SD Angkringan 01

SD Angkringan 01 SD Angkringan 01 status di akui di Jl. Raya Rawa Bendungan,Mertasinga - Cilacap Utara (Depan Pemanci

Cegah stroke dan jantung dengan daun kemangiDaun kemangi biasanya digunakan untuk santapan makanan lalapan. Namun, tahuk...
27/03/2014

Cegah stroke dan jantung dengan daun kemangi

Daun kemangi biasanya digunakan untuk santapan makanan lalapan. Namun, tahukah Anda jika daun kemangi merupakan sumber vitamin A yang tinggi yang bisa meminimalisir penyakit jantung atau stroke.
Daun kemangi biasa juga disebut dengan daun basil. Vitamin A yang tinggi dari daun kemangi ini, didapat dari carotenoid seperti beta-karotin. Beta-karotin ini merupakan anti oksidan yang powerful. Manfaatnya, untuk melindungi sel epitel dari berbagai macam ancaman radikal bebas dan mencegah radikal bebas dari oksidasi kolesterol pada aliran darah.
Dengan kedua manfaat ini, resiko terjadinya serangan jantung atau stroke dapat diminimalisir.
Beta-karotin yang merupakan zat anti-oksidan ini sangat penting untuk tubuh. Peran pentingnya sebagai penangkal radikal bebas (yang dapat membuat Anda menderita asma, osteoarthritis, dan rheumatoid arthritis).
Apabila Anda sudah terlanjur mengalami berbagai macam penyakit tersebut, beta-karotin di dalam daun kemangi dapat meringankan penyakit Anda dan melindungi sel-sel tubuh Anda dari kerusakan yang semakin parah.(merdeka/27/3/14)

27/03/2014

Dua Siswi SMP Di Cilacap Berkelahi Gara-gara Rebutan Cowok

TRIBUNNEWS.COM, CILACAP- Satuan Samapta Bhayangkara (Sabhara) Polres Cilacap, Jawa Tengah, mengamankan dua siswi SMP yang terlibat perkelahian di Taman KNPI Cilacap, Jumat (21/3). Dua siswi itu kelahi diduga karena keduanya memperebutkan cowok yang dianggap pacar mereka.
Di lokasi yang sama, sejumlah siswa dari dua SMP tersebut juga terlibat tawuran. Oleh karena itu, Satuan Sabhara yang sedang mengamankan sebuah kegiatan di Alun-Alun Cilacap dekat Taman KNPI segera mengambil tindakan.
"Kami segera mengamankan siswa yang terlibat tawuran maupun siswi yang berkelahi, agar kejadian tersebut tidak meluas. Mereka dibawa ke Polres Cilacap untuk dibina," kata Kasat Sabhara AKP Sumarno.
Dalam hal ini, pihaknya mengamankan tujuh siswa SMP yang terlibat tawuran serta dua siswi yang berkelahi di Taman KNPI tersebut. Bahkan, dua siswi SMP yang terlibat perkelahian, diketahui terpengaruh minuman beralkohol.
Kendati demikian, dia mengatakan bahwa pihaknya tidak memidanakan para pelajar yang terlibat tawuran atau perkelahian itu. "Kami tidak memidanakan mereka. Kami hanya berikan pemahaman dan pembinaan, selanjutnya kami serahkan kepada sekolah dan orang tua masing-masing," katanya

