Ngaji Shubuh

Call Directions Website Contact the school

Ngaji Shubuh Nutrisi ruh di setiap shubuh. Ruang Virtual

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia ...
21/09/2026

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur).” (QS. al-Isra’ [17]: 67)

***

Adakalanya manusia berada dalam situasi bahaya. Saat menghadapi keadaan yang sangat sulit, semua yang biasanya menjadi tempat bergantung seakan tidak lagi berarti, dan manusia kembali memohon hanya kepada Allah. Namun ketika Allah telah menyelamatkannya dan kesusahan berlalu, ia justru berpaling dan melupakan pertolongan-Nya. Ayat ini menjadi peringatan agar hubungan kita dengan Allah tidak hanya kuat ketika sedang takut atau membutuhkan pertolongan.

Allah mengingatkan bahwa manusia mudah terjebak dalam sikap tidak bersyukur. Ketika berada dalam kesulitan, kita begitu sungguh-sungguh berdoa dan berharap kepada Allah. Tetapi setelah keadaan menjadi mudah, terkadang doa, ketaatan, dan rasa syukur mulai berkurang. Padahal, seorang Muslim wajib tetap terikat dengan perintah dan larangan Allah dalam seluruh aktivitas kehidupannya.

Muhasabah

Pernahkah kita sangat dekat dengan Allah ketika sedang mendapat masalah, tetapi mulai lalai setelah masalah itu selesai? Ketika Allah memberi keselamatan, kesehatan, keluarga, rezeki, dan berbagai kemudahan, apakah kita masih mengingat bahwa semua itu adalah pertolongan dan karunia-Nya? Jangan sampai kita hanya mencari Allah ketika membutuhkan pertolongan. Jadikan setiap keselamatan sebagai alasan untuk semakin bersyukur dan semakin taat kepada-Nya.[]

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan gambaran masa depan ketika kematian akan dihadirkan dalam wujud seekor domba berwa...
21/09/2026

Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan gambaran masa depan ketika kematian akan dihadirkan dalam wujud seekor domba berwarna putih bercampur hitam. Suara penyeru kemudian memanggil penduduk surga dan penduduk neraka secara bergantian untuk memperlihatkan wujud tersebut. Setelah kedua pihak mengonfirmasi bahwa domba itu adalah kematian, domba tersebut lantas disembelih.

Dengan disembelihnya domba tersebut, diumumkanlah bahwa kehidupan di akhirat menjadi abadi sepenuhnya. Penduduk surga dinyatakan kekal selamanya tanpa akan pernah mati lagi, dan begitu p**a penduduk neraka. Dampaknya, kebahagiaan penduduk surga semakin bertambah-tambah, sedangkan penderitaan serta kesengsaraan penduduk neraka semakin hebat berkali-kali lipat.

Peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa'id Al-Khudri RA dan juga diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Ibnu Umar RA. Dalam kesempatan tersebut, Nabi SAW membacakan Surah Maryam ayat 39, sebuah peringatan mengenai hari penyesalan tatkala segala perkara telah diputus sementara manusia masih dalam kelalaian dan tidak beriman.

Menerungi riwayat tersebut, sudah sepantasnya manusia tidak menukar kehidupan dunia yang sementara dengan penderitaan tanpa akhir di akhirat. Kesempatan hidup di dunia seharusnya dipergunakan sebaik mungkin untuk menjemput kebahagiaan abadi di surga.[]

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Gagasan mengenai beban tiga kali lipat atau "triple burden" muncul dari pemikiran feminisme yang menilai bahwa perempuan...
21/09/2026

Gagasan mengenai beban tiga kali lipat atau "triple burden" muncul dari pemikiran feminisme yang menilai bahwa perempuan mengalami diskriminasi akibat tumpukan peran yang harus dijalankan. Dalam pandangan tersebut, perempuan dituntut untuk menjalankan tiga jenis pekerjaan sekaligus secara bersamaan, yaitu pekerjaan reproduktif di ranah domestik rumah tangga, pekerjaan komunitas dalam kehidupan bermasyarakat, serta pekerjaan produktif yang menghasilkan pendapatan secara ekonomi.

