PUSAT STUDI ISLAM

PUSAT STUDI ISLAM

Share

Pusat Pendidikan dan Pengetahuan Studi Islam STUDI SEPUTAR ISLAM

29/03/2025

Bagi yang mengikuti metode Rukyat Global. Hilal syawal telah terlihat di Afghanistan, Nigeria dan Mali. Artinya 1 Syawal 1446H jatuh pada hari Ahad, 30 Maret 2025.

Taqobbalallahu minna wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum, mohon maaf lahir dan batin.

Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan seluruh amal sholeh kita semua, serta dilimpahkan rahmat-Nya atas keluarga dan kerabat kita beserta kaum muslimin di seluruh dunia. Amiiiin Yaa Mujibassailiin.

*Brother Ichal Aydoğan

12/01/2024

*MENYOAL KELEMAHAN PARA PENGUASA MUSLIM*

Ucapan Prabowo Subianto mengenai Palestina saat Debat Capres Minggu lalu (7/1/2024) menjadi sorotan warganet. Dalam pidatonya, Prabowo Subianto mengungkapkan, hal paling dasar untuk kekuatan nasional itu mesti ada kekuatan militer. Kemudian Prabowo mencontohkan, "Tanpa kekuatan militer, sejarah peradaban manusia mengajarkan bahwa bangsa itu akan dilindas, seperti di Gaza sekarang ini; akan diambil kekayaannya; dan akan diusir dari tanah airnya. Tidak bisa tidak, kita harus kuat," jelasnya (Suara.com, 8/1/24).

*Siapa yang Lemah?*

Umat Islam di Gaza dan Palestina sesungguhnya tidaklah lemah. Dunia justru menyaksikan betapa kuatnya penduduk Gaza (Palestina/Syam). Khususnya dari sisi keimanan, kesabaran, keteguhan dan ketegaran mereka. Bahkan Nabi saw. telah menjadikan mereka sebagai barometer keislaman umat Islam pada akhir zaman.

Memang, puluhan ribu umat Islam di Gaza telah gugur sebagai syahid. Kebanyakan kaum wanita dan anak-anak. Namun demikian, semua itu tidak melemahkan mereka. Ratusan video yang viral telah mendokumentasikan dengan baik betapa penduduk Gaza, termasuk kaum ibunya, begitu sabar, teguh dan tetap tegar dalam menghadapi kebiadaban Zionis Yahudi Israel. Padahal para suami mereka, para ayah-ibu mereka, bahkan anak-anak mereka yang masih balita telah menjadi korban kekejaman Zionis Yahudi Israel. Semua itu tidak menjadikan mereka berputus asa. Apalagi sampai bertekuk lutut kepada Zionis Yahudi.

Di sisi lain Hamas dan Taufan al-Aqsa-nya terbukti telah sanggup menggetarkan entitas Yahudi Zionis Israel. Serangan-serangan Hamas telah menimbulkan dampak yang sangat dahsyat bagi eksistensi Yahudi Zionis Israel. Akibat serangan-serangan Hamas, entitas Yahudi Zionis Israel mengalami kerugian yang luar biasa. Menurut salah satu sumber dari media Israel terkemuka, setelah 83 hari mereka melancarkan perang di Gaza, sebanyak 825 tank mereka hancur akibat “dirudal” oleh Hamas. Perlawanan Hamas juga telah mengakibatkan kematian 8.435 tentara Yahudi Israel, 905 tentara Prancis, 1.385 tentara AS, 79 tentara Inggris, 48 tentara Itali dan 62 orang tentara bayaran.

Serangan Israel yang biadab terhadap Gaza, dan Palestina secara umum, dengan dukungan AS, Inggris, Prancis dan Eropa telah membuka mata dunia tentang betapa lemahnya entitas Yahudi Israel. Israel sudah kalah telak. Alhasil, dunia kini tahu bahwa kehebatan Israel, dengan arsenal perangnya yang konon terkuat di Timur Tengah dan tak terkalahkan, terbukti hanya mitos. Hanya omong-kosong.