27/03/2014

Australia Butuh Lebih Banyak Guru Bahasa Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, PERTH -- Antusiasme masyarakat Australia untuk belajar bahasa Indonesia kian tahun semakin besar. Sayangnya, hal tersebut tidak didukung dengan ketersediaan guru-guru yang sanggup mengajar bahasa Indonesia.
Kepala Balai Bahasa Indonesia Perth, Karen Bailey, mengungkapkan pihaknya sangat menyadari kekurangan guru-guru bahasa Indonesia di Australia. Menurutnya butuh waktu untuk meningkatkan jumlah guru mengingat tidak mudah untuk mengajar bahasa Indonesia.
"Kami membutuhkan orang-orang muda dan energik yang benar-benar mengerti bahasa Indonesia dan tahu bagaimana cara mengajar bahasa tersebut. Orang-orang seperti itu cukup langka di sini," kata Karen kepada Republika saat ditemui di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Perth, Australia, Senin (24/3) malam.
Menurut Karen, lembaganya tidak bisa sembarangan merekrut orang-orang Indonesia untuk menjadi guru bahasa Indonesia, seperti halnya banyak lembaga kursus di Indonesia merekrut orang-orang Australia untuk mengajar bahasa Inggris.
"Kami memiliki tiga guru dari Indonesia yang disebar di berbagai sekolah-sekolah di Australia. Namun kami tidak tergantung pada orang-orang Indonesia. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak selalu dimiliki oleh orang-orang Indonesia," kata Karen.
Vicki Richardson, salah seorang guru senior di Tranby College, sebuah sekolah swasta di Australia Barat, mengatakan sebenarnya minat murid-murid di sekolahnya untuk mempelajari bahasa Indonesia cukup besar. Apalagi sejak SD sampai SMP bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di sekolah tersebut.
Sayangnya, 1-2 tahun belakangan ini jumlah siswa SMA yang meminati kelas bahasa Indonesia di Tranby College agak menurun. Hal itu salah satunya disebabkan sekolahnya hanya memiliki satu guru saja untuk mengajar bahasa Indonesia, yakni dirinya sendiri.
Saat berhalangan, Vicki mengaku bingung untuk mencari guru pengganti. "Padahal guru merupakan faktor yang sangat penting bagi murid untuk menyukai bahasa Indonesia. Saat mereka menyukai seorang guru,maka mereka akan mengikuti guru tersebut," ujar Vicki.

Percepatan dan Penataan Penyaluran Tunjangan 2014EMPO.CO, Jakarta-Pembayaran Tunjangan Profesi dari tahun ke tahun menga...
27/03/2014

Percepatan dan Penataan Penyaluran Tunjangan 2014

EMPO.CO, Jakarta-Pembayaran Tunjangan Profesi dari tahun ke tahun mengalami kemajuan menjadi tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran sesuai harapan (Memecahkan Kerumitan Pembayaran Tunjangan Profesi, Tempo 26 November 2012). Tahun 2014, tunjangan profesi bisa dinikmati lebih awal oleh guru-guru khususnya guru non-PNS yang pembayarannya melalui Kemdikbud yang sudah masuk dalam sistem Dapodik dan memenuhi syarat untuk menerima tunjangan profesi. Kemdikbud berencana menyalurkan tunjangan profesi dan tunjangan lainnya pada akhir Maret 2014.

Pemberian tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan subsidi tunjangan fungsional, serta bantuan peningkatan kualifikasi guru ke S1/D4 sebagai amanat undang-undang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah dan sudah dialokasikan setiap tahunnya melalui APBN.

Pada awalnya, dalam penyalurannya masih banyak mengalami kendala. Namun sejak diluncurkannya Data Pokok Pendidikan (Dapodik) untuk pendidikan dasar misalnya, mata rantai penyebab tidak tersalurkannya tunjangan profesi yaitu rumitnya verifikasi data penerima tunjangan profesi seperti kebenaran pelaksanaan beban mengajar minimal 24 jam per minggu, mengampu mata pelajaran sesuai sertifikat pendidikannya, terdaftar sebagai PNS atau guru tetap, dan belum pensiun sudah mulai dapat dipecahkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah berusaha melakukan terobosan untuk memperbaiki kerumitan dalam memverifikasi data guru.

Pembayaran Tunjangan Profesi setelah Dapodik diluncurkan mengalami kemajuan menjadi tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran sesuai dengan harapan. Tahun 2014 ini telah dilakukan penataan tunjangan profesi bisa dinikmati lebih awal oleh guru-guru yang sudah masuk ke dalam sistem Dapodik dan memenuhi syarat untuk menerima tunjangan profesi. Kemdikbud berencana menyalurkan tunjangan profesi dan tunjangan lainnya pada akhir Maret 2014. Tim Info Tempo mewawancarai Direktur P2TK Dikdas, Sumarna Surapranata, Ph.D, Direktur P2TK Dikmen, Drs Purwadi Sutanto, MS, dan Direktur P2TK Paudni Dr Nugaan Yuliawardhani, M.Psi, dalam INFORIAL – Kemdikbud berikut ini:

Bagaimana kaitan antara DAPODIK dengan penerbitan SK Tunjangan?

