31/12/2018
Setetes Air Semut Ibrahim
Sebuah Persembahan...
MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH ULIN NUHA
Aku hanyalah semut...
Terkaget-kaget mendapati...
Kekasih Mulia, Sayyidina Ibrahim...
Terpasung di tiang pembakaran...
Duhai, Allah yang Esa...
Lihatlah, Kekasihku Ibrahim
dinista...
Diarak, diikat, dicampakan dalam tumpukan kayu kering...
Ribuan Manuisa bersorak...
Entah apa di benak mereka...
Bersukacita melihat kekasihku bertaruh nyawa...
Aaahhh... itu api!
Berkobar-kobar!
Yaa Allah... Itu Api!
Aku berlari secepat yang ku mampu...
berlari, berlari memanjat kerikil menerabas pasir...
Menuju sumber air...
Setetes, hanya setetes yang mampu ku pikul di pundakku.
Tergopoh-gopoh menuju Ibrahim...
Nampak olehku api mulai
menjilat tubuh Baginda...
Semakin kencang aku berlari...
"Hahahahaha... Bisa apa kamu dengan air setetes, semut bodoh!"
Terpingkal-pingkal mereka mentertawakanku...
Tentang setetes air itu, yang ku siramkan kepada kobaran api...
Sungguh, aku tidak perdulikan tawa mereka...
Karena setetes air ini adalah
puncak dari batas kemampuanku...
Kemampuan untuk mewujudkan
cintaku, kepada Baginda Mulia...
Kepada risalah yang dibawanya...
Kepada allah yang mengutusnya...
Perihal padam tidaknya api kezaliman. Allah sebaik-baik Penjaga yang tidak akan mengingkari janjiNya...
ULIN NUHA hanyalah setetes air kami, seekor semut yang ingin menyatakan cinta...
Cikarang, Penghujung Tahun 2018