Pandangan ini meyakini bahwa tingkat kehormatan dan nilai seorang perempuan sangat ditentukan oleh kemampuannya memberikan kontribusi finansial bagi keluarga dan masyarakat. Namun, penambahan beban kerja yang mengharuskan perempuan keluar rumah demi mencari nafkah justru memicu tekanan fisik dan psikologis serta mengurangi waktu interaksi bersama keluarga.

Solusi kompromi yang ditawarkan oleh sistem sekuler kapitalistik untuk mengatasi dampak penumpukan peran ini, seperti penyediaan tempat penitipan anak atau bank ASI, sering kali tidak menyelesaikan akar masalah dan malah memicu persoalan baru bagi tumbuh kembang anak. Pemikiran manusia yang terbatas terbukti tidak mampu memberikan kebaikan yang hakiki karena lahir dari pandangan yang memisahkan aturan agama dari tata kehidupan. Ketika peran utama dalam keluarga terabaikan demi mengejar materi, kualitas pengasuhan dan komunikasi antaranggota keluarga menjadi terganggu.

Berbeda dari konsep kesetaraan gender buatan manusia, ajaran Islam menempatkan peran perempuan secara mulia, seimbang, dan proporsional sesuai dengan fitrahnya. Kedudukan utama seorang perempuan dalam Islam adalah sebagai pengelola rumah tangga serta sekolah pertama bagi anak-anaknya. Peran domestik ini memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan kualitas generasi mendatang sehingga tidak boleh dipandang sebelah mata. Di samping itu, Islam juga mengakui perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat yang memiliki kewajiban menuntut ilmu, berdakwah, serta melakukan amar makruf nahi mungkar bersama kaum pria.

Islam memperbolehkan perempuan untuk melakukan kegiatan muamalah atau bekerja mencari rezeki selama aktivitas tersebut tergolong halal dan tidak melalaikan tugas utamanya dalam keluarga. Namun, Islam menetapkan batasan bahwa posisi kepemimpinan politik pemerintahan yang mengurusi rakyat secara langsung tidak boleh dipegang oleh perempuan, meskipun peran dalam ranah administrasi, pendidikan, atau kepemimpinan usaha tetap diperbolehkan. Ketika terjadi benturan antarkewajiban, ajaran Islam menyediakan rambu-rambu prioritas dengan mendahulukan hal yang bersifat wajib di atas hal yang mubah, serta menangani kondisi darurat tanpa meninggalkan kewajiban utama. Penerapan aturan Islam secara utuh merupakan kunci untuk mewujudkan kemuliaan dan ketenteraman hidup bagi perempuan.[]

Simak kajiannya secara mendetail di https://www.youtube.com/watch?v=u9VTRwPXdJw

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Hijrah personal pada hakikatnya bukanlah perpindahan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain, tapi perpindahan hati dari k...
20/09/2026

Hijrah personal pada hakikatnya bukanlah perpindahan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain, tapi perpindahan hati dari kegelapan menuju cahaya, dari kelalaian menuju kesadaran, dari dunia menuju akhirat, serta dari maksiat menuju ketaatan. Dalam perjalanan hidup manusia, tidak ada sosok yang terlalu baik hingga tidak membutuhkan hijrah, dan tidak ada p**a yang terlalu buruk hingga mustahil untuk berhijrah.

Sejarah Islam dipenuhi oleh kisah perubahan diri yang luar biasa, salah satunya adalah perjalanan Umar bin al-Khaththab RA. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai sosok yang sangat keras, tegas, ditakuti, dan menjadi ancaman besar bagi kaum Muslim. Namun, hatinya meluluh dan air matanya menetes saat mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh adiknya, Fathimah binti al-Khaththab.