Penataan dan percepatan penyaluran tunjangan dilakukan melalui Dapodik yaitu sistem pendataan Kementerian yang bersifat relasional dan longitudinal yang menjaring 3 entitas sekaligus, yaitu entitas sekolah, entitas PTK, entitas Siswa. Semua instansi di Kementerian dapat menggunakan Dapodik sesuai kebutuhan masing-masing unit kerja. Misalnya untuk Pemberian BOS, BSM, Rehab, RKB, USB bagi direktorat pembinaan sekolah SD, SMP, dan PKLK. Sedangkan Direktorat P2TK Dikdas menggunakan DAPODIK untuk keperluan penerbitan SK Tunjangan profesi.

Bagaimana tunjangan profesi disalurkan?

Mekanisme pertama, untuk guru bukan pegawai negeri sipil (bukan-PNS), pengawas, dan guru SLB disalurkan melalui APBN Kemdikbud (dibayar dari Pusat). Mekanisme kedua adalah tunjangan profesi untuk guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) dibayar oleh pemerintah kabupaten/kota yang dananya ditransfer dari Kementerian Keuangan ke Kas Pemerintah Daerah Kabupaten/kota setiap triwulan.

Banyak guru yang sudah bersertifikat pendidik tetapi tidak dapat terbit SK-nya. Mengapa hal itu terjadi?

Tunjangan profesi diberikan atas prestasi kerja, oleh karena itu tidak semua guru yang sudah memperoleh sertifikat pendidik akan otomatis memperoleh tunjangan profesi. Ada persyaratan-persyaratan lainnya, selain sertifikat pendidik, yang harus dipenuhi oleh guru. Sesuai dengan Pasal 15 PP 74 Tahun 2008, persyaratan untuk mendapatkan tunjangan profesi, guru harus (1) mengajar sesuai sertifikat pendidik, (2) melaksanakan beban mengajar minimum 24 jam/minggu, (3) terdaftar sebagai guru tetap di departemen, (4) mengajar pada satuan pendidikan sesuai rasio minimal, (5) usia maksimum 60 tahun, dan (6) tidak terikat sebagai tenaga tetap di instansi lain.

Apakah guru memiliki akses untuk mengetahui status mereka?

Setelah sekolah mengirimkan data guru ke server DAPODIK, maka guru dapat melihat status data mereka secara online diwebsite dengan alamat http://223.27.144.195:8081 yang sudah disediakan oleh Direktorat P2TK Dikdas. Laman tersebut dapat menampilkan apakah data guru sudah benar dan memenuhi syarat untuk dapat diterbitkan SK Tunjangan Profesinya (SKTP). Misalnya kebenaran nominal gaji pokok, sekolah induk, status kepegawaian, linieritas antara sertifikat pendidik dengan mapel yang diampu. Karena data yang digunakan untuk penerbitan SKTP berasal dari DAPODIK, maka apabila masih terdapat kesalahan pengisian data, maka guru dapat memberbaiki datanya dan mengirimkan kembali secara online ke server DAPODIK.

Kapan Dapodik harus diperbarui untuk keperluan penerbitan SKTP?

Menurut Instruksi Menteri Nomor 2 Tahun 2011, setiap pergantian semester maka sekolah wajib memperbarui data DAPODIK. Hal ini perlu dilakukan karena adanya penugasan baru bagi guru dan penerimaan siswa baru. Selain itu jika terdapat perubahan status maka sekolah wajib memperbarui datanya setiap bulan jika terdapat hal-hal seperti guru pensiun, meninggal dunia, pindah ke sekolah lain, atau adanya guru baru, diangkat pada jabatan non -guru, dan lain-lain.

Ketika SKTP sudah diterbitkan, kapan pembayaran tunjangan profesi dibayarkan dan dimana bisa diketahui bahwa SK sudah terbit?
Pembayaran tunjangan profesi guru non-PNS yang dikelola oleh Kemdikbud akan dibayarkan pada akhir bulan Maret 2014. Kami sudah memproses SPP dan SPM sebagaimana perkembangan penerbitan SKTP tersebut. Kami pun sudah mengajukan SPM ke KPPN. Mudah-mudahan sesuai dengan harapan, akhir Maret 2014 sudah mulai cair. Guru yang sudah mendapatkan tunjangan profesi, tunjangan khusus, subsidi tunjangan fungsional, dan bantuan kualifikasi akademik bisa melihat status SK pada layanan Info PTK.Data Surat Keputusan Penerima Tunjangan Profesi Guru Non-PNS

Bagaimana dengan tunjangan khusus dan yang lainnya? Kapan dibayarkan?
Sama dengan tunjangan profesi. SK tunjangan khusus, subsidi tunjangan fungsional, dan bantuan peningkatan kualifikasi S1/D4 juga sudah diterbitkan bersamaan dengan jadwal tunjangan profesi yaitu pada akhir Maret atau awal April sudah sampai kepada rekening guru penerima.

