adha tidak harus sama dengan di negeri saudi arabia.
Berikut ini dalil-dalilnya:
Kesatu: Puasa Arafah adalah puasa karena masuk tanggal 9 Dzul hijah di negerinya masing-masing, bukan puasa karena orang-orang sedang wukuf di Arofah.
Argumentasinya karena rasul dan para sahabat shaum Arofah lebih sering dimana saat itu tidak ada orang-orang yang wukuf di arofah, karena shaum Arofah dan idul adha itu di syariatkan pada tahun 2 Hijriyah.
Sedang haji dengan wukuf di arofah yang jadi puncak ibadah haji di syariatkannya pada 6 Hijriyah.
Artinya Syariat shaum arafah dan idul adha lebih duluan daripada syariat wukuf di arafah ketika haji.
Maka bisa disimpulkan shaum arafah dan hari idul adha tidak ada hubungannya dengan ibadah haji.
Adapun selanjutnya penamaan shaum 9 Dzul hijah itu dengan arofah karena litaghlib yaitu karena umumnya shaum itu dilaksanakan ketika orang-orang sedang wukuf di arofah. Walau kadang di negeri tertentu tidak semua 9 dzulhijah bertepatan dengan momen wukuf di arafah.
Seperti penamaan shaum ayamul bidh, yaitu shaum yang malam harinya terang bulan ( tgl 13, 14, 15) Itu litaghlib karena umumnya malam2nya tgl tersebut terang bulan purnama.
Walau kenyataan karena cuaca bisa saja ayamul bidh itu bukan di malam-malamnya yang terang. Tapi shaum itu tetap jalan dan dinamai ayamul bidh (malam yg terang) karena itu hanya penamaan.
Kedua: Perbedaan penetapan tanggal antara berbagai negera islam dan umat harus mengikuti sesuai negerinya masing-masing bukan mengikuti mekkah, itu dalilnya shohih👇
Dan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu menegaskan bahwa begitulah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Kisah itu tertuang dalam hadits Shahih riwayat Imam Muslim.
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الفَضْلِ بِنْتَ الحَرْثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ فَقَالَ: قَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتَهَلَّ عَلىَ رَمَضَان وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الهِلاَلَ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ . ثُمَّ قَدِمْتُ المَدِيْنَةَ فيِ آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنيِ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبَّاس ثُمَّ ذَكَرَ الهِلاَلَ فَقَالَ: مَتىَ رَأَيْتُمُ الهِلاَلَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْتُهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ. فَقَالَ: أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. قَالَ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتىَّ نُكْمِلَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ: أَلاَ تَكْتَفيِ بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَة ؟ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
Dari Kuraib radhiyallahuanhu bahwa Ummul Fadhl telah mengutusnya pergi ke Syam, Kuraib berkata, "Aku tiba di negeri Syam dan aku selesaikan tugasku, lalu datanglah hilal Ramadhan sementara aku di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku pulang ke Madinah di akhir bulan. Maka Abdullah bin Abbas bertanya padaku, "(Aku pun menceritakan tentang hilal di Syam). Ibnu Abbas ra bertanya, "Kapan kamu melihat hilal?". "Aku melihatnya malam Jumat", jawab Kuraib. Ibnu Abbas bertanya lagi, "Kamu melihatnya sendiri?". "Ya, orang-orang juga melihatnya dan mereka pun berpuasa, bahkan Mu'awiyah pun berpuasa", jawab Kuraib. Ibnu Abbas berkata, "Tetapi kami (di Madinah) melihat hilal malam Sabtu. Dan kami akan tetap berpuasa hingga 30 hari atau kami melihat hilal". Kuraib bertanya, "Tidakkan cukup dengan ru'yah Mu'awiyah?". Ibnu Abbas menjawab, "Tidak, demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kami.” (HR. Muslim)
Dari hadits shahih diatas menunjukan bahwa perbedaan penetapan tanggal antara berbagai negara Islam sesuai tempatnya masing-masing, memang itulah syariah Islam.
Ketiga: Secara logika, jika shaum arofah harus sesuai dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di Arafah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Papua, yang perbedaan waktu antara Makkah dan papua adalah 6 jam? Jika penduduk papua harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Makkah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam.
Dan tatkala penduduk Makkah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Makkah-, maka di papua sudah jam 6 Maghrib? Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf? Hal demikian ini tentu tidak logis.
Keempat: Dari dalil poin satu, dua dan tiga itu jelas shaum arofah dan idul adha adalah tergantung kita saat itu lagi ada dimana, kalau kita berada di Saudi, Mesir atau Inggris, silahkan kerjakan hari selasa shaum arafahnya, dan hari rabu idul adhanya
Tapi kalau kita berada di Indonesia, Malaysia, hongkong, atau Brunei Darussalam maka jatuhnya di hari rabu shaum arafah dan hari Kamis idul adhanya, artinya idul adha beda dari saudi itu bukan hanya di Indonesia saja tapi di tetapkan oleh banyak negara muslim juga.
Kelima: Ulama Kerajaan Saudi Arabia Syeikh Al-Ustaimin rahimahullah juga berfatwa:
وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة
Begitu juga bila ditetapkan hasil rukyat negara itu tertinggal dari Mekkah, sehingga tanggal 9 di Mekkah menjadi tanggal 8 di negara itu, maka penduduk negara itu puasanya pada tanggal 9 menurut negara itu, walaupun itu berarti sudah tanggal 10 di Mekkah. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin)
Keenam: Tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Kalau lebaran Idul Fithri kita ikut pemerintah setempat, tapi kalau lebaran Idul Adha kita ikut Mekah/Saudi. Bahkan di hadits idul fitri dan idul adha itu sama yaitu ikut mayoritas manusia di daerah-daerah kita masing-masing👇
Rasulullah ﷺ:
الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ والأضحى يوم يضحي الناس
Puasa itu hari manusia-manusia berpuasa dan hari raya Idul Fitri itu hari manusia-manusia berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha itu hari manusia-manusia berhari raya Idhul Adha.(HR. Tirmidzi)
Perhatikanlah, Nabi tidak membedakan antara Idul Fitri dan Idhul Adha. Abul Hasan as-Sindi berkata dalam Hasyiyah Ibnu Majah: “Dhohir hadits ini bahwa masalah-masalah ini (puasa, Idul Fitri dan Idhul Adha) bukan urusan pribadi, tetapi dikembalikan kepada jemaah mayoritas atau pemerintah masing-masing".
Ketujuh: Adapun Ormas Muhamadiyah di Indonesia shaum arofahnya hari Selasa bukan karena Muhamadiyah berkeyakinan shaum arofah itu harus sama bertepatan dengan orang-orang wukuf di Arofah, tapi karena ijtihad Muhamadiyah dalam penetapan idul fitri dan idul adhanya itu pakai metode hisab (perhitungan Astronomi) bukan rukyatul hilal yaitu harus melihat bulan seperti zaman Nabi dan para sahabat. Itu sah-sah saja karena wilayah ijtihad silahkan yakini dan amalkan.
_____________________________________
Demikian 7 argumentasi supaya tidak ragu bagi yang akan shaum Arafah hari rabu dan idul adha hari kamis.
Salam ukhuwwah islamiyah, salam persaudaraan islam walau ditengah perbedaan.
Saefudin Abdul Fattah/Ajengan Aef Cimahi (Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ihsan) 085221287047