Lalu mengapa selama ini Israel tampak seolah-olah begitu sangat kuat? Israel seolah-olah tampak kuat justru karena kelemahan dan kepengecutan para penguasa kaum Muslim, terutama para penguasa Arab. Padahal secara militer sejumlah negara di Dunia Islam sesungguhnya jauh lebih kuat daripada Israel.

Berdasarkan situs Global Firepower, Pakistan, misalnya, berada di urutan ke-7 di dunia untuk kekuatan militernya. Pakistan memiliki 654 ribu personel militer yang dilengkapi 363 pesawat tempur, 58 helikopter serang, 3.742 tank, 6 kapal fregat, 2 kapal korvet, 9 kapal selam dan ribuan artileri.

Berikutnya, ada Turki di urutan ke-11. Negara yang kini dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu memiliki tentara militer mencapai 425 ribu personel. Militer Turki didukung dengan 2.229 tank, 3.140 artileri, 205 jet tempur, 110 helikopter serang, 16 kapal fregat, 9 kapal korvet dan 12 kapal selam.

Selanjutnya, dalam peringkat kekuatan militer versi Global Firepower, Indonesia menduduki urutan ke-13. Indonesia disebut memiliki sekitar 400 ribu personel militer yang aktif, 314 tank dan 567 artileri, 41 jet tempur dan 15 helikopter serang, sekitar 10 kapal fregat, 21 kapal korvet dan 4 kapal selam.

Di bawah Indonesia, ada Mesir yang berada di posisi ke-14. Mesir memiliki 440 ribu personel militer, 4.664 tank dan 3.78 artileri, 254 pesawat tempur dan 92 helikopter serang, 7 kapal korvet, 13 kapal fregat dan 8 kapal selam.

Negara Muslim peringkat berikutnya adalah Iran. Iran ada di posisi ke-17. Militer Iran memiliki sekitar 575 ribu personel, 4.000 tank dan 2.600 artileri, 196 jet tempur dan 12 helikopter serang, 3 kapal korvet, 7 kapal fregat dan 19 kapal selam.

Yang menarik, kekuatan Israel sendiri hanya menempati urutan ke-18 dari 145 negara di dunia (Cnnindonesia.com, 4/12/2023).

Artinya, kekuatan militer Israel jauh di bawah negara-negara Muslim di atas. Namun faktanya, negara-negara Muslim tersebut begitu lemah dan seolah tak berdaya dalam membela dan membebaskan Palestina dari penjajahan dan penindasan Israel lebih dari 75 tahun. Ini sekaligus meruntuhkan argumentasi bahwa negara-negara dengan militer yang kuat otomatis akan menjadi negara yang juga kuat.

Kelemahan atau ketidakberdayaan negara-negara Muslim sesungguhnya terletak pada kelemahan dan kepengecutan para penguasanya. Bukan pada kelemahan dan ketakberdayaan militernya. Buktinya, Hamas yang hanya milisi bersenjata—bukan entitas negara dengan kekuatan militer besar—begitu gagah dan mampu melawan Israel. Sebaliknya, negara-negara Muslim dan Arab—dengan kekuatan militernya yang kuat—seolah lemah tak berdaya di hadapan Israel. Karena itulah kini umat Islam tahu, betapa tidak bergunanya para penguasa mereka yang tak berdaya dalam menghentikan genosida yang dilakukan oleh entitas Yahudi Israel di Gaza, Palestina.

