Kajian Rutin Nurut Ta'lim Bani Yasin

Kajian Rutin Nurut Ta'lim Bani Yasin Pondok Pesantren dan Majelis Dzikir Nurut Ta'lim Bani Yasin (NTBY) Link Kenanga Kel Masigit Jombang Cilegon-Banten

27/03/2026

Rikhlah Gunung Santri 06 syawal 1447 H
Dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, mendoakan para kekasih Allah (waliyullah), serta mengambil pelajaran (i'tibar) dari kisah perjuangan mereka dalam menyebarkan Islam, bertujuan mendapatkan keberkahan (tabarruk) dan meningkatkan kesadaran akan kematian (mengingat akhirat).

Berikut adalah rincian tujuan dan hikmah ziarah wali:
- Mendekatkan Diri kepada Allah: Ziarah wali merupakan salah satu sarana spiritual untuk meningkatkan iman dan ketaatan kepada Allah SWT.
- Tabarruk (Mencari Keberkahan): Peziarah berharap mendapatkan keberkahan dari Allah melalui perantara (wasilah) orang-orang saleh yang dimakamkan.
- Mengingat Kematian: Ziarah ke makam wali menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan mati, yang diharapkan dapat mendorong peningkatan amal ibadah.
- Meneladani Perjuangan (I'tibar): Mengambil hikmah dan meneladani keteguhan iman serta Akhlakul Karimah para wali dalam berdakwah.
- Mendoakan Ahli Kubur: Mendoakan ampunan dan tempat terbaik bagi wali yang telah wafat.
- Penghormatan Jasa Dakwah: Memberikan penghormatan atas jasa-jasa para wali dalam menyebarkan ajaran Islam, khususnya di Indonesia.

Ziarah kubur, khususnya ke makam para wali dan ulama, merupakan amalan yang disunnahkan dalam Islam, terutama bagi kaum pria.

SC: nuonline

14/03/2026

Tasyakuran dan Tafarruqon
Santriwan-Santriwati
Ponpes Nurut Ta'lim Bani Yasin

(Mulianya Santri dengan Berakhlakul Karimah)

02/02/2026

Shalat qabla dan ba'da jum'at dianjurkan 4 rakaat.

02/02/2026

Persiapan dzikir malam Nifsu Sya'ban
Penentuan amal kita di akan di naikan ke langit Allah.

Semoga jama'ah dan umat muslim yang bermunajat kepada Allah SWT semua diterima amal ibadahnya dan di ampuni segala Dosa-dosa nya dan dalam keadaan Husnul Khotimah

Aamiin Allah humma Aamiin🤲🏻

28/01/2026

Al-Qur’an diturunkan Allah SWT dengan kebenaran mutlak, tanpa keraguan sedikit pun, sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 166. Kitab suci ini bukan hanya wahyu terakhir, tetapi juga pembenar seluruh kitab samawi sebelumnya—Taurat dan Injil—yang sejak awal telah memberi kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad SAW dan turunnya Al-Qur’an. Dengan ilmu-Nya, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang lurus bagi manusia, disaksikan oleh para malaikat, dan cukup Allah sendiri sebagai saksi atas kebenarannya. Inilah kitab yang selaras dengan janji Ilahi dan menjadi penutup risalah langit.
Allah juga menurunkan Al-Furqan, yang oleh para ulama seperti Qatadah dan Ibnu Jarir ditegaskan sebagai Al-Qur’an itu sendiri—pembeda yang tegas antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Di dalamnya terdapat hujjah, dalil, dan tanda-tanda yang jelas bagi siapa pun yang mencari kebenaran. Namun bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, balasannya adalah azab yang berat. Sebab Allah Maha Perkasa, tak terkalahkan oleh apa pun, dan memiliki pembalasan yang adil bagi siapa saja yang menentang ayat-ayat-Nya serta para rasul-Nya. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi yang beriman, dan peringatan keras bagi yang berpaling.

Sc: Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah
Tafsir web

28/01/2026

Shalat Jumat merupakan pembahasan penting dalam ilmu fiqih yang wajib dipahami oleh setiap muslim laki-laki. Berdasarkan kerangka kurikulum yang umum ditemukan dalam kitab-kitab fiqih dasar (seperti yang terdapat dalam Majmu' Durusul Fiqhiyyah karya Al-Habib Umar bin Hafidz), berikut adalah poin-poin pokok mengenai shalat Jumat:
1. Hukum dan Dalil
Hukum: Shalat Jumat hukumnya Fardhu 'Ain (wajib individu) bagi muslim laki-laki yang memenuhi syarat.
Dalil: Berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Jumu'ah ayat 9, yang memerintahkan untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan jual beli saat adzan Jumat dikumandangkan.

2. Syarat Wajib Shalat Jumat
Seseorang diwajibkan shalat Jumat jika memenuhi kriteria:
Islam.
Baligh (dewasa).
Berakal.
Laki-laki (tidak wajib bagi perempuan, anak kecil, dan orang sakit).
Merdeka.
Muqim (menetap, bukan musafir).
Mampu mendatangi tempat shalat.