Sejak momen tersebut, Umar mengalami perubahan total dari sosok yang semula memburu kaum Muslim menjadi pelindung serta benteng utama dakwah Islam. Dahsyatnya perubahan ini terlihat saat perintah hijrah ke Madinah turun; ketika mayoritas umat Islam berangkat secara diam-diam karena takut disiksa kaum Quraisy, Umar justru berhijrah secara terang-terangan. Ia mendatangi Ka'bah, bertawaf tujuh kali, lalu secara terbuka menantang siapa saja kaum Quraisy yang berani menghadangnya di balik lembah. Karena tidak ada seorang pun yang berani menjawab tantangan tersebut, Umar berangkat hijrah dengan penuh keberanian, dan pedang yang dulunya dipakai memusuhi Islam berbalik digunakan untuk membela Islam.

Kisah transformasi hidup lainnya dialami oleh Fudhail bin 'Iyadh. Sebelum bertobat, Fudhail menjalani kehidupan yang kelam, penuh maksiat, dan diwarnai aksi perampokan. Titik balik hidupnya terjadi pada suatu malam ketika ia sedang memanjat tembok menuju rumah wanita yang dicintainya, lalu mendengar seseorang membaca Surah al-Hadid ayat 16.

Ayat yang mempertanyakan apakah belum datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk menundukkan hati mengingat Allah tersebut langsung menggetarkan jiwanya. Fudhail menangis dan seketika menghentikan niat maksiatnya malam itu untuk bertobat secara total. Ia kemudian pergi ke Makkah guna mendalami ajaran Islam hingga tumbuh menjadi ahli ibadah, ahli hadis, ulama besar, dan wali Allah. Perjalanan tobat Fudhail ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim al-Ashbahani dalam Hilyah al-Awliyâ' serta Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubalâ'.

Ada juga kisah yang dari seorang Malik bin Dinar rahimahulLâh, seorang tabi'in yang kelak dikenal zuhud namun memiliki masa lalu kecanduan khamr (minuman keras). Dalam kehidupan kerusakannya saat itu, putri kecil yang sangat ia cintai sering merebut dan menumpahkan gelas khamr ketika Malik hendak meminumnya tapi Malik tidak pernah menghentikan maksiatnya bahkan sampai putrinya meninggal. Hingga suatu hari ia bermimpi kiamat datang dan melarikan diri dari kerusakan yang terjadi, lalu bertemu dengan putrinya yang telah meninggal. Anak itu memeluknya. Lalu berkata, “Wahai Ayah, bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”

Seusai mimpi tersebut, Malik bertobat dan meninggalkan kebiasaannya meminum khamr. Ia lalu memperbanyak ibadah dan menjadi seorang ulama besar dan ahli zuhud yang terkenal. Kisahnya ini disebutkan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyah al-Awliyâ’, dan juga dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Kitab At-Tawwaabiin.[]

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

20/09/2026

Jika pemimpin negeri sudah tidak mau mendengarkan para pakar dan justru merendahkannya, ke mana dia akan membawa negeri ini kalau bukan menuju kehancuran?

Hanya saja terkadang kendala yang dihadapi oleh para pemuda untuk menikah adalah masalah biaya, karena ‘katanya’ menikah...
20/09/2026

Hanya saja terkadang kendala yang dihadapi oleh para pemuda untuk menikah adalah masalah biaya, karena ‘katanya’ menikah itu harus ada hajatannya atau dalam bahasa fikih disebut dengan istilah walimah. Tak jarang pemuda mengurungkan niatnya untuk menikah karena terhenti dengan perkara walimah.

Jadi, apakah walimah itu wajib dan ada standarnya?

Baca uraian selengkapnya di https://ngajishubuh.or.id/sedikit-catatan-mengenai-walimah/

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Ada satu kaidah dalam Fathul Mu'in, khususnya pada pembahasan tayamum. Kaidah tersebut berbunyi:«فضيلة العبادة ذاتها أول...
19/09/2026

Ada satu kaidah dalam Fathul Mu'in, khususnya pada pembahasan tayamum. Kaidah tersebut berbunyi:

«فضيلة العبادة ذاتها أولى لمراعاتها من فضيلة زمنها ومكانها»

“Keutamaan yang terdapat pada ibadah itu sendiri lebih utama untuk diperhatikan daripada keutamaan waktu dan tempat pelaksanaannya.”

Bagaimana penjelasan dan penerapannya?