*Kekuatan Akidah/Ideologi*

Sesungguhnya rahasia kekuatan sebuah negara ada pada ideologi (akidah)-nya. Dalam konteks sejarah Islam, terbukti bahwa Daulah Islam (Negara Islam) yang dipimpin oleh Baginda Rasulullah saw. di Madinah hanyalah sebuah negara kecil. Apalagi jika dibandingkan dengan negara adidaya saat itu, yakni Romawi dan Persia. Sebagai negara kecil saat itu, kekuatan militernya juga tak seberapa. Jangankan dibandingkan dengan kekuatan militer Romawi dan Persia. Bahkan jika dibandingkan dengan kekuatan militer bangsa Arab Quraisy saat itu, kekuatan militer Daulah Islam saat itu sangat jauh. Dalam Perang Badar, misalnya, pasukan kaum Muslim hanya berjumlah 314 tentara. Itu pun dengan persenjataan alakadarnya. Sebaliknya, pasukan musuh, yakni kafir Quraisy, berjumlah 1.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Namun demikian, pasukan kaum Muslim saat itu mampu mengalahkan pasukan musuh dengan kemenangan yang gemilang.

Pasca Rasulullah saw. wafat, Khulafaur Rasyidin dengan Negara Khilafah mereka, juga mampu menantang dua negara adidaya kafir, yakni Romawi dan Persia, tentu dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar dan lebih kuat daripada kekuatan militer Negara Khilafah saat itu.

Setelah era Khulafaur Rasyidin, yakni era Umayah, Abasiyah dan Utsmaniyah, Khilafah Islam bahkan mampu menguasai dua pertiga dunia selama berabad-abad.

Pertanyaannya: Bagaimana bisa? Apa rahasia kekuatannya? Tidak lain ideologi (akidah) Islam, yang bertumpu pada kalimat: Lâ Ilâha illalLâh, Muhammad RasûlulLâh. Allah SWT berfirman:

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي

Sungguh Aku adalah Allah. Tidak ada tuhan lain, selain Aku. Karena itu sembahlah Aku (TQS Thaha [20]: 14).

Kalimat tauhid inilah yang selama ini mampu membangkitkan kekuatan mereka. Dengan tauhid inilah kaum Muslim mempunyai ‘izzah (kehormatan dan kemuliaan) di hadapan umat manusia yang lain. Mereka tidak mudah dikalahkan, apalagi ditindas dan dijajah. Allah SWT berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَعۡلَمُونَ

Hanya milik Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukminlah kemuliaan itu. Namun, kaum munafik tidak mengetahuinya (TQS al-Munafiqun [63]: 8).

Karena kekuatan akidah Islamlah kaum Muslim senantiasa siap mati demi mempertahankan agama, harta dan kehormatan mereka. Sebabnya, mereka amat yakin dengan sabda Nabi saw.:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فهوَ شَهيدٌ، ومَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِه فهوَ شَهيدٌ، ومَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فهوَ شَهيدٌ، ومَنْ قُتِلَ دُونَ أهلِهِ فهوَ شَهيدٌ

Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya, dia syahid. Siapa saja yang terbunuh karena membela agamanya, dia syahid. Siapa saja yang terbunuh karena membela darahnya, dia syahid. Siapa saja yang terbunuh karena membela keluarganya, dia syahid (HR at-Tirmidzi).

Inilah yang menjadikan kaum Muslim amat kuat, tidak lemah, dalam melawan musuh-musuh mereka. Itulah p**a yang ditunjukkan oleh kaum Muslim Palestina, khususnya warga Gaza, khususnya Hamas dengan Brigade al-Qasam-nya.

Dengan kekuatan akidah (ideologi) Islam, kaum Muslim pun sangat memahami arti penting dan wajibnya jihad fi sabilillah (Lihat, misalnya, QS al-Anfal [8]: 39).

Selama kaum Muslim masih mempunyai akidah Islam yang terpatri kokoh di dalam jiwa mereka, maka selama itu mereka tidak akan bisa dijajah. Bahkan mereka bisa membebaskan bangsa-bangsa lain dari kekuatan kekufuran. Itulah yang terjadi sejak era Daulah Islam di Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah saw., yang dilanjutkan oleh Kekhilafahan Islam era Khulafaur Rasyidin, era Umayah, era Abasiyah dan era Utsmaniyah.