3. Syarat Sah Shalat Jumat (Madzhab Syafi'i)
Agar shalat Jumat dianggap sah, harus memenuhi syarat berikut:
Dilaksanakan pada waktu Dzuhur.
Dilaksanakan di dalam batas permukiman (desa/kota).
Dilakukan secara berjamaah.
Jumlah jamaah minimal 40 orang laki-laki yang mustauthin (penduduk asli/menetap).
Didahului oleh dua khutbah.

4. Rukun Dua Khutbah Jumat
Khutbah harus memenuhi rukun-rukun berikut agar sah:
1. Membaca Hamdalah (puji-pujian kepada Allah).
2. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
3. Wasiat taqwa (mengajak bertakwa).
Membaca ayat Al-Qur'an (pada salah satu khutbah).
4. Mendoakan kaum muslimin (pada khutbah kedua).
5. Tata Cara Shalat Jumat
Khatib naik mimbar dan mengucapkan salam.
6.Adzan dikumandangkan.
7.Khatib menyampaikan khutbah pertama, duduk sejenak, lalu khutbah kedua.
8. Shalat Jumat dilaksanakan 2 rakaat secara berjamaah.
Shalat dilakukan setelah dua khutbah (jika dilakukan sebelum, tidak sah).

Sunnah-sunnah Jumat
Mandi janabah (mandi Jumat).
Memotong kuku dan mencukur kumis.
Memakai pakaian putih dan wewangian.
Bersegera menuju masjid.
Membaca Surat Al-Kahfi.
Memperbanyak shalawat dan doa.

28/01/2026

Majelis dzikir nurut ta'lim bani yasin
Pembahasan kitab Majmu' fii durussul Fiqhiyyah bab Shalat Jum'at hal 63

21/01/2026

Telah disebutkan sebelumnya pada awal surah Al-Baqarah yang tidak perlu lagi diulangi. Begitu juga pembahasan tentang ayat (Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya (2)) dalam penafsiran ayat kursi.
Firman Allah SWT: (Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya)yaitu Dia menurunkan Al-Qur'an kepadamu, wahai Muhammad, dengan kebenaran. Yaitu tidak ada keraguan di dalamnya; bahkan ini diturunkan dari Allah. (Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (p**a).

Cukuplah Allah yang mengakuinya (166)) (Surah An-Nisa). Firman Allah (membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya) yaitu kitab-kitab yang diturunkan dari langit sebelumnya kepada hamba-hamba Allah, yaitu para nabi. Jadi kitab-kitab itu membenarkannya, memberitakan tentangnya, serta memberikan berita gembira di masa lalu, dan Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab itu, karena Al-Qur’an sesuai dengan apa yang diberitakan oleh kitab-kitab itu, dan dikabarkan berupa janji Allah yang akan mengutus nabi Muhammad SAW dan menurunkan Al-Qur'an yang agung kepadanya. Firman Allah (dan menurunkan Taurat) yaitu kepada nabi Musa bin Imran, (dan Injil) yaitu kepada nabi Isa putra Maryam. (sebelumnya) yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an. (menjadi petunjuk bagi manusia) petunjuk pada masa keduanya diturunkan. (Dia menurunkan Al Furqan) yaitu yang membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan, dan antara bimbingan dan kesesatan. Allah menyebutkan dalam Al-Qur'an hujjah, tanda-tanda, dan dalil-dalil yang jelas, serta bukti-bukti yang mutlak. Dia menjelaskan, menerangkan, menguatkan, memberi petunjuk, dan memperingatkan tentang hal itu.

Qatadah dan Ar-Rabi' bin Anas berkata: “Al-Furqan di sini adalah Al-Qur'an”. Ibnu Jarir memilih bahwa itu adalah sumber yang dibahas di sini mengacu pada penyebutan Al-Qur'an dalam firmanNya: (Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya) dan itu adalah Al-Qur'an.
Firman Allah SWT: (Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah) yaitu mereka mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkarinya, dan menolaknya dengan bathil (akan memperoleh siksa yang berat) yaitu pada hari kiamat, (dan Allah Maha Perkasa) yaitu Dzat yang tak terkalahkan dari segala sisi, lagi Maha Agung kekuasaanNya (lagi mempunyai balasan (siksa)) yaitu bagi orang yang telah mendustakan ayat-ayatNya, menentang para rasulNya yang mulia, dan para nabiNya yang agung.

Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

21/01/2026

Allah Swt menceritakan keadaan orang-orang kafir apabila mereka dihadapkan di neraka pada hari kiamat nanti. Mereka menyaksikan semua belenggu dan rantai yang ada di dalamnya serta melihat semua hal yang mengerikan dan menakutkan itu dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka berharap untuk dikembalikan lagi ke alam dunia, agar dapat mengerjakan amal saleh dan tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka lagi, serta akan menjadi orang-orang yang beriman.