Bagaimana dengan kekurangan pembayaran tunjangan profesi 2010-2013?
Kekurangan bayar tunjangan profesi 2010 – 2013 menunggu hasil audit BPKP. Berdasarkan audit tersebut pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan membayarkan kekurangan bayar tunjangan profesi pada triwulan pertama tahun 2014. Hasil audit BPKP menunjukkan adanya saldo dan kekurangan bayar di kabupaten/kota.

Adakah alamat di Kemdikbud untuk verifikasi?
Sebenarnya, apabila guru mengakses alamat website kami sudah cukup. Tetapi apabila mau berkunjung, silakan guru datang ke Gedung C lantai 19 Kompleks Kemdikbud Senayan Jakarta.

27/03/2014

Sekolah Hancurkan Karakter Siswa, Mungkinkah?

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam sebuah kajiannya, Mochtar Buchori (2006) menyatakan ada tiga tugas kehidupan yang harus dipersiapkan pendidikan untuk para peserta didik. Pertama, agar peserta didik bisa menghidupi diri sendiri. Kedua, agar peserta didik dapat mengembangkan kehidupan yang bermakna. Ketiga, ini yang jarang diungkap, untuk memuliakan kehidupan.

Sekolah sebagai institusi penebar nilai kehidupan dalam ruang lingkup pendidikan formal, tentu punya amanah untuk mengantarkan peserta didik sukses dan hidup bermakna di masa depan. Untuk tujuan pertama, ternyata tak semua sekolah bisa menyiapkan peserta didik untuk menghidupi diri sendiri. Bila sarjana saja tak siap pakai, bagaimana lagi dengan hanya lulusan SMA dan jenjang pendidikan lebih rendah dari itu. Sampai hari ini sekolah masih terlalu sibuk dengan fungsinya yaitu transfer pengetahuan yang ternyata kebanyakan cuma wacana. Pengetahuan yang sekadar wacana, sulit bisa dijadikan alat mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri. Sebabnya jelas itu bukan keterampilan.

Tujuan kedua yaitu mengembangkan kehidupan yang bermakna, ini bicara kebaikan dalam wilayah karakter. Inilah yang tak banyak dibahas di sekolah. Kita tak pernah membicarakan soal makna hidup. Yang kerap diperbincangkan ialah soal kesuksesan hidup. Titik persoalannya, apakah setiap kesuksesan selalu mengantar kita ke kehidupan yang bermakna?

Menjadi presiden, menteri, anggota legislatif, pengusaha, profesor, misalnya, kita pandang sebagai suatu kesuksesan. Tetapi, apakah setiap kehidupan presiden, menteri, anggota legislatif merupakan kehidupan bermakna? Apakah setiap kehidupan pengusaha dan profesor yang mewakili simbol kelompok orang kaya dan orang pintar selalu merupakan kehidupan yang bermakna?

Bicara kehidupan bermakna, maka kita bicara soal pengenalan jati diri. Naifnya, kadang materi kurikulum sekolah yang bejibun menyita seluruh waktu dan energi anak, sehingga anak tak sempat diajak berpikir, siapa sebenarnya dia, dan apa hal-hal baik yang seharusnya dilakukan dalam hidup.

Inilah salah satu bentuk pelanggaran hak asasi siswa. Pak Mochtar Buchori dengan tegas menyebut fenomena ini sebagai suatu dosa pendidikan yang sulit dimaafkan. Dan kekeliruan ini cenderung disepelekan oleh sekolah-sekolah kita.

Soal yang lain lagi adalah, sekolah yang mana sungguh-sungguh mendidik siswa untuk memahami 'kemuliaan hidup'? Memahami 'kemuliaan hidup' ini bukan perkara mudah. Ini bicara nilai kehidupan. Nilai kehidupan bisa dilesakkan pada diri siswa lewat praktik mendidik bukan mengajar an sich.