Hanya saja, seiring dengan kekuatan akidah (ideologi) Islam yang makin melemah dalam diri kaum Muslim, pada akhirnya Kekhilafahan Islam terakhir, yakni era Utsmaniyah, berhasil dihancurkan pada tahun 1924 oleh kaum kafir penjajah, yakni Inggris, melalui anteknya, Mustafa Kemal Ataturk. Sejak itulah Dunia Islam—yang sebelumnya satu di bawah kekuasaan Khilafah Islam—dipecah-belah oleh kaum kafir Barat penjajah menjadi puluhan negara-bangsa yang dipimpin oleh para penguasa yang lemah dan tak berdaya. Saking lemah dan tak berdayanya, mereka tak sanggup melawan entitas Yahudi Zionis Israel yang sebetulnya negara kecil dan terbukti lemah.

*Dunia Islam Butuh Khalifah*

Karena itu agar Dunia Islam kembali kuat sebagaimana dulu—tak mudah dikalahkan, apalagi dijajah dan ditindas—mau tak mau kaum Muslim harus menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Kaum Muslim dan Dunia Islam harus dipersatukan kembali di bawah kekuasan Khilafah. Khilafah inilah yang kelak akan menjadi kekuatan adidaya global, dengan menyebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana dulu.

Adanya negara adidaya global, yakni Khilafah, yang menyatukan kaum Muslim sedunia saat ini hukumnya wajib. Pasalnya, tanpa Khilafah, umat Islam akan selamanya lemah, terus dikalahkan, dijajah dan ditindas oleh kekuatan lain, sebagaimana saat ini. Ini tidak boleh terjadi. Sebabnya, Allah SWT telah mengharamkan yang demikian, melalui firman-Nya:

وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin (TQS an-Nisa’ [4]: 141).

WalLâhu a’lam. []
Buletin Kaffah No. 327 (30 Jumada al-Akhirah 1445 H/12 Januari 2024 M)

---*---

*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda :

..ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَة عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ...

…Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian… (HR Ahmad). []

03/12/2023

Akan jadi solusi jika semua umat islam berjihad angkat senjata dan perang melawan Zionis. Tentu wadahnya adalah Khilafah, bukan yang lain.

19/11/2023

Berperang di bawah bendera nasionalis Palestina sama saja berperang di bawah bendera ash-shahabiyyah, jika mati sama dengan matinya orang kafir, bukan mati syahid.
Lebih indah jika semua umat islam membawa Panji Islam (Al Liwa, Ar Royah), biar jelas identitasnya. Biar jelas tujuan dan niat perjuangannya yakni tegaknya hukum2 Allah dalam Daulah Khilafah. BUKAN YANG LAIN.

26/02/2023

Definisi Peradaban

Bicara tentang peradaban, maka akan terbayang dibenak kita tentang sebuah bangunan yang khas ataupun tentang ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari peradaban tersebut.

Tentunya akan lebih menarik, kalo kita bicara tentang peradaban dikupas dari sudut pandangan literasi yang khas.

Bagaimana p**a definisi peradaban dipandang dari literasi yang khas tersebut, Mari kita simak uraian definisi peradaban bersama ustadz Ismail Yusanto !!

https://youtu.be/A9viao9eFeE
https://youtu.be/A9viao9eFeE
https://youtu.be/A9viao9eFeE

www.youtube.com

17/02/2023

(Sambungan dari bagian 1/2)

Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Muhammad Husain Abdullah memberikan pengertian khusus ibadah sebagai menaati perintah dan larangan Allah Swt. yang mengatur hubungan antara Allah Swt. dengan hamba-Nya.
-

Mengenali Potensi, Memahami Hakikat Diri (Bagian 2/2)

https://muslimahnews.net/2023/02/17/17741/
-

Penulis: M. R. Kurnia, dkk.