Sebenarnya saat itu baru tampak jelas bagi mereka semua yang dahulu mereka sembunyikan di dalam diri mereka, yaitu berupa kekufuran, pendustaan, dan pengingkaran terhadap perkara yang hak, sekalipun ketika di dunia atau di akhirat mereka mengingkarinya. Dengan demikian, berarti makna ayat ini (Al-An'am: 27) merupakan berita tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu di saat mereka menyaksikan azab. Maka saat itu tampak jelas rahasia yang dahulu mereka sembunyikan di dalam hati mereka, yaitu berupa kekufuran, kemunafikan, dan pertentangan.

Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali meminta untuk dikembalikan ke dunia karena ingin dan s**a kepada iman, melainkan semata-mata karena takut kepada azab yang mereka saksikan yang merupakan pem­balasan dari apa yang dahulu mereka perbuat, yaitu kekafiran mereka. Untuk itulah mereka minta kembali ke dunia agar bebas dari kengerian pemandangan neraka yang mereka saksikan itu. Yakni dalam permintaan mereka yang menginginkan agar dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat beriman. Permintaan itu bukan didasari karena s**a dan cinta kepada keimanan.

Kemudian Allah berfirman menceritakan perihal mereka, bahwa sekiranya mereka dikembalikan ke dalam kehidupan di dunia, niscaya mereka akan kembali mengulangi perbuatan yang mereka dilarang melakukannya, yaitu kekufuran dan menentang perkara yang hak.

Sc: Ibnu Katsir online

21/01/2026

Visualisasi hari kiamat

Visualisasi hari kiamat dalam tafsir surat Al-Waqiah ayat 1-6 dimulai dari ayat ketiga, ‘(hari kiamat itu) meninggikan dan merendahkan’. Beragam istilah yang digunakan oleh para mufasir dalam menafsirkan dua kata yang berlawanan ini meski pada intinya sama. Syekh Nawawi dalam Marah Labid mengatakan pada hari kiamat, Allah akan merendahkan orang kafir di neraka dan disiksa. Di saat yang sama meninggikan orang beriman di surga dengan kenikmatannya. Penafsiran yang sama disampaikan oleh Ar-Razi dan At-Thabari.

Dua keadaan yang berlawanan ini menandakan kebalikan dari keadaan yang terjadi di dunia, ia yang merasa tinggi di dunia karena atribut keduniawiannya, di akhirat akan menjadi rendah. Sementara ia yang merendah di dunia, di hari kiamat kelak akan ditinggikan kedudukannya. Demikian kurang lebih penjelasan Al-Qurthubi dan Ibnu Asyur.

Menurut Abu Hayyan Al-Andalusi dalam Al-Bahr Al-Muhit, perbuatan seseorang di dunia akan mempengaruhi kedudukannya pada hari kiamat kelak. Ia yang buruk amalnya akan direndahkan dengan masuk ke neraka, sedang yang amalnya baik makan akan ditinggikan dengan masuk ke surga.

Pada ayat berikutnya, terjadinya hari kiamat diperlihatkan dengan peristiwa bumi berguncang dengan dahsyat dan gunung meletus dengan sangat dahsyat p**a. Bumi berguncang dengan mengeluarkan segala kandungan yang ada di dalamnya (surat Al-Zalzalah ayat 2), gunung pun demikian, letusannya yang dahsyat sehingga terlihat seperti bulu yang berhamburan (surat Al-Qariah ayat 5).

Sementara gambaran untuk keadaan manusia, di ayat ke empat surat Al-Qariah disampaikan betapa manusia pada saat itu berhamburan, kebingungan. Setiap orang bingung mencari perlindungan sendiri-sendiri, tidak peduli dan tidak ingat lagi terhadap saudaranya, ibunya, ayahnya, istri tercintanya, suaminya, anak yang disayanginya dan temannya (surat Abasa ayat 34-36).

Gambaran di atas sebenarnya sudah sangat akrab dalam kehidupan kita. Jika masih kurang jelas, coba putar ingatan kita kembali pada Desember 2004 silam ketika terjadi gempa dan tsunami Aceh, gempa Jogja tahun 2006, gempa Lombok 2018, gempa dan tsunami Palu September 2018, meletusnya gunung kelud tahun 2014 dan seterusnya. Berapa banyak korban jiwa dan kerusakan sebab bencana ini.

Peristiwa-peristiwa tersebut masih tidak ada apa-apanya dibanding dengan hari kiamat nanti, akan tetapi tidak ada salahnya jika kita mengambil pelajaran dari bencana alam yang sudah sering terjadi di depan kita. Bukankah itu juga pelajaran dan peringatan dari Allah? Jika dengan menghadirkan Kembali kejadian tersebut membuat kita sadar akan datang dan dahsyatnya hari kiamat, mengapa enggan kita lakukan? Wallahu A’lam

Sc:tafsir al-Qur'an id

09/12/2025

Address

Link Kenanga Kel Masigit Kec Jombang
Cilegon
42414

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kajian Rutin Nurut Ta'lim Bani Yasin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share