Philip H. Phenik (Columbia University, 1964) menyatakan, pengetahuan yang tak bermakna tak ada gunanya, dan hanya menjadi beban hidup. Maka, dalam kehidupan terdapat enam jenis wilayah makna, yaitu symbolics, empirics, esthetics, synnoetics, ethics, serta synoptics.

Untuk memahami makna di wilayah symbolics, siswa harus diberikan pendidikan dalam bahasa dan matematika. Pendidikan tentang lingkungan fisik (fisika, kimia, biologi, dsb) bisa membantu siswa memahami berbagai makna di wilayah empirics.

Untuk memberikan kemampuan memahami makna di wilayah esthetics, biasanya diajarkan seni suara, sastra, visual arts, dan seni gerak. Drama dan pembahasan film atau jenis cerita lain perlu diajarkan untuk memahami makna di wilayah synnoetics. Pelajaran sejarah, filsafat, dan agama perlu diajarkan untuk memahami makna di wilayah synoptics. Terakhir, untuk dapat memahami makna di wilayah ethics, perlu ditanamkan kesadaran dan kesediaan mematuhi norma yang berlaku.

Maka, sadarkah kita jika selama ini ada kecenderungan sekolah-sekolah mengabaikan esthetics, synnoetics, dan esthetics dalam praktik pembelajaran di ruang-ruang kelas. Wajar jika sekolah hanya jadi ajang pameran kecerdasan 'orang-orang pintar' secara akademik saja. Tapi, kurang mengapresiasi para siswa yang telah berusaha menunjukkan karakter (Misal, jujur, disiplin, tanggung jawab, dsb) dalam keseharian mereka. Bukti nyata sekolah tak mampu jadi ruang berperistiwa praktik pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Dulu ada pendidikan budi pekerti. Sekarang, pendidikan budi pekerti telah lama hilang atau kalaupun ada hanya sekadar tempelan saja, bukan pelajaran inti. Wajar jika anak-anak kita sekarang kebanyakan tak paham apa itu budi pekerti. Padahal pendidikan budi pekerti amat penting.

Latihan budi pekerti merupakan salah satu metode menanam karakter. Tanpa pendidikan budi pekerti, juga pelajaran agama yang cuma beberapa jam per minggu, perilaku anak-anak berkembang tanpa pembinaan. Tanpa pembinaan, perilaku anak-anak lebih didominasi tabiat. Perilaku buruk yang tak usah dididik, otomatis berkembang dengan sendirinya. Sejatinya, di sinilah peran penting sekolah dalam membina karakter anak-anak kita.

Ujungnya, ketika ujian berlangsung di sekolah-sekolah di Indonesia, hampir tak pernah tanpa kecurangan. Sebelum pada siswa, tanyakan pada diri sendiri, pernahkah kita mencontek saat ujian atau ulangan? Jika tidak, berapa persen yang tak pernah curang? Karena kekeliruan ini dianggap kebiasaan, maka bahayanya hal ini dijadikan kebenaran. Maka, mencontek bagi siswa di Indonesia sudah jadi tradisi, "enggak nyontek, enggak gaul" katanya. Yang tak mau memberi contekan ke temannya, bisa-bisa malah dikucilkan.

Soal ujian bocor, sudah jadi tradisi sekolah di Indonesia karena terjadi mungkin sudah sejak tahun 70-an hingga kini. Soal 'joki soal' masuk PTN, terus terjadi dari tahun 80-an juga hingga kini. Soal ujian diulang lagi dan berulang terus di beberapa daerah. Hingga para pembuat soal, para pekerja percetakan, dan pihak-pihak terkait telah disumpah untuk tak bocorkan dokumen ujian. Namun tetap bocor juga.

Dulu hingga akhir tahun 70-an, sekolah yang ujiannya bocor terasa hina sekali. Sekarang ujian bocor dianggap lumrah. Mencontek telah jadi tradisi. Kini ujian bocor pun telah jadi kultur baru. Entah apa masih berlaku pepatah 'guru kencing berdiri, murid kencing berlari'.

Memang pasti tetap ada guru yang melarang siswa mencontek. Tapi berapa banyak guru yang tak rela terhina profesi pendidiknya. Hanya mungkin karena kasihan pada murid, guru yang idealis pun akhirnya pura-pura tak tahu. Berat tidak berat, akhirnya diam dan membiarkan murid mencontek. Atau karena khawatir nama sekolah jadi buruk, anak-anak bukan lagi hanya dibiarkan mencontek bahkan diberi jawaban. Bukan hanya satu, tapi mungkin juga hampir semua jawaban.