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Makna ibadah secara bahasa (lughah) disebutkan Imam Al-Fairuz Abadi dalam kamus Al-Muhith sebagai ‘taat’ dalam arti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan, sedangkan menurut istilah ada dua pengertian yakni khusus (khaas) dan umum (amm). Muhammad Husain Abdullah dalam kitab Dirasaat Fil Fikri al-Islamy memberikan pengertian khusus ibadah sebagai menaati perintah dan larangan Allah Swt. yang mengatur hubungan antara Allah Swt. dengan hamba-Nya, misalnya salat, doa, dan lain-lain.

Dalam pengertian umum, ibadah bermakna ‘mengikatkan diri dengan seluruh hukum-hukum Allah Swt.’

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)

Manusia juga disebut sebagai khalifah.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS Al-Baqarah: 30)

Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafatut Tafasir Juz 1 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “khalifah” pada ayat di atas adalah manusia yang bertugas mengelola dan memakmurkan bumi dengan huruf-hukum Allah Swt.. Oleh karenanya, bila manusia tidak memahami hukum Allah Swt., pasti akan sulit untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai khalifah sebagaimana telah ditetapkan Allah Swt..

Pandangan dan pemahaman manusia bahwa misi penciptaannya hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt. terbentuk sejalan dengan kesimp**an yang didapatnya berkenaan dengan keberadaan dirinya di dunia. Saat manusia menginjak usia dewasa (balig), yang dicirikan oleh kesempurnaan fungsi akaknya, mulailah ia berpikir tentang beberapa hal yang sangat mendasar yang menuntut jawaban tuntas yang memuaskan akal sehatnya, menenteramkan jiwa, dan sesuai dengan fitrahnya, mengingat jawaban itu p**a yang akan menjadi landasan dan tujuan kehidupannya.

Selama masalah mendasar ini belum terjawab tuntas, selama itu p**a orientasi hidup manusia tidak akan tetap, cenderung mudah terombang-ambing yang akhirnya membuatnya tidak pernah merasa tenang. Bila itu yang terjadi, maka sebenarnya manusia telah melakukan pengingkaran terhadap hakikat fitrah manusia itu sendiri.

Mengingat sifatnya sangat mendasar dan sekaligus sangat substantif, pertanyaan tersebut disebut p**a sebagai al-uqdatu al-kubra atau simpul yang sangat besar. Disebut demikian karena mengandung penjelasan bahwa bila pertanyaan ini telah terjawab, maka dengan sendirinya akan terurailah berbagai pertanyaan/permasalahan cabang berikutnya yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia.

Persoalan mendasar tersebut adalah berupa pertanyaan:

1. Min aina ataitu?

Dari manakah manusia hidup?

2. Limadza ji’tu?

Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?

3. Ila aina al-mashir?

Ke mana manusia dan kehidupan setelah di dunia ini?

Pertanyaan pertama, “Dari manakah manusia, hidup, dan alam semesta ini berasal?” Apakah ketiganya ini ada dengan sendirinya ataukah ada yang mengadakannya? Pertanyaan ini berkaitan erat dengan fakta bahwa manusia itu hidup di alam semesta (lianna al-insaana yahya fil kaun). Wajar bila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam arti biologis) yang ada pada dirinya dan makhluk lainnya, dan tentang alam semesta yang merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini menanyakan tentang hakikat apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al hayati dunya).

Pertanyaan Kedua, “Untuk apa manusia dan kehidupan ini?” Pada pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu ad-dunya). Sehingga wajar bila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup ( dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An-Nahdhah, pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (makna wujudi al-insan fi al-hayah).

Pertanyaan ketiga, “Ke mana manusia dan kehidupan ini setelah di dunia ini?” Pertanyaan ini juga sangat wajar karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti terbit pertanyaan, apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataukah justru kematian itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan yang baru selanjutnya. Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati ad-dunya).

