30/12/2016
“OM TELOLET, OM!” SEBAGAI COUNTRY BRANDING.
Indonesia adalah negara yang sangat besar. Tapi percaya gak? Masih banyak orang di Benua Eropa, Afrika dan Amerika gak tau Indonesia itu di mana bahkan gak pernah denger nama Indonesia.Waduh! Kok bisa gitu ya? Padahal B**g Karno sering berkata bahwa hakikat bernegara itu adalah bagaimana berkompetisi dengan negara lainnya. Maksud dari B**g Karno itu tentunya adalah bagaimana kita membangun Country Branding agar kita dikenal sama seperti negeri-negeri besar lainnya.
Tapi setelah saya coba pelajari, rasanya semangat berkompetisi bangsa kita dengan negara-negara lain sama sekali tidak terlihat. Bahkan sepertinya negara-negara barat telah berhasil mencuci otak rakyat Indonesia untuk berorientasi ke barat sehingga kita cenderung melupakan akar negerinya sendiri. Ga percaya? Yuk kita bahas satu persatu.
Misalnya soal makanan. Sekarang ini kalo kalian makan makanan lokal, kita s**a diejek sama temen-temen. Saya setiap hari ke kantor bawa makanan dari rumah. Setiap kali saya membuka termos makanan, selalu aja ada yang melirik ke arah makanan yang saya bawa lalu berkomentar dengan nada mengejek, “Wah lokal melulu makanannya?”
Saya s**a sedih mendengar komentar seperti itu. Entah kenapa orang lebih bangga makan pizza daripada martabak. Lebih s**a spaghetti daripada mie goreng. Lebih s**a steak daripada rendang. Orang merasa lebih gaya pergi ke restoran Jepang atau Italia daripada restoran lokal.
Gimana kalo pakaian dan sepatu? Ya sama aja! Setiap kali ada obral barang bermerk, kantor saya langsung kosong. Jam makan siang pulangnya telat gara-gara antri ke outlet Zara, Nike, Mango, Esprit, Guess, dll.
Yang paling parah, pernah saya ngeliat antrean sepatu merk Crocs buatan Tiongkok di Senayan City. Ya ampun! Tokonya ada di lantai 8, tapi antreannya membludak sampai ke tingkat 1. Padahal sepatu Cibaduyut ga kalah bagus loh. Kalo ga percaya, tanya aja tuh sama wakil presiden kita Jusuf Kalla.
Di negeri ini, kita udah jarang menemukan nama-nama melayu seperti Bondan, Wulan, Nurul dan lain-lain. Nama anak jaman sekarang rata-rata berbau barat. Ada yang namanya Patrick, ada yang namanya Nadine, Rebecca, Kent, Patricia, Nicole dan masih banyak lagi.
Soal bahasa? Kayaknya kita udah ga bangga lagi dengan bahasa sendiri. Semua orang ngomong Bahasa Inggris. Bahkan yang ga bisa Bahasa Inggris pun ngomong bahasa gado-gado alias ngomong Bahasa Indonesia dicampur-campur dengan Bahasa Inggris.
Di sebuah restoran saya mengalami peristiwa yang kocak sekaligus miris. Ceritanya, saya mau minta sedotan jadi saya pun memanggil waiter.
“Mas, minta sedotan, dong!” kata saya.
“Kenapa, Pak?” tanya Si Waiter.
“Minta sedotan!” Waduh! Budek kali nih orang.
“Sorry Pak, minta apa tadi?” kata waiter sambil mendekatkan telinganya ke saya.
“Sedotan!! Sedotaaaan!!!” teriak saya kesel sambil memperagakan gaya minum pake sedotan.
Si waiter tersenyum mengerti, lalu berkata, “Oh…straw.”
Straw ndasmu! Udah bagus kita punya nama sedotan kok jadi straw?
Pejabat-pejabat yang jadi narasumber di TV juga ga mau kalah. Mereka berebut mempermalukan dirinya sendiri dengan ngomong pake bahasa amburadul. Contohnya adalah sebagai berikut.
“Perekonomian kita sudah jauh mem-better. Tapi apa yang sudah di-achieve, akan sulit sustain kalo tidak di-followup-i dengan empowerment program pada human resources secara continuous.” PRET!
Seorang teman pernah komentar begini, “Gue paling ga s**a panggilan ‘Ayah’ loh. Rasanya ga ada emosinya. Kurang terasa ikatan batin antara bapak dan anak.”
