05/08/2025
“Versi Terbaru Didikan”
Di sebuah ruang tamu semi formal, dua cangkir teh melayang-layang uapnya, seperti dua hati yang masih panas meski tampak tenang.
Mertua:
“Nduk… kamu kayaknya udah capek banget. Mau aku bantu bangun urus anakmu?”
Menantu:
(senyum pelan)
“Tidak, terima kasih Bu. Aku sudah merasakan didikan Ibu… dan, cukup.”
Mertua:
(terdiam sesaat)
“Maksudmu… cukup baik atau cukup menyakitkan?”
Menantu:
“Saya gak menyalahkan Ibu, Bu. Saya cuma gak mau mengulang pola. Anak saya bukan harddisk kosong yang bisa di-install ulang tiap generasi. Tapi, kalau bisa, saya ingin dia pakai sistem operasi yang lebih update.”
Mertua:
“Jadi Ibu ini software usang, ya?”
Menantu:
(bersandar, lembut)
“Ibu itu software asli, otentik… tapi zaman dulu. Sekarang banyak patch baru, Bu. Dulu, anak nangis dimarahin. Sekarang, anak nangis diajak ngobrol. Dulu, disiplin pakai suara keras. Sekarang, pakai koneksi emosional.”
Mertua:
“Kamu pikir dulu Ibu gak sayang sama anak-anak?”
Menantu:
“Saya yakin Ibu sayang. Tapi cinta itu kayak sinyal WiFi, Bu. Kadang niatnya kuat, tapi perangkat penerimanya gak nyambung.”
Mertua:
(tertawa kecil, lalu lirih)
“Ibu juga sering gak ngerti anak Ibu sendiri, Nduk. Dan sekarang malah gak ngerti cucu juga. Dunia cepat banget berubah.”
Menantu:
“Makanya saya pengin belajar, bukan ngulang. Saya gak mau nanti anak saya bilang ke saya: ‘Bu, cukup ya didikan Ibu…’ kayak saya bilang ke Ibu sekarang.”
Mertua:
“Jadi sekarang Ibu pensiun jadi guru kehidupan ya?”
Menantu:
“Bukan pensiun, Bu. Tapi promosi. Naik jabatan jadi penonton yang bangga.”
Mertua:
(terdiam, lalu tersenyum sambil mengaduk tehnya)
“Mungkin memang waktunya uninstall ego dan install keikhlasan.”
Dan di ruang tamu itu, dua perempuan dari generasi berbeda mulai saling update, bukan untuk menyamakan versi… tapi agar tetap bisa terkoneksi.
-AM
Copy paste by Abu marlo