Simak uraian lengkapnya di https://ngajishubuh.or.id/inti-ibadah-lebih-utama-dari-keutamaan-tempat-dan-waktu/

________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Kisah ini diriwayatkan oleh Izzuddin Yusuf Al-Mushili mengenai rekannya yang bernama Asy-Syams Ibnul Hasyisyi. Asy-Syams...
19/09/2026

Kisah ini diriwayatkan oleh Izzuddin Yusuf Al-Mushili mengenai rekannya yang bernama Asy-Syams Ibnul Hasyisyi. Asy-Syams memiliki kebiasaan buruk melampaui batas dalam mencela Sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar dan Umar radliallahu 'anhuma.

Izzuddin sempat memberikan nasihat tegas kepada Asy-Syams agar menghentikan perbuatannya. Ia mengingatkan bahwa tindakan tersebut sangat buruk, terlebih usia Asy-Syams yang sudah tua. Izzuddin juga menyuruhnya berhenti mencampuri urusan para Sahabat yang telah wafat 700 tahun lalu, seraya mengutip firman Allah bahwa mereka adalah umat yang telah lalu.

Namun, Asy-Syams menolak teguran itu. Di hadapan khalayak ramai, ia justru bersumpah atas nama Allah bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman berada di dalam neraka.

Mendengar ucapan tersebut, bulu kuduk Izzuddin berdiri. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa memohon kepada Allah. Dalam doanya, Izzuddin meminta agar Allah menurunkan tanda kekuasaan-Nya seketika itu juga sebagai pembuktian atas kebatilan dan kezaliman perbuatan Asy-Syams.

Seketika setelah doa dipanjatkan, perubahan fisik mengerikan terjadi pada diri Asy-Syams. Kedua matanya membengkak hingga hampir keluar dari kelopaknya, sedangkan seluruh tubuhnya membengkak dan menghitam hingga tampak seperti aspal. Dari dalam tenggorokannya keluar sesuatu yang mampu mematikan burung.

Asy-Syams kemudian dibawa p**ang ke rumahnya dan meninggal dunia dalam waktu kurang dari tiga hari. Akibat perubahan fisik yang sangat ekstrem pada tubuh dan matanya, tidak ada seorang pun yang sanggup memandikannya hingga ia akhirnya dikuburkan.

Kisah nyata ini tercatat terjadi pada tahun 710 H dan didokumentasikan dalam kitab Dzail Tarikhil Islam karya Imam As-Sakhowi Asy-Syafi'i (wafat 902 H).[]

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Konflik bersenjata dan pertumpahan darah antarmanusia umumnya dipicu oleh kebuntuan jalur diplomasi serta ketidakmampuan...
19/09/2026

Konflik bersenjata dan pertumpahan darah antarmanusia umumnya dipicu oleh kebuntuan jalur diplomasi serta ketidakmampuan menyelesaikan perbedaan kepentingan politik di meja perundingan. Perbedaan kepentingan tersebut dapat bersumber dari faktor agama, keyakinan teologis, ambisi kekuasaan, perluasan wilayah, hingga perebutan sumber daya ekonomi.

Dalam pandangan Islam, pertempuran atau perang diatur secara ketat melalui konsep jihad fisabilillah yang wajib mematuhi aturan main atau adab berperang. Kaum Muslim hanya diperbolehkan memerangi pihak yang memusuhi atau menyerang mereka, serta dilarang keras menyakiti pihak non-kombatan seperti anak-anak, wanita, orang tua, dan pemuka agama. Selain itu, etika peperangan juga melarang tindakan merampok, menjarah, merusak hewan ternak, memusnahkan lahan pertanian, serta memerintahkan perlindungan terhadap kehormatan tawanan perang.