Di samping ketiga pertanyaan utama tersebut, hal penting lain yang juga menjadi pertanyaan adalah, adakah hubungan (alaqah/shilah) antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati ad-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu ad-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia ini (al-hayatu ad-dunya) dengan apa yang ada sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati dunia). Jika ada, hubungan apakah itu?

Inilah pertanyaan-pertanyaan utama yang tercakup dalam apa yang disebut dengan al-uqdatu al-kubra.

Tidak ayal lagi, semua pertanyaan dalam simpul besar itu memang merupakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang memerlukan jawaban tuntas sebagaimana halnya simpul-simpul besar pada tali yang harus diuraikan terlebih dahulu agar tali itu dapat digunakan. Bila simpul besar ini berhasil diurai, niscaya simpul-simpul cabang berikutnya akan mudah diuraikan.

Simpil-simpul ini adalah pertanyaan-pertanyaan praktis yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, semisal mengapa dan bagaimana kita harus bekerja mencari nafkah, bagaimana kita harus membina sebuah keluarga yang bahagia, bagaimana kita harus berpolitik dalam kehidupan bernegara, dan sebagainya.

Menghadapi pertanyaan mendasar dalam al-uqdatu al-kubra itu, sikap manusia bermacam-macam, ada yang lari atau tidak acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga akhirnya mereka menjadi hidup sekadarnya saja. Tanpa makna, tanpa visi, tanpa misi. Kosong dan absurd. Namun, ada p**a yang berhasil menjawabnya setelah berusaha mencari jawabannya dengan serius, terlepas dari benar tidaknya jawaban tersebut.

Jawaban-jawaban terhadap al-uqdatu al-kubra ini menurut Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya, “Dirasat fi al-fikri al-Islami.” disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) karena jawabannya mencakup segala sesuatu yang maujud (alam semesta, manusia, kehidupan), di samping mencakup ketiga fase kehidupan yang dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiganya.

Jawaban itu disebutnya juga sebagai akidah (pemikiran yang mendasar) dan qaidah fikriyyah (landasan pemikiran). Disebut akidah karena memang jawaban terhadap al-uqdatu al-kubra merupakan pemikiran yang mendasar. Disebut qaidah fikriyah karena jawaban itu merupakan basis pemikiran yang di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan. [MNews/Rgl]

17/02/2023

Sungguh dakwah tidak mengenal senioritas dalam jemaah. Janganlah kita salah menempatkan rasa sungkan hingga sesama pengemban dakwah lalai dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Justru saling menasihati dalam Islam merupakan hak sesama muslim.
-

Kala Amar Makruf Pudar di Tengah Jemaah

https://muslimahnews.net/2023/02/17/17739/
-

Muslimah News, NAFSIYAH — Seseorang yang telah lama dalam aktivitas dakwah atau bagian dari generasi awal jemaah dakwah biasanya menempati posisi lebih tinggi dibandingkan orang lain. Apalagi, ia merupakan pengurus dalam jemaah tersebut. Di sinilah muncul penyakit “ketinggian”, tepatnya tinggi hati.

Ia bisa menjadi pribadi yang lepas kendali karena siapa pun bisa lupa diri. Kemudian tumbuh jiwa arogan dan memandang remeh pada orang lain, bahkan kepada yang lebih tua dari sisi usia. Arogansi diri bisa diketahui salah satunya saat pertemuan enggan memulai untuk menyapa karena inginnya hati disapa.

Dalam forum diskusi tidak sungkan menajamkan lidah. Inginnya didengarkan, tetapi sulit mendengarkan. Pendapatnya pantang dikoreksi karena senantiasa ingin menang sendiri. Kata “maaf” juga enggan untuk diucapkannya karena merasa diri tidak pantas mengucapkan itu.