Atau yang terjadi adalah pengawasan formalitas. Saat pengawas ujian dari luar sekolah datang, tak ada satu pun siswa mencontek. Suasana jadi hening dan terasa amat menegangkan. Tetapi begitu pengawas pergi, suasana hiruk pikuk dan aksi saling mencontek kembali terjadi. Guru hanya bisa tersenyum meski mungkin hatinya terasa galau.

Inilah kecurangan demi kecurangan yang mungkin telah dilatih sejak SD, sadar atau tanpa sadar. Sifat buruk mencontek telah dianggap lumrah. Yang meresahkan justru ini dimulai dari pendidikan dasar. Tabiat buruk dibiarkan bahkan dilatih. Yang diam-diam disadari atau tak akan berpengaruh jadi perilaku. Begitu dalam kondisi kritis dan genting, apapun akan dilakukan. Begitu ada kesempatan untuk meraih sesuatu, segala cara dihalalkan. Ini baru bicara soal nilai kejujuran, bagaimana dengan penerapan nilai-nilai karakter lain di sekolah-sekolah kita?

Inilah yang terus terjadi. Banyak sekolah mengajarkan pengetahuan dan keterampilan. Argumentasinya sederhana, dua hal ini mudah dihitung dan diukur tingkat pencapaiannya. Tapi tanpa karakter, apakah kebermaknaan dan kemuliaan hidup bisa dirasakan anak-anak kita?

Albert Einstein sudah mengingatkan, "Tidak semua yang dapat dihitung berharga. Dan tak semua yang berharga dapat dihitung". Karakter, hal berharga yang tak mudah dihitung. Justru di sanalah tantangan bagi sekolah untuk merancang program pendidikan yang fokus untuk membiasakan penerapan nilai-nilai baik dan meniscayakan terjadinya proses peneladanan dari guru-guru di sekolah.

Hanya karakterlah yang mampu mengantar anak-anak kita menemukan kebermaknaan hidup dan memuliakan kehidupan karena kehadiran mereka kelak tak jadi beban bagi masyarakat, justru memberikan efek kebermanfaatan untuk masyarakat. Jika hari ini sekolah hanya merasa bangga karena punya anak-anaknya yang punya kecerdasan semata tapi tak membina perilakunya, segeralah bertobat dan benahi sistem yang sudah ada.

Punya anak pintar itu baru satu hal. Yang penting, apakah kepintaran itu diraih melalui penerapan sifat baik atau sifat buruk. Membiarkan sifat buruk jadi keseharian di lingkungan sekolah, tak ada pembiasaan sifat baik, dan hilangnya figur teladan dari para guru, alih-alih sekolah jadi institusi berkarakter yang penuh wibawa, justru sekolah bisa jadi lembaga paling efektif dan efisien dalam merusak moral dan mental anak didik. Moral dan mental anak Indonesia tercinta.

Inti pendidikan karakter, yaitu butuh proses panjang, tak instan, dan tak pernah selesai. Tugas sekolah makin tak mudah karena mungkin saja pendidikan karakter tak tersemai di keluarga dan masyarakat.

Ketika karakter terpuruk, hal-hal benar disalahkan, hal-hal salah dibenarkan. Demi lahirnya generasi Indonesia yang paham makna hidup dan mampu memuliakan kehidupan, sekolah harus mulai menerapkan konsepsi pendidikan kompetensi berbasis karakter, bukan pendidikan berbasis kompetensi. Dan inilah perjuangan sekolah yang sesungguhnya di hari ini. Selamat berjuang.

Asep Sapa’at
Pemerhati Karakter Guru-Character Building Indonesia

27/03/2014

Guru Indonesia Juara Kompetisi Pembelajaran di Barcelona

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saara Suaib Hanafi guru SMP Islam Al Azhar 9 Bekasi meraih juara "Learn-a-thon Award" untuk tema pembelajaran aktif abad 21 pada ajang Microsoft Global Education Forum di Barcelona, Spanyol pada 11-14 Maret lalu.