Bulan September mencatat berbagai peristiwa peperangan penting yang mengubah jalan sejarah peradaban dunia. Pada tanggal 7 September 1191, pertempuran besar terjadi dalam Perang Salib saat aliansi pasukan Eropa menghadapi kekuatan militer kaum Muslim di medan perang. Selanjutnya pada tanggal 3 September 1260, meletus Perang Ain Jalut yang menjadi momen bersejarah ketika pasukan Kesultanan Mamluk berhasil menghentikan dan mengalahkan invasi pasukan Mongol. Kemenangan lain dicetak oleh Daulah Utsmaniyah pada tanggal 25 September 1396 dalam Perang Nikopolis melawan aliansi pasukan salib Eropa, yang memperkuat pengaruh Utsmaniyah di wilayah Eropa. Namun pada tanggal 12 September 1683, upaya pengepungan Kota Wina oleh pasukan Utsmaniyah mengalami kegagalan akibat lamanya masa pengepungan dan datangnya musim dingin yang lebih cepat, sehingga menjadi akhir dari fase jihad ofensif Utsmaniyah.

Selain konflik antarnegara dan agama, bulan September juga diwarnai oleh pergolakan politik internal dan perang global. Di Prancis, gelombang Revolusi Prancis yang dimulai pada bulan September 1791 berlanjut hingga dihapuskannya sistem monarki absolut pada tanggal 21 September 1792 untuk digantikan oleh pemerintahan konstitusional. Di tingkat global, Perang Dunia Kedua resmi meletus pada tanggal 1 September 1939 ketika pasukan Jerman melakukan invasi dan aneksasi terhadap wilayah Polandia. Sementara itu di kawasan Timur Tengah, konflik politik antarfaksi menyebabkan terjadinya perang di Semenanjung Arabia yang berujung pada proklamasi berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada tanggal 23 September 1932.

Memasuki era modern pertengahan hingga akhir abad ke-20, pertumpahan darah pada bulan September terus berlanjut di berbagai kawasan. Pada tanggal 22 September 1980, meletus Perang Iran-Irak yang dipicu oleh invasi militer dan berlangsung selama delapan tahun. Di Indonesia, peristiwa kelabu juga terjadi dalam skala domestik, seperti konflik politik berdarah pada tahun 1965 serta peristiwa Tanjung Priok pada tanggal 12 September 1984. Di tingkat internasional, serangan terhadap menara kembar World Trade Center pada tanggal 11 September 2001 menjadi pemicu dilancarkannya invasi militer ke Afghanistan.[]

Simak kajian lengkapnya secara mendetail di https://www.youtube.com/watch?v=VIRIPfOZg-A

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di anta...
18/09/2026

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'" (QS. al-Munafiqun [63]: 10)

***

Harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah rezeki yang Allah berikan, sehingga jangan sampai kesempatan untuk menggunakannya dalam kebaikan ditunda sampai datangnya kematian. Allah memperingatkan tentang penyesalan seseorang yang ketika ajal tiba berharap diberi sedikit waktu agar dapat bersedekah dan menjadi orang saleh. Islam mengatur hak manusia dalam membelanjakan hartanya dan menetapkan berbagai ketentuan dalam penggunaannya, termasuk infak dan sedekah.

Kesempatan beramal adalah sesuatu yang harus dimanfaatkan ketika masih hidup. Jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan, karena setelah kematian datang, keinginan untuk kembali beramal tidak lagi dapat diwujudkan sebagaimana ketika masih hidup. Namun, infak juga bukan berarti mengabaikan kebutuhan diri dan keluarga. Bahwasanya sedekah dilakukan dari kelebihan setelah kebutuhan dasar terpenuhi, dan seseorang tetap memperhatikan kecukupan dirinya serta keluarganya.

Muhasabah

Jika hari ini adalah kesempatan yang masih Allah berikan kepada kita, apa yang sudah kita lakukan dengan rezeki yang Dia titipkan? Apakah kita termasuk orang yang segera menggunakan kesempatan untuk berbuat baik, atau terus menunda dengan alasan “nanti kalau sudah punya lebih banyak”? Jangan sampai keinginan untuk bersedekah baru muncul ketika kematian sudah di depan mata. Selagi masih diberi waktu dan rezeki, manfaatkan keduanya untuk amal yang diridai Allah.[]

____________________
Ikuti beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

Address

Cianjur

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ngaji Shubuh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Ngaji Shubuh:

Shortcuts

Share