Sementara itu, orang-orang yang belum lama bergabung dalam dakwah, sungkan untuk melakukan amar makruf pada generasi awal. Akhirnya, seseorang yang dianggap telah banyak berjasa dalam dakwah jarang tersentuh dengan nasihat, meski melakukan kelalaian dan kesalahan.

Padahal, dakwah tidak pernah berhutang pada siapa pun. Memang generasi awal menjadi pelopor dalam menyebarkan dakwah di suatu tempat. Ia juga telah banyak melakukan kaderisasi, tetapi tetaplah ia orang yang berhak untuk mendapatkan amar makruf dari saudara sesama juru dakwah.

Sebagai pengemban dakwah pasti kita menyadari bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap muslim karena dakwah merupakan aktivitas menyeru pada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Sungguh dakwah tidak mengenal senioritas dalam jemaah.

Janganlah kita salah menempatkan rasa sungkan hingga sesama pengemban dakwah lalai dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Justru saling menasihati dalam Islam merupakan hak sesama muslim. Bukankah pengemban dakwah sedang berupaya untuk mengembalikan kehidupan Islam dan menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik?

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka ia bukanlah umat terbaik.” Salah satu syaratnya ialah melakukan amar makruf nahi mungkar.

Hendaknya para pengemban dakwah selalu mengingat firman-Nya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS Al-Maidah: 2)

Sesama pengemban dakwah tidak boleh cuek terhadap kesalahan yang dilakukan oleh saudarinya. Hendaklah ia menasihati dengan sikap lembah lembut dan bersabar setelah melakukan amar makruf.

Sebagaiman firman-Nya, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman: 17)

Seorang pengemban dakwah melakukan amar makruf nahi mungkar dalam rangka ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah Taala. Ia pun mengharap keselamatan dari siksa-Nya dan mengharapkan kebaikan untuk orang lain. Dia melakukan amar makruf bukan karena rasa benci di hatinya pada orang lain.

Semoga Allah Taala memberikan pertolongan kepada pengemban dakwah dengan memenangkan Islam. Namun, para pengemban dakwah tetap harus melakukan amar makruf nahi mungkar, tidak meninggalkannya. Saling menasihati di antara sesama muslim merupakan wujud kasih sayang, semata karena mengharapkan kebaikan untuk saudarinya. Wallahul muwafiq. [MNews/Rndy-Rgl]

17/02/2023

Pernyataan Menkeu bahwa memiliki rumah akan makin sulit, dikritisi pemerhati kebijakan publik Iin Eka Setiawati. Ia menyatakan, fakta ini tidak pernah serius ditangani.
-

Memiliki Rumah Akan Makin Sulit, Pemerhati: Tidak Serius Ditangani

https://muslimahnews.net/2023/02/17/17737/
-

Muslimah News, NASIONAL — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, jika memiliki rumah akan makin sulit. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga lahan, bahan baku sampai ancaman tingginya suku bunga yang akan mempengaruhi bunga acuan dan bunga kredit di perbankan.

Persoalan rumah ini memang pelik, kalau kita melihat jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa pada 2021. Dari jumlah ini kalau kita menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) proporsi yang punya rumah layak huni 2021 mencapai angka 81,08%. Namun, dari persentase ini 39%-nya tidak layak huni.

-
Tidak Serius
-

Pemerhati kebijakan publik Iin Eka Setiawati menilai hal ini tidak pernah serius ditangani. “Fakta keburukan yang tampak di hadapan pemerintah ini tidak pernah serius ditangani,” jelasnya kepada MNews, Kamis (16-2-2023).

Ia mengatakan, Sri Mulyani sebagai pejabat publik yang mewakili pemerintah sebenarnya telah mengetahui ada fakta buruk di tengah masyarakat. “Selama ini saja masyarakat sudah kesulitan memiliki rumah, ke depannya makin sulit lagi. Bagi masyarakat yang sudah punya rumah pun masih banyak yang tidak layak,” ujarnya.