“Masa? Emang lo dipanggil apa sama anak lo?” tanya saya penasaran campur dongkol. Soalnya anak-anak saya manggil saya ‘Ayah.’
“Daddy,” sahut teman saya tanpa rasa bersalah.
Daddy? TOBAT!
Dalam berpenampilan pun kita cenderung terbius dengan budaya barat. Berapa ribu kali kita ngeliat melayu berambut pirang ala bule? Berapa kali kita ngeliat perempuan melayu pake contact lens biar matanya keliatan biru? Konsep tentang keren bukan lagi konsep yang ada di negeri sendiri tapi memakai ukuran konsep orang lain. Seolah kita nggak percaya bahwa Tuhan udah ngasih yang terbaik buat masing-masing ras.
Yang paling nyebelin adalah konsep ganteng dan cantik. Konsep ganteng dan cantik di negeri kita ikut tergerus dengan jajahan budaya barat. Buat orang Indonesia, perempuan cantik itu seperti Sandra Bullock atau Nicole Kidman. Sedangkan cowo ganteng adalah yang seperti Brad Pitt atau Tom Cruise, Justin Bieber. Gila kan? Kasian orang-orang di Indonesia yang memiliki ketampanan Melayu. Mereka ga direken lagi sekarang.
Misalnya saya. Saya ini sebenernya lumayan ganteng loh untuk konsep timur (Hehehe.. GR dikit gapapa ya?) Tapi gara-gara budaya barat, saya udah ga dianggap ganteng lagi. Soalnya rambut saya item, kulit saya coklat dan idung saya ga mancung seperti Brad Pitt.
Tapi tidak semua negara-negara timur bermental pengekor. Jepang, lalu Cina dan belakangan Korea memutuskan untuk jadi pelopor perubahan. Setelah dunia barat, maka ketiga negara ini ikut menjajah negara lain, termasuk kita. Sampe saat ini kita cuma jadi penonton aja dan jadi pengekor negara-negara pelopor. Buat masyarakat kita, menjadi kekinian itu adalah dengan mengikuti apa yang ada di luar. Buat masyarakat kita, menjadi hebat itu adalah dengan menjadi pengekor. Buat masyarakat kita, menaikkan gengsi itu adalah dengan menjadi konsumen bukan menjadi produsen.
Temen saya Robert yang bekerja sebagai marketer bilang, “Negara kita memang bukan negara hebat, Bud. Gak banyak yang bisa diceritakan dari negeri kita. Apa yang bisa diceritakan? Pemusik, sastrawan, aktor atau negarawan kita gak ada yang mendunia. Teknologi kita ketinggalan. Olahraga kita ketinggalan. Industri kita apalagi. Rupiah kita lemah. Jadi apa yang bisa diceritakan?”
Saya cuma bengong aja ngedenger omongan Robert. Mau berdebat bilang gak setuju tapi saya blom punya argumentasi yang kuat. Di dalam hati yang paling dalam saya merasa negara kita memang kurang hebat tapi rasanya banyak hal di negeri kita yang bisa dijual pada masyarakat internasional. Seharusnya sih banyak potensi yang bisa menjadi bekal untuk mengangkat country branding kita. Tapi apa ya?
Sampai akhirnya tiba-tiba muncul fenomena Om Telolet, Om. Hahahahaha…. pasti sebagian dari kalian akan menganggap saya norak kan? Hayo ngaku!!!! Tapi buat saya, fenomena ‘Om telolet, Om” adalah peristiwa anomali yang luar biasa dan layak untuk dianalisis. Buat saya ini adalah pembelajaran yang baik buat country branding kita.
Konon kabarnya, kegiatan telolet ini dimulai oleh anak-anak kecil di Jember yang nongkrong di pinggir jalan. Mereka berteriak-teriak “Om Telolet, Om!!!” ke arah bis yang lewat dan meminta supir bis itu untuk membunyikan klakson. Ketika supir bis tersebut membunyikan klaksonnya, semua anak-anak tersebut berteriak-teriak dan melompat kegirangan, seakan apa yang mereka peroleh adalah kesuksesan yang luar biasa.
Peristiwa tersebut direkam dengan kamera handphone lalu mereka posting di social media. Rupanya kegiatan anak-anak ini menggugah emosi anak-anak lainnya. Mereka merasa aktivitas itu lucu dan terpicu untuk melakukan hal yang sama. Dan aktivitas itupun berulang, bukan hanya di Jember tapi kegiatan ini terus menular sampai ke kota-kota lainnya. Dan postingan “Om Telolet, Om” di social media pun menjadi viral secara nasional. Selesai? Belum!
