18/04/2022
*SECANGKIR KOPI HANGAT (SKH)*
Penulis : H. M Ali Moeslim
Tema : *MENITI JALAN PERUBAHAN*
Bandung: 18 April 2022 M/ 17 Ramadhan 1443 H
Subscribe: https://youtube.com/channel/UC1ATh1KSliIeM_5JcA6pKuQ
_Bismillahirrahmaanirrahiim_
*RASULULLAH SAW* memulai dakwah dengan seorang diri kemudian membentuk kelompok dakwah politik (kutlah siyasiyah). Artinya, Rasulullah saw. tidak berdakwah sendiri. Beliau melakukan dakwah berjamaah dengan aktivitas politik melakukan _ash-shira al-fikri_ (pergolakan pemikiran) dan _al-kifah as-siyasi_ (perjuangan politik). Beliau berdakwah untuk mengubah pemikiran dengan bentuk menyeru, debat dan dialog tidak dengan kekerasan. Aktivitas dakwah di Makkah melalui tiga tahapan:
*Pertama: _Marhalah at-Tatsqif_ (Tahap Pembinaan dan Pengkaderan)*. Aktivitas ini dimulai sejak Rasulullah saw. diutus sebagai rasul sesuai seruan Allah dalam QS al-Muddatsir [74] : 1-2] secara sirriyah (sembunyi). Dimulai dari istrinya Khadijah ra., sepupunya Ali bin Abi Thalib ra., mantan budaknya Zaid dan sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Rasulullah membina mereka dengan pemahaman Islam yang kuat sehingga menghasilkan individu yang ber-syakhsiyyah islamiyyah dan siap mengemban dakwah.
*Kedua: _Marhalah Tafaul maa al-Ummah_ (tahap interaksi dengan umat),* Rasulullah saw. dan para Sahabat yang telah digembleng, memulai dakwah secara terang-terangan sesuai firman Allah SWT dalam QS al-Hajr [15]: 94). Pada tahapan ini dilakukan _ashiraa al-fikri_ (pergolakan pemikiran) dan _al-kifah as-siyasiyah_ (perjuangan politik). Dakwah dilakukan dengan melakukan benturan Islam dengan selain Islam baik berupa pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis) maupun keyakinan (qanaat).
*Ketiga: _Istilam al-Hukmi_ (Tahap Penerimaan Kekuasaan).* Meski telah memasuki tahapan ini, tahapan pertama dan kedua tetap dilakukan. Tahapan ini diawali dengan aktivitas thalab an-nushrah terhadap _Ahlul Quwwah._ Rasulullah saw. mendatangi kabilah-kabilah Arab untuk menyerukan Islam, menawarkan dirinya untuk dilindungi dalam mendakwahkan Islam serta diberi kekuasaan penuh untuk menerapkannya atas umat Islam. _Thalab an-nushrah_ merupakan wahyu dari Allah SWT yang sifatnya wajib. Akhirnya, nushrah diberikan dari suku _Aus dan Khazraj_ yang dikenal dengan kaum Anshar, menerapkan Islam secara kaffah dalam bentuk negara, melindungi kaum muslimin dan hubungan luar negeri dalam kerangka dakwah.
Adapun sifat sifat dakwah beliau sebagai berikut;
*1. Proaktif (Sâfiran).*
Beliau tidak menyimpan risalah dari Tuhannya hanya untuk kalangan sendiri. Sebaliknya, beliau sibuk mengunjungi tempat-tempat berkumpulnya manusia, baik itu pasar, tenda-tenda jamaah haji, maupun mengunjungi siapa saja dalam rangka mendakwahi dan mengajak mereka kepada ajaran Islam. Ini p**a yang terjadi dengan Abu Bakar ra. Beliau diberi perlindungan oleh _Ibnu Daginah_ syarat tidak menunjukkan aktivitas keislamannya di depan publik. Namun, beliau memilih menunjukkan aktivitas keislamannya di depan publik dan melepaskan perlindungan tersebut.
*2. Argumentatif (Fikriyyah).*
Beliau juga menentang dan menantang semua keyakinan rusak yang saat itu sedang trend di tengah-tengah masyarakat. Dalam melakukan itu beliau mengedepankan bukti dan argumen bukan sentimen. Misalnya beliau menyampaikan firman Allah SWT:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ ٧٣
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu (QS al-Hajj [22]: 73)
Allah SWT menggunakan kalimat pasif “telah dibuat perumpamaan (dhuriba matsal[un])” seakan Dia ingin menyatakan, “Jangan kalian perhatikan siapa yang bicara, tetapi pikirkan saja apa yang dibicarakan.” Ini adalah seruan agar manusia berpikir tanpa bias dan sentimen. Untuk sesaat tidak usah diperhatikan bahwa ini adalah al-Quran, ini Islam, atau ini dari Tuhannya Muhammad saw. Setelah itu objek berpikirnya disampaikan, yakni sesembahan kalian tidak akan bisa membuat walau seekor lalat, dan tidak bisa melawan seekor lalat. Layakkah yang seperti itu dipertuhankan?
*3. Bersifat Politik (Siyâsiyyah).*
Politik adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut.11
Dakwah yang dilakukan Nabi saw. bukanlah sekedar membahas apa yang terkait dengan hal privat seseorang dengan Tuhannya semata. Dakwah beliau juga bersifat politik, dalam arti meluruskan dan menentang kebijakan para penguasa (pemimpin masyarakat) saat itu yang bertentangan dengan Islam. Beliau juga membongkar persekongkolan para pemimpin Quraisy. Misalnya, terkait Al-Walid bin al-Mughirah Allah SWT berfirman:
إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ١٨ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ ١٩
Sungguh dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang dia tetapkan). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? (QS aI-Muddattsir [74]: 18-19).
Begitu juga Abu Lahab dan Abu Jahal. Tidak luput dari celaan Nabi saw.
*4. Tanpa Kekerasan (La ‘Unfiyyah).*
Walaupun siksaan fisik diterima, bahkan ada yang dibunuh, selama era Makkah Rasulullah tidaklah melakukan kekerasan fisik. Beliau tidak menghancurkan berhala-berhala yang ada atau melakukan penyerangan balasan. Abdurrahman bin ’Auf dan para sahabatnya pernah datang menemui Rasulullah, lalu mengadu, “Wahai Rasulullah, dulu kami kuat dan mulia saat kami musyrik, ketika kami beriman jadilah kami hina.” Rasulullah menjawab:
إِنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ، فَلاَ تُقَاتِلُوا
Aku diperintahkan untuk menjadi seorang pemaaf. Karena itu janganlah kalian berperang.
_Wallahu a'lam bishawab_
Share your videos with friends, family, and the world