16/05/2021
Kini hobby pelihara hewan semakin populer di kalangan anak muda. Salah satu indikatornya adalah ramainya group jual-beli khusus hewan di sosial media. Beragam hewan dan satwa liar dijajakan, termasuk burung hantu.
Tampilan unik dan kesan gagah menjadi daya tarik untuk meminang burung hantu Serak Jawa (Tyto Alba). Apalagi dibandrol dengan harga yang sangat terjangkau. Sayangnya mereka membeli tanpa dibekali pengetahuan yang cukup tentang cara pemeliharaan yang baik. Yang paling fatal adalah masalah pemberian pakan.
Di alam liar, 99,93% pakan Serak Jawa adalah tikus yang mereka buru di ladang dan pesawahan. Jadi tidak bisa ditawar lagi, Serak Jawa yang dipelihara haruslah diberi pakan tikus putih atau hewan pengerat lain. Tapi sungguh memprihatinkan, walaupun tahu, kebanyakan pemelihara mencekokinya dengan ikan, anakan puyuh bahkan daging ayam cincang. Mengapa? Biar irit, titik! Alhasil, tidak sedikit Serak Jawa yang sakit dan mati.
Memulai pemeliharaan burung hantu dari usia kecil juga adalah awal yang buruk. Mereka dipisah paksa dari induknya, sehingga akan ketergantungan dengan manusia dan tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri. Jika dilepasliarkan dipastikan tidak bisa bertahan hidup.
Tanpa disadari. Di sisi lain, orang tua para anak muda tersebut yang mayoritas petani merugi. Hama tikus semakin tak terkendali hingga mengakibatkan tingkat produksi menurun, bahkan terjadi gagal panen. Hal ini terjadi karena pop**asi Serak Jawa, pemangsa alami tikus semakin menyusut. Mereka ditangkap lalu diperjualbelikan.
Telah terjadi ketidakseimbangan alam. Rantai makanan terputus, ekosistem rusak. Tingkah laku yang tidak bijak terhadap alam membuat manusia mengalami kerugian.
_______________________
Serak Jawa Subang adalah lembaga independen non profit yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian burung hantu beserta habitatnya.