“Om Telolet, Om” sekonyong-konyong menjelma menjadi fenomena bola salju. Dia terus menggelinding dengan cepat dan bentuknya semakin besar seperti gelombang Tsunami yang melanda dunia. Pengguna social media di kota-kota seluruh dunia tiba-tiba dibanjiri spam ‘Om telolet, Om”. Sebagian cuek, sebagian terganggu tapi sebagian lain terhibur dan ikut-ikutan melakukan kegiatan tersebut. saya s**a geli sendiri ngeliat bule-bule di youtube menghentikan bis lalu membentangkan poster bertuliskan ‘Om telolet, Om”. Atau mereka meneriakkan kalimat “Om telolet, Om” dengan logat bulenya yang aneh.
Kalo kalian membuka Youtube, kalian juga akan banyak menemukan video bule yang sedang menerangkan apa itu “Om telolet Om.” Mereka melakukan presentasi menjelaskan fenomena itu dengan animasi globe yang menunjukkan Indonesia sebagai tempat fenomena ‘Om Telolet, Om’ berasal. Penjelasan mereka cukup komprehensif lengkap dengan berbagai video-video orang-orang sedang melakukan kegiatan telolet di jalan raya.
Yang paling fenomenal, banyak DJ-DJ internasional merasa terinspirasi dengan gelombang Telolet ini dan mereka ikut-ikutan mentweet ‘Om telolet, Om.” Mereka antara lain adalah DJ Snake, DJ Zedd, Marshmello, The chainsmokers, Martin Garrix, Cash Cash, Michael Clafford dan masih banyak lagi.
Karena mereka memiliki pengaruh besar dengan follower yang banyak, jadilah ‘Om telolet, Om” menjadi trending topic dunia. Bahkan sebagian dari mereka meracik musik EDM (Electronic Dance Music) yang di dalam lagunya ada bunyi klaksson bis lengkap dengan teriakan ‘Om telolet, Om”. Gila ya?
Sekarang, coba kalian ketik “What is Om telolet, Om”di Google. Kalian akan menemukan 2.530.000 results. Coba kalian lakukan hal yang sama di Bing, Yahoo, Instagram, Youtube, hasilnya sama saja. Fenomena “Om telolet, Om” sungguh sangat mencengangkan.
Okay! Sekarang kita kembali ke pembahasan awal. Kenapa negara kita kurang dikenal di masyarakat internasional? Apakah karena negara kita memang cemen? Apakah benar tidak ada yang hebat dari negara kita yang patut diceritakan? Mungkin betul. Mungkin juga tidak. Saya nggak tau pasti.
Tapi Fenomena ‘Om telolet, Om” telah menyadarkan kita bahwa kita punya sesuatu untuk diceritakan. Kita tiba-tiba menyadari bahwa sesuatu yang diceritakan itu tidak perlu harus hebat. Fenomena ‘Om telolet, Om” ternyata bisa menggegerkan dunia. Potret rakyat yang mendapatkan kebahagiaan secara sederhana telah menginspirasi banyak sekali orang di seluruh dunia termasuk artis-artis terkenal.
So guys! Mari kita bangun country branding kita. Mari kita laksanakan apa yang dikatakan oleh Presiden Soekarno bahwa hakikat bernegara itu adalah berkompetisi dengan negara-negara lainnya. Kalau kita memang tidak punya cerita hebat untuk diceritakan, mungkin kita bisa mencari kegiatan-kegiatan sesederhana ‘Om telolet, Om.”
Kebahagiaan rakyat yang diperoleh secara sederhana telah membuktikan bahwa semua yang diciptakan dengan hati yang jujur mampu menggetarkan dunia. Sekali lagi saya ulang, fenomena “Om telolet, Om” telah mengajarkan kita bahwa kita selalu mempunyai sesuatu untuk diceritakan.
Dan saya punya kecurigaan bahwa bisa jadi ‘Om telolet, Om” adalah keriaan di ujung tahun sebagai pertanda utuk memasuki tahun 2017 yang lebih baik. Siapa tau, kan? Jadi selamat menyongsong tahun baru. Bunyikanlah terompet kalian keras-keras. Kalo kalian gak punya terompet, minta aja orang lain yang punya untuk membunyikannya. Caranya?
Teriak aja “Om, telolet, Om!”