"Learn-a-thon adalah aktivitas 24 jam dimana para guru dibagi dalam kelompok-kelompok dengan rekan dari berbagai belahan dunia merancang kegiatan pembelajaran yang menampilkan penggunaan teknologi inovatif untuk tiga tema Milennium Development Goals, yakni kemiskinan, keberlanjutan dan kesetaraan gender," kata Direktur Sektor Publik Microsoft Indonesia Kertapradana Subagus kepada pers di Jakarta, Rabu.

Saara bergabung bersama dengan lima guru lainnya dari Kanada, Slovakia, Perancis, Kenya dan Argentina dalam satu tim menyiapkan presentasi inovasi pembelajaran berbasis informasi teknologi dan komunikasi terkait tema kesetaraan gender.

Microsoft Global Education Forum merupakan ajang kompetisi pembelajaran berbasis teknologi yang setiap tahun diminati puluhan ribu guru dari seluruh dunia yang melakukan aplikasi online dan mengalami peningkatan peserta hingga 25 persen setiap tahunnya, kata Kertapradana.

"Tahun ini ada sekitar 300 guru Indonesia dari 23 ribu guru yang melakukan pendaftaran online untuk mengikuti ajang tersebut dan terseleksi tiga guru Indonesia dari 1100 guru untuk mengikuti ajang di Barcelona dan satu di antaranya yaitu Saara Suaib menjadi juara," katanya.

Sementara itu, Saara Suaib Hanafi mengatakan menjadi juara dalam ajang bergengsi dunia Learn-a-thon merupakan kebanggaan luar biasa karena peserta dipacu untuk berinovasi menggabungkan antara teknik mengajar dan pemanfaatan perangkat ICT mengusung tema konsep pembelajaran abad 21.

"Tantangan lebih berat ketika kami harus bergabung dalam tim guru yang berasal dari lima negara lainnya, terutama masalah penguasaan bahasa Inggris menjadi kendala karena dalam tim kami ada guru dari Slovakia, Argentina, dan Perancis yang tidak menmguasai bahasa Inggris dengan fasih sementara kami hanya diberikan waktu 24 jam untuk menghasilkan karya tentang teknik pembelajaran inovatif yang harus dipresentasikan dihadapan juri," kata Saara.

Namun, lanjutnya, kendala tersebut dapat diatasi karena pada dasarnya guru-guru dalam tim kami memiliki ide-ide inovatif dan kemampuan IT yang baik sehingga persoalan bahasa diatasi melalui software terjemahan bahasa yang disiapkan Microsoft.

"Sehingga dalam waktu ketat tim bisa menyajikan karya yang mengantarkan kami menjadi juara," tambahnya.

Saara mengatakan kemenagan yang diraih tidak sekadar berhenti pada hadiah yang diraih tetapi lebih penting adalah kesempatan untuk membuka jaringan dengan guru lain di seluruh dunia, membangun komunitas secara online untuk berbagi pengalaman inovasi pembelajaran yang sangat berharag untuk dibagikan kepada murid-murid dan guru-guru lain di sekolah.

27/03/2014

Pergantian IAIN Jadi UIN Penyebab Minimnya Guru PAI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kurangnya guru pendidikan agama Islam (PAI) untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) disebabkan peminat jurusan tarbiyah (pendidikan) beralih ke jurusan lain.

Saat ini ada kekurangan guru PAI di SD dan SMP yang mencapai 5 ribu orang.
Wakil Sekjen MUI, Welya Safitri mengungkapkan kekurangan guru PAI seharusnya tidak terjadi, sebab perguruan tinggi Islam masih banyak jumlahnya.

Ia memandang perubahan IAIN menjadi UIN turut berperan membuat peminat jurusan tarbiyah berkurang dan beralih ke pilihan jurusan lain.

Untuk mengatasinya, menurut dia, membuka perolehan akta empat untuk lulusan di luar keguruan dan ilmu pendidikan bisa saja dilakukan. Namun hal ini bukan perkara mudah. Sebab akta empat memuat kualifikasi seorang guru. Jadi hanya lulusan berlatar keguruan dan ilmu pendidikan yang lebih bisa menguasainya.

27/03/2014

Ujian Nasional
Masih Gunakan Kurikulum Lama

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dinas Pendidikan Kota Semarang memastikan materi yang diujikan pada Ujian Nasional 2014 masih mengadopsi kurikulum lama, yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan.

"Kurikulum baru belum diujikan dalam UN tahun ini. Bahkan, sampai UN tahun depan masih menggunakan kurikulum lama," kata Ketua Panitia Penyelenggara UN Kota Semarang Sutarto di Semarang, Rabu.

Menurut dia, siswa yang menjadi peserta UN tahun ini masih mengikuti proses pembelajaran dengan kurikulum lama sehingga evaluasi yang dilakukan pun harus disesuaikan dengan model kurikulum yang dipakai.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Disdik Kota Semarang itu menjelaskan kurikulum baru atau sering disebut kurikulum 2013 pada tahun lalu baru diterapkan untuk siswa jenjang awal pendidikan.

"Misalnya, siswa kelas I dan IV SD, kemudian siswa kelas VII SMP, dan siswa kelas X SMA. Jadi, mereka pada tahun ini baru duduk di kelas II bagi yang SD, atau kelas VIII bagi siswa SMP," katanya.

Sementara kakak kelas mereka yang tahun ini mengikuti UN, kata dia, pada tahun lalu masih duduk di kelas yang belum mendapatkan model kurikulum baru sehingga materi UN memakai kurikulum lama.

"Kalau UN-nya memakai kurikulum baru, sementara para siswa masih mendapatkan kurikulum lama, kan jadi tidak 'nyambung'. UN dengan materi kurikulum 2013 baru diterapkan nanti pada tahun 2016," katanya.

Berkaitan dengan pergantian kurikulum, ia mengatakan sebenarnya kesulitannya tidak berada pada level siswa, melainkan tingkat sekolah dan guru untuk menyesuaikan model kurikulum yang berbeda.

"Diganti kurikulum apa pun, siswa sebenarnya tidak ada masalah. Permasalahannya justru pada level sekolah dan guru, sebab tenaga pengajar kan perlu disiapkan mengajar dengan model berbeda," katanya.

Senada dengan itu, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Prof Mungin Eddy Wibowo membenarkan masih digunakannya materi kurikulum lama, yakni KTSP pada pelaksanaan UN tahun ini.

"Masih (UN, red.) kurikulum yang lama, yakni KTSP, belum memakai kurikulum baru. Sebab, siswa yang UN tahun ini masih belajar pakai kurikulum lama," kata Guru Besar Universitas Negeri Semarang itu.

27/03/2014

KURIKULUM 2013
Wamendikbud: SD Memang Tidak Ada Bahasa Inggris

Solo — Seperti halnya kurikulum sebelumnya, kurikulum 2013 untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) memang tidak ada pelajaran bahasa Inggris. Tetapi memang pada sekolah-sekolah bagus memang ada yang mengajarkan bahasa Inggris.

“Saya pernah dimaki-maki karena tidak memasukan pelajaran Bahasa Inggris di SD pada Kurikulum 2013. Kata mereka yang maki-maki, ini jaman global masak bahasa Inggris dihapus di SD. Padahal, saya belum pernah menghapus, karena kurikulum sebelumnya memang tidak ada bahasa Inggris,” ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan Prof Dr. Ir. Musliar Kasim di depan peserta seminar nasional Kurikulum 2013, di Kampus FKIP UNS, Solo, Sabtu (22/3).

Musliar mengakui bahwa pada sekolah-sekolah dasar yang bagus memang mengajarkan pelajaran bahasa Inggris. Hal itu dipersilahkan saja. Tetapi kalau diwajibkan diajarkan bahasa Inggris di SD, yang notabene gurunya guru kelas tentu tidak mampu. “Daripada belepotan bahasa Inggrisnya, dan tidak tentu arahnya, lebih baik ditangguhkan saja,” ujarnya.

Menurut Musliar, di negara-negara non English speeking seperti Jerman dan Belanda, tidak diajarkan bahasa Inggris sejak kelas satu. Sekolah internasional sendiripun untuk empat mata pelajaran tidak boleh diajarkan dalam bahasa Inggris.

19/03/2014

Address

Jalan Raya Rawa No 1000 Bendungan/Mertasinga
Cilacap Regency
53213

Opening Hours

Monday 19:30 - 18:00
Tuesday 19:30 - 18:00
Wednesday 19:30 - 18:00
Thursday 19:30 - 18:00
Friday 19:30 - 18:00
Saturday 19:30 - 18:00
Sunday 19:30 - 18:00

Telephone

+62282533911

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SD Angkringan 01 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share