Iin mengungkapkan, kondisi rumah tidak layak huni seharusnya diperbaiki hingga menjadi layak huni, tetapi berbagai kendala mendera sebagian masyarakat, antara lain masalah kekurangan finansial menyebabkan tidak sanggup membeli bahan bangunan yang harganya kian hari makin meningkat. “Akhirnya rumah tidak layak tetap ditempati. Miris,” cetusnya.

Lebih miris lagi, imbuhnya, bagi masyarakat yang belum memiliki rumah, terutama masyarakat yang miskin secara ekonomi.

“Mereka tidak dengan mudah mengakses berbagai kebijakan perumahan yang dijalankan pemerintah yang diklaim bisa membantu masyarakat memiliki rumah. Akibatnya, tetap saja rakyat miskin tidak bisa memiliki rumah,” kritiknya.

Iin menilai, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah hanyalah lip service, menggunakan diksi bantuan pembiayaan pembangunan perumahan bagi rakyat miskin.

“Padahal, faktanya selama ini pemerintah hanya membantu para operator, baik bank-bank maupun pengembang properti agar bisnis mereka terus berjalan,” ucapnya.

-
Lalai
-

Iin menyampaikan, masalah rumah tidak layak huni yang tidak pernah selesai, membuktikan bahwa pemerintah lalai, bahkan telah gagal menjamin tersedianya rumah layak huni bagi rakyat. “Inilah kelalaian pemerintah yang dipertontonkan,” tukasnya.

Iin menegaskan, jika pemerintah bertanggung jawab, seharusnya pemerintah akan menyelesaikan masalah rumah tidak layak huni yang masih tinggi jumlahnya dan mengakhiri kesulitan masyarakat. “Namun, faktanya pemerintah tetap lalai,” kritiknya.

Sistem kapitalisme, sambungnya, tidak memberi kemudahan akses bagi rakyat memperoleh rumah layak huni.

“Ditambah konsep good governance yang merupakan tata kelola kekuasaan yang dianggap baik oleh sistem kapitalisme. Ini telah membuat pemerintah berperan sebagai regulator yang hanya melayani kepentingan operator, minus pelayanan pada kebutuhan rakyat, khususnya kebutuhan pokok rumah layak huni,” urainya.

Iin mengatakan, para operator diberikan berbagai kemudahan regulasi bisnis properti maupun bantuan finansial untuk mengembangkan bisnis propertinya, tetapi masyarakat yang membutuhkan bantuan rumah layak huni dipersulit aksesnya.

“Model pemerintahan semacam ini selamanya tidak akan mampu menyelesaikan persoalan rumah tidak layak huni,” tegasnya.

-
Khilafah sebagai Solusi
-

Iin menawarkan Khilafah sebagai solusi hal ini. “Khilafah menjamin rakyat bisa tinggal di rumah layak huni bahkan syar’i. Khilafah tidak akan pernah menyerahkan urusan jaminan tersedianya rumah yang layak huni kepada operator yang hanya berorientasi mencari keuntungan karena negara adalah raa’in (pengurus urusan rakyat) dan junnah (pelindung dari bahaya rumah yang tidak layak huni),” paparnya.

Ia menerangkan, Khilafah yang menerapkan sistem Islam kafah akan mencegah bahaya yang akan menimpa rakyatnya yang tinggal di rumah tidak layak huni.

“Oleh karena itu, Khilafah membuka akses seluas-luasnya untuk rakyat agar bisa memiliki rumah layak huni dengan mekanisme sesuai syariat Islam. Bahkan, Khilafah bisa memberikan gratis rumah layak huni untuk rakyat miskin sehingga tidak ada lagi rumah tidak layak huni. Berarti, tuntas sudah persoalan rumah tidak layak huni,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Want your school to be the top-listed School/college in Central Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Central